Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Dua hari setelah pertengkaran hebat malam itu, suasana di rumah mewah Bratadikara mendingin seperti es. Tidak ada tegur sapa, tidak ada tatapan mata. Gendis lebih banyak mengurung diri di dalam kamar dengan alasan dia sedang tidak ingin di ganggu, sementara Arya menenggelamkan diri dalam tumpukan pekerjaan kantor untuk mengalihkan rasa cemburu dan kekosongan yang aneh di dadanya.
Siang itu, Arya menghadiri jamuan makan siang dalam forum tahunan Asosiasi Penyiaran Indonesia. Sebagai CEO baru BRTV, hadir di acara elit ini adalah kewajiban untuk memperluas jejaring bisnis.
Suasana didalam hotel bintang lima malam itu dipenuhi para petinggi media dari segala penjuru negeri ini. Saat Arya sedang berdiri menikmati minumannya, seorang pria 8 tahun lebih tua darinya bertubuh tegap dengan setelan jas mahal mendekat, menepuk bahunya ramah.
"Tuan Arya Bratadikara! Wah, senang sekali akhirnya bisa berbincang langsung dengan penerus tongkat estafet Bratadikara Group," sapa pria itu dengan nada berwibawa.
Arya tersenyum sopan, menjabat tangan pria tersebut. "Pak Bramantyo. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Petinggi Utama GBTv."
Bramantyo kakak kandung almarhum Galang sekaligus sosok berpengaruh di industri penyiaran tertawa kecil. Mereka sempat berbincang singkat mengenai peta persaingan stasiun TV dan proyek-proyek terbaru.
Namun, ketika topik pembicaraan bergeser ke arah program-program acara ber rating tinggi, nama almarhum adik Bramantyo mendadak terungkit.
"Jujur saja, Arya. GBTv agak kewalahan di tahap sekarang ini," tutur Bramantyo seraya menyesap minumannya. "Sejak almarhum adik saya, Galang, meninggal dunia enam bulan lalu karena kecelakaan tragis itu, divisi pengembangan kami kehilangan arah. Galang itu tokoh utama di stasiun tv kami. Kalau anda punya Bu Nissa yang cermat,saya punya adik saya sendiri."
Galang?
Jantung Arya berdetak lambat. Nama itu terasa tidak asing. Ada rasa yang samar namun menggelitik mendadak menghantam ingatannya.
Galang... nama mantan suami Gendis kan.
Arya menetralkan raut wajahnya, mencoba mempertahankan kesan yang biasa saja. "Saya turut berduka cita atas kepulangan almarhum Galang, Pak Bramantyo. Kalau boleh tahu... mendiang meninggalkan seorang istri, bukan?" pancing nya.
Bramantyo mendengus kasar. Raut wajah berwibawa itu seketika berubah sinis, memperlihatkan guratan kebencian yang nyata.
"Ah, wanita itu," ejek Bramantyo terang-terangan tanpa beban. "Iya, Galang meninggalkan seorang istri. Dan jujur saja, menyingkirkannya dari keluarga kami, menjadi keputusan paling membanggakan yang pernah saya ambil untuk keluarga."
Arya mengerutkan dahi, rasa penasarannya kian terusik. "Maksudnya?"
Bramantyo terkekeh puas, merasa di atas angin. "Adik saya itu naif, Pak Arya. Dia pria kaya yang terlalu polos sampai bisa dipengaruhi oleh perempuan kelas bawah. Bayangkan saja, Galang nekat menikahi seorang gadis biasa yang cuma berprofesi sebagai jurnalis lapangan! Wanita tanpa latar belakang keluarga terpandang yang jelas-jelas cuma mengincar harta adik saya!"
Arya terpaku di tempatnya. Kalimat demi kalimat dari mulut Bramantyo serasa memantulkan kata-kata kasar yang pernah ia lontarkan sendiri pada Gendis.
"Saya tidak sudi harta keluarga kami digerogoti perempuan itu setelah Galang tewas," lanjut Bramantyo dengan senyum puas yang amat licik. "Makanya, begitu Galang meninggal, saya langsung atur strategi untuk menyingkirkannya jauh-jauh dari keluarga kami!"
Tubuh Arya membeku seketika. Darahnya seolah berhenti mengalir. "Menyingkirkannya?" bisik Arya dengan suara yang mendadak terasa amat berat di tenggorokan.
"Iya!" Bramantyo tertawa hambar. "Saya tahu persis perempuan itu terlalu baik dan sok polos. Waktu itu, kebetulan ada seorang pria asing yang habis dirampok preman kampung di dekat rumah peristirahatannya, saya tau itu bukan rumah nya, dia hanya menenangkan diri waktu itu setelah kematian adik saya. Mungkin semesta juga ikut membantu rencana saya kan? Wanita itu membawanya masuk hanya untuk menolongnya dan memberi minum. Tapi... saya manfaatkan momen itu jadi luar biasa! Saya bayar beberapa ibu-ibu julid di sekitar kampung untuk memprovokasi warga, menggiring opini kalau mereka sedang berbuat mesum dan berzina di dalam rumah!"
DEG!
