Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: SUNYI DI UJUNG PEKAN
Suasana ruang mediasi lantai dasar Pengadilan Agama Jakarta Selatan sore itu diselimuti keheningan yang menyesakkan. Pendingin udara berdesing halus, namun atmosfer di dalam ruangan terasa seberat timah.
Di ujung meja kaca, Sony duduk bersedekah tangan bersama pengacaranya. Wajahnya yang tirus memancarkan kepuasan yang dingin. Pria itu tahu betul bahwa meskipun dirinya terancam jerat pidana korporasi, ia memegang satu-satunya kartu truf yang sanggup meremukkan pertahanan jiwa Ranti: Bima.
Sony dengan licik mengancam akan terus mengulur proses perceraian, mengajukan banding bertubi-tubi hingga tingkat Kasasi dan Peninjauan Kembali, serta menggunakan sisa pengaruh keluarganya untuk merekayasa sengketa custody yang berkepanjangan jika hak asuh Bima tidak diserahkan padanya. Ia sengaja memanfaatkan cela itu agar Ranti terjebak dalam pusaran konflik hukum yang tak berkesudahan—sebuah perang saraf yang berisiko merusak mental Bima yang masih balita.
Ranti duduk di seberang meja. Jemarinya meremas kain blazer hijau zamrudnya hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Pak Hendra menghela napas berat seraya memandangi draf kesepakatan perdamaian (dading) yang terhampar di atas meja.
"Bu Ranti..." bisik Pak Hendra pelan dengan raut wajah prihatin. "Jika kita melangkah ke pembacaan putusan akhir di persidangan utama, kita memiliki bukti psikologis yang sangat kuat untuk memenangkan hak asuh Bima secara penuh. Anda tidak perlu mengalah pada tuntutan manipulatif ini."
Ranti memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan wajah polos Bima yang menangis ketakutan tiap kali mendengar bentakan dan percekcokan hukum melintas dengan sangat jelas di benaknya.
Bagi Ranti, memenangkan pertarungan di meja hijau tetapi membiarkan jiwa Bima hancur oleh trauma sengketa berlarut-larut selama bertahun-tahun adalah sebuah kekalahan yang sejati.
Tidak ada satu pun ibu di dunia ini yang siap, bahkan rela, berpisah dari anak yang dilahirkannya dengan pertaruhan nyawa, batin Ranti dengan dada yang membuncah pedih. Tapi jika ini satu-satunya cara untuk menghentikan kegilaan Sony, mengakhiri pernikahan beracun ini dengan cepat, dan melindungi Bima dari trauma perang hukum yang berkepanjangan... aku yang akan menelan pahitnya.
Ranti membuka matanya kembali. Pendar matanya yang semula bergetar oleh kepedihan mendadak berubah menjadi sangat tegap, jernih, dan membaja.
"Saya terima kesepakatannya, Pak Hendra," tutur Ranti, suaranya halus namun memancarkan keteguhan jiwa yang tak tergoyahkan.
Pak Hendra terperanjat pelan. "Bu Ranti... Anda yakin?"
"Saya yakin," tegas Ranti. Ia menatap Sony lurus-lurus tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Tapi ada syarat mutlak yang tidak bisa ditawar satu milimeter pun oleh Pihak Tergugat."
Sony menyipitkan matanya, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Syarat apa?"
"Hak asuh formal secara administratif boleh jatuh kepadamu agar proses perceraian ini selesai detik ini juga tanpa banding," potong Ranti dengan nada dingin yang mengintimidasi. "Tetapi Majelis Hakim harus mencantumkan klausul kelonggaran penuh di dalam penetapan resmi: Saya memegang hak aksesibilitas tanpa batas untuk bertemu, membawa, dan menghabiskan waktu bersama Bima setiap akhir pekan (weekend), dari Jumat sore hingga Minggu malam. Jika kamu atau keluargamu mencoba menghalangi hak akses ini satu kali saja, kesepakatan ini batal demi hukum dan saya akan mengambil kembali Bima secara paksa melalui jalur pidana!"
