Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Neraka x Rencana Busuk 3
Satu minggu kemudian berlalu dengan cepat. Hari Jumat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari di mana papan pengumuman jurusan akan dipenuhi oleh lembaran kertas HVS berisi tabel nilai hasil ujian lisan.
Satu jam sebelum waktu pengumuman resmi ditempel, Poltak sedang berdiri gelisah di depan mading jurusan. Tangannya berkeringat dingin, bolak-balik melihat jam tangan G-Shock bajakannya. Di sebelahnya, duduk seorang wanita cantik dengan rok denim selutut dan kaos polo merah muda yang sangat fashionable.
Dini.
Sejak insiden "penolakan di dalam selokan", Dini benar-benar menepati janjinya. Ia tidak menjauh, tidak marah, dan justru secara mengejutkan mengubah mode hubungannya dengan Reza menjadi bro-zone yang solid. Dini bersikeras ingin ikut melihat hasil ujian Reza hari ini.
Bagi Reza, kehadiran Dini tidak masalah. Tapi bagi Poltak? Ini adalah bencana psikologis.
Poltak berdeham canggung, melirik Dini dari sudut matanya. "Ehem. Anu, Kak Dini. Nggak apa-apa nih nungguin si Reza? Panas lho di sini, Kak Dini kan biasanya nongkrong di kafe ber-AC. Nanti luntur pula makeup Kakak."
Dini tertawa renyah, mengipasi lehernya dengan majalah kampus. "Santai aja kali, Tak. Aku kan udah bilang, aku mau jadi suporter VIP-nya Reza. Aku deg-degan banget nih nunggu hasilnya. Kamu sendiri kok kayaknya tegang amat deket aku? Takut ketularan wangi ya?"
Wajah Poltak memerah hingga ke telinga. "Bukan gitu, Kak. Aku cuma... segan. Dulu Kakak ini bagaikan dewi turun dari khayangan yang nggak mungkin kawan macam kami sapa. Apalagi si Reza itu, udah kucel, berani-beraninya dia..." Poltak menghentikan ucapannya, sadar ia hampir mengungkit luka lama Dini.
Dini tersenyum maklum. "Udah, Tak, nggak usah dibahas. Aku udah move on kok dari sakit hatinya. Sekarang aku murni kagum sama perjuangan dia. Dan ngomong-ngomong soal dewi khayangan, kamu berlebihan banget deh. Panggil aja Dini, kita kan seumuran, beda angkatan doang."
Kecanggungan Poltak perlahan mencair. Mereka berdua akhirnya asyik mengobrol, membahas betapa gilanya etos kerja Reza, hingga akhirnya sosok yang mereka tunggu-tunggu muncul dari ujung lorong. Reza datang dengan kemeja flanel kebesarannya, rambut sedikit berantakan karena angin, dan mata yang menyorotkan kecemasan.
"Sorry telat! Tadi gue bantuin bapak kos benerin pompa air dulu sebentar," ngos-ngosan Reza setibanya di depan mading. Ia agak terkejut melihat formasi lengkap penyambutannya. "Lho, Mbak Dini beneran datang?"
"Datang dong! Kan aku mau lihat sejarah tercipta," goda Dini.
Tepat saat itu, seorang staf tata usaha jurusan keluar membawa beberapa lembar kertas berisi tabel dan sekotak paku payung. Ia menempelkannya di mading tanpa banyak bicara. Begitu staf itu menyingkir, puluhan mahasiswa dari berbagai angkatan langsung merangsek maju bagai kawanan zombi yang melihat daging segar.
"Biar aku yang maju, Za! Kau kan kurus, nanti penyok kau tergencet!" seru Poltak, menggunakan tubuh besarnya sebagai tameng, membelah kerumunan layaknya kapal icebreaker di lautan kutub.
Reza berdiri di belakang bersama Dini, jantungnya berdegup kencang seperti sedang ikut final lari maraton. Tangannya refleks masuk ke dalam saku celana, menggenggam erat kelereng baretnya.
Tolong, beri gue jalan, batinnya berdoa.
Dari depan mading, suara Poltak terdengar menggelegar, mengalahkan hiruk-pikuk mahasiswa lainnya.
"Nomor urut 045... Reza Adhitama... Reza Adhitama... BAH!" teriak Poltak tiba-tiba.
Jantung Reza rasanya berhenti berdetak. Ia memucat. "Kenapa, Tak? Remedi ya gue?" teriaknya membalas.
