Alena Wijaya, 24 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total hanya karena satu tanda tangan di atas kertas. Perusahaan keluarganya di ambang kebangkrutan setelah ayahnya terjerat masalah bisnis yang tidak lagi bisa ditutupi, dan satu-satunya jalan keluar datang dari pihak yang paling tidak ia duga: keluarga Mahardika, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini.
Syaratnya sederhana di atas kertas—Alena harus menikahi Adrian Mahardika, putra sulung yang dikenal publik sebagai pewaris lumpuh sejak kecelakaan dua tahun lalu. Satu tahun menikah, utang lunas, lalu bercerai baik-baik. Tidak ada cinta yang diminta, hanya status di depan dewan direksi dan media.
Alena datang ke rumah keluarga Mahardika dengan satu niat sederhana: bertahan selama setahun, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinyo widi Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADRIAN CEMBURU ?NGGAK MUNGKIN
"Namanya apa, Pak Bram?"
Adrian mendorong kursi rodanya mendekat, suaranya tegang menunggu jawaban. Pak Bram mengeluarkan secarik kertas dari kantong jasnya, tangannya sedikit gemetar saat menyerahkannya.
Alena mengintip dari samping, membaca tulisan tangan yang tertera di kertas lusuh itu: PT Wirakencana Abadi.
"Ini nama perusahaan," gumam Adrian, mengernyit. "Bukan nama orang."
"Saya udah cek sekilas tadi di perjalanan ke sini, Tuan Muda," Pak Bram menjelaskan. "PT Wirakencana Abadi ini perusahaan kecil, bergerak di bidang konsultasi keuangan. Berdiri tiga tahun lalu."
"Siapa pemiliknya?"
"Itu yang menarik," Pak Bram menatap Adrian lurus, "berdasarkan data awal yang saya dapat, salah satu pemegang sahamnya adalah istri dari Om Wirawan sendiri."
Dada Alena berdegup kencang. Untuk pertama kalinya, ada bukti yang menghubungkan Wirawan secara langsung dengan seluruh jaringan gelap ini—bukan lagi sekadar kecurigaan berdasarkan tingkah laku mencurigakan, melainkan jejak legal yang bisa dilacak dan dibuktikan.
"Kita harus telusuri lebih dalam soal perusahaan ini," ucap Adrian, matanya menyala dengan tekad baru. "Kalau ini beneran terhubung ke rekening yang sama dengan kasus Pak Halim dan bukti dari Pak Bram kemarin, kita punya cukup dasar buat bawa ini ke jalur hukum."
"Tapi hati-hati, Tuan Muda," Pak Bram mengingatkan, "kalau Om Wirawan sampai tahu kita udah nemuin jejak sedekat ini, dia bisa langsung bergerak buat hapus semua bukti, atau lebih parah lagi."
Malam harinya, di tengah semua ketegangan investigasi yang terus memuncak, keluarga Mahardika menghadiri sebuah gala amal tahunan yang sudah lama dijadwalkan, sesuatu yang tidak bisa mereka batalkan tanpa menimbulkan kecurigaan publik.
Alena mengenakan gaun malam berwarna biru gelap, berdiri anggun di samping Adrian yang tampak gagah dengan jas hitamnya, meski kursi roda tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penampilannya malam itu.
"Kamu cantik banget malam ini," bisik Adrian, menatapnya kagum.
"Makasih. Kamu juga ganteng, meskipun mukanya masih kayak orang abis begadang tiga hari."
Adrian tertawa kecil, meski matanya memang menunjukkan kelelahan yang tidak sepenuhnya bisa disembunyikan oleh setelan jas mahal itu. "Aku emang begadang tiga hari, Alena."
Di tengah acara, seorang wanita cantik berbalut gaun merah menyala mendekati mereka, senyumnya lebar dan penuh percaya diri.
"Adrian! Lama nggak ketemu," sapanya hangat, memeluk Adrian sekilas tanpa ragu.
"Sarah," Adrian menjawab, sedikit canggung. "Apa kabar?"
"Baik banget. Aku baru balik dari New York minggu lalu." Wanita bernama Sarah itu melirik ke arah Alena sekilas, senyumnya sedikit menurun. "Oh, ini pasti istri barumu yang lagi ramai dibicarain media."
"Alena," Adrian memperkenalkan, "ini Sarah, teman lama dari kuliah."
"Teman lama, atau lebih dari itu?" Sarah menyahut genit, tertawa kecil, tangannya menyentuh lengan Adrian sekilas dengan santai. "Kita kan dulu sempet deket banget, Adrian. Inget nggak, waktu kita menang lomba debat bareng?"
Alena tersenyum sopan, meski ada sesuatu yang mulai bergejolak tidak nyaman di dadanya melihat cara Sarah berbicara dan menyentuh Adrian dengan begitu bebas, seolah dirinya tidak ada di situ.
"Aku inget," Adrian menjawab singkat, tidak menunjukkan antusiasme berlebihan. "Gimana kerjaanmu sekarang di New York?"
Percakapan itu berlanjut beberapa menit, dengan Sarah yang terus mendominasi topik, sesekali menyentuh lengan Adrian atau tertawa terlalu keras untuk lelucon yang sebenarnya tidak terlalu lucu. Alena berdiri di samping, mencoba tersenyum, tapi rasa tidak nyaman itu semakin membesar setiap detiknya.
"Permisi," akhirnya Alena berucap pelan, "aku mau ambil minum sebentar."
Ia berjalan menjauh, mencoba menenangkan diri di dekat meja minuman, tapi matanya tetap tidak bisa lepas dari arah Adrian dan Sarah yang masih mengobrol akrab di seberang ruangan.
"Cemburu?"
Suara itu mengejutkan Alena. Ia menoleh, mendapati Tania—yang ternyata diundang sebagai salah satu tamu acara amal itu, kebetulan bekerja di yayasan penyelenggara—berdiri sambil tersenyum jahil.
"Tania? Kamu di sini?"
"Kebetulan banget, kan? Tapi jangan alihin topik. Tadi aku lihat muka lo pas cewek baju merah itu meluk suami lo."
"Aku nggak cemburu," Alena membela diri cepat, meski suaranya sendiri terdengar kurang meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
"Alena Wijaya, muka lo tuh kayak orang abis kena marah. Ngaku aja."
Alena menghela napas, akhirnya menyerah pada kejujuran. "Oke, mungkin dikit. Habisnya, dia deket-deket banget sama Adrian, kayak nggak peduli aku ada di situ."
"Nah, itu baru namanya jujur." Tania menyodorkan segelas jus untuknya. "Tapi tenang aja, dari yang aku lihat, muka suami lo malah kelihatan pengen cepet-cepet kabur dari obrolan itu."
Alena menoleh kembali ke arah Adrian, dan benar saja, ekspresi pria itu terlihat sedikit kaku, matanya sesekali mencari-cari sesuatu di kerumunan—mencari dirinya.
Beberapa menit kemudian, Adrian berhasil melepaskan diri dari obrolan itu, mendorong kursi rodanya mendekati Alena dengan wajah lega.
"Maaf lama," katanya, "Sarah emang selalu susah diajak ngobrol singkat."
"Kelihatannya kalian akrab banget," Alena berkata, mencoba terdengar santai meski nada suaranya sedikit tajam tanpa ia sadari.
Adrian menatapnya lama, lalu senyum kecil muncul di wajahnya. "Kamu cemburu, ya?"
"Enggak," jawab Alena cepat, terlalu cepat.
"Wajahmu bilang sebaliknya."
"Aku cuma... nggak suka cara dia sok akrab kayak gitu," Alena akhirnya mengaku, pipinya sedikit memanas karena malu ketahuan.
Adrian tertawa kecil, meraih tangan Alena dengan lembut. "Sarah emang selalu gitu ke semua orang, bukan cuma ke aku. Lagipula, kalau soal siapa yang bikin jantung aku beneran berdebar, itu cuma satu orang, dan dia lagi berdiri di depanku sekarang, sambil pura-pura nggak cemburu."
Alena tertawa kecil, malu tapi juga lega. "Ih, gombal."
"Tapi berhasil, kan? Kamu senyum sekarang."
"Iya, iya, kamu menang," Alena mengaku kalah, meski senyumnya masih terukir jelas di wajahnya. "Tapi lain kali, kalau ada yang meluk-meluk kamu kayak gitu lagi, aku boleh ikut nimbrung obrolan, ya. Biar dia tahu, kamu udah ada yang punya."
"Deal," Adrian terkekeh, "tapi kalau kamu yang dideketin cowok ganteng di acara kayak gini, aku juga boleh dong ikut nimbrung?"
"Nggak akan ada yang berani, Adrian. Reputasimu di rumah sakit terlalu galak buat siapa pun berani deketin istrimu."
"Reputasiku di rumah sakit?"
"Iya, katanya suami paling posesif se-Jakarta," Alena menahan tawa, mengingat gosip-gosip kecil yang sempat ia dengar dari staf rumah tangga.
Adrian menggeleng, ikut tertawa, suasana di antara mereka terasa ringan untuk sesaat, jauh dari bayang-bayang ancaman dan kecurigaan yang selama beberapa minggu terakhir terus menghantui setiap langkah mereka.
Untuk sesaat, kehangatan itu berhasil mengalihkan semua kekhawatiran tentang investigasi, tentang Wirawan, tentang segala ancaman yang menggantung di sekitar mereka—hingga ponsel Adrian di saku jasnya bergetar keras, memecah momen manis itu.
Adrian melihat layar ponselnya, wajahnya seketika berubah tegang. Sebuah notifikasi berita utama muncul dari salah satu portal ekonomi terbesar, judulnya mencolok dan mengejutkan:
"Dewan Direksi Grup Mahardika Adakan Rapat Darurat Malam Ini—Isu Kesehatan Pewaris Utama Kembali Mencuat"
"Aku nggak tahu ada rapat malam ini," gumam Adrian, alisnya berkerut bingung. "Siapa yang manggil rapat darurat tanpa sepengetahuan aku?"