NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Senja Di Kelas Kosong Dan Rumor Hari Rabu

Suara derit lambat kipas angin gantung menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan di kelas 7-B sore itu. Berkas cahaya matahari pukul empat sore menerobos masuk dari celah jendela kaca, melemparkan garis-garis emas yang hangat di atas meja kayu tempat Auren dan Evan duduk berdampingan. Di tengah meja, sebuah buku paket Matematika terbuka lebar, dikelilingi oleh tumpukan kertas cakar dan dua pulpen gel hitam yang bergerak beriringan.

"Van, fungsi yang ini dikali silang dulu atau dipindahin ruasnya?" tanya Auren pelan, memecah kesunyian. Ujung pulpennya menggantung ragu di atas kertas.

Evan tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Cowok itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah meja Auren. Jarak yang memotong ruang di antara mereka membuat Auren bisa menghirup aroma khas sabun dan parfum dari tubuh Evan. Tiba-tiba, Evan mengulurkan tangan kanannya, menangkup pelan jemari Auren yang sedang memegang pulpen, lalu menuntun tangan gadis itu untuk menarik garis rumus di atas kertas.

Sentuhan kulit yang mendadak dan hangat itu seketika mengirimkan getaran hebat yang membuat napas Auren tertahan. Jantungnya memberikan letupan kencang yang tak beraturan.

"Dipindahin ruasnya dulu, Sekretaris," bisik Evan tepat di dekat telinga Auren, suaranya terdengar sangat lembut dan dalam. Cowok itu mendongak, menatap mata Auren dari jarak yang begitu dekat sambil mengulum senyuman manisnya yang memamerkan lesung pipit samar. "Tuh kan, lo gak fokus lagi. Masih mikirin hukuman Pak Danu?"

Auren buru-buru menarik tangannya yang terasa memanas akibat sentuhan Evan, mencoba menyembunyikan rona merah jambu yang kini dipastikan sudah memenuhi seluruh pipinya. "Bukan... cuma rumit aja angkanya."

Evan tertawa kecil, suara tawa renyah yang menggema halus di dalam kelas yang kosong. Ia meraih buku sketsa biru langit milik Auren yang mencuat dari dalam tas, lalu membukanya perlahan di atas meja, tepat di samping buku latihan Matematika mereka. "Kalau pusing, lihat ini dulu aja biar otaknya adem."

Auren menatap lembar halaman kedua buku itu, tempat tulisan tangan Evan yang berjanji akan menemaninya melukis lembar-lembar berikutnya terukir indah. Melihat tulisan itu, rasa lelah dan pusing akibat rumus Matematika seketika runtuh tanpa sisa dari dada Auren, berganti dengan rasa manis yang membuncah penuh.

Mereka akhirnya menyelesaikan nomor terakhir tepat saat jam dinding menunjukkan pukul setengah lima sore. Setelah merapikan tas dan mengunci pintu kelas, mereka berjalan beriringan menyusuri koridor lantai dua yang sudah sepi senyap, menuruni anak tangga beton bersama, hingga melangkah keluar melewati gerbang sekolah yang mulai temaram oleh sisa matahari senja yang menguning.

Sore itu tidak ada hujan, namun Evan tetap memegang pergelangan tangan Auren dengan lembut saat mereka berjalan menyusuri trotoar menuju halte depan kompleks sekolah, memastikan gadis itu berjalan di sisi dalam jalan yang aman dari kendaraan.

"Makasih ya, Van, udah bantuin ngerjain tugasnya tadi," ucap Auren memecah keheningan jalanan sore yang tenang.

Evan menghentikan langkahnya tepat di bawah lampu halte yang mulai menyala remang. Cowok itu memutar tubuhnya menghadap Auren, melepaskan pegangannya perlahan lalu mengetuk pelindung tas ransel Auren sebanyak dua kali—gestur khasnya yang selalu membawa kehangatan tersendiri.

