NovelToon NovelToon
999 ISYARAT CINTA

999 ISYARAT CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KOPI BUAT LUNA

KOPI BUAT LUNA

Bandung membukakan pintu mobil untuk Luna. Tangan kanannya dia letakkan di bawah kap mobil untuk menjaga agar kepala Luna tidak terbentur.

Diam-diam, Luna memperhatikan apa yang dilakukan Bandung.

Dia sempat memperhatikan Bandung melalui kaca spion ketika pria itu melangkah dengan tegas mengitari bagian belakang mobil. Bahkan, Bandung sempat melongok ke bagian bawah bodi mobil.

Setelah itu, dia membuka pintu kemudi dan duduk di samping Luna.

Sebelum sempat menyalakan mesin, Luna menanyakan sesuatu.

“Bandung, tadi gue lihat lo melongok ke bagian bawah mobil. Ada uang jatuh di sana?”

“Bukan nyari uang. Gue cuma mastiin, takut ada kucing, paku, atau apa pun yang berbahaya.”

“Kalau paku, oke, itu berbahaya. Kalau kucing kenapa?”

“Biasanya kucing suka bermain di bawah bodi mobil atau di depan dan belakang ban. Kalau nggak kita teliti, dia bisa modar.”

Jawaban sederhana itu membuat Luna hanya mampu menganggukkan kepala.

Bandung segera mengenakan sabuk pengaman. Kemudian dia mendekatkan tubuhnya ke arah Luna.

Luna menahan debaran jantungnya sambil menggeser sedikit tubuhnya mendekati pintu mobil.

Namun, Bandung hanya menunjuk sesuatu yang ada di samping Luna.

“Tolong dipakai sabuk pengamannya.”

Luna sedikit terkejut.

Dalam hatinya langsung terlintas sesuatu.

Oh, kok nggak kayak yang di drama, ya? Harusnya kan dia yang menarik sabuk pengaman, kemudian gue memejamkan mata karena mengira Bandung mau nyium gue. Padahal kemudian dia cuma mau pasangin sabuk pengaman.

Luna senyum-senyum sendiri membayangkan adegan dalam drama.

Namun, suara mesin mobil dan getarannya segera mengejutkannya dari lamunan.

Bandung menunjuk laci yang ada di dasbor.

“Kalau lo mau cemilan, ada di situ. Tinggal pencet aja.”

Tanpa sadar, Luna mengikuti arahan Bandung. Matanya terbelalak ketika melihat aneka camilan kesukaannya tersusun di dalam laci dasbor mobil tersebut.

Dia menoleh ke Bandung.

“Lo suka cemilan juga, Bandung?”

“Enggaklah. Gue takut gemuk kalau nyemil.”

“Terus ini punya siapa?”

“Mana gue tahu. Tanya aja sama cemilannya.”

Luna mengerutkan kening.

Dalam hati dia bertanya-tanya.

Gue nanya sama cemilan? Ini yang nggak waras gue atau cemilannya?

Bandung menoleh ke arah Luna.

Tiba-tiba tangan kirinya meraba bagian bawah kursi yang diduduki Luna.

Luna langsung berteriak.

“Jangan, Bandung! Gue nggak mau!”

Bandung menggeleng dan menarik napas panjang.

“Lo mikir apaan sih?”

Dia menunjuk kursi Luna.

“Kursi lo ini terlalu tegak dan terlalu maju. Jadi menghalangi gue ngelihat spion. Gue cuma mau mundurin dan agak condongin ke belakang.”

Luna mengangkat kedua tangannya ke depan dada sambil menggigit bibir.

Ya ampun... gue mikir apaan sih?

 

Bandung melambatkan laju kendaraan ketika memasuki kawasan permukiman yang padat penduduk.

Dia menurunkan kaca jendela dan membuka sedikit kaca pintu mobil. Beberapa warga yang melihat Bandung langsung melambaikan tangan.

Bandung membalas sambil tersenyum.

Seorang pria setengah baya mendekati mobil yang melaju sangat pelan.

“Bandung, nanti malam rombongan Boril suruh ke rumah gue, ya.”

“Ada apaan, Beh?”

“Kita ada tahlilan. Gue pengen mereka ikut sekaligus bantuin kita nyiapin hidangan. Lo juga kalau bisa datang.”

“Oke, Beh. Nanti gue sampein sama anak-anak.”

Laki-laki yang dipanggil Babeh itu kemudian mengedipkan mata kepada Bandung sambil mengarahkan bibirnya ke arah Luna.

“Ini siapa, Bandung? Kok wajahnya mirip sekali sama elu?”

Luna tanpa sengaja mendengar percakapan Bandung dengan Babeh. Dia pun menoleh ke arah lain, tetapi tak sanggup menyembunyikan senyumnya.

Babeh kemudian menyapa Luna.

“Neng, nanti kalau ketemu rombongan Boril tolong sampein, ya. Kayak pesan sate tadi.”

Luna gugup karena tidak menyangka Babeh akan menyapanya.

“I... iya, Beh.”

“Wah, ternyata kalian benar-benar mirip, ya. Wajahnya pas banget. Wanitanya cantik, cowoknya tua!”

Babeh tertawa seolah menemukan sesuatu yang sangat lucu.

Bandung pun ikut tertawa untuk meramaikan suasana.

