Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. SEKOLAH BARU
Angin pagi berhembus sejuk menyapu dedaunan bambu di halaman kediaman Theodore. Rumah raksasa berkonsep arsitektur tradisional Jepang itu tampak damai. Pagi itu, Leo dan Vellora memutuskan untuk berjalan kaki menuju sekolah baru, TK Mentari. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima belas menit berjalan kaki membelah jalanan perumahan elit yang tenang.
Tangan besar Leo yang biasanya terbiasa menggenggam senjata, kini dengan lembut menggandeng tangan mungil Vellora. Gadis kecil itu melangkah riang, sesekali melompat kecil menghindari bayangan pohon.
"Kakak, apa nanti di sekolah baru aku akan mendapat teman yang banyak?" tanya Vellora tiba-tiba. Wajahnya mendongak menatap Leo, ada sebersit keraguan di mata bulatnya, teringat kejadian buruk di sekolah lamanya.
Leo menunduk menatap gadis kecil itu, raut wajahnya yang sedingin es seketika melembut. "Tentu saja, anak kecil. Jika ada yang berani menjahiliimu, beri tahu Kakak," jawab Leo santai, walau nada suaranya menyiratkan perlindungan mutlak.
Vellora tersenyum lebar. Ia kembali bersemangat hingga akhirnya mereka berdua tiba di depan pintu gerbang TK Mentari.
"Wahhh... bagus banget kelihatannya!" gumam Vellora takjub. Matanya berbinar melihat bangunan sekolah yang dicat dengan warna-warni cerah, lengkap dengan taman bermain yang luas. Ia sampai heran sendiri, kenapa Kakek Liam tidak mendaftarkannya di sini sejak awal? Padahal sekolah ini jauh lebih dekat dan jauh lebih bagus dari sekolah lamanya.
Namun, kedatangan mereka sukses menghentikan aktivitas di pelataran sekolah. Para ibu-ibu dan pengasuh yang sedang mengantar anak-anak mereka mendadak membeku. Mata mereka semua tertuju pada sosok Leo. Bagaimana tidak? Pemuda berusia delapan belas tahun itu mengenakan kemeja kasual yang pas di badan, memamerkan bahu lebarnya. Wajah tampannya yang bersudut tajam dipadukan dengan aura dingin nan misterius, benar-benar seperti magnet di pagi hari.
"Wah... tampan sekali papa muda itu. Di mana istrinya, ya? Apa dia duda?" bisik seorang ibu-ibu dengan mata berbinar-binar.
"Kalau dia duda, bolehlah dipepet! Jarang-jarang ada hot daddy masih muda dan tampan begitu yang mengantar anak ke TK," timpal ibu lainnya sambil menutup mulutnya genit.
"Lihat putrinya, cantik sekali. Pasti gen papanya mendominasi," bisik yang lain tak kalah heboh.
Telinga Leo yang terlatih dan sangat tajam tentu saja menangkap semua bisik-bisik tetangga itu. Papa muda? Duda? Sialan, umurku baru delapan belas tahun! umpatnya dalam hati. Meski begitu, tak urung sebuah senyum tipis yang sangat tipis dan meremehkan tersungging di sudut bibirnya, membuat para ibu-ibu itu semakin histeris menahan napas.
Tanpa memedulikan tatapan lapar di sekelilingnya, Leo terus berjalan tegap menggandeng Vellora masuk ke dalam gedung, langsung menuju ruangan kepala sekolah.
"Sepertinya dia anak baru, yah?" gumam seorang anak kecil di seberang lorong pada temannya saat melihat Vellora lewat.
Sesampainya di depan ruangan berdaun pintu cokelat itu, Leo merapikan kerahnya sedikit lalu mengetuk. Tok... tok... tok.
"Silakan masuk!" pekik suara pria paruh baya dari dalam.
Leo membuka pintu. "Selamat siang, Pak," sapa Leo dengan nada formal dan sedikit kaku, mencoba bersikap layaknya wali murid yang normal.
"Selamat siang, silakan duduk," kepala sekolah itu membalas dengan senyum ramah yang ganjil, seolah sudah menebak siapa tamunya. Pria itu meletakkan daftar hadir yang sedang dibacanya. "Apa ini gadis kecil yang mau kamu daftarkan sekolah?"