"Harusnya gue yang makasih, Ren. Gara-gara gue lo jadi ikut dihukum," kata Evan puitis, sorot matanya menatap mata Auren dengan pekat oleh rasa tulus. "Tapi jujur... gue gak pernah ngerasa sebahagia itu pas dihukum guru. Lain kali, kalau mau ngobrol lagi di kelas, bilang ya."

Auren mencubit pelan lengan jaket olahraga Evan sambil tertawa kecil, menyembunyikan debaran dadanya yang kian tak karuan sebelum melangkah masuk ke dalam angkutan umum yang baru saja menepi. Dari balik kaca jendela mobil yang bergerak menjauh, Auren melambaikan tangannya, menatap siluet Evan yang berdiri tegap di halte sambil tersenyum lebar menatap keberangkatannya.

Namun, kedamaian romantis yang mereka rajut di hari Selasa sore itu seketika berubah menjadi riuh rendah yang mengejutkan pada keesokan harinya.

Hari Rabu pagi, begitu Auren melangkah melewati ambang pintu kelas 7-B, ia mendadak merasakan atmosfer kelas yang tidak biasa. Suasana kelas yang biasanya riuh oleh anak-anak yang menyalin PR kini mendadak senyap selama beberapa detik saat Auren lewat. Teman-teman sekelasnya tampak saling berbisik, melemparkan pandangan penuh selidik dan senyuman menggoda ke arahnya.

Auren berjalan menuju barisan pojok belakang dengan perasaan yang mulai tidak enak. Begitu ia duduk di kursinya, Putra langsung menghampiri mejanya dengan wajah yang dipenuhi rasa geli yang tertahan.

"Ren, lo udah dengar berita pagi ini belum?" bisik Putra setengah menggoda, menyandarkan kedua tangannya di meja Auren. "Gosip anak-anak kelas sebelah heboh banget. Katanya kemarin sore ada yang lihat Ketua Kelas sama Sekretaris 7-B sengaja minta dihukum Pak Danu biar bisa pacaran berdua di kelas kosong sampai sore, terus pulang bareng sambil pegangan tangan ke halte."

Jantung Auren seketika mencelos hebat, wajahnya memanas seketika. Sebelum ia sempat memberikan penjelasan atau membantah, pandangannya tidak sengaja beradu dengan Balisya yang duduk di barisan paling depan.

Rumor di hari Rabu itu ternyata memiliki kaki yang sangat panjang. Memasuki hari Kamis pagi, desas-desus tentang 'hukuman manis' di kelas kosong bukan lagi sekadar konsumsi anak kelas 7-B, melainkan sudah menyeberang ke kelas 7-A dan 7-C. Setiap kali Auren berjalan melewati koridor tengah untuk mengembalikan buku ke perpustakaan, beberapa pasang mata siswi lain akan mengikuti langkahnya sambil saling menyenggol lengan dan berbisik tertahan.

Auren hanya bisa menunduk. Genggamannya pada tali tas ranselnya kian mengerat. Di usia dua belas tahun, menjadi pusat perhatian karena urusan hati adalah hal yang sangat mengintimidasi.

"Ren, lo gak apa-apa?"

Suara berat yang familier itu membuyarkan lamunan Auren begitu ia kembali ke kelas. Putra sudah berdiri di samping mejanya, memegang sapu ijuk panjang karena hari ini adalah jadwal piket kebersihannya. Wajah Wakil Ketua Kelas itu tidak lagi dipenuhi senyum geli seperti kemarin, melainkan gurat kekhawatiran yang tulus.

"Gak apa-apa kok, Put. Cuma agak canggung aja pas lewat koridor tadi," jawab Auren jujur, memberikan senyuman tipis yang sedikit dipaksakan.

"Gak usah diambil pusing. Anak SMP emang suka heboh kalau ada berita baru, apalagi yang digosipin Ketua Kelas teladan sama Sekretarisnya," Putra mencoba menghibur, mengayunkan sapunya ke lantai dengan gerakan santai. "Lagian, gue tahu persis siapa yang pertama kali melempar cerita ini ke anak-anak kelas sebelah pas jam istirahat Selasa sore."

Auren tidak perlu bertanya siapa orang yang dimaksud Putra. Pandangannya secara otomatis bergulir ke barisan bangku depan. Di sana, Balisya sedang sibuk mengelap kaca jendela kelas dengan kain lap rajut. Jilbab putihnya yang selalu tegak tanpa cela tampak bergerak seirama dengan gerak tangannya. Balisya bersikap seolah-olah ia adalah pengurus paling rajin pagi ini, namun pancaran kepuasan dari gestur tubuhnya tidak bisa disembunyikan. Dia merasa di atas angin karena berhasil membuat Auren tidak nyaman melalui gosip yang ia tiupkan.

Tiba-tiba, pintu geser kelas depan terbuka. Evan melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu, tanda ia baru saja berlari dari lapangan upacara setelah mengurus absensi mingguan pengurus inti ke ruang guru. Jaket olahraga sekolahnya tersampir di bahu kanan, memamerkan kaus putih seragamnya yang sedikit basah oleh keringat.

Begitu mata Evan menyapu seisi kelas, ia langsung menangkap riak canggung yang menggantung di udara. Beberapa anak yang sedang mengobrol di bangku tengah mendadak senyap dan melirik ke arahnya. Namun, Evan mengabaikan mereka semua. Langkah kakinya yang mantap membawanya berjalan lurus membelah lorong kelas, melewati meja Balisya tanpa menoleh sedikit pun, hingga berhenti tepat di depan meja pojok belakang tempat Auren berada.

Tok... tok...

Evan mengetuk meja kayu Auren dua kali dengan sangat mantap—bukan ketukan ragu seperti hari Jumat lalu, melainkan ketukan tegas yang menuntut atensi penuh dari gadis itu.

"Ren," panggil Evan, suaranya terdengar lantang dan jelas memenuhi penjuru ruangan kelas yang mulai ramai. "Nanti setelah bel pulang, kumpulin semua pengurus inti di ruang OSIS lagi ya. Sebagai Ketua Kelas, gue mau kita rapat evaluasi tengah semester. Tolong catat agendanya sekarang di buku sekretaris lo."

Auren sempat tertegun melihat ketegasan Evan yang tiba-tiba, namun ia segera mengangguk cepat. "Iya, Van. Sudah aku catat."

Di barisan depan, gerakan tangan Balisya yang sedang mengelap kaca jendela seketika membeku. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap ke arah meja belakang dengan raut wajah yang mendadak menegang kaku. Taktik gosip yang ia sebar ternyata sama sekali tidak membuat Evan menjaga jarak atau bersikap canggung kepada Auren. Sebaliknya, Evan justru menggunakan otoritas resminya sebagai Ketua Kelas untuk mempertegas posisi Auren di sisinya sebagai bagian penting dari pengurus inti.

Evan menoleh sedikit ke arah Putra, memberikan kerlingan mata penuh kode tersembunyi yang langsung dibalas oleh Wakil Ketua Kelas itu dengan anggukan paham sambil tersenyum simpul.

Sebelum Evan kembali duduk di kursinya sendiri di sebelah kanan Auren, ia membungkukkan tubuhnya sedikit ke depan, mereduksi jarak di antara mereka hingga Auren bisa mencium aroma khas parfum bercampur keringat yang hangat dari tubuh cowok itu.

"Gue sengaja bikin rapat nanti sore, Ren," bisik Evan sangat lirih di dekat telinga Auren, memastikan suaranya hanya terdengar oleh gadis itu. Senyuman tipisnya yang memamerkan lesung pipit manis kembali terukir di wajahnya. "Biar kita punya alasan lagi buat pulang bareng ke halte tanpa perlu dengerin bisikan anak-anak kelas sebelah. Kita hadapi badai ini sama-sama, ya?"

Sentuhan kata-kata Evan yang penuh perlindungan itu seketika mengirimkan gelombang kehangatan yang luar biasa dahsyat, meruntuhkan seluruh rasa minder dan takut yang sempat menggunung di dada Auren sejak pagi. Pipinya kembali merona merah jambu sempurna. Di bawah deru kipas angin hari Kamis yang mulai berputar cepat, Auren meraba permukaan buku sketsa biru di dalam tasnya dengan jemari yang kini sudah tidak lagi gemetar. Rumor sekolah mungkin bisa membuat koridor terasa bising, namun mendekap ketulusan cowok di sebelahnya, Auren tahu bahwa sketsa putih-birunya kini sedang menuliskan sebuah babak keberanian yang menolak untuk kalah oleh siapa pun.

Suasana di dalam ruang OSIS sore itu terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Semburan angin dari AC di pojok ruangan berpadu dengan keheningan yang kaku di antara empat pengurus inti kelas 7-B.

Evan duduk di ujung meja rapat yang panjang, bersandar tenang sambil memandangi lembaran berkas program kerja di hadapannya. Putra duduk di sebelah kanannya, memutar-mutar pulpen dengan gestur santainya yang khas. Sementara di sisi kiri, Auren sudah membuka buku agenda sekretarisnya, bersiap mencatat.

Tepat di hadapan mereka, Balisya duduk dengan punggung tegak kaku. Jilbab putihnya yang selalu rapi tanpa cela sore ini tampak kontras dengan raut wajahnya yang masam dan gelisah. Sejak melangkah masuk, ia sama sekali tidak bersuara, merasa terpojok karena tahu rapat evaluasi dadakan ini pasti ada hubungannya dengan rumor yang ia sebarkan kemarin.

"Oke, makasih udah mau kumpul sore ini," Evan membuka suara, nadanya tenang namun memiliki penekanan tegas selaku Ketua Kelas. "Agenda kita singkat, cuma mengevaluasi kekompakan pengurus inti menjelang pameran mading angkatan minggu depan."

Evan menjeda kalimatnya, lalu melemparkan pandangan lurus ke arah Balisya. "Gue cuma mau negasin satu hal. Pengurus inti itu dipilih buat memajukan kelas, bukan buat bikin riak atau kerja sama dengan kelas sebelah buat ngejatuhin nama pengurus lain lewat gosip gak jelas. Gue berharap, siapa pun yang mulai niupin rumor kemarin, bisa fokus lagi sama tanggung jawabnya."

Sindiran telak dari Evan membuat wajah Balisya seketika memerah karena malu sekaligus kesal. Ia meremas ujung rok birunya di bawah meja, menyadari bahwa Evan benar-benar tidak memberi ruang bagi taktik liciknya lagi.

Namun, ketegangan itu mendadak mencair oleh sebuah kejadian kecil yang tak terduga. Saat Auren sedang fokus menulis poin rapat, ujung pulpen gel hitam pemberian Evan yang digunakannya mendadak kehabisan tinta. Goresannya macet di atas kertas kertas putih buku agenda.

Auren mendesah pelan, hendak meraba tasnya untuk mencari pulpen cadangan. Namun, sebelum ia sempat bergerak, Evan yang menyadari hal itu langsung menghentikan ucapannya.

Di depan mata Putra dan Balisya yang sedang memperhatikan jalannya rapat, Evan tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Auren. Dengan gerakan tangan yang sangat lembut dan tanpa ragu, Evan meraih pergelangan tangan kiri Auren, menuntunnya sedikit menjauh dari buku, lalu meletakkan pulpen gel miliknya sendiri yang persis sama ke dalam genggaman jemari Auren.

Sentuhan kulit mereka yang mendadak itu seketika mengirimkan sengatan hangat yang membuat napas Auren tertahan. Jantungnya memberikan letupan kencang yang tak beraturan.

Belum sempat Auren menguasai kegugupannya, Evan justru membiarkan tangan kirinya tetap berada di atas meja, dengan santai mengetuk punggung tangan Auren sebanyak dua kali menggunakan jari telunjuknya—gestur ketukan khasnya yang kini dilakukan secara langsung di hadapan orang lain.

"Pakai pulpen gue aja, Ren. Tintanya masih penuh," bisik Evan pelan dengan suara yang melembut pekat, menatap mata Auren dengan sorot mata hangat yang dipenuhi rasa sayang yang amat kentara.

Auren merasakan pipinya mendadak merona merah jambu sempurna. Ia buru-buru menunduk untuk melanjutkan tulisan, mencoba menyembunyikan debaran dadanya yang kian tak karuan.

Putra yang menyaksikan pemandangan super manis di depannya itu langsung menutup mulutnya dengan tangan kanan, mencoba sekuat tenaga menahan tawa geli sekaligus godaan yang sudah di ujung lidah. Wakil Ketua Kelas itu memberikan kerlingan mata jenaka ke arah Evan, seolah-olah berkata, 'Bisa banget lo curi-curi kesempatan di tengah rapat!'

Sementara di seberang meja, suasana berbanding terbalik. Balisya yang melihat adegan romantis itu secara langsung merasakan dadanya bergemuruh hebat oleh rasa cemburu yang luar biasa membakar. Sepasang matanya menyipit tajam, menatap tangan mereka yang sempat bersentuhan dengan tatapan tidak suka yang amat pekat. Jilbab putihnya yang rapi seolah tidak mampu menyembunyikan rasa perih di hatinya. Selama ini, ia selalu mencoba tampil sempurna agar diperhatikan oleh Evan, namun semua usahanya runtuh begitu saja hanya oleh perhatian kecil dan sederhana yang Evan berikan secara eksklusif kepada Auren di depan matanya sendiri.

Rapat sore itu akhirnya ditutup beberapa menit kemudian setelah Putra membantu membacakan kesimpulan kesepakatan piket mading. Begitu Evan mengetuk meja tanda rapat selesai, Balisya langsung menyambar tas ranselnya dengan sentakan kasar, berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan berjalan tergesa-gesa keluar dari ruang OSIS dengan langkah kaki yang menghentak keras di lantai koridor yang sunyi.

Putra hanya bisa menggelengkan kepala melihat kepulangan Balisya yang penuh emosi itu. Ia ikut menyampirkan tasnya di bahu, lalu menepuk pundak Evan sekali sambil tertawa kecil. "Gue duluan ya, Bos. Sukses mengawal Sekretaris berharga lo sampai ke halte. Jangan lupa, besok ceritain kelanjutan buku birunya ke gue!" seru Putra jenaka sebelum melangkah keluar pintu kelas.

Kini, ruang OSIS yang sunyi itu hanya menyisakan deru lambat AC dan mereka berdua. Evan menoleh ke arah Auren yang masih merapikan halaman buku agendanya dengan tangan yang sedikit canggung. Cowok itu tersenyum lebar, memamerkan lesung pipit manisnya yang selalu berhasil membuat pertahanan hati Auren runtuh.

"Yuk, balik," ajak Evan pelan, berdiri dari kursinya lalu mengetuk tas ransel Auren sebanyak dua kali. "Mau Balisya cemburu atau seluruh anak satu angkatan terus berbisik, mereka gak bakal bisa menghapus warna yang udah kita gores di lembar cerita putih-biru kita sore ini, Ren."

Auren mendongak, menatap mata jernih Evan yang penuh dengan janji perlindungan yang mutlak. Rasa canggung dan takut yang sempat menggunung sejak pagi kini telah sepenuhnya menguap tanpa sisa. Ia mengangguk pelan sambil mendekap erat buku sketsa birunya di depan dada, siap melangkah beriringan bersama Evan menembus sisa senja di masa SMP mereka yang kian terasa abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!