Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Yu Tian memilih jalan memutar di sepanjang kanal selatan, karena jalan utama menuju pusat kota penuh pedagang dan rombongan kereta, dan ia tidak punya alasan untuk berdesakan dengan siapa pun.
Di kiri, air kanal yang kehijauan mengalir pelan di bawah jembatan batu bungkuk, dan di kanan deretan gudang tua berjajar dengan dinding yang mengelupas dan pintu-pintu besi berkarat. Bau lumut dan kayu lapuk memenuhi udara. Ia hampir melewati sebuah lorong sempit di antara dua gudang ketika suara tawa kasar membuatnya berhenti.
Di ujung lorong, delapan pria berbadan besar berdiri melingkar mengelilingi seorang gadis berkerudung biru tua. Kerudung itu menutup hampir seluruh kepala dan wajahnya, hanya menyisakan bayangan di bawah tudung.
Gadis itu berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan perut, dan tidak sedikit pun tampak takut. Bahunya tidak bergetar, napasnya tidak terburu-buru, dan ia menatap lurus ke arah lelaki bertubuh paling besar yang berdiri di hadapannya.
"Pergilah." Suara gadis itu rendah dan dingin, tanpa gemetar. "Aku tidak ingin membunuh kalian di tempat sesempit ini."
Para penjahat itu saling pandang.
Yu Tian berdiri di mulut lorong dengan satu bahu bersandar ke dinding gudang, dan matanya setengah terpejam sementara indranya menyapu udara. Sebuah aura Inti Emas yang tebal menggantung di sekeliling gadis itu, dingin dan lembap, dan itulah yang membuat delapan lelaki bertubuh kekar itu belum berani menyentuhnya. Tetapi ada sesuatu yang janggal.
'Aura itu menempel di kulitnya, bukan mengalir dari dalam. Dantiannya kosong. Tidak ada satu pun arus Qi yang bergerak di tubuh itu.' Ia melangkah lebih dekat tanpa suara, dan pandangannya jatuh ke pergelangan tangan kiri gadis itu. Di sana melingkar sebuah gelang perak tipis dengan permata biru yang berdenyut pelan, dan di permukaannya tergurat segel berbentuk awan yang tidak ia temukan pada artefak biasa.
'Gelang penyalur. Kekuatan pemakai gelang mengalir ke pemakai cincin pasangannya.' Yu Tian menghubungkan potongan-potongan itu dalam sekejap. 'Yang tertinggal pada gelang hanya gema ranahnya, sebuah selubung kosong. Gadis ini tidak punya kekuatan apa pun lagi, dan ia berdiri di sini hanya dengan menggertak.' Ia teringat pembicaraan di warung mi tadi, dua jenius yang naik ranah inti emas dalam lima bulan, dan sudut matanya berkedut. 'Kemungkinan cincin itu digunakan oleh si Lu Heng.'
Salah satu penjahat, seorang pria kurus berhidung patah, melangkah maju dengan golok di tangan dan menyipitkan mata ke arah gadis berkerudung itu.
"Bos, ada yang tidak beres. Kalau dia benar-benar Inti Emas, kita sudah mati dari tadi. Kenapa dia cuma berdiri?" Ia menjulurkan golok pelan-pelan sampai ujungnya menyentuh jubah gadis itu, dan gadis itu tidak bergerak sedikit pun. Wajah pria kurus itu berubah, lalu berseringai lebar. "Dia gertak! Dia tidak punya Qi sama sekali!"
Pria besar di depan mengangkat tangan dan tertawa keras, dan seluruh kawanan itu bergerak serempak menyerbu gadis itu dengan golok dan pentungan. Yu Tian menghela napas, dan suaranya terdengar jelas di lorong sempit itu. "Delapan lelaki untuk seorang gadis. Kalian memang tidak punya harga diri."
Semua kepala berputar. Pria besar itu menyipitkan mata dan senyumnya hilang.
"Siapa kau? Pergi, atau kau ikut kubunuh!" Yu Tian melangkah masuk dengan tangan terlipat di balik lengan jubah, dan dua penjahat di sisi kiri menerjang bersamaan dengan golok terayun.
Pedang putih keluar dari sarungnya dalam satu gerakan, dan dua kepala golok terpotong bersih di pangkalnya sebelum menyentuh bahunya. Dua bilah itu berdenting jatuh ke tanah, dan sepasang lelaki itu menatap gagang kosong di tangan mereka dengan mulut menganga.
Pria besar itu meraung dan menghantamkan kedua telapak tangannya ke tanah, dan Qi Fondasi Roh yang kasar menyembur dari bawah kakinya membentuk gelombang debu. Yu Tian tidak mundur.
