Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Istri Baru — Anindya
Pagi berikutnya, cincin pernikahan itu tetap berada di atas surat PHK.
Arya tidak mengambilnya ketika keluar dari kamar.
Karina sudah menunggu di ruang tamu dengan pakaian rapi dan tas mahal di bahu. Dua piring nasi goreng semalam masih berada di meja, mengering dan tak tersentuh. Bau minyak dingin memenuhi ruangan.
"Cepat mandi, Mas. Kita jangan sampai terlambat."
Nada suaranya ringan, hampir seperti mereka akan mengurus perpanjangan surat kendaraan.
Arya mengambil map dokumen yang sudah disiapkan di atas sofa. "Aku sudah siap."
Karina memandang kemejanya yang sama seperti kemarin. "Kamu mau ketemu Anindya pakai baju begitu? Setidaknya kelihatan pantas sedikit. Dia orang kaya."
"Aku datang untuk menyelesaikan perceraian, bukan melamar pekerjaan."
Arya berjalan keluar lebih dulu.
Karina mendecakkan lidah, lalu mengikuti sambil mengetik pesan dengan cepat. Ia tidak melihat Arya menutup pintu apartemen tanpa menoleh satu kali pun.
Perjalanan menuju Pengadilan Agama berlangsung dalam diam. Karina beberapa kali menerima telepon dari pengacaranya. Dari potongan percakapan itu, Arya akhirnya memahami seberapa jauh semuanya sudah dipersiapkan.
Gugatan telah masuk beberapa waktu lalu.
Panggilan dan berkas yang dulu disodorkan Karina kepadanya ternyata bukan urusan pajak. Putusan sudah dijadwalkan, dan karena seluruh dokumen serta pernyataan kedua pihak dianggap lengkap, hari itu mereka hanya menunggu salinan resmi dan akta cerai.
Karina tidak sedang meminta izin untuk meninggalkannya.
Ia hanya mengundang Arya menyaksikan keputusan yang telah dibuatnya sendiri.
Di lorong pengadilan, pendingin udara mendengung di atas kepala. Beberapa pasangan duduk berjauhan dengan map di pangkuan. Ada yang menangis. Ada yang saling membuang muka.
Karina justru terus memeriksa aplikasi perbankan.
"Anindya bilang uang muka langsung masuk setelah akta cerai terbit," bisiknya. "Rp 600 juta. Sisanya setelah dua bulan."
Arya memandang lurus ke depan. "Tidak perlu melapor kepadaku."
"Uang itu nanti juga buat kita."
"Tidak ada kita setelah hari ini."
Karina memutar mata. "Masih marah saja."
Pintu ruangan terbuka. Nama mereka dipanggil.
Kurang dari satu jam kemudian, sebuah lembar resmi berada di tangan Arya. Di bagian atas tercetak nama pengadilan. Di bawahnya, ada nomor putusan dan keterangan bahwa ikatan hukum antara Arya Wibowo dan Karina Puspita telah berakhir.
Akta cerai itu tidak berbunyi ketika diserahkan.
Namun di telinga Arya, bunyinya lebih keras daripada pintu kamar yang ia tutup semalam.
Karina mengangkat ponsel. "Sudah selesai, Nin. Kami menuju KUA sekarang."
Ia berjalan beberapa langkah di depan, sama sekali tidak menyadari Arya berhenti di dekat tempat sampah.
Pria itu membuka dompet, mengeluarkan foto kecil pernikahan mereka yang selama ini terselip di belakang KTP, lalu merobeknya menjadi dua. Ia tidak membuang bagian wajah Karina dengan marah. Ia hanya melipat kedua potongan itu dan memasukkannya ke tempat sampah.
Tiga tahun selesai dalam satu gerakan tenang.
Di kantor KUA, sebuah mobil hitam sudah menunggu di tepi jalan. Sopir berdiri di dekat pintu, sementara dua pria berpakaian rapi berjaga beberapa meter di belakang.
Karina langsung memperlambat langkah.
Anindya Kusuma berdiri di bawah kanopi depan gedung.
Perempuan itu mengenakan kebaya modern berwarna gading dengan potongan sederhana. Tidak ada perhiasan berlebihan. Rambut hitamnya disanggul rendah, memperlihatkan wajah tenang yang selama ini sering muncul di majalah bisnis dan acara amal Grup Kusuma.
Namun ketika pandangannya menemukan Arya, ketenangan itu retak.
Matanya menjadi terang.
Hanya sesaat. Anindya segera menurunkan pandangan dan menggenggam map biru di depan dada. Akan tetapi, Arya sempat melihat jemarinya menekan tepi map terlalu kuat.
"Kalian sudah selesai?" tanyanya.
"Sudah." Karina mengangkat akta cerai seperti tiket kemenangan. "Mana uang mukanya?"
Tidak ada ucapan belasungkawa. Tidak ada jeda untuk pernikahan yang baru saja berakhir.
Anindya menatap Karina cukup lama, lalu mengalihkan pandangan kepada staf yang berdiri di sampingnya. "Tolong proses sesuai perjanjian."
Ponsel Karina berbunyi.
Notifikasi mutasi rekening muncul di layar.
Rp 600.000.000.
Karina menutup mulut, tetapi senyum lebarnya tetap terlihat. "Masuk!"