Pengacara Sony berbisik tergesa-gesa ke telinga Sony. Menyadari bahwa posisi tawar kakunya sudah mencapai batas maksimal dan mengulur waktu hanya akan memperberat hukuman pidana korporasinya di Polda, Sony akhirnya mengangguk kaku.
"Baik. Aku setuju," cetus Sony dingin.
Ranti meraih pena berujung emas di atas meja. Dengan jemari yang mantap meski hatinya diiris sembilu, ia membubuhkan tanda tangannya di atas lembaran draf kesepakatan tersebut.
Langkah pengorbanan terbesar seorang ibu telah ia tunaikan: mengalah bukan karena kalah, melainkan demi memerdekakan masa depan anaknya dari trauma perang saudara.
Satu Bulan Kemudian – Kantor Utama PT Anindita Gemilang Utama
Sinar matahari sore menembus dinding kaca lantai teratas gedung Anindita Tower. Suasana ruang kerja Direktur Utama begitu hening, hanya diselingi denting halus pengetikan keyboard dan derus pendingin udara.
Ranti duduk di balik meja mahoninya, mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu dove yang terpotong rapi. Rambut bob-nya tertata anggun, dan wajahnya memancarkan aura pimpinan korporasi yang makin matang dan disegani.
Pasca-perceraian yang akhirnya sah dan resmi inkrah berdasarkan kesepakatan mediasi tersebut, Ranti melampiaskan seluruh energi dan fokus hidupnya ke dalam ekspansi bisnis warisan mendiang ibunya. Di bawah kepemimpinannya, PT Anindita Gemilang Utama mengalami lompatan besar. Kontrak manufaktur tekstil ramah lingkungan (eco-fabric) bersama Vandera Corp berjalan sangat sukses, menaikkan valuasi saham perusahaan hingga empat puluh persen dalam waktu singkat.
Namun, di balik kejayaan dan gemerlap keberhasilannya di dunia bisnis, ada sudut hampa di dalam dada Ranti yang tak pernah benar-benar terisi.
Ranti meletakkan penanya, menyandarkan punggungnya di kursi kepemimpinan. Matanya tertuju pada sebuah bingkai foto kayu kecil di sudut mejanya—foto Bima yang sedang tertawa riang mengenakan topi ulang tahunnya yang keempat.
Hari ini adalah hari Rabu. Masih ada dua hari tersisa sebelum akhir pekan tiba.
Ranti meraba permukaan foto itu dengan ujung jarinya yang lembut. Rasa rindu yang membakar dada seorang ibu mendadak merayap halus, membawa rasa sesak yang tertahan di tenggorokannya.
"Bima..." bisik Ranti lirih pada ruangan yang hening.
Setiap hari kerja dari Senin hingga Kamis, rumah besarnya di Dharmawangsa terasa terlalu luas dan sunyi. Tidak ada lagi suara langkah kaki kecil Bima yang berlarian di koridor, tidak ada lagi rengekan manja meminta dibacakan dongeng sebelum tidur, dan tidak ada lagi aroma bedak bayi yang biasanya memenuhi kamar utama.
Ranti menghirup napas panjang, berusaha menata kembali gelombang emosinya. Ia tahu ia tidak boleh larut dalam kesedihan. Setiap tetes keringat dan keberhasilan bisnis yang ia raih hari ini adalah fondasi kekayaan dan perlindungan masa depan yang sedang ia bangun untuk Bima kelak.
Pintu ruang kerja diketuk pelan dua kali. Pak Hendra melangkah masuk membawa map laporan bulanan.
"Bu Ranti," sapa Pak Hendra ramah seraya meletakkan berkas di meja. "Laporan perkembangan pabrik baru di Sukabumi sudah siap ditandatangani. Semua target kuartal ini melampaui proyeksi awal."
Ranti mengulas senyum profesionalnya yang anggun. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Kerja tim audit dan produksi sangat luar biasa."
