Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Cinta VS Hati Nurani
Malam itu, Mellisa sedang duduk nyaman di atas tempat tidurnya. Ponsel berada di tangannya, sementara senyum tipis tak kunjung hilang dari wajahnya.
Sesekali ia mengetik balasan, lalu berhenti hanya untuk membaca pesan dari Handoko sekali lagi. Entah apa yang dikatakan laki-laki itu, tetapi setiap kali membacanya, senyum Mellisa semakin melebar.
Tok... tok... tok...
Mellisa tersentak. "Iya, bentar, Kan."
Ia buru-buru mengunci layar ponselnya, meletakkannya di atas nakas, lalu bangkit membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka, Kania langsung berdiri dengan kedua tangan bersedekap. "Bunda kenapa, sih? Tumben-tumbenan pintunya dikunci."
Mellisa mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. "Iya, lagi pengin aja ngunci pintu."
Kania mengangguk pelan, tetapi ekspresinya justru semakin curiga. "Oh..."
Mellisa baru hendak berbalik ketika Kania tiba-tiba menyipitkan mata. "Jangan-jangan..."
Mellisa menoleh. "Jangan-jangan apa?"
"Bunda lagi teleponan sama seseorang, ya?"
"Enggak."
"Chatting?"
"Enggak."
Kania melangkah masuk ke kamar. "Video call?"
"Enggak juga."
"Terus kenapa pintunya dikunci?"
"Ya karena Bunda mau privasi."
Kania mengangguk-angguk sok mengerti. "Oh... privasi."
"Iya."
"Privasi dari aku?"
Mellisa mendengus. "Memangnya kalau Bunda punya privasi, harus lapor sama kamu?"
"Enggak sih."
Kania duduk di tepi ranjang. Kemudian ia menatap ibunya dari atas sampai bawah dengan tatapan seorang detektif yang sedang memeriksa tersangka.
"Tapi Bunda..."
"Apa?"
"Gelagat Bunda akhir-akhir ini aneh."
Mellisa langsung waspada. "Aneh bagaimana?"
"Lebih bahagia."
Mellisa mengerutkan kening. "Itu kan bagus."
"Bagus. Tapi mencurigakan."
"Mencurigakan dari mana?"
Kania mulai menghitung dengan jari. "Pertama, Bunda sekarang lebih sering senyum sendiri."
Mellisa hendak membantah, tetapi Kania langsung mengangkat jari kedua. "Kedua, kalau lagi diam, tiba-tiba senyum. Kayak habis ingat sesuatu."
Mellisa menelan ludah.
"Ketiga..."
"Kania, kamu ini mau menginterogasi Bunda?"
"Sebentar. Belum selesai."
Kania mengangkat jari ketiga. "Ketiga, kalau ada pesan masuk, Bunda langsung ambil ponsel."
"Itu kan biasa."
"Enggak biasa."
"Biasa."
"Enggak."
"Biasa."
Kania tertawa. "Terus yang keempat, kalau lagi chat sama seseorang, wajah Bunda sumringah banget."
Mellisa spontan melirik ponsel di atas nakas.
Kania langsung menunjuk. "Nah!"
Mellisa terdiam. "Tuh, kan!"
"Apa?"
"Baru aku sebut chat, mata Bunda langsung lihat ponsel."
"Karena Bunda memang punya ponsel."
"Dan seseorang di dalamnya."
Mellisa menghela napas panjang. "Ya Allah, Kania..."
Kania terkekeh. "Siapa, Bun?"
"Nggak ada."
"Teman?"
"Iya."
"Teman biasa?"
"Iya."
"Teman lama?"
Mellisa mulai salah tingkah. "Ya... bisa dibilang."
Kania langsung mendekat. "Laki-laki?"
Mellisa menatap putrinya. "Kenapa kalau laki-laki?"
"Berarti benar."
"Benar apanya?"
"Bunda jatuh cinta."
Mellisa langsung mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Kania. "Sudah sana! Jangan ganggu Bunda!"
