NovelToon NovelToon
SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.

Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.

Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 — DESA KETUJUH: KEBANGGAAN

Langit di atas wilayah perbatasan barat laut tidak lagi berwarna kelabu ataupun merah darah; ia membentang luas dalam balutan warna keemasan yang angkuh, berkilau dingin bagai cermin es yang memantulkan kesombongan abadi. Desa Mahameru—yang dahulu dikenal sebagai pemukiman para kesatria agung dan dewa penjaga garis depan—kini berdiri dalam keheningan yang kaku. Tidak ada suara gemerincing baja, tidak ada derap kaki kuda, yang tersisa hanyalah patung-patung bernyawa yang terpahat dari ego dan keangkuhan mereka sendiri.

Lu Chen menghentikan laju kuda anginnya tepat di gerbang batu pualam yang menjulang megah. Tato segel di dadanya, simbol abadi dari identitas sejatinya sebagai perpaduan sepertiga manusia, sepertiga dewa, and sepertiga siluman, berdenyut keras menembus kain jubahnya. Pendaran tiga warna—emas dewa, ungu siluman, and merah darah manusia—berpendar tajam, merasakan gelombang arogansi murni yang mengental di udara, membekukan setiap denyut kehidupan di desa tersebut.

"Tempat ini terasa jauh lebih mematikan dibanding lembah racun sebelumnya," bisik Xue Ling, jemarinya secara refleks mempererat cengkeraman pada hulu pedang peraknya. Matanya menyapu barisan bangunan marmer putih yang berdiri kokoh tanpa cela. "Mereka tidak saling mencakar atau meracuni diri dalam diam. Mereka mati dalam posisi paling mulia versi mereka sendiri."

Lu Chen melangkah turun dari pelana, menyentuhkan telapak tangannya pada tanah pualam yang dingin. Identitas campurannya membuatnya mampu mendengar gema sisa-sisa kesadaran yang terperangkap di dinding-dinding batu. "Mereka bukan mati karena kelemahan," ucap Lu Chen datar, manik matanya memantulkan tiga pendar warna yang bergejolak tenang. "Mereka mati karena merasa diri mereka terlalu sempurna untuk jatuh. Mereka memuja kebanggaan rasial hingga mengunci jiwa mereka dalam penjara keangkuhan."

Benar saja. Ketika mereka menyeberangi alun-alun utama, pemandangan yang menyambut membuat Lin Yue menahan napas. Ratusan kesatria dan penduduk desa tergeletak kaku dalam posisi bersimpuh megah, menghadap ke satu titik pusat. Wajah mereka mengeras dalam ekspresi kemenangan abadi—mata terbelalak bangga, dagu terangkat tinggi, menolak tunduk bahkan dalam kematian. Jantung mereka pecah bukan karena rasa sakit, melainkan karena tekanan ego mereka sendiri yang menolak mengakui ketidaksempurnaan.

Lu Chen berjongkok di samping seorang panglima perang bersayap emas yang tewas dengan pedang masih terhunus ke langit.

JLEB!

Hantaman emosional yang tajam kembali merobek batin Lu Chen. Identitas campurannya membuka pintu bagi resonansi kebanggaan rasial yang paling pekat. Di dalam kepalanya, suara-suara angkuh bergemuruh merendahkan: “Kami adalah ras yang murni”, “Darah campuran adalah noda yang harus dihapus dari sejarah”, “Hanya yang sempurna yang berhak hidup”. Bisikan-bisikan arogan itu mencoba menghantam harga diri Lu Chen, menguji apakah jauh di dalam lubuk hatinya, ia pernah merasa rendah diri atau justru ingin membuktikan diri sebagai yang terhebat di atas segalanya.

"Ugh..." Lu Chen terhuyung ke belakang, napasnya memburu saat tangannya menumpu di atas lantai pualam. Pendaran tiga warna di dadanya berkedip terang, memancarkan perlawanan sengit terhadap kutukan arogansi tersebut.

Wolf segera merapat, mencengkeram bahu pemuda itu erat-erat. "Chen! Jangan biarkan racun kesombongan itu merusak ketulusan hatimu! Kau tidak perlu membuktikan apa pun pada siapapun!"

Pesan di Atas Takhta Keangkuhan

Luna yang menyisir area menara pengawas tertinggi desa bergegas turun dengan ekspresi tegang. "Kalian harus melihat apa yang ada di dalam balai kehormatan!"

Di atas takhta emas murni yang dikelilingi oleh pilar-pilar kristal raksasa, sebuah prasasti darah terpampang nyata, berkilau di bawah pantulan cahaya keemasan langit:

7/9. UNTUK KEBANGKITAN. HATI KETUJUH: KEBANGGAAN MURNI

Xue Ling melangkah mendekat, menatap prasasti itu dengan raut wajah yang semakin mengeras. "Tujuh hati emosi telah direnggut: Ketakutan, Kemarahan, Kesedihan, Keserakahan, Kebencian, Kecemburuan, dan kini Kebanggaan Murni. Kita hanya tinggal selangkah lagi menuju jurang malapetaka. Dua emosi terakhir akan menjadi penentu kehancuran Tiga Alam."

"Sialan!" Wolf mendesis geram, menendang serpihan batu pualam hingga berserakan. "Mereka benar-benar membongkar setiap lapisan emosi terburuk dari eksistensi kita. Kebanggaan buta inilah yang dulu membuat para dewa dan siluman saling merendahkan ras lain!"

Sebelum ada yang sempat merespons, pilar-pilar kristal di sekeliling balai pecah berkeping-keping. Asap hitam pekat menyembur keluar dari reruntuhan takhta, berputar cepat membentuk tiga sosok bayangan tanpa wajah yang memancarkan aura penguasa mutlak.