Pak Hendra menatap wajah Ranti dengan pandangan keBapaan yang penuh empati. Ia memperhatikan bagaimana wanita di hadapannya ini tetap berdiri tegap memimpin ratusan karyawan meski hatinya harus menanggung rindu dendam pada anaknya di hari-hari kerja.
"Bu Ranti..." tutur Pak Hendra lembut. "Hari Jumat besok adalah jadwal penjemputan Bima untuk akhir pekan, bukan?"
Binar di mata Ranti seketika menyala hangat mendengar kalimat itu. "Iya, Pak Hendra. Jumat sore jam empat saya sendiri yang akan menjemput Bima ke rumah Kebayoran."
"Kalau begitu, kosongkan jadwal rapat Jumat sore Anda, Bu," saran Pak Hendra seraya tersenyum manis. "Biar seluruh urusan dokumen pabrik saya yang selesaikan bersama tim. Anda fokus menyambut waktu bersama Bima."
"Terima kasih banyak, Pak Hendra..." sahut Ranti tulus, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Jumat Sore – Kediaman Kebayoran Lama
Sinar keemasan matahari terbenam membiaskan cahaya hangat di sepanjang jalan Kebayoran. Mobil sedan hitam milik Ranti berhenti mulus di depan pagar rumah keluarga Sony.
Ranti turun dari mobil dengan gaun kasual berwarna krem yang anggun. Begitu pintu pagar terbuka, seorang anak laki-laki kecil berkaos biru dengan berlari kencang keluar dari dalam rumah menuju pelataran.
"Ibuuuu!" jerit Bima riang dengan suara seraknya yang khas.
Air mata keharuan yang ditahan Ranti selama empat hari kerja seketika menetes manis di pipinya. Ranti segera berlutut di atas rumput halaman, membuka kedua tangannya lebar-lebar.
BRUKK!
Tubuh mungil Bima melempar diri ke dalam pelukan Ranti. Ranti merengkuh anak tunggalnya itu dengan amat erat, menciumi pipi, dahi, dan rambut Bima bertubi-tubi seraya menghirup dalam-dalam aroma tubuh anaknya yang sangat ia rindukan.
"Bima sayang..." bisik Ranti dengan suara gemetar oleh rasa bahagia yang membuncah. "Ibu kangen sekali sama Bima..."
"Bima juga kangen Ibu!" sahut Bima polos, memeluk leher Ranti dengan tangan kecilnya yang hangat. "Bima sudah siapin mainan kapal kayu buat ditunjukin ke Ibu!"
Di pintu rumah, Ibu Hendrawan berdiri menatap interaksi itu dengan raut wajah kaku dan serba salah. Nenek Bima itu kini tidak berani lagi bersikap arogan atau menghalangi Ranti, menyadari bahwa kelonggaran weekend ini adalah klausul hukum resmi yang jika dilanggar akan membawa bencana baru bagi keluarganya.
Ranti berdiri seraya menggendong Bima di pinggulnya dengan sangat stabil dan penuh kasih. Ia menatap Ibu Hendrawan secara sopan namun berjarak.
"Saya bawa Bima pulang ke Dharmawangsa sekarang, Tante," tutur Ranti tegas dan berwibawa. "Minggu malam jam delapan Bima akan diantar kembali sesuai kesepakatan."
Ibu Hendrawan hanya mengangguk pelan tanpa sanggup bersuara. "Iya, Ranti... Hati-hati di jalan."
Ranti membawa Bima masuk ke dalam sedan mewahnya. Begitu pintu mobil kedap udara tertutup, seluruh rasa hampa dan kesepian yang mengusik jiwa Ranti sepanjang minggu seketika sirna tanpa sisa.
Malam Hari – Kediaman Ranti, Dharmawangsa
Malam Sabtu di rumah besar Ranti terasa begitu bernyawa dan hangat. Suara tawa renyah Bima bergema di ruang keluarga.
