Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Cahaya matahari siang ini sangat menyengat, sinarnya menembus kaca-kaca jendela apartemen mewah di pusat kota.
Di sofa warna krem yang empuk, duduk seorang wanita yang mengenakan atasan kemben crop top berwarna biru elektrik yang ketat.
Di padukan dengan rok hitam pendek yang ketat sampai atas paha, tak lupa tangannya memegang rokok.
Di sofa ini jugalah tempat yang biasanya menjadi saksi, pergumulan intim dirinya dengan Dion Raharja---Sang Pengacara terkenal.
Kini, Chelsea duduk sendirian di sofa krem itu.
Wajah wanita ini tampak sangat gusar, dengan jengkel dirinya menyalakan korek untuk rokoknya.
Rokok yang di hisapnya seolah memberikan rasa tenang, asap putih itu menyembul menari-nari di udara sebelum menghilang di udara.
Tangan satunya memegang ponsel, yang matanya tak lepas dari ponsel yang di genggamannya.
"Kemana sih nih si Dion!! Brengsek!" teriak Chelsea tiba-tiba, suaranya pecah menghantam kesunyian apartemen.
Telepon dari Chelsea tak diangkat, bahkan pesan singkatnya juga tak di balas, seolah-olah Dion sudah mencampakkannya.
"Gua nonton TV aja deh," ucap Chelsea demi menenangkan dirinya.
Lalu wanita ini menghidup rokoknya dalam-dalam, membiarkan tembakau itu membakar paru-parunya---lalu menghembuskan asapnya dengan kasar.
Tangan Chelsea meraih remote televisi itu, dan menyalakannya.
Bukannya bisa menenangkan diri, saat melihat televisi malah membuat darahnya semakin mendidih.
"Si a*jing!" umpat Chelsea saat melihat siaran televisi di berita.
Rasa kesalnya memuncak karena rekaman berita yang di lihatnya, layar itu memperlihatkan gemerlap lampu kristal melihat Dion bagaimana berdiri berdampingan dengan Raisa.
Dion berdiri berdampingan dengan Raisa, bahkan pria itu dengan mesra merangkul pinggang Raisa di depan awak media.
"Dasar Pengacara Munafik, gua di jadiin simpenan. Bininya di pamerin!" maki Chelsea menghirup rokoknya, lalu menghembuskannya ke udara.
Tentu alasan privasi yang di lontarkan Dion kepada para wartawan, untuk pertanyaannya kenapa istrinya tak muncul ke media.
"Bisa juga dia bikin image jadi pengacara terkenal dan suami perhatian, anjirrlah nih cowok!" ucap Chelsea dengan darah mendidih.
Ucapan Dion seolah seperti ludah yang mendarat tepat di wajah Chelsea, kini wanita itu merasa seperti seonggok sampah yang disembunyikan di dalam lemari indah.
Sementara Raisa di puja layaknya seorang Ratu yang mendampingi seorang raja.
"Cihh, lu pikir bisa ngurung gua disini Dion! Liat aja apa yang akan gua lakuin ke lu!" geramnya.
Chelsea tak tahan di tengah keputusasaannya, sebuah ide melintas di pikirannya.
Kali ini dirinya membutuhkan sekutu, setidaknya seseorang bisa memberikannya saran perihal Dion---Luna.
Luna sudah di berikan beberapa fasilitas oleh Leon, dan menjadi gundiknya.
Lagi pula Luna sudah menjadi teman dekatnya semenjak di kampung, dan saat ke kota merantau keduanya menjadi LC di sebuah Club malam.
"Gua telepon Luna aja kali ya," pikirnya sambil meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.
Segera tangannya meraih ponsel untuk mecari kontak Luna, untuk di hubungi.
Sementara di sisi lain kota.
Suasana apartemen Luna jauh berbeda, wanita itu tengah bercanda ria dengan Leon.
