Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 10
Rara sampai rumah Nadia, tepat saat kakaknya ingin pergi ke toko kue. Ia ingin memastikan usahanya yang pernah ia jalankan bersama ibunya kembali dibuka, setelah sebelumnya harus terpaksa ditutup karena ibunya meninggal dunia.
"Ra, kamar kamu dilantai atas ya. Yang sebelah kanan. Tapi nanti dibersihin dulu, terakhir kakak bersihin kamar itu, seminggu yang lalu," ujar Nadia di ruang tamu.
"ya kak, nanti aku bersihin," jawab Rara sambil melangkah menuju tangga. Ia juga membawa dua koper yang berisi pakaian dan barang miliknya.
"baiklah, kakak tinggal ya ra," kata Nadia.
"ya kak. Hati-hati dijalan," jawab Rara. Ia berhenti dan membalikkan badan ke arah Nadia. Ia memandang kakaknya yang melangkah keluar. Saat pintu tertutup, ia kembali berjalan menuju kamarnya.
Hari semakin sore. Matahari perlahan tenggelam, diikuti sinarnya yang mulai memudar. Perlahan cahayanya menghilang digantikan gelapnya malam.
Nadia sibuk memasak didapur menyiapkan makan malam. Tangannya sangat lihai dalam mengolah sayuran di depannya dan meracik bumbu yang memberi cita rasa pada makanan. Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan masakannya. Lalu, ia langsung sajikan diatas meja makan.
Rara melangkah turun, menapaki satu per satu anak tangga. Ia tampak kacau seperti baru bangun tidur. Ia kebawah sambil membawa handuk, pakaian ganti dan tas kecil berisi alat mandi.
Sesampainya Rara dikamar siang tadi, ia langsung membersihkan ruangan itu. Menghilangkan debu dan menata rapi bajunya kedalam lemari. Karena begitu lelahnya, niatnya hanya berbaring dikasur sebentar untuk meregangkan badan. Tanpa disadari ia malah tertidur dan terbangun pukul 6 sore.
Kini ia masuk ke kamar mandi. Letaknya cukup dekat dari dapur. Ia langsung membersihkan dirinya. Rasanya ia segar kembali.
Setelah beberapa menit didalam kamar mandi, Rara kembali ke kamar. Ia memberikan sentuhan sedikit di wajahnya agar kelihatan lebih menawan.
Tok..tok..tok..
Nadia mengetuk pintu kamarnya. Ia meletakkan cermin ke atas kasur dan berjalan mendekat ke pintu. Kakaknya mengajaknya untuk makan. Ia mengiyakan ajakannya. Sebelum menuju meja makan, ia selesaikan dulu riasannya.
Wajahnya sekarang terlihat lebih segar, bersih, dan "hidup" tanpa terlihat berlebihan. Walaupun itu hanya riasan yang ringan, namun kecantikannya tidak berkurang sekalipun.
Suara tabrakan sendok dan piring keramik sesekali terdengar memecah keheningan ruang makan. Nadia dan Rara makan malam bersama. Mereka duduk saling berseberangan dan berhadapan.
"ra sebelum nantinya kakak lupa, kakak mau ngomong sesuatu," kata Nadia. Sebelum melanjutkan obrolan ia minum dulu. Sambil menguyah makanan didalam mulutnya, Rara bersiap menyimak apa yang ingin disampaikan kakaknya.
"mau ngomong apa kak," jawab Rara.
"sekarang kan kamu tinggal di rumah kakak. Didalam rumah ini kan ada Mas Rio. Jadi kakak minta kamu lebih sopan ya. Terutama cara kamu berpakaian. Kakak minta kamu jangan berpakaian yang seksi ya. Ini demi kebaikan bersama. Kamu paham kan situasinya ra ?" kata Nadia. Nadanya pelan berharap adiknya mengerti.
Rara sesaat merapikan baju rajut lengan pendek crop topnya dan juga merapikan celana jeans pendek yang ia kenakan. Saat diapartemen ia sering berpakaian seperti itu. Rasanya lebih nyaman.
Kondisi saat ini berbeda. Ia sekarang tinggal di rumah kakaknya yang sudah bersuami. Ia bukan lagi tinggal sendiri seperti diapartemen yang bebas berpakaian. Hal ini tentunya menuntut Rara agar tahu batasan dirinya dirumah ini.
"baik ka," jawab Rara singkat.
"terus jika malam kamu mau keluar. Kamu nggak boleh berpakaian seksi dari rumah. Pokoknya jangan sampai Mas Rio lihat kamu berpakaian ketat," kata Nadia, berharap adiknya paham apa yang dia maksud.
"kok sampai segitunya kak," jawab Rara sedikit kesal dengan batasan yang diberikan kakaknya.
"kamu harus paham ra. kamu tinggal di rumah orang yang sudah berkeluarga. Sekarang dirumah ini ada dua perempuan dan satu pria. Bagaimana pendapat orang lain tentang keluarga ini ? Belum tentu mereka berpikir perempuan satunya adalah adik dari istrinya. Jadi demi nantinya ada prasangka buruk, lebih baik kamu nuruti kakak, " Jelas Nadia dengan nada yang pelan dan mudah dimengerti.
Rara telihat agak kesal dengan batasan yang dijelaskan kakaknya. Rasanya dirinya sangat terkekang. Namun, mau gimana lagi. Ia terpaksa tinggal sementara dirumah ini sampai ia punya uang dan bisa sewa apartemen lagi.
"kamu pahamkan ra sama posisi kamu ?" tanya Nadia.
"iya kak, aku paham. Dengan syarat, kakak nggak boleh larang aku pergi malam," Jawab Rara.
"tapi ra pergi..." belum selesai ngomong, sudah dipotong Rara.
"kalau kakak nggak mau aku juga nggak mau nuruti batasan yang kakak berikan," ucap Rara tegas.
Nadia menghela napas. Ia serasa terpaksa harus nuruti perkataan adiknya. Tapi, ini juga demi kebaikan keluarga.
"baik ra. Tapi kamu harus ingat pesan kakak. Jaga diri kamu sebagai wanita," kata Nadia.
"iya kak, aku akan jaga diri," jawab Rara. Ia kembali menyantap hidangan makan malam. Nadia pun melakukan hal yang sama.
Kini obrolan dimeja makan bergeser ke cerita Rara tinggal diapartemen. Obrolan itu menjadi modal awal Nadia untuk memperbaiki hubungan dengan adiknya. Ia berharap, adiknya mau terbuka dengan dirinya, sehingga tidak ada kata renggang lagi.