Kania menangkap bantal itu sambil tertawa. "Berarti benar, dong?"
"Ngaco kamu."
"Bunda merah."
"Mana ada?"
"Merah."
"Memang lampunya agak kuning."
Kania menahan tawa. Ia kemudian mendekati ibunya dan duduk di sampingnya. "Serius, Bun. Aku senang lihat Bunda sekarang."
Senyum Mellisa perlahan berubah lembut. "Kenapa?"
"Karena Bunda kelihatan bahagia."
Mellisa terdiam. Kania kemudian menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.
"Selama ini aku jarang lihat Bunda senyum seperti sekarang."
Mellisa mengusap rambut putrinya. "Bunda memang lagi bahagia, Kan."
"Karena seseorang?"
Mellisa tersenyum kecil. "Bukan."
"Terus?"
"Karena kamu."
"Aku?"
"Iya. Karena putri Bunda satu-satunya sebentar lagi akan melepas masa lajangnya."
Kania tersenyum. "Jadi Bunda bahagia karena aku mau menikah?"
"Banget."
"Berarti bukan karena laki-laki?"
"Bukan."
Kania mengangguk-angguk. "Oke."
Mellisa tersenyum lega. Namun baru beberapa detik kemudian, Kania kembali bertanya. "Tapi kalau suatu hari Bunda menikah lagi, aku juga senang."
Mellisa langsung menoleh. "Kania."
Kania tertawa lepas. "Apa? Aku cuma bilang."
"Sudah. Sana tidur!"
"Kalau nanti aku punya Ayah baru, aku panggil apa?"
Mellisa membelalakkan mata. "Kamu ini."
"Kan cuma nanya."
"Kania."
"Iya, iya. Aku pergi."
Kania berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh. "Oh iya, Bun."
"Apa lagi?"
"Kalau memang ada seseorang, jangan terlalu lama disembunyikan."
Mellisa terdiam. Kania tersenyum jahil. "Kelihatan banget, soalnya."
Pintu pun tertutup. Mellisa berdiri beberapa saat di tempatnya. Kemudian ia menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Anak itu..."
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Mellisa melirik ke arah nakas. Sebuah pesan dari Handoko muncul di layar. Tanpa sadar, senyum kembali merekah di wajahnya.
Dan kalau saja Kania masih berada di kamar, mungkin putrinya akan langsung berteriak dari balik pintu—
**"Nah, kan! Ketahuan!"**
Mellisa terkekeh sendiri, lalu mengambil ponselnya. "Dasar Kania..."
Ia tersenyum ketika melihat nama Handoko muncul di layar.
**Handoko:** Ke mana dulu, kok lama balasnya?
Mellisa tersenyum kecil. Ia kemudian mengetik sambil sesekali melirik ke arah pintu kamarnya, memastikan Kania benar-benar sudah pergi.
**Mellisa:** Barusan ada Kania ke kamar.
Tak sampai beberapa detik, balasan Handoko muncul.
**Handoko:** Oh ya? Dia curiga nggak kalau kamu sedang chat dengan kekasihnya?
Mellisa langsung mengernyitkan dahi.
**Mellisa:** Kok ngaku-ngaku kekasih?
Balasan Handoko datang cepat.
**Handoko:** Emang kamu nggak mau aku jadi kekasihmu?
Mellisa menggigit bibir menahan senyum. Entah kenapa, laki-laki itu selalu saja punya cara untuk membuatnya salah tingkah.
**Mellisa:** Kan anak kita yang akan menikah, Mas. Mereka sepasang kekasih.
**Handoko:** Terus?
**Mellisa:** Ya... kita ini orang tuanya.
**Handoko:** Memangnya ada larangan kalau anak kita merit, kita dilarang merit juga?
Mellisa terdiam membaca pesan itu.
**Mellisa:** Nggak tahu, Mas.
**Handoko:** Nggak ada larangan, Mel.
Beberapa detik kemudian, satu pesan lagi masuk.