Leon tak menghadiri acara itu karena dirinya lebih memilih hari libur, dan menghabiskan waktu bersama toilet pribadinya ini.
Berbeda jauh dengan apartemen yang di tempati Chelsea beraroma rokok, di apartemen Luna justru di penuhi aroma parfume axe yang maskulin.
Luna sedang berada di tengah momen intim bersama Leon, posisi wanita ini di pangkuan Leon dengan menekan area milik Leon.
Luna pagi ini tampil sangat menggoda dengan gaun merah menyala, dengan atasan menyerupai kemben---gaun sampai lutut itu seolah menonjolkan lekuk tubuhnya.
Leon sendiri tampil santai dengan kaos polo warna ungu tua dan celana training warna coklat.
Luna sudah terasa nyaman saat duduk di pangkuan Leon, sementara Leon melingkarkan tangan di pinggangnya yang ramping.
Tangan Leon juga dengan nakal meremas dua gunung kembar milik Luna, dan tak segan dua tangan Luna menggalung di leher Leon.
"Kamu selalu s*xy sayang...dan selalu membuatku bergairah," ucap Leon, tangannya masih setia meremas bagian depan itu.
"Dan kamu sayang selalu membuatku ingin terus memelukmu," balas Luna.
Leon baru saja hendak melakukan lebih pada Luna, namun ponsel di atas sofa bergetar dan mengeluarkan suara yang nyaring dan keras.
"Shitt! Siapa sih yang nelepon lagi enak begini?" umpat Leon dengan nada parau.
Terlihat wajah Leon dan Luna menunjukkan kegusaran karena aktivitasnya terganggu, matanya menatap layar ponsel itu dengan tatapan jengkel.
Tangan Luna segera meraih ponsel itu, dan tangan satunya menahan dada Leon agar pria di depannya ini semakin tak agresif.
"Hah Chelsea?" tanyanya.
Luna tertawa kecil, saat melihat ekspresi Leon.
"Sabar, Sayang... ini Chelsea," bisik Luna tangannya meraih ponsel itu, suaranya tetap tenang namun ada nada penasaran yang terselip.
Jempolnya segera menggeser tombol hijau itu, membiarkan Chelsea meluapkan isi hatinya.
"Hallo Chel? napa lu nelepon gua?" tanya Luna.
"Luna! Lo di mana? Lo lihat berita nggak hari ini?!" suara Chelsea terdengar nyaring dan terburu-buru dari seberang telepon.
Luna nampak melirik ke arah Leon yang kini bersandar pada sofa, dengan wajah di tekuk.
Nampak Leon memperhatikan setiap gerak-gerik Luna dengan tatapan posesif, lalu Luna memperbaiki posisi duduknya di pangkuan Leon.
"Iya, Chels. Gue lihat. Dion benar-benar hebat main sandiwara, ya?" jawab Luna sambil memberikan senyum tipis yang penuh arti pada Leon.
"Gue nggak tahan, Lun! Dion nggak bisa dihubungin sama sekali. Gue rasa dia benar-benar mau buang gue demi si Raisa itu setelah acara semalam," adu Chelsea, suaranya kini terdengar parau hampir menangis.
"Beb...lu ngomong apa sih? Gua yakin Dion akan ceraikan bininya setelah si tua bangka peyot itu mokad!" ucapnya.
Luna terdiam sejenak, dan dirinya mengatakan itu hanya untuk menenangkan sahabatnya.
Leon mendengus mendengar percakapan itu, seolah tak terima Nyonya Raharja di hina Tua bangka peyot.
Karena bagaimana pun, Leon dan Nyonya Raharja memiliki hubungan yang sangat baik dan dekat.
"Luna...lu ngomong apaan sih?" bisik Leon seolah tak terima.
Namun, Luna mengisyaratkan lewat jari telunjuknya agar Leon diam dulu sementara waktu.
*
*
*
*
Sukses selalu Raisa,semoga baby membawa hoky setiap langkah usamu