Luna akhirnya ikut tertawa kecil.

 

Setelah itu, Bandung kembali melajukan mobilnya dan berhenti di depan sebuah ruko dengan lukisan-lukisan menarik menghiasi dindingnya.

Mendengar suara mobil Bandung, beberapa anak jalanan segera keluar dari ruko tersebut. Mereka menyalami Bandung dan Luna.

“Abang, ini calon guru baca buat kita, ya?”

“Iya. Nanti kalian kenalin ke yang lain, ya.”

Dola menghampiri. Dia menepuk pundak salah seorang temannya.

“Ini calon kakak ipar kita?”

Mendengar perkataan Dola, anak-anak yang tadinya duduk berkerumun segera bangkit dan menyalami Luna.

“Selamat siang, Kakak Ipar!”

Bandung segera menempelkan telunjuk ke bibirnya, memberikan isyarat agar mereka menghentikan panggilan tersebut.

Mereka langsung memahami isyarat itu. Salah seorang anak kemudian mengajak teman-temannya kembali duduk menghadap papan tulis.

Luna menoleh ke arah Bandung. Tatapannya seolah bertanya mengapa Bandung melarang mereka memanggilnya kakak ipar.

“Luna, lo udah siap?”

“Tapi gue belum tahu materi apa yang mau gue kasih ke mereka.”

“Mereka itu anak-anak remaja. Jadi ajarin aja mereka menulis hal-hal romantis dan hal-hal yang banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari.”

“Hal-hal romantis?”

“Ah, gue rasa sih kayak gitu.”

Luna mengangguk seolah mendapatkan sebuah ide cemerlang.

Bandung kemudian memarkirkan mobilnya di sudut ruko. Setelah itu, dia memanggil Deden dan Boril.

“Boril, Deden, ajak Bu Guru dan kenalin sama mereka, ya.”

Luna mengikuti langkah Boril dan Deden, sementara Bandung melangkah menuju ruangan sebelah.

Ruangan itu berbatasan dengan kaca yang dilapisi kaca film hitam sehingga orang dari luar tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalam.

Di dalam ruangan terdapat beberapa lukisan yang belum selesai serta dua perangkat komputer lengkap dengan monitornya.

Bandung mendekati dispenser dan membuat dua cangkir Indocafe hangat.

Setelah itu, dia mengetuk kaca dari sisi luar. Bandung kemudian menyandarkan tubuhnya sambil mengintip ke dalam ruangan.

Dia melambaikan tangan agar Dola masuk.

Setelah Dola berada di dalam ruangan, Bandung bertanya.

“Dola, apa lo tadi ke lapak dagangan Oreo?”

“Iya, Bang.”

“Gimana perkembangan dagangan Oreo sekarang?”

“Makin rame, Bang. Bahkan sekarang orang-orang dari luar kota juga mulai pesan barang grosiran Oreo.”

“Belum lagi pesanan online yang sekarang ditangani Kak Jessica.”

“Oh, ngomong-ngomong soal Jessica, dia masih bikin kalian nggak nyaman?”

“Nggak, Bang. Kayaknya Kak Jessica juga sudah tahu tentang Bu Guru.”

“Sudah tahu gimana maksudnya?”

Dola tidak menjawab. Dia hanya menunjukkan simbol hati dengan merangkai kedua tangannya.

“Itu maksudnya apaan? Gue kan orang kolot. Mana ngerti kayak begituan?”

“Iya, Abang sama kakak ipar.”

“Lo jangan suka panggil-panggil kakak ipar. Lo nggak lihat dia udah lebih pantas jadi anak perempuan gue?”

“Ah, kata siapa, Bang? Yang lain aja pada suka sama kakak ipar.”

“Kalau lagi berdua jangan panggil dia kakak ipar. Gue nggak enak. Nanti dikira gue manfaatin dia lagi.”

“Tapi kata Boril dan Deden kayaknya kakak ipar suka, ehem-ehem, gitu sama Abang.”

“Udah, lu bocah ingusan ngerti apa?”

Bandung menyerahkan dua cangkir kopi.

“Nih, kasih ini Indocafe sama Bu Guru. Kalau masih ada duit, beliin makanan buat guru dan teman-teman lu.”

“Udah kok, Bang. Soal makanan udah kita siapin.”

Bandung kemudian bertanya lagi.

“Menurut lo, Luna itu gimana?”

Sayangnya, Dola tidak mendengar pertanyaan itu. Dia sudah keburu membawa kopi Indocafe hangat keluar dari ruangan.

“Ya ampun, dasar Dola. Diajak ngomong udah nyelonong aja keluar.”

 

Tanpa disadari, Bandung mulai memperhatikan cara Luna mengajar anak-anak jalanan.

Dia memperhatikan senyumnya, gerakan tangannya, serta respons anak-anak yang terlihat antusias mengikuti pelajaran.

Tanpa dia sadari, senyum tipis merekah di ujung bibirnya.

Saat itu matahari mulai bergeser ke arah barat. Jalanan di depan ruko semakin dipadati kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, serta pejalan kaki yang berlalu-lalang.

Suasana jalanan mulai semrawut.

Namun, di balik kaca ruko itu, Bandung hanya melihat satu hal.

Luna yang sedang tersenyum di depan papan tulis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!