**Handoko:** Jadi kita sebenarnya boleh menikah.
Mellisa menatap layar cukup lama. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
**Mellisa:** Tapi...
Ia berhenti mengetik. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi semuanya terasa sulit dirangkai menjadi kalimat.
Handoko kembali mengirim pesan.
**Handoko:** Aku udah janji dalam hati...
Mellisa menunggu. Tiga titik di layar sempat muncul, menghilang, lalu muncul lagi.
**Handoko:** Membawamu ke pelaminan.
Mata Mellisa membesar. Tangannya yang semula santai memegang ponsel kini menggenggamnya lebih erat.
**Mellisa:** Apa?
Hanya satu kata yang mampu diketiknya. Handoko tidak langsung membalas. Beberapa detik terasa begitu panjang bagi Mellisa.78
Kemudian sebuah pesan masuk.
**Handoko:** Iya. Ke pelaminan.
**Handoko:** Bukan cuma jadi kekasihmu. Bukan cuma seseorang yang diam-diam menemanimu.
**Handoko:** Aku ingin menjadi suamimu.
Mellisa menatap layar tanpa berkedip. Ada rasa haru, gugup, bahagia, sekaligus takut yang bercampur menjadi satu.
Selama ini ia memang merasakan kedekatan mereka semakin dalam. Namun mendengar Handoko berbicara tentang pernikahan membuat semuanya terasa berbeda.
Ini bukan lagi sekadar perasaan. Laki-laki itu ternyata sudah memiliki tujuan. Dan tanpa sadar, mata Mellisa mulai berkaca-kaca.
**Mellisa:** Mas...
**Handoko:** Hmm.
Jari Mellisa kembali bergerak, tetapi kali ini begitu lambat.
**Mellisa:** Jangan ngomong begitu kalau Mas nggak benar-benar serius.
Beberapa saat kemudian, balasan Handoko muncul.
**Handoko:** Aku nggak pernah seserius ini, Mel.
Mellisa menundukkan wajah. Senyum kecil muncul di antara air mata yang mulai menggenang.
Kalo ini, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Sebab kalimat sederhana dari Handoko barusan telah mengetuk pintu hati yang selama ini ia jaga rapat-rapat.
**Handoko:** Jadi... jangan kaget kalau suatu hari nanti aku benar-benar datang menemui kamu dan bilang, "Mel, kapan kita menikah?"
Mellisa masih menatap layar ponselnya. Pesan terakhir dari Handoko belum juga ia balas.
*Aku udah janji dalam hati, membawamu ke pelaminan.* Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Entah sudah berapa kali ia membacanya, tetapi setiap kali mengulanginya, ada perasaan hangat yang menyusup ke dalam dada. Perasaan yang selama ini berusaha ia sembunyikan, bahkan dari dirinya sendiri.
Handoko ingin menikahinya. Bukan sekadar menjalin hubungan diam-diam. Bukan sekadar menjadi seseorang yang hadir ketika mereka sama-sama membutuhkan teman berbicara. Laki-laki itu ingin membawanya ke pelaminan.
Mellisa tersenyum kecil. Namun senyum itu perlahan memudar. Ia meletakkan ponsel di atas pangkuan, lalu menundukkan wajah. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Sesuatu yang sejak awal ia tahu tidak akan mudah disingkirkan.
Pratiwi.
Nama itu muncul begitu saja dalam pikirannya.
Perempuan yang selama ini dikenalnya sebagai calon besan. Perempuan yang tidak pernah memperlakukannya sebagai orang asing. Perempuan yang bahkan selalu menyambutnya dengan hangat setiap kali mereka bertemu.
Dan sekarang, tanpa pernah benar-benar merencanakannya, Mellisa justru menjadi seseorang yang memiliki perasaan kepada suami calon besannya tersebut.
Ia mengembuskan napas panjang. "Kenapa harus begini, sih?" gumamnya pelan.
