Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.
Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.
Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Yang Ditarik Kembali
Aroma biji kopi yang baru digiling berbaur hangat dengan wangi panggangan roti di dalam sebuah kafe bernuansa minimalis Jepang di kawasan Jakarta Selatan. Siang itu, kafe cukup tenang, hanya diisi oleh beberapa pekerja kantoran yang sibuk dengan laptop mereka di sudut ruangan. Di dekat jendela besar yang menghadap ke deretan pohon paku raksasa, Adila duduk sembari mengaduk pelan es caffè latte miliknya.
Penampilannya Adila siang ini sangat segar. Ia hanya mengenakan kemeja garis-garis biru muda yang longgar, celana kulot putih, dan rambut yang dibiarkan terurai alami. Setelah berbulan-bulan terbiasa memakai baju kurung kusam atau jas dokter yang kaku, rasanya luar biasa lega bisa berpakaian santai seperti manusia normal lagi.
Ting.
Lonceng di atas pintu kafe berdentang, menandakan seseorang baru saja masuk. Adila mendongak dan mendapati sosok dr. Adrian Dewantara sedang melangkah lebar mencarinya. Adrian siang ini terlihat melepas jas dokternya, karena Dia hanya memakai kemeja hitam yang lengannya digulung sampai sikut, memperlihatkan jam tangan kasual yang senada. Tanpa ekspresi kaku khas rumah sakit, pria itu kelihatan beberapa tahun lebih muda dari umur aslinya dan sangat tampan.
"Sudah lama menunggu?" tanya Adrian begitu sampai di depan meja Adila, lalu menarik kursi di hadapannya.
Adila tersenyum tipis. "Belum kok, Dokter. Baru sekitar sepuluh menit."
Seorang pelayan datang dan Adrian memesan segelas double espresso dingin tanpa banyak basa-basi. Begitu pelayan pergi, Adrian meletakkan sebuah map kulit hitam berukuran sedang yang sejak tadi dipegangnya ke atas meja.
"Sengaja saya ajak ketemu di luar. Kalau di rumah sakit, baru saya mau buka mulut saja, pasti sudah ada residen atau suster yang datang membawa berkas pasien," kata Adrian, nadanya terdengar jauh lebih santai dari biasanya. Ada seulas senyum tipis di sudut bibirnya.
Adila terkekeh pelan. "Iya juga sih, Dokter. Di sana temboknya seperti punya telinga. Ngomong-ngomong, penelitian apa yang kemarin Dokter ceritakan sampai harus buru-buru dibahas setelah saya sumpah dokter?"
Adrian mengetuk map kulit hitam itu dengan jari telunjuknya. "Ini bukan sekadar penelitian lokal untuk syarat naik pangkat, Dila. Ini proyek kolaborasi internasional antara universitas kita dengan *Seoul National University Hospital* di Korea Selatan."
Mendengar kata Korea Selatan, mata Adila sedikit berbinar. Ketertarikannya langsung terpancing.
"Fokusnya adalah uji klinis metode baru untuk bedah mikro pada kasus tumor otak yang letaknya jauh di dalam interior tengkorak. Kita akan meneliti efisiensi penggunaan teknologi navigasi robotik terbaru untuk meminimalkan kerusakan saraf fungsional pasien," jelas Adrian. Pandangan matanya mendadak berubah sangat serius dan penuh gairah saat membicarakan dunia medis, tipe pria yang seleranya sangat tinggi terhadap ilmu pengetahuan.
Adrian membuka map tersebut, memperlihatkan beberapa lembar draf proposal berbahasa Inggris dengan logo dua institusi besar di bagian atasnya. Di kolom tim peneliti utama, nama dr. Adrian Dewantara, Sp.BS sudah tercetak rapi. Namun, yang membuat jantung Adila berdesir adalah kolom kosong tepat di bawah nama Adrian, di mana ada catatan pensil bertuliskan namanya: *dr. Adila Arrena Wijaya.*
"Saya butuh satu peneliti pendamping yang bertugas mengelola basis data klinis kita di Jakarta, sekaligus ikut menyusun draf jurnal internasionalnya nanti. Dan sejak awal proyek ini disetujui bulan lalu, kepala saya cuma memikirkan satu nama untuk posisi ini. Kamu," ucap Adrian, menatap Adila lurus-lurus.