Kerumunan perlahan menyibak, membiarkan Poltak berbalik dengan wajah tegang. Ia berjalan perlahan ke arah Reza. Langkahnya berat. Dini ikut menutup mulutnya dengan cemas.
Poltak berdiri tepat di depan Reza, menunduk, lalu tiba-tiba meraih kedua bahu kurus Reza dan mengguncangnya kuat-kuat.
"LULUS KAU, KAWAN! A MINUS! A MINUS, ZA! DOSEN KILLER ITU KASIH KAU A MINUS!" teriak Poltak kegirangan hingga air liurnya sedikit muncrat.
Reza ternganga. "Hah? Lo serius, Tak? Nggak salah baca lo?! Matanya siwer nggak kayak pas ngisi formulir ujian?!"
"Marga Hasibuan jaminannya! Lulus kau!"
Saking senangnya, Reza melompat dan tanpa sadar memeluk Poltak erat-erat. Dini yang melihat momen bromance epik itu ikut menjerit kegirangan. Tanpa pikir panjang, Dini ikut merangkul mereka berdua.
"Selamat, Reza! Aku bilang juga apa, kerja keras nggak akan mengkhianati hasil!" pekik Dini antusias.
Poltak seketika membeku kaku seperti patung es saat parfum vanilla Dini menguar dari jarak dekat dan tangan senior cantik itu tak sengaja menempel di lengannya. Namun Reza tidak menyadari kekakuan sahabatnya. Ia melepaskan pelukan dan melakukan high-five (tos) yang sangat keras dengan Dini.
"Makasih, Mbak Dini! Makasih, Tak! Gila, tiket ke Cina makin terang jalannya ini!" seru Reza dengan mata berbinar-binar, senyumnya mengembang lebar hingga gigi-giginya terlihat semua.
Siang itu, di depan papan pengumuman yang riuh, sebuah persahabatan tiga arah resmi terbentuk. Reza sang pekerja keras yang lurus bak penggaris, Poltak sang bodyguard Batak yang dramatis, dan Dini sang primadona kampus yang banting setir menjadi cheerleader jalur independen. Mereka tertawa lepas, merayakan sebuah kemenangan kecil di tengah kerasnya ibu kota.
Namun, di sudut pandang yang berbeda, kebahagiaan mereka adalah sebuah penghina Satu minggu kemudian berlalu dengan cepat. Hari Jumat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari di mana papan pengumuman jurusan akan dipenuhi oleh lembaran kertas HVS berisi tabel nilai hasil ujian lisan.
Satu jam sebelum waktu pengumuman resmi ditempel, Poltak sedang berdiri gelisah di depan mading jurusan. Tangannya berkeringat dingin, bolak-balik melihat jam tangan G-Shock bajakannya. Di sebelahnya, duduk seorang wanita cantik dengan rok denim selutut dan kaos polo merah muda yang sangat fashionable.
Dini.
Sejak insiden "penolakan di dalam selokan", Dini benar-benar menepati janjinya. Ia tidak menjauh, tidak marah, dan justru secara mengejutkan mengubah mode hubungannya dengan Reza menjadi bro-zone yang solid. Dini bersikeras ingin ikut melihat hasil ujian Reza hari ini.
Bagi Reza, kehadiran Dini tidak masalah. Tapi bagi Poltak? Ini adalah bencana psikologis.
Poltak berdeham canggung, melirik Dini dari sudut matanya. "Ehem. Anu, Kak Dini. Nggak apa-apa nih nungguin si Reza? Panas lho di sini, Kak Dini kan biasanya nongkrong di kafe ber-AC. Nanti luntur pula makeup Kakak."
Dini tertawa renyah, mengipasi lehernya dengan majalah kampus. "Santai aja kali, Tak. Aku kan udah bilang, aku mau jadi suporter VIP-nya Reza. Aku deg-degan banget nih nunggu hasilnya. Kamu sendiri kok kayaknya tegang amat deket aku? Takut ketularan wangi ya?"
Wajah Poltak memerah hingga ke telinga. "Bukan gitu, Kak. Aku cuma... segan. Dulu Kakak ini bagaikan dewi turun dari khayangan yang nggak mungkin kawan macam kami sapa. Apalagi si Reza itu, udah kucel, berani-beraninya dia..." Poltak menghentikan ucapannya, sadar ia hampir mengungkit luka lama Dini.