Rasa dingin yang membekukan seketika menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun Arya. Pandangannya menggelap sejenak. Suara bising di dalam sana di sekitarnya mendadak reda, berganti dengan suara dengungan kencang di dalam kepalanya sendiri.
Pria asing yang dirampok preman kampung malam itu... adalah dirinya sendiri! Pria yang ditolong oleh Gendis dengan tulus... adalah Arya!
"Warga yang tersulut emosi langsung melakukan penggerebekan," celoteh Bramantyo tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia tidak tau kalau laki-laki yang dia korbankan itu seorang Arya Bratadikara. "Saya tidak tau siapa laki-laki yang tidak beruntung itu, dia hanya ketakutan nama keluarga besar nya rusak karena insiden itu, akhirnya dengan terpaksa pria itu menikahi mantan adik ipar saya malam itu dibawah tanganj! Pembalasan yang sempurna, bukan? Dengar-dengar pria itu sangat membenci Gendis karena mengira ini jebakan, dan memperlakukannya sangat buruk di rumah barunya. Janda pencari harta itu mendapatkan penderitaan yang sangat pantas!"
Gendis... Jadi benar wanita itu bernama Gendis.
Wanita yang dituduh jebakan oleh Arya... adalah wanita yang malam itu justru menyelamatkan nyawanya saat dirampok!
Dan rencana licik Bramantyo-lah yang memprovokasi warga, memanfaatkan kepanikannya sendiri hingga Arya dipaksa menikahinya malam itu! Arya dengan bodohnya termakan narasi bahwa Gendis-lah yang menjebaknya demi harta!
"Oh iya, yang saya dengar lagi," Bramantyo melanjutkan celotehannya tanpa menyadari wajah Arya yang sudah pucat pasi bagai mayat, "Satu-satunya orang yang masih sok pahlawan membela wanita itu hanya Dokter Alex. Pria itu sahabat karib almarhum adik saya sekaligus dokter yang mengurus identitas Galang saat tubuhnya sudah tidak dikenali karena terbakar. Dia bahkan sempat membentak saya di rumah sakit karena membela Gendis."
Dokter Alex... sahabat almarhum Galang? Jadi dokter itu sahabat mendiang suami nya?
Kata - kata dari Bramantyo menjelma menjadi paku-paku panas yang menghujam seluruh harga diri, kesombongan, dan prasangka buruk yang dibangun Arya selama ini.
Arya tidak pernah dijebak oleh Gendis. Bahan wanita itu penolongnya, sekaligus korban kekejaman Bramantyo dan kedangkalan pikiran Arya sendiri!
"Pak Arya? Anda tidak apa-apa? Wajah Anda mendadak pucat sekali," tegur Bramantyo heran saat menyadari perubahan drastis pada lawan bicaranya.
Arya mengepalkan tangannya di balik saku celana hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap Bramantyo dengan kilat amarah yang sangat pekat, sebuah amarah yang bercampur dengan rasa jijik pada pria di hadapannya, dan rasa benci yang teramat mendalam pada dirinya sendiri.
"Saya ada urusan mendadak yang harus diselesaikan, permisi." sahut Arya dingin.
Tanpa berpamitan lebih lanjut, Arya berbalik dan berjalan cepat keluar dari dalam hotel Langkah kakinya terasa limbung, dadanya bergemuruh oleh badai penyesalan yang teramat hebat.
--
Sepanjang perjalanan pulang, Arya mengemudikan mobilnya bagai kesetanan. Ingatannya berputar liar menembus malam kelam itu.
Malam di mana ia dirampok preman kampung, dihajar hingga babak belur, lalu ditolong oleh seorang wanita yang membalut lukanya dengan lembut. Tak lama kemudian, pintu didobrak warga yang berteriak-teriak murka karena terprovokasi rumor perzinahan. Dia yang panik takut skandal nya terendus media akhirnya memaksa Arya menikahinya detik itu juga.
Sejak malam itu, Arya meluapkan seluruh kekesalannya pada Gendis. Ia menatapnya dengan jijik, memvonisnya sebagai benalu pencari harta.
Padahal... wanita itu penolong nyawanya. Wanita itu juga korban fitnah kekejaman keluarga mantan suaminya. Andai Bramantyo tau kalau wanita itu Produser Eksekutif jenius yang menyelamatkan perusahaannya! Pasti dia akan menyesali perbuatannya.
"Apa yang sudah aku lakukan padamu, Gendis... Apa yang sudah aku lakukan..."
Mobil hitam itu berhenti secara mendadak di halaman rumah mewah Bratadikara. Arya melompat keluar dari mobil, berlari kencang menaiki anak tangga menuju kamar Gendis.
Egonya yang setinggi langit telah hancur berkeping-keping. Satu-satunya yang ada di benaknya saat ini adalah berlutut di hadapan Gendis, memohon ampun atas segala dosa dan siksaan batin yang telah ia timpakan pada wanita itu.
Arya mendorong pintu kamar Gendis yang tidak terkunci.
"Gendis!" tak ada sahutan, kamar itu sangat gelap.
Saat ia hendak menghidupkan lampu, tiba-tiba..
"Arya, kamu sudah pulang?"
"Mama?"
.
.