Pedangnya menebas dalam lengkung pendek, dan gelombang itu terbelah dua, mengalir ke kiri dan kanan tanpa menyentuh jubahnya. Tebasan kedua menyusul tanpa jeda, melintas di leher pria besar itu, dan kepalanya jatuh ke tanah berair disusul tubuhnya yang rebah ke belakang.
Enam penjahat yang tersisa tidak sempat berlari. Yu Tian bergerak di antara mereka dengan langkah-langkah panjang, setiap ayunan pedang menyisakan satu tubuh yang rebah, dan ketika ia menyarungkan pedangnya lagi, tidak ada satu pun yang masih berdiri. Genangan merah bercampur air kanal mengalir ke selokan, dan lorong itu kembali sunyi kecuali bunyi tetes dari atap gudang.
Ia menoleh ke belakang. Gadis berkerudung itu masih berdiri di tempatnya dengan tangan terlipat, tetapi tudungnya sudah jatuh ke belakang oleh angin pedang tadi. Rambut hitamnya diikat tinggi dengan pita putih, wajahnya pucat dengan mata jernih yang tajam, dan bibirnya terkatup rapat menahan sesuatu.
Yu Tian berhenti bernapas sepersekian detik. 'Lan Shuang.'
Wajah itu sama dengan wajah yang pernah terkulai di lengannya di panggung batu, dan ia tidak menyangka akan bertemu dengannya di lorong gudang yang bau lumut.
Lan Shuang menatapnya tanpa berkedip, dan kemudian sesuatu yang tidak terduga terjadi. Ia melangkah maju dengan cepat, merentangkan kedua tangan, dan memeluk Yu Tian erat-erat dengan bahu yang bergetar halus. Yu Tian membeku dengan tangan terangkat setengah, tidak tahu harus berbuat apa.
"Terima kasih." Suara Lan Shuang pelan di dekat bahunya, serak tetapi tegas. "Kalau kau tidak lewat, aku..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia mundur selangkah, menarik lengan jubahnya sampai menutupi gelang di pergelangan tangannya, dan merapikan pita di rambutnya dengan jari yang masih gemetar. "Siapa namamu, Tuan penolong?"
Yu Tian terdiam sebentar.
'Aku tidak boleh menyebut nama asliku.' Pikirannya bergerak cepat, dan satu jawaban muncul begitu saja. "Tian Yu."
Mata Lan Shuang menyipit, dan ia menatap Yu Tian lama sekali dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Bibirnya terkatup tipis, dan jemarinya berhenti merapikan pita di rambutnya.
"Namamu mirip dengan seseorang." Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada datar. "Tapi kurasa itu kebetulan. Kalau kau benar-benar dia, mana mungkin ia memberikan nama Tian Yu. Kalau iya, aku akan berhenti menganggapnya jenius."
Yu Tian menatap gadis itu dengan sudut mata berkedut.
'Gadis ini...' Rasa kesalnya muncul tanpa bisa ia tahan, tetapi ia tidak punya jawaban yang bisa diucapkan dengan wajah topeng itu. Ia menarik napas pelan, menangkupkan tangan sekilas, dan berbalik. "Aku harus pergi. Hati-hati di jalan, Nona."
"Ke mana?" Lan Shuang menyusulnya dengan satu langkah. "Kau mau ke mana?"
"Menara Penguasa Langit."
Lan Shuang mengerutkan dahi.
"Menara itu tidak bisa dimasuki sembarang orang. Hanya yang mendapat izin Kaisar yang boleh masuk, dan penjaga di kaki menara akan membunuh siapa pun yang mencoba melewati gerbangnya tanpa surat." Ia berhenti sebentar, menurunkan pandangan ke pedang di pinggang Yu Tian, lalu ke delapan mayat yang berserakan di belakang mereka, dan matanya yang dingin berkilat dengan perhitungan. "Aku akan membantumu mendapatkan izin dari Yang Mulia. Lagipula tidak ada ruginya membawa orang yang kuat."
Yu Tian menatap gadis itu sejenak.
'Ia butuh pengawal, dan terlalu bangga untuk mengatakannya.' Ia mengangguk pendek. "Baiklah."
Mereka berjalan keluar dari lorong sempit itu berdampingan, meninggalkan gudang-gudang tua dan kanal yang kehijauan. Di ujung jalan, jauh di tengah kota, atap emas sebuah istana menjulang di atas rumah-rumah, memantulkan cahaya sore ke seluruh ibu kota.