Mellisa tahu, perasaan tidak selalu datang pada waktu yang tepat. Ia juga tahu bahwa dirinya tidak pernah bermaksud merebut kebahagiaan siapa pun. Tetapi bukankah niat baik tidak selalu menghapus akibat dari sebuah perbuatan?
Ia tidak ingin menjadi perempuan yang menunggu laki-laki menikahinya, sementara perempuan lain masih terikat dengannya. Ia tidak ingin suatu hari nanti, ketika semua ini terbongkar, orang-orang memandangnya sebagai penyebab kehancuran rumah tangga orang lain.
Terlebih lagi, Kania dan Raka akan segera menikah.
Pernikahan anak-anak mereka seharusnya menjadi kebahagiaan yang utuh. Tidak seharusnya ada rahasia yang membuat suasana keluarga menjadi rumit.
Mellisa memejamkan mata. *Bagaimana kalau Kania tahu?*
Ia membayangkan wajah putrinya. Kania yang selalu memandangnya sebagai ibu yang kuat. Kania yang begitu bahagia karena akhirnya memiliki keluarga yang lengkap dan hangat.
Bagaimana jika suatu hari putrinya mengetahui bahwa di balik kebahagiaan itu, Bundanya justru sedang menyimpan hubungan dengan ayah mertuanya?
Mellisa menggeleng pelan. "Jangan berpikir sejauh itu."
Namun pikirannya tidak mau berhenti. Ia kembali mengambil ponsel, membaca pesan Handoko, lalu tersenyum tanpa sadar.
Laki-laki itu membuatnya merasa dicintai. Membuatnya merasa masih layak mendapatkan kebahagiaan setelah bertahun-tahun menjalani hidupnya sendiri. Bersama Handoko, ia bisa tertawa tanpa merasa harus menjaga setiap kata. Bisa bercerita tentang hal-hal kecil tanpa takut dianggap merepotkan.
Dan justru karena itulah, perasaan bersalahnya semakin besar. Sebab ia tahu, dirinya bahagia.
Bahagia karena seseorang yang seharusnya belum boleh ia cintai.
Mellisa mengetik beberapa kata. *Mas, saya takut.*
Ia menatap kalimat itu cukup lama, lalu menghapusnya. Mengetik lagi. *Mas, bagaimana dengan Pratiwi?* Kembali ia hapus.
Pada akhirnya, ia hanya mengirimkan satu pesan.
**Mellisa:** Mas, saya masih bingung.
Handoko membalas tidak lama kemudian. **Handoko:** Bingung kenapa, Mel?
Mellisa menatap layar. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi ia takut pertanyaannya justru akan membuat Handoko merasa bahwa dirinya tidak mempercayai keseriusan laki-laki itu.
Padahal bukan itu masalahnya. Ia percaya Handoko mencintainya. Yang tidak ia tahu adalah apakah cinta itu akan cukup kuat untuk menghadapi semua akibatnya?
**Mellisa:** Saya bahagia dengar Mas mau menikah sama saya.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
**Mellisa:** Tapi saya juga takut.
Balasan Handoko tidak langsung muncul. Mellisa memandang pantulan wajahnya di layar ponsel yang mulai meredup. Wajah yang tampak bahagia, tetapi menyimpan kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan dari dirinya sendiri.
**Handoko:** Takut apa?
Mellisa menarik napas panjang.
**Mellisa:** Takut kalau kebahagiaan kita nanti harus dibayar dengan luka orang lain.
Setelah mengirim pesan itu, ia langsung meletakkan ponselnya. Ia tidak tahu apakah Handoko akan memahami perasaannya. Ia juga tidak tahu apakah dirinya sendiri sanggup menghadapi semua yang mungkin terjadi.
Yang ia tahu, malam itu ia sedang berdiri di antara dua hal yang sama-sama sulit dilepaskan. Cinta yang membuatnya ingin melangkah maju. Dan hati nurani yang terus mengingatkannya untuk berhenti.