NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

"Bu Siska, saya tahu Anda berteman baik dengan Amira. Anda tidak usah membela Amira seperti itu!" potong Raka yang sedari tadi sudah panas melihat gaun mewah Amira dan kini mas kawinnya adalah sebuah cincin berlian.

"Beneran, Pak Raka, saya tidak bohong! Itu adalah berlian asli, saya berani bersumpah!" tegas Siska.

"Apakah itu salah satu koleksi toko Anda?" tanya Raka sengit.

"Bukan."

"Bukan koleksi toko Anda tapi berani-beraninya mengonfirmasi keaslian berlian itu? Saya tahu Anda bersekongkol dengan gembel ini. Jangan-jangan Amira membayar Anda!"

"Pak Raka!" ucap Siska kesal. "Saya tidak semiskin itu sampai mau bekerja sama membuat kebohongan dengan Amira! Saya bisa jamin itu berlian asli!"

"Tapi barang itu tidak ada di toko Anda! Bagaimana Anda begitu yakin kalau itu asli?"

"Barang itu terlalu mahal, toko saya tidak sanggup membelinya! Hanya Super Nova Diamond yang punya koleksi itu. Toko saya dibanding Super Nova Diamond jelas tidak ada apa-apanya!"

"Omong kosong!" bentak Raka gusar. "Seorang tukang ojol bisa masuk ke Super Nova Diamond itu hal yang mustahil! Lebih baik Anda bilang sejujurnya saja kalau berlian itu palsu, sebelum saya hancurkan reputasi toko Anda!"

Orang-orang yang tadinya mulai percaya pada keaslian cincin itu kembali ragu. Raka terlihat begitu yakin bahwa berlian itu palsu, bahkan sampai mengancam membangkrutkan toko Jeng Siska.

"Jeng Siska, sudah... lebih baik katakan saja itu palsu daripada toko Anda nanti benar-benar bangkrut."

"Benar, Jeng Siska! Jangan karena Anda punya hubungan baik dengan Amira, Anda terus-terusan membela Amira!"

"Iya benar, aku heran zaman sekarang banyak orang sok kaya padahal miskin."

Bisik-bisik dan komentar miring terus terdengar di teras. Tidak ada yang berani menghentikan Raka karena mereka menghargai posisinya sebagai salah satu pewaris keluarga kaya.

Siska menggertakkan giginya, menatap kembali cincin di tangan Luki. Ia berada dalam dilema besar: keluarga Raka memang sanggup membuat tokonya bangkrut, tetapi nama baik tokonya akan hancur jika ia menyebut barang asli sebagai barang palsu.

Saat pandangannya menyipit, matanya tak sengaja menangkap jam tangan yang melingkar di pergelangan Luki. Seketika, tubuh Siska bergetar hebat.

Siska menarik napas panjang, lalu menatap Raka dengan pandangan tajam.

"Demi reputasi saya... saya tegaskan bahwa cincin berlian itu asli! Jika Anda mampu membuat perusahaan saya bangkrut, lakukan saja!" tantang Siska tegap.

"Ya, saya menantang Anda! Silakan bangkrutkan perusahaan saya!" lanjut Siska mantap.

Para tamu berbisik panik. "Siska, jangan melawan keluarga Raka! Bisa benar-benar hancur kamu!"

"Tinggal katakan itu palsu saja gampang, kan? Daripada repot-repot menantang keluarga Karyana, bahaya itu!"

Berbagai komentar terus memojokkan Siska, namun Siska tetap tak bergeming. Ia tahu pasti siapa pemilik jam tangan limited edition itu—ia pernah bertatap muka dengannya secara tak sengaja dulu. Raka memang kaya, tetapi jika dibandingkan dengan pemilik jam tangan itu, Raka tidak ada apa-apanya! Meski begitu, Siska juga tak berani menantang dan membeberkan segalanya terlalu jauh.

"Baiklah! Besok tunggu saja surat kebangkrutan Anda!" ancam Raka murka.

"Ya, saya tunggu," ucap Siska tanpa ragu sedikit pun. "Sudah malam, saya harus pulang." Siska buru-buru berpamitan dan melangkah pergi. Ia merasakan aura bahaya jika terlalu lama berada di sana—ia takut salah bicara dan menyinggung sang pemilik jam tangan mewah tersebut.

"Saking takutnya sampai kabur begitu," cemooh Raka jumawa. "Sudah jelas, kan, kalau cincin berlian Amira itu cuma barang palsu?"

"Atas dasar apa Anda mengatakan kalau cincin itu palsu?"

Andi yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Luki yang melihatnya di sudut ruangan hampir saja menyemburkan tawa. Andi benar-benar mengubah penampilannya secara ekstrem: rambutnya dicat putih seluruhnya, tetapi kumis hitam di bawah hidungnya sengaja dikritingkan di ujung seperti polisi India—jelas-jelas kumis palsu!

"Siapa kamu, hah?! Berani-beraninya bicara!" bentak Raka.

"Tidak penting siapa saya. Yang penting adalah Anda sudah menyebarkan berita bohong dan mencemarkan nama baik Super Nova," sahut Andi tenang.

Raka tertawa keras. "Kamu siapa?! Kamu pikir kamu Pak Andi, hah?! Kamu itu cuma sopir sewaan gembel ini, berani-beraninya mengancam saya!"

"Aku memang And—" Buru-buru Andi meralat ucapannya. "Namaku Ladusingh!"

Andi lalu mengeluarkan sebuah berkas kertas yang dibungkus map eksklusif berbalut tali emas. "Ini adalah sertifikat resmi cincin berlian itu. Sah secara hukum dan negara. Dan Anda berani menyebutnya palsu?" tegas Andi menatap Raka tanpa ragu.

Raka menghampiri Andi, merampas kertas itu dari tangannya. Ia berniat merobek sertifikat itu di depan semua orang, namun entah terbuat dari bahan apa, kertas itu sangat tebal dan keras. Kesal karena gagal merobeknya, Raka melemparkan map itu tepat ke muka Andi.

"Kalau aku katakan palsu, maka itu PALSU!"

"Anda serius mengatakan hal itu?"

"Aku lebih dari serius!"

"Yakin?"

"Lebih dari yakin! Cuma seorang sopir sewaan, berani-beraninya mengancamku!"

Andi tersenyum tipis. "Anda akan berhadapan langsung dengan Perdana Holding."

Suasana teras rumah mendadak hening seketika. Nama Perdana Holding bukan nama sembarangan—itu adalah raksasa konglomerasi multi-usaha yang menguasai sektor logistik, ritel, hingga properti di negeri ini.

Detik berikutnya, tawa Raka kembali pecah menggelegar. "Aku punya kenalan orang dalam di Perdana Holding! Berani-beraninya mencatut nama besar Perdana Holding, nasib kamu bakal tragis!"

Tatapan para tamu seketika dipenuhi rasa iba dan kasihan pada Andi. Berani menggunakan nama Perdana Holding untuk gertak sambal sama saja dengan menyerahkan leher untuk disembelih.

"Justru Anda yang benar-benar cari mati," pangkas Andi dingin. "Aku katakan padamu, sebentar lagi orang tuamu akan menelpon dan memarahimu habis-habisan."

"Hahaha! Sopir sewaan mengancamku! Cari mati benar ini orang!" tawa Raka kencang, memancing beberapa tamu ikut terkekeh.

PRRRRRINGG...!

Detik selanjutnya, ponsel di saku jas Raka berdering nyaring. Nama Ayah tertera di layar.

Tawa Raka mendadak terhenti. Wajahnya seketika berubah masam dan pucat pasi begitu mengangkatnya. "Ya... Ya, Yah! Aku pulang sekarang!"

Tanpa mengucap permisi atau menyapa Ratna lagi, Raka langsung berbalik dan berlari terbirit-birit keluar rumah, bahkan hampir menabrak beberapa tamu di dekat pagar.

"Loh, kenapa Pak Raka mendadak lari begitu?"

Suasana di area teras seketika riuh rendah. Berbagai spekulasi liar bersahutan di kepala para tamu: Siapa sebenarnya sosok sopir sewaan berkumis unik ini? Apakah dia benar-benar orang dekat Perdana Holding, ataukah dia seorang peramal? Dan bagi mereka, kemungkinan keduannyalah yang paling masuk akal saat ini

"Sudah! Sudah! Dari tadi kalian debat terus! Ini sudah jam sembilan malam, besok saya banyak agenda pernikahan dan harus istirahat!" tegur Pak Penghulu kesal, menepuk meja akad.

"Iya, ini sudah malam, kalian jangan ribut terus!" timpal Pak Handoko menatap tajam ke arah barisan tamu.

Setelah melalui serangkaian khutbah nikah dan sambutan singkat, akhirnya acara tiba pada puncaknya.

"Bagaimana, Mas Luki, apa Anda sudah siap?" tanya Pak Penghulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!