Di atas karpet bulu yang tebal, Bima duduk bersama Farhan. Pria itu mengenakan kemeja kasual yang digulung lengannya, sibuk merakit sebuah lintasan kereta api kayu bersama Bima dengan ketelitian dan kesabaran yang luar biasa.
Ranti melangkah mendekati mereka seraya membawa nampan berisikan cangkir teh hangat dan piring buah potong. Ia duduk di sofa, memandangi pemandangan indah di hadapannya dengan senyuman paling tulus yang terpancar dari wajah anggunnya.
"Keretanya sudah mau jalan, Ibu! Lihat!" seru Bima bangga seraya menunjuk lokomotif merah yang meluncur di atas rel kayu buatan Farhan.
Farhan tertawa renyah, mengusap kepala Bima dengan lembut sebelum mendongak menatap Ranti. Pendar mata kacamata tipisnya memancarkan kehangatan dan rasa empati yang teramat dalam.
"Bima jago sekali merakit relnya, Ran," tutur Farhan dengan suara baritonnya yang tenang.
"Itu karena Om Farhan yang bantuin Bima!" puji Bima polos, lalu kembali sibuk dengan mainannya.
Farhan berdiri perlahan, melangkah mendekati sofa dan duduk di samping Ranti. Ia memperhatikan waut wajah Ranti yang memancarkan kedamaian utuh saat menatap anaknya.
"Bagaimana perasaanmu akhir pekan ini, Ranti?" tanya Farhan pelan, nada suaranya sarat akan perhatian yang tulus.
Ranti menyesap teh hangatnya sedikit, menghembuskan napas rileks seraya menyandarkan bahunya.
"Awalnya... rasanya sangat berat, Farhan," aku Ranti jujur, menatap Farhan dengan pendar mata yang jernih. "Menghadapi rumah yang sepi dari Senin sampai Kamis itu hal tersulit yang pernah kualami sebagai seorang ibu."
Ranti jeda sejenak, melirik Bima yang tertawa ceria di atas karpet.
"Tapi saat melihat Bima tersenyum ceria seperti ini... tidak mengalami ketakutan akibat perang hukum di pengadilan... aku tahu keputusan mengalahku kemarin tidak sia-sia," lanjut Ranti dengan keteguhan jiwa yang luar biasa. "Aku menggunakan empat hari kerja itu untuk membesarkan perusahaan, dan menggunakan tiga hari akhir pekan ini untuk mencurahkan seluruh cintaku padanya."
Farhan menatap Ranti dengan rasa kagum yang tak terhingga. Pria di hadapannya ini menyadari betapa luar biasanya jiwa dan kedewasaan Ranti. Mengalah bukan karena lemah, melainkan bentuk tertinggi dari kasih sayang seorang ibu yang rela mengorbankan egonya demi kebahagiaan dan kedamaian sang anak.
Farhan mengulurkan tangannya di atas meja, melabuhkan jemarinya di atas tangan Ranti dengan genggaman yang hangat, kokoh, dan menenangkan.
"Kamu adalah ibu yang sangat luar biasa, Ranti," ucap Farhan tulus, suaranya menusuk hingga ke dasar jiwa Ranti. "Keputusanmu sangat bijaksana. Dan ingat... di setiap akhir pekan atau hari apa pun saat kamu merasa sepi... aku akan selalu ada di sini untuk menemanimu dan Bima."
Ranti menatap genggaman tangan Farhan, lalu mendongak menyambut tatapan mata pria itu. Kehangatan dan rasa aman yang abadi melingkupi dadanya.
Pengorbanan masa lalunya tidak merenggut kebahagiaannya. Di balik kerja kerasnya memimpin korporasi dan kehangatan akhir pekan bersama Bima dan Farhan, Ranti Anindita telah menemukan keseimbangan hidup yang sempurna—seorang wanita sukses yang mandiri, seorang ibu sejati yang penuh cinta, dan sosok yang siap menyongsong masa depan yang dipenuhi oleh kejayaan serta cinta abadi yang tak akan pernah tergoyahkan lagi.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.