Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbayang Vivian
Vivian perlahan melepaskan ciumannya, tetapi masih menatap pria di hadapannya.
Tidak lama kemudian, seorang pria turun dari lantai dua.
Dia adalah Jeff, kakak senior Vivian saat masih kuliah. Kini Jeff bekerja di sebuah perusahaan yang sedang menjalin kerja sama dengan Yang Group, perusahaan yang dipimpin oleh Delvin Yang.
Langkah Jeff terhenti ketika melihat Delvin dan Vivian berdiri begitu dekat.
"Ka-kalian sedang apa?" tanya Jeff dengan wajah terkejut.
Mendengar suara Jeff, Delvin dan Vivian akhirnya tersadar.
"K-Kakak, dia siapa?" tanya Vivian. Tangannya masih melingkar leher Delvin.
Jeff semakin bingung.
"Dia adalah Tuan Yang, investor terbesar di perusahaan kami. Vivian, kenapa kau memeluknya?"
Vivian langsung melepaskan tangannya dengan canggung.
Sementara itu, Delvin tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Maaf, Tuan Yang. Vivian adalah adik kelas saya dulu. Dia memang sering salah masuk kelas, salah masuk mobil, bahkan salah mengenali orang," jelas Jeff.
"Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja memeluk dan mencium Anda," ujar Vivian terus terang.
Jeff langsung membelalakkan mata.
"C-cium?" ulangnya kaget.
"Kakak, aku salah mengenali orang. Aku mengira Kakak yang duduk di sana. Ternyata Tuan Yang. Aku juga tidak sedang mengambil kesempatan menciumnya."
jelas Vivian santai.
Jeff menutup wajahnya.
"Kenapa dia harus berkata jujur?!" batinnya.
"Tidak masalah. Mari kita lanjutkan rencana kita," ujar Delvin tenang, walau sedikit canggung.
"Baik, Tuan," jawab Jeff.
Jeff kemudian menoleh kepada Vivian.
"Vivian, kau naik ke lantai atas dulu. Tunggu aku di sana."
"Baiklah!"
Vivian pun melangkah menuju lantai atas, tanpa menyadari bahwa setelah kejadian tadi, tatapan Delvin masih mengikuti langkahnya.
Vivian memasuki salah satu ruangan di lantai atas. Begitu duduk, dia menyadari jantungnya masih berdegup kencang.
"Gawat! Sepertinya jantungku bermasalah. Kenapa sejak tadi berdetak tanpa henti?" gumam Vivian sambil mengelus dadanya.
"Sepertinya aku harus segera diperiksa dokter."
Beberapa saat kemudian, Delvin meninggalkan villa milik Jeff bersama Jo.
Jo membuka pintu belakang mobil, lalu Delvin masuk. Setelah itu, mereka segera meninggalkan lokasi tersebut.
"Tuan, apakah kita perlu pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi Anda?" tanya Jo.
"Tidak perlu!" jawab Delvin singkat.
Jo terdiam.
"Aneh. Biasanya jika ada wanita yang menyentuhnya sedikit saja, Tuan pasti langsung mencuci tangannya bahkan mengganti pakaiannya. Tadi Vivian Wei memeluk dan bahkan menciumnya. Kenapa Tuan justru diam saja?"
"Mengenai pertunangan Tuan Muda Mark dengan Vivi Wei, kapan kita akan berkunjung ke rumah keluarga Wei?" tanya Jo.
"Setelah hasil ujian Hua Qing diumumkan. Belakangan ini masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan," jawab Delvin.
"Tuan Muda Mark mengatakan Vivi Wei setiap hari mengganggunya. Dia meminta Anda segera membatalkan pertunangannya."
"Biarkan saja. Lagi pula, Mark bisa langsung menolak wanita itu," jawab Delvin tenang.
Malam Hari
Mansion Keluarga Yang.
Mark mengetuk pintu kamar Delvin.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Delvin berdiri di sana mengenakan jubah tidur.
"Paman, tolong aku! Kalau tidak, aku bisa bunuh diri!" seru Mark sambil langsung memeluk Delvin.
Delvin segera melepaskan tangan keponakannya dan berjalan masuk. Dia duduk di sofa lalu menyalakan sebatang rokok.
"Ada apa mencariku malam-malam begini?" tanyanya.
"Paman, kali ini tolong segera batalkan pertunanganku dengan burung hantu itu! Aku tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengannya. Setiap hari dia mengejarku terus. Aku sudah tidak tahan. Aku lebih memilih menjadi biksu daripada menikahinya!" keluh Mark sambil duduk di samping pamannya.
"Kau bisa menolaknya secara langsung. Hanya seorang wanita, kenapa kau tidak bisa mengatasinya?" jawab Delvin.
"Siapa suruh aku terlalu tampan dan mewarisi ketampananmu, Paman? Lagi pula, hatiku sudah dimiliki orang lain. Aku tidak mungkin bersama dia," ujar Mark.
"Tenang saja. Setelah pengumuman hasil ujian Hua Qing, aku akan berkunjung ke rumah keluarga Wei. Untuk menjaga nama baik keluarga Yang, aku harus bertemu langsung dengan mereka. Bukti kesalahan Vivi sudah lengkap, jadi kita punya alasan yang kuat untuk membatalkan pertunangan. Kau tidak perlu terus menghindarinya," kata Delvin.
"Benarkah? Paman akan segera pergi ke rumah mereka?" tanya Mark dengan mata berbinar.
"Iya."
"Paman, pantas saja aku mengidolakanmu sejak kecil. Selain tampan dan cerdas, Paman juga sudah seperti orang tua yang baik bagiku."
"Aku bukan orang tuamu. Aku hanya pamanmu," jawab Delvin datar.
"Paman, bagaimana kalau Paman saja yang menikah? Dengan begitu, Kakek tidak akan memaksaku bertunangan dengan siapa pun lagi. Aku sendiri sudah mencintai seseorang."
"Tidak menikah, tidak mencintai, dan tidak tertarik pada wanita mana pun. Pamanmu ini hanya fokus pada kehidupanku sendiri," jawab Delvin santai.
Mark menatap pamannya dari atas sampai bawah.
"Paman sudah tiga puluh tahun. Masa tidak tertarik pada wanita? Aneh sekali kalau bahkan ciuman saja belum pernah."
Delvin yang sedang mengisap rokok tiba-tiba terdiam.
Bayangan wajah Vivian kembali muncul di pikirannya.
Terutama saat bibir mereka tanpa sengaja bersentuhan.
Bibirnya... memang lembut.
Delvin mengernyit.
Mark memperhatikan perubahan ekspresi pamannya.
"Paman... jangan-jangan..."
Delvin langsung menatapnya tajam.
"Diam."