"Selamat datang di puncak kejayaan yang fana, sang Raja Campuran," suara Jenderal Pertama bergemuruh mencemooh, memantul megah di dinding-dinding marmer. "Bagaimana rasanya menyaksikan sisa-sisa kesucian dari ras-ras angkuh yang mendewakan kemurnian? Bukankah mereka memang pantas mati terkunci dalam keangkuhan mereka sendiri?"

Lu Chen perlahan bangkit berdiri. Ia merapikan jubahnya, lalu menegakkan tubuhnya dengan wibawa seorang pemimpin sejati. Pendar tiga warna di dadanya kembali menyala stabil, memancarkan harmoni ketulusan yang mendinginkan suasana.

Ia mendongak, menatap tajam ke arah bayangan para jenderal tanpa secercah pun rasa gentar. "Kebanggaan yang menutup mata terhadap kelemahan bukanlah kekuatan. Itu adalah bentuk kebodohan terbesar yang membunuh diri mereka sendiri."

Jenderal Kedua tertawa meremehkan. "Omong kosong! Kau sendiri menyandang gelar Raja Penyelamat! Tidakkah kau bangga dengan kekuatanmu? Tidakkah kau ingin berdiri di atas segalanya sebagai penguasa mutlak Tiga Alam?!"

Ujian Kerendahan Hati

Kata-kata itu menyentuh inti terdalam dari identitas Lu Chen sebagai pemuda sepertiga manusia, sepertiga dewa, dan sepertiga siluman. Kilasan memori saat ia diakui oleh rakyat, dipuja sebagai penyelamat, dan disembah sebagai raja berkelebat di kepalanya. Sisi dewa di dalam dirinya sempat berbisik pelan: “Kau memang istimewa. Kau layak menjadi penguasa tunggal.”

Namun, bayangan wajah Bima yang ketakutan di abu Desa Batu Api, serta pelukan hangat Shen Yue di saat ia terjatuh, langsung menghapus segala bentuk kesombongan yang hampir menyusup ke dalam hatinya.

Lu Chen menarik napas dalam-dalam. Ia merentangkan telapak tangannya, menatapnya tanpa rasa silau oleh kekuasaan. "Aku tidak pernah berniat menjadi penguasa mutlak. Kekuatanku ada bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk melayani dan melindungi mereka yang rapuh."

"Anak kurang ajar!" murka Jenderal Ketiga. "Kalau begitu, rasakan hantaman kebanggaan mutlak yang akan meremukkan ego rendahanmu!"

BOOM!

Gelombang energi hitam legam melesat membabi buta, menyeret kesadaran Lu Chen masuk ke dalam dimensi ilusi batinnya. Di dalam ruang hampa tersebut, ia melihat dirinya duduk di atas takhta tertinggi di atas awan, sementara seluruh makhluk di alam semesta bersujud menyembah namanya.

Bayangan tiruan dirinya yang angkuh berbisik: "Tunduklah pada takdirmu sebagai dewa tertinggi. Buat apa peduli pada mereka yang lemah?"

Godaan untuk menikmati puja-puji dan menganggap dirinya lebih tinggi dari makhluk lain terasa begitu kuat. Namun, Lu Chen menggelengkan kepala perlahan, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis penuh kesadaran.

"Kesombongan adalah awal dari kejatuhan," ucap Lu Chen mantap.

Ia melepaskan esensi Cahaya Penyelamat dari dalam segel di dadanya, membiarkan energi suci itu meluruhkan segala bentuk keangkuhan ilusi.

JURUS UTAMA: JIWA YANG TULUS

CAHAYA TIGA WARNA MELEDAK DAHSYAT.

Ledakan energi suci itu meruntuhkan dimensi ilusi dalam sekejap. Di dunia nyata, cahaya murni tersebut membubung tinggi ke angkasa, menyapu bersih kutukan arogansi di Desa Mahameru dan memulihkan kesadaran rekan-rekannya yang sempat terpaku.

Bayangan ketiga jenderal itu menjerit kesakitan saat cahaya tersebut mengikis wujud mereka. "Sialan... kerendahan hatinya benar-benar menjadi perisai yang tak tertembus!"

"Kalian tidak akan pernah bisa merusak fondasi dunia yang kami bangun," ucap Lu Chen dingin.

WUS! Ketiga bayangan itu kocar-kacir melarikan diri ke dalam kegelapan malam.

Xue Ling and Wolf segera berlari menghampiri Lu Chen yang berdiri tenang di atas pualam.

"Kau tidak apa-apa, Chen?" tanya Xue Ling, napasnya masih sedikit memburu.

Lu Chen mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja. Tapi waktu kita semakin sedikit. Tujuh hati telah jatuh ke tangan mereka."

Lin Yue membuka gulungan peta perbatasan magis yang kini memperlihatkan dua titik merah terakhir di ujung peta. "Desa kedelapan... target mereka selanjutnya adalah emosi Keputusasaan."

Lu Chen mengepalkan tinjunya erat-erat, menatap lurus ke arah cakrawala utara yang diselimuti badai salju abadi. Tato di dadanya berpendar terang, menandakan bahwa tekadnya kini telah mencapai tingkat kematangan sempurna.

"Siapkan pasukan terakhir kita," perintah Lu Chen tegas. "Kita jemput pertempuran penentuan ini malam ini juga!"

Dan di bawah langit Tiga Alam yang bergetar hebat, sang Raja Campuran melangkah maju menyongsong badai keputusasaan, siap mengakhiri teror sembilan hati dendam sebelum kebangkitan Varkos benar-benar terjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!