Leo sedikit mengernyitkan dahi. "Bagaimana Bapak bisa tahu?" tanyanya curiga.
Kepala sekolah itu tertawa lepas. "Tentu saja aku tahu. Aku ini teman lama kakekmu, si rubah tua Liam! Kemarin malam dia sudah meneleponku panjang lebar. Dia bilang cucu kesayangannya akan mendaftarkan anak kecil ini ke sekolahku hari ini," ujarnya santai.
Rahang Leo sedikit menegang. "Pak tua itu... benar-benar suka ikut campur," gumam Leo pelan, merutuki kakeknya yang ternyata sudah mengatur segalanya dari balik layar.
"Ada apa, Leo?" tanya kepala sekolah melihat Leo bergumam sendiri.
"Ah, tidak ada apa-apa, Pak. Jadi bagaimana? Apa adik saya bisa diterima dan masuk ke sini secepatnya?" sahut Leo cepat, kembali ke topik utama.
"Tentu saja! Aku bahkan sudah menyiapkan seragam untuknya." Kepala sekolah itu berdiri, berjalan menuju lemari, lalu mengambil sebuah kantong plastik berisi seragam baru. "Ini seragamnya. Pasti pas di badan anak ini, soalnya Liam sudah memberitahu ukuran pastinya secara detail padaku. Besok dia sudah boleh masuk sekolah."
"Terima kasih, Pak Guru!" seru Vellora dengan senyum mengembang. Leo pun ikut mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih.
"Oh iya, gadis kecil yang manis, siapa namamu?" tanya kepala sekolah mencondongkan tubuhnya.
"Aku Vellora, Pak Guru," jawab Vellora sopan, memperkenalkan dirinya dengan gaya yang diajarkan Kakek Liam.
"Emmm, nama yang sangat indah. Besok kamu sudah boleh langsung sekolah dan belajar di sini, ya," ujar kepala sekolah dengan senyum kebapakan.
Tiba-tiba, terdengar ketukan sebelum pintu terbuka kembali. Seorang guru wanita muda yang cantik masuk ke ruangan.
"Iya, Pak. Ada apa memanggil saya kemari?" tanyanya lembut.
"Ah, Bu Kina. Kebetulan sekali. Ini Vellora, murid baru kita, dan ini kakaknya. Tolong ajak mereka keliling melihat-lihat fasilitas sekolah ini. Tunjukkan juga kelas yang akan ditempati Vellora. Mungkin dia akan masuk di kelas 1A," perintah kepala sekolah.
"Emm, baiklah, Pak," sahut Bu Kina dengan senyum manis ke arah Leo dan Vellora. "Mari ikut saya."
"Permisi, Pak," pamit ketiganya kompak.
Leo dan Vellora kemudian mengikuti langkah Bu Kina. Guru muda itu dengan antusias menjelaskan tentang konsep sekolah Mentari, mulai dari taman bermain indoor, ruang seni, hingga perpustakaan mini. Setelah sekian lama berkeliling, mereka akhirnya tiba di lorong kelas 1A.
Karena jendela kelasnya sedikit tinggi, Vellora melompat-lompat kecil berusaha mengintip ke dalam. Melihat itu, tanpa banyak bicara, Leo langsung menyelipkan tangannya di bawah lengan Vellora dan mengangkat tubuh gadis kecil itu dengan mudah.
"Wahhh... kelasnya bagus sekali!" gumam Vellora takjub dengan mata berbinar-binar saat mengintip dari balik kaca. Dindingnya penuh lukisan, dan mejanya berwarna-warni. Ia tak sabar ingin segera duduk di sana.
"Nah, sekian itu saja yang bisa saya perlihatkan. Kelasnya sangat nyaman, kan?" ujar Kina ramah.
Leo menurunkan Vellora perlahan. "Emm, terima kasih banyak, Bu Kina. Kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih juga sudah menyempatkan waktu mengajak kami berkeliling," ujar Leo sopan, meski wajahnya tetap minim ekspresi.
"Sama-sama, sampai jumpa besok, Vellora!" senyum Kina sambil melambaikan tangan.
Akhirnya, urusan pendaftaran yang sempat membuat Leo pusing itu selesai dengan sangat mulus. Dengan tangan yang kembali bertautan, pembunuh bayaran muda dan gadis kecil itu melangkah pulang ke kediaman Theodore, siap menyambut hari esok yang baru.