Dini tersenyum maklum. "Udah, Tak, nggak usah dibahas. Aku udah move on kok dari sakit hatinya. Sekarang aku murni kagum sama perjuangan dia. Dan ngomong-ngomong soal dewi khayangan, kamu berlebihan banget deh. Panggil aja Dini, kita kan seumuran, beda angkatan doang."
Kecanggungan Poltak perlahan mencair. Mereka berdua akhirnya asyik mengobrol, membahas betapa gilanya etos kerja Reza, hingga akhirnya sosok yang mereka tunggu-tunggu muncul dari ujung lorong. Reza datang dengan kemeja flanel kebesarannya, rambut sedikit berantakan karena angin, dan mata yang menyorotkan kecemasan.
"Sorry telat! Tadi gue bantuin bapak kos benerin pompa air dulu sebentar," ngos-ngosan Reza setibanya di depan mading. Ia agak terkejut melihat formasi lengkap penyambutannya. "Lho, Mbak Dini beneran datang?"
"Datang dong! Kan aku mau lihat sejarah tercipta," goda Dini.
Tepat saat itu, seorang staf tata usaha jurusan keluar membawa beberapa lembar kertas berisi tabel dan sekotak paku payung. Ia menempelkannya di mading tanpa banyak bicara. Begitu staf itu menyingkir, puluhan mahasiswa dari berbagai angkatan langsung merangsek maju bagai kawanan zombi yang melihat daging segar.
"Biar aku yang maju, Za! Kau kan kurus, nanti penyok kau tergencet!" seru Poltak, menggunakan tubuh besarnya sebagai tameng, membelah kerumunan layaknya kapal icebreaker di lautan kutub.
Reza berdiri di belakang bersama Dini, jantungnya berdegup kencang seperti sedang ikut final lari maraton. Tangannya refleks masuk ke dalam saku celana, menggenggam erat kelereng baretnya.
Tolong, beri gue jalan, batinnya berdoa.
Dari depan mading, suara Poltak terdengar menggelegar, mengalahkan hiruk-pikuk mahasiswa lainnya.
"Nomor urut 045... Reza Adhitama... Reza Adhitama... BAH!" teriak Poltak tiba-tiba.
Jantung Reza rasanya berhenti berdetak. Ia memucat. "Kenapa, Tak? Remedi ya gue?" teriaknya membalas.
Kerumunan perlahan menyibak, membiarkan Poltak berbalik dengan wajah tegang. Ia berjalan perlahan ke arah Reza. Langkahnya berat. Dini ikut menutup mulutnya dengan cemas.
Poltak berdiri tepat di depan Reza, menunduk, lalu tiba-tiba meraih kedua bahu kurus Reza dan mengguncangnya kuat-kuat.
"LULUS KAU, KAWAN! A MINUS! A MINUS, ZA! DOSEN KILLER ITU KASIH KAU A MINUS!" teriak Poltak kegirangan hingga air liurnya sedikit muncrat.
Reza ternganga. "Hah? Lo serius, Tak? Nggak salah baca lo?! Matanya siwer nggak kayak pas ngisi formulir ujian?!"
"Marga Hasibuan jaminannya! Lulus kau!"
Saking senangnya, Reza melompat dan tanpa sadar memeluk Poltak erat-erat. Dini yang melihat momen bromance epik itu ikut menjerit kegirangan. Tanpa pikir panjang, Dini ikut merangkul mereka berdua.
"Selamat, Reza! Aku bilang juga apa, kerja keras nggak akan mengkhianati hasil!" pekik Dini antusias.
Poltak seketika membeku kaku seperti patung es saat parfum vanilla Dini menguar dari jarak dekat dan tangan senior cantik itu tak sengaja menempel di lengannya. Namun Reza tidak menyadari kekakuan sahabatnya. Ia melepaskan pelukan dan melakukan high-five (tos) yang sangat keras dengan Dini.
"Makasih, Mbak Dini! Makasih, Tak! Gila, tiket ke Cina makin terang jalannya ini!" seru Reza dengan mata berbinar-binar, senyumnya mengembang lebar hingga gigi-giginya terlihat semua.
Siang itu, di depan papan pengumuman yang riuh, sebuah persahabatan tiga arah resmi terbentuk. Reza sang pekerja keras yang lurus bak penggaris, Poltak sang bodyguard Batak yang dramatis, dan Dini sang primadona kampus yang banting setir menjadi cheerleader jalur independen. Mereka tertawa lepas, merayakan sebuah kemenangan kecil di tengah kerasnya ibu kota.
Namun, di sudut pandang yang berbeda, kebahagiaan mereka adalah sebuah penghinaan.