Adila terpaku sejenak, memandangi draf proposal mahal di depannya. "Dokter... ini proyek besar sekali. Kenapa harus saya? Maksud saya, di luar sana ada banyak dokter senior atau residen bedah saraf tahun akhir yang jauh lebih berpengalaman daripada saya yang baru kemarin sore resmi jadi dokter."
Adrian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, tepat saat pelayan mengantarkan kopi pesanannya. Setelah menyesap espresso dingin itu sedikit, ia kembali menatap Adila dengan tatapan tajam yang menguliti.
"Dila, kalau saya mau cari orang yang cuma pintar menghafal teori, di rumah sakit itu ada ratusan orang," jawab Adrian, suaranya terdengar sangat natural tapi penuh penekanan. "Tapi saya butuh orang yang punya ketahanan mental luar biasa di bawah tekanan, orang yang tidak emosional saat keadaan memburuk, dan yang paling penting... punya ketelitian tinggi. Saya sudah melihat caramu bekerja selama setahun ini saat kamu masih jadi koas. Kamu bisa mengabaikan masalah pribadimu yang hancur-hancuran itu demi menyelesaikan laporan riset saya dengan sempurna. Itu kualitas yang jarang saya temukan pada dokter baru."
Adrian menjeda kalimatnya, nadanya berubah sedikit lebih lembut. "Selain itu, bukankah kamu punya keterikatan personal dengan Korea? Saya dengar dari Ardi, ibumu berasal dari sana dan kamu menguasai bahasanya dengan sangat fasih. Itu nilai plus yang besar karena kita akan sering melakukan telekonferensi dan pertukaran data dengan tim dari Seoul."
Adila terdiam jujur dia tidak menyangka Dr. Adrian sampai sedetail itu memikirkan kecocokan dirinya dengan proyek ini. Rasa dihargai dan diakui kemampuannya secara profesional seperti ini memercikkan rasa hangat yang luar biasa di dada Adila. Sangat berbeda dengan masa lalunya bersama Revan, di mana pekerjaannya sebagai dokter sering kali dianggap sebagai angin lalu atau sekadar status pelengkap ego Revan saja.
"Bagaimana? Kamu tertarik?" tanya Adrian lagi, menaikkan sebelah alisnya. "Proyek ini akan memakan waktu sekitar satu tahun. Kalau jurnal kita tembus ke The Lancet atau Neurosurgery, namamu akan langsung dikenal di tingkat internasional bahkan sebelum kamu mengambil spesialis."
Adila menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan dengan senyuman paling tulus yang ia miliki. "Saya rasa... saya akan sangat bodoh kalau menolak tawaran emas ini, Dokter Adrian. Saya terima. Saya siap membantu Dokter."
Adrian tersenyum puas, sebuah senyuman yang sangat jarang terlihat di lingkungan rumah sakit. "Bagus. Saya pegang janjimu. Minggu depan kita mulai rapat perdana dengan tim Seoul lewat Zoom."
Di saat Adila sedang menikmati kopi dan obrolan berkelas internasional bersama dr. Adrian di bawah sejuknya AC kafe, atmosfer di rumah tua milik ibunya Revan justru terasa seperti neraka yang membara di siang bolong.
Revan duduk di ruang tamu yang pengap dengan keringat yang bercucuran deras membasahi dahi dan pelipisnya. Di atas meja kaca yang retak, tidak ada lagi cangkir teh hangat atau camilan. Yang ada hanyalah tumpukan kertas tagihan bank berwarna merah menyala dan sebuah kalkulator tua.
Suara tangisan Mama Revan terdengar menyayat hati dari dalam kamar, meratapi nasib Tiara yang sampai sekarang tidak bisa dihubungi dan juga memikirkan bagaimana cara mereka makan esok hari. Uang pesangon terakhir satu kali gaji yang diberikan HRD kemarin siang, ternyata sudah habis tak bersisa dalam hitungan jam hanya untuk membayar denda keterlambatan bunga bank agar rumah itu tidak langsung disita minggu ini. Namun, itu baru bunga jangka pendek. Utang pokoknya masih menumpuk ratusan juta rupiah.
Revan meremas rambutnya dengan kedua tangan, merasakan kepalanya seperti mau pecah. Jam di dinding terus berdetak, seolah menghitung mundur sisa-sisa waktu kehormatan keluarganya yang akan segera habis. Sembari menatap layar ponselnya yang sepi tanpa ada satu pun panggilan kerja dari puluhan lamaran yang ia kirim semalam, rasa aneh yang mencekik hati kembali datang mendera Revan.
Dulu, setiap kali ada tagihan rumah atau kebutuhan mendadak dari ibunya, Revan tinggal menjentikkan jari. Adila selalu diam-diam melunasi semuanya menggunakan uang tabungan pribadinya tanpa pernah mengeluh atau meminta ganti. Revan dulu merasa hidupnya sangat mudah karena dia memegang kendali penuh atas gajinya sendiri, tanpa sadar bahwa Adila-lah yang menjadi pilar penopang tak terlihat yang menjaga keluarganya tetap tegak.
Sekarang, pilar itu sudah pergi, hancur berkeping-keping karena kebodohannya yang meratukan Meisya. Dan hari ini, Revan terpaksa menelan kenyataan pahit bahwa tanpa Adila, dirinya hanyalah seorang pengangguran miskin yang tidak punya arti apa-apa di kota besar ini.
Di dalam kafe yang tenang, Adrian memperhatikan Adila yang sedang membaca lembar demi lembar proposal penelitian dengan dahi yang sedikit berkerut, fokus yang luar biasa.
"Dila," panggil Adrian pelan, memecah keheningan di antara mereka.
"Ya, Dokter?" Adila mendongak.
"Setelah proyek ini jalan beberapa bulan, saya berencana mengajukan rekomendasimu untuk mengambil beasiswa spesialis bedah saraf langsung di Korea melalui jalur kerja sama ini," kata Adrian, suaranya terdengar sangat kasual tapi dampaknya luar biasa besar. "Kamu punya potensi besar. Jangan biarkan masa lalumu menahan langkahmu untuk terbang lebih tinggi."
Adila tertegun menatap pria di hadapannya. Di dalam mata tajam dr. Adrian, Adila tidak menemukan kepalsuan atau manipulasi ego seperti yang biasa ia lihat pada Revan. Yang ada hanyalah dukungan murni dari seorang mentor, seorang pria matang yang menghargai keberadaannya secara utuh.
"Terima kasih banyak, Dokter Adrian," bisik Adila, matanya sedikit berkaca-kaca namun kali ini karena rasa haru dan bahagia. "Saya janji tidak akan mengecewakan Anda."
Jalan hidup mereka kini telah benar-benar bercabang dua dengan sangat ekstrem. Adila melangkah mantap menuju puncak karier dan dunia baru yang gemerlap bersama dr. Adrian, sementara Revan tertinggal jauh di belakang, mendekam dalam kemiskinan dan penyesalan yang tidak akan pernah menemukan jalan keluar seumur hidupnya.
ini tuh berlebihan
Gak nyesel kalau nnt terbongkar bermain dibelakang istri lalu ditinggal,apalagi istri mu calon dokter.
Banyak lo diluar sana laki laki yg pingin punya istri Dokter.
Kekayaan macam apa itu adila..kamarmu seluas rumah mewahmu dan revan..