Beberapa orang di ruang tunggu menoleh. Arya merasakan tatapan mereka berpindah dari angka di layar Karina ke akta cerai di tangannya, lalu kepada Anindya yang sudah menyiapkan dokumen akad.
Untuk pertama kalinya, rasa terhina itu tidak membuat Arya menunduk.
Ia melipat akta cerai dengan rapi dan memasukkannya ke dalam map miliknya.
"Sebelum kita lanjut," kata Arya kepada Anindya, "saya ingin memastikan satu hal. Pernikahan ini harus sah, tetapi kesepakatan kita tetap dua bulan. Benar?"
Anindya menatapnya. Ada rasa sakit yang begitu cepat melintas di matanya sehingga Arya mengira ia salah melihat.
"Benar," jawabnya lembut. "Saya tidak akan memaksa Mas Arya melakukan apa pun yang tidak Anda setujui. Saya hanya membutuhkan status pernikahan yang sah untuk memenuhi wasiat Eyang."
"Setelah itu?"
"Setelah itu... keputusan ada pada Mas Arya."
Karina menyela, "Ya setelah itu dia kembali sama aku. Sudah jelas, kan?"
Anindya tidak menjawabnya.
Ia hanya memandang Arya.
"Saya ingin mendengar keputusan dari orangnya sendiri," katanya.
Arya menoleh kepada Karina. "Cerai ya cerai. Jangan menentukan hidupku lagi."
Senyum Karina menegang. "Mas, jangan bikin suasana jelek. Aku cuma—"
"Kamu sudah menerima harga yang kamu pasang. Urusan kita selesai."
Karina seperti hendak membalas, tetapi petugas memanggil nama Arya dan Anindya. Wali hakim, saksi, serta dokumen pemeriksaan sudah siap. Semua syarat administrasi yang diperlukan telah dipenuhi sebelumnya oleh tim hukum Anindya.
Akad berlangsung singkat, tetapi tidak terasa ringan.
Saat Arya mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas, ruangan menjadi hening. Para saksi menyatakan sah. Sebuah doa dipanjatkan. Kemudian petugas membawa dua buku nikah ke meja.
Dua buku kecil berwarna gelap itu diletakkan berdampingan.
Nama Arya Wibowo tercetak di satu sisi.
Nama Anindya Kusuma tercetak di sisi lain.
Karina berdiri di belakang kursi, memegang ponsel dengan satu tangan dan amplop dokumen dengan tangan lain. Wajahnya masih menunjukkan keyakinan bahwa semua ini hanya sandiwara berbayar.
Anindya, sebaliknya, menatap buku nikah seolah benda kecil itu jauh lebih berharga daripada angka di rekening mana pun.
Petugas meminta mereka berfoto.
Arya berdiri di samping Anindya. Bahu mereka hampir bersentuhan. Aroma lembut bunga dari rambut perempuan itu membuat Arya tanpa sadar menahan napas.
"Sedikit lebih dekat, Pak," kata petugas foto. "Ibu juga."
Anindya bergerak setengah langkah. Tangannya menyentuh lengan Arya.
Sentuhan itu sangat ringan, tetapi jemarinya gemetar.
Lampu kamera berkedip.
Setelah semua selesai, Anindya mengambil kedua buku nikah sebelum Arya sempat meraihnya. Ia memeluknya di depan dada, lalu tersenyum kecil.
"Biar aku yang simpan."
Untuk pertama kalinya sejak tadi malam, Arya melihat senyum yang tidak ditujukan kepada uang.
Karina datang mendekat. "Ingat, cuma dua bulan. Jangan terlalu terbawa suasana, Nin."
Senyum Anindya menghilang. "Kamu sudah menerima uang muka. Sisanya mengikuti isi perjanjian. Jangan mengatur rumah tangga saya."
Kata rumah tangga membuat Karina terdiam.
Arya mengambil tasnya. "Aku akan mengambil barang-barangku nanti."
"Nanti malam saja," kata Karina cepat. "Aku mau belanja dulu."
"Kirim lewat kurir. Tidak banyak yang kumiliki di sana."
Ia berjalan menuruni tangga bersama Anindya.
"Mas!" panggil Karina.
Arya berhenti.
"Dua bulan lagi kamu pulang, kan?"
Arya menoleh. Di belakang Karina ada pintu kantor tempat satu pernikahan berakhir dan pernikahan lain baru saja dimulai.
"Aku tidak punya rumah di tempatmu lagi."
Ia berbalik dan pergi.
Anindya mengikuti di sampingnya, masih memeluk dua buku nikah. Di bawah sinar siang Surabaya, ujung telinganya memerah, tetapi langkahnya terasa ringan.
Karina berdiri sendirian sampai mobil hitam itu meninggalkan halaman.
Baru setelah mereka hilang dari pandangan, ia masuk ke toilet, mengunci pintu, lalu mengeluarkan benda yang sejak tadi tersembunyi di dasar tasnya.
Sebuah alat tes kehamilan dengan dua garis.
Karina meletakkan tangan di perutnya yang masih rata.
Ia tidak tahu pasti siapa ayahnya.
Namun dua bulan lagi, jika Arya benar-benar menolak pulang, anak ini akan menjadi tali yang menyeret pria itu kembali kepadanya.