Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Harus Bijaksana
Sabtu pagi.
Jam dinding menunjukkan angka 7.
Naya terbangun--atau lebih tepatnya, ia menyerah untuk terus memejamkan mata. Semalaman penuh, ia nyaris tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali matanya terpejam, bayangan malam kelam itu berputar bagai kaset rusak. Ditambah lagi, rasa tak nyaman di tubuhnya membuat Naya bergerak serba salah di atas ranjang.
Area intimnya masih terasa begitu perih, tiap kali buang air kecil pun begitu. Seharian penuh kemarin dia menahan sakit itu di hadapan Bunda dan Ayah, agar tak terlihat aneh atau berbeda.
Kini Naya meringkuk miring, memeluk bantalnya erat-erat demi mengusir rasa sakit yang tak kunjung surut.
Klek.
Pintu kamar terbuka pelan, menghadirkan sosok Bunda yang melangkah masuk membawa keranjang pakaian kotor, berniat mengecek putrinya yang biasanya sudah bangun jam segini.
"Nay? Belum bangun, Sayang?" sapa Bunda lembut.
Tak ada sahutan. Bunda mendekat ke sisi ranjang, merasa aneh melihat Naya meringkuk sepenuhnya di bawah selimut tebal, padahal udara pagi ini tidak dingin.
Saat Bunda mengulurkan tangan dan mengusap kening Naya, wanita paruh baya itu terkejut lantaran merasakan panas di punggung tangannya, lalu membalikkan telapak tangannya untuk memastikan lebih jelas.
"Ya ampun, Naya! Badan kamu panas banget ini!" seru Bunda panik.
Kulit kening dan leher Naya sangat panas, kontras dengan tubuhnya yang justru agak menggigil di balik selimut.
Naya hanya sanggup membuka matanya sedikit, tatapannya sayu dan sarat akan keletihan. "Bun..." cicitnya parau.
"Kamu demam tinggi, Nak. Ya Allah, pantesan dari kemarin kamu kelihatan lemes banget," ucap Bunda dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Pasti gara-gara kelelahan kejar deadline proyek kemarin, terus ketambahan kamu masuk angin pas nginep."
Naya menelan ludahnya yang terasa pahit, tak sanggup membantah alibi yang dipikirkan Bundanya. Ia hanya bisa mengangguk pelan, membiarkan asumsi itu bergulir.
"Bunda ambilkan obat sama kompresan, ya. Hari ini kamu istirahat aja dulu."
Bunda terburu-buru keluar kamar untuk mengambilkan obat. Begitu pintu kembali tertutup, satu usapan air mata lolos dari sudut mata Naya yang sayu. Rasa demam di tubuhnya mungkin bisa reda dengan obat, namun rasa sakit dan perih di tubuh bagian bawahnya--serta kehancuran hatinya--adalah trauma yang tidak akan pernah bisa disembuhkan oleh obat apa pun.
Tak berapa lama, Bunda kembali ke kamar membawa nampan berisi segelas air hangat, mangkuk berisi air kompresan lengkap dengan handuk kecil, serta satu butir obat penurun panas dan nyeri.
Dengan telaten, Bunda duduk di tepi ranjang. Ia mengompres dahi Naya, lalu perlahan membantu putrinya untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Dua hari ini kamu bener-bener kayak orang habis tenaga," bisik Bunda lembut seraya menyodorkan obat dan segelas air. "Minum obatnya dulu ya, Nak. Nanti Bunda buatkan bubur hangat biar perutmu keisi."
Naya menerima obat itu dengan jemari yang masih agak gemetar. Ia menelan tablet tersebut, lalu menyusulnya dengan tegukan air hangat.
"Makasih Bunda..."
"Ya sudah, kamu tiduran lagi aja. Enggak usah mikirin apa-apa mumpung akhir pekan, hari ini kamu cukup istirahat aja di kamar," ucap Bunda seraya membenarkan letak selimut hingga menutupi dada Naya.
Bunda mengusap kepala Naya beberapa kali sebelum akhirnya beranjak keluar dan menutup pintu kamar secara perlahan, membiarkan ruangan itu kembali hening.
Begitu sendirian di dalam kamar, Naya merosot kembali ke posisi memiring. Pengaruh demam membuat kepalanya semakin berat dan berdenyut-denyut. Namun rasa panas di dahinya sama sekali tak bisa mengalahkan sensasi hampa yang melapisi hatinya.
Ponsel di atas meja riasnya bergetar pelan di atas permukaan kayu, menyala singkat tanpa suara.
Nama Ibra kembali muncul di layarnya. Pria itu tampaknya masih dilanda kegelisahan yang sama, tak henti-hentinya berusaha memastikan keadaan Naya.
Namun, dengan tubuh yang lemas dan rasa takut yang terus menghantuinya, Naya membiarkan pendar layar itu meredup dan mati kembali dalam kegelapan.
Sementara Ibra melempar ponselnya entah untuk yang ke berapa, sulit menahan diri untuk tidak menghubungi meski orangtuanya sudah memperingati.
Mata bawah Ibra nampak hitam sekali, semalaman tanpa pejam benar-benar menyita energinya. Ucapan Papa terus terngiang di kepalanya, bahkan ketika ia berusaha memejamkan mata.
Flashback on.
Sunyi ruang kerja bernuansa putih itu mendadak kelabu bahkan sebelum Ibra berucap apapun. Mereka beralih dari ruang tamu ke tempat yang lebih privat.
"Pa, jadi gini....."
Kini pria paruh baya itu berdiri, membelakangi pintu, menatap keluar jendela besar seraya mendengarkan penuturan putranya. Ia menyimak dari awal hingga akhir tanpa memotong satu pun kalimat. Tidak membentak. Tidak pula buru-buru menyimpulkan. Ia hanya membiarkan putra bungsunya menyelesaikan ceritanya.
Begitu Ibra menyelesaikan ceritanya dengan suara parau, keheningan kembali merayap. Tanpa sadar, rahangnya mengeras, menahan gejolak amarah namun buru-buru menghela napas panjang.
Perlahan ia berbalik, raut wajahnya kini sangat tenang, berbeda dengan sepersekian detik sebelumnya
"Ibra," panggilnya, nadanya tenang tanpa ada emosi sedikitpun, tapi dari balik matanya terpancar kekecewaan mendalam.
Ibra tidak menyahut. Dia masih berlutut dengan pandangan ke lantai.
"Kenapa diam?" tanya Papa dengan suara bariton yang dingin dan rendah.
Ibra masih diam.
"Kamu punya mulut untuk bicara, Ibra."
Ibra merapatkan bibirnya. Kepala pria muda itu tertunduk makin dalam, memilih membisu di tempatnya berlutut. Ia tidak sanggup menatap mata Papanya. Bahkan ia lebih baik dipukuli daripada Papa yang tak bereaksi seperti sekarang.
Melihat gestur Ibra yang kaku dan pasrah, Papa seketika paham. "Kenapa? Kamu minta dipukul?" tebaknya tepat sasaran.
Ibra mengangkat kepala, menatap mata papanya yang kini tatapannya mengunci Ibra.
"Iya, Pa."
"Untuk apa? Supaya rasa bersalah di dalam dadamu sedikit berkurang?"
"Supaya kamu merasa sudah 'dihukum' dan bebanmu jadi lebih ringan?"
Benar.
Pertanyaan telak itu membuat rahang Ibra mengetat. Merasa terciduk oleh analisis Papanya, Ibra akhirnya mendongak dengan napas yang mulai terengah.
"Ibra enggak berniat lari, Pa..." bisik Ibra, suaranya bergetar. "Tapi Ibra juga bingung. Ibra memang salah karena hal itu terjadi, tapi malam itu... Ibra juga enggak bersalah sepenuhnya."
Papa tidak menyela, hanya menatapnya datar, memberi ruang untuk Ibra melanjutkan.
"Kamar hotel itu... Ibra pesan atas nama Ibra sendiri untuk istirahat karena Ibra tahu bakal mabuk," lanjutnya dengan nada membela diri yang tertahan, matanya memerah menahan frustrasi.
"Ibra enggak pernah undang siapa-siapa. Cewek itu yang datang sendiri ke kamar tanpa Ibra tahu, dalam kondisi yang sama-sama enggak sadarkan diri karena pengaruh minuman. Ibra baru sadar semuanya saat pagi hari, Pa!"
Papa menatap Ibra lekat-lekat, menyerap setiap detail pembelaan yang baru saja dilontarkan putranya. Menghela napas panjang, ia berjalan perlahan menuju meja kerjanya.
"Fakta bahwa kamu tidak berniat sejak awal enggak mengubah kenyataan atas apa yang sudah terjadi pada perempuan itu, Ibra," ucap Papa tenang namun sarat akan penegasan pada tiap ucapannya.
Pria itu bersedekap, menatap Ibra yang masih berdiri mematung di tengah ruangan.
"Papa tidak akan mencampuri langkahmu, dan Papa tidak akan mendikte kamu. Papa cuma mau lihat, tindakan bijak seperti apa yang akan kamu ambil untuk menyelesaikan masalahmu sendiri."
Pandangan Papa begitu tajam, menuntut kedewasaan penuh dari Ibra.
"Pikirkan dengan kepala dingin. Pikirkan sesuai usiamu, lalu cari tahu apa yang perempuan itu butuhkan, bukan apa yang kamu ingin agar semua cepat selesai. Ingat, pernikahan bukan mainan," tambah Papa dengan nada dingin dan penuh penekanan.
"Ingat, jangan mencoreng nama keluarga. Semua kesalahan pasti ada jalan keluarnya."
"Sekarang, kembali ke apartemenmu, pikirkan, dan jangan melakukan hal bodoh. Tunjukkan tanggung jawabmu sebagai orang dewasa, sebagai laki-laki, dan sebagai anakku."
Flashback off.
Ibra mengusap wajahnya gusar, bertindak seperti orang seusianya yang bagaimana? Harus apa? Sementara Naya tidak membalas satupun pesannya juga tak mengangkat teleponnya.
Bijaksana? Ibra tertawa dalam hati.
Rasanya mudah sekali bagi orang lain mengucapkan kata itu. Namun bagi Ibra yang sedang berada di tengah masalah, satu langkah saja terasa seperti bisa salah arah.
Makasih thor lanjut up ya