NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:141.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Senja

Brakkk!

Suara gebrakan meja kayu mahoni bergemuruh hebat di dalam ruang kerja megah kediaman Arghantara.

Gilang Arghantara, pria paruh baya yang memegang kendali penuh atas dinamika bisnis keluarga, berdiri dengan napas memburu dan raut wajah merah padam. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun.

Ancamannya selama ini rupanya dianggap angin lalu oleh putra tunggalnya. Gilang tahu persis ke mana Alfa menghilang di detik-detik paling krusial malam itu.

Bukannya berdiri di atas panggung kehormatan untuk menerima piala Outstanding Strategic Joint Venture of the Year, Alfa justru melarikan diri demi seorang wanita yang sejak awal telah dilarang keras untuk masuk ke dalam silsilah keluarga mereka.

Telepon genggam Alfa tak berhenti bergetar. Sebuah pesan singkat dengan penekanan dingin namun mutlak dikirimkan oleh sang ayah,

"Pulang detik ini juga, atau aset apartemen dan fasilitas medis wanita itu akan diputus total esok pagi!"

Tidak hanya Alfa yang harus berhadapan dengan badai amarah. Di lorong rumah sakit yang sepi, Senja baru saja menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara Prasetya Anjasmara, papanya masih terngiang membakar indera pendengarannya.

Prasetya murka luar biasa. Kesempatan emas untuk makin melambungkan nama Senja dan Papanya di politik.

Selama ini Senja selalu membawa nama baik keluarga dengan sangat apik tanpa cela di atas panggung mana pun, tetapi malam ini, kegagalan melangkah ke podium telah melukai harga diri sang papa.

Sementara itu, di dalam ruang rawat inap VIP tempat Dila baru saja dipindahkan dari IGD, suasana terasa begitu hening. Kondisi Dila telah dinyatakan stabil oleh tim dokter, meski tubuhnya masih terikat selang infus dan bantuan oksigen.

Senja tidak melangkah masuk. Ia memilih tetap berdiri di luar ruangan, bersandar pada dinding dingin koridor steril. Senja tahu batas dirinya. Memasuki ruangan itu hanya akan menciptakan canggung yang tak perlu di tengah kondisi Dila yang rentan.

Langkah kaki terburu-buru terdengar mendekat. Alfa keluar dari dalam kamar rawat, menutup pintu kayu itu tanpa suara. Begitu melihat Senja yang setia menunggu di luar dalam kesendirian, dada Alfa mendadak dihantam rasa bersalah yang teramat pekat.

Alfa menghampiri Senja, menatap wajah istrinya yang tampak tenang meski ia tahu pasti apa yang baru saja dialami wanita itu.

"Senja..." Panggil Alfa, suaranya parau dan sarat akan penyesalan.

"Maafkan aku. Sungguh, aku minta maaf. Aku tahu... Papa kamu pasti sangat marah padamu karena masalah ini."

Senja menoleh, mengulas senyum tipis yang amat menenangkan. Tidak ada pancaran emosi meledak-ledak atau raut wajah menyalahkan di sana.

"Mas Alfa tidak perlu minta maaf terus-menerus" tutur Senja lembut.

"Papa memang marah besar, itu hal yang wajar karena ini menyangkut reputasi perusahaan. Tapi Mas tidak perlu pusing memikirkannya. Aku sudah punya cara untuk menangani media dan menutupi masalah ini. Cara yang jauh lebih cepat, mudah, dan tidak akan menimbulkan kecurigaan apa pun."

Alfa mengernyitkan dahi, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang besar.

"Cara apa, Senja? Tim Humas Arghantara bahkan sedang kesulitan menyusun alasan yang masuk akal."

"Aku butuh pendapatmu tentang ideku ini, Mas. Tapi..." Senja menggantungkan kalimatnya, menatap Alfa dengan binar mata serius.

"Aku berharap Mas Alfa tidak salah paham atau berpikir yang tidak-tidak dengan permintaanku nanti."

"Rencana apa sebenarnya?" Tanya Alfa kian bingung.

"Aku akan mengatakannya nanti begitu kita sampai di rumah" Jawab Senja tenang. Ia lalu melirik jam tangan tipis di pergelangan tangannya.

"Sekarang aku harus pulang dulu untuk menenangkan suasana. Kalau Mas Alfa masih ingin tetap berada di sini menjaga Dila, aku tidak masalah."

Alfa menggeleng cepat tanpa ragu. Dila sudah melewati masa kritis dan kondisinya kini ditangani sepenuhnya oleh Suster Weni serta tim medis.

Alfa sangat sadar, keberadaannya di rumah sakit saat ini justru menjadi pemantik utama dari ancaman sang ayah dan kemarahan mertuanya. Ia tidak boleh membiarkan Senja menanggung akibat dari kekacauan yang ia ciptakan sendirian.

"Tidak, Senja. Aku pulang bersamamu!" Tegas Alfa mantap.

Suasana di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman mereka terasa begitu hening. Alfa fokus mengemudi dengan pikiran yang dipenuhi seribu pertanyaan, sementara Senja menatap keluar jendela, mematangkan strategi yang telah tersusun rapi di kepala cerdasnya.

Begitu melangkahkan kaki melewati pintu utama rumah mereka yang sunyi, Alfa tak sanggup lagi menahan rasa penasaran yang membakar dadanya.

"Senja, katakan sekarang. Apa rencana yang kamu maksud?" Desak Alfa saat mereka tiba di dalam kamar utama lantai dua.

Senja menghentikan langkahnya, menoleh menatap Alfa.

"Tunggu sebentar di sini, Mas. Aku ganti baju dulu."

Senja melangkah masuk ke dalam walk-in closet yang luas di sudut kamar. Alfa berdiri mematung di tengah ruangan, mengusap tengkuknya yang terasa tegang seraya menunggu.

Tak beberapa lama kemudian, pintu walk-in closet terbuka perlahan.

Deg...

Jantung Alfa seakan berhenti berdetak seketika. Pria itu terhenyak di tempatnya berdiri, matanya melebar tak percaya. Udara di sekitar paru-parunya mendadak menguap sewaktu ia menyaksikan sosok Senja yang baru saja melangkah keluar.

Senja tak lagi mengenakan pakaian kasualnya. Wanita itu kini mengenakan sebuah gaun tidur tipis berbahan sutra sutra berwarna putih gading yang jatuh meliuk di sepanjang lekuk tubuhnya.

Tali tipis gaun itu bertengger di bahunya yang mulus, sementara rambut hitam panjangnya yang biasa disanggul rapi kini dibiarkan tergerai bebas menutupi sebagian punggung dan dadanya.

Pemandangan itu begitu mengejutkan sekaligus memikat. Alfa menelan ludahnya dengan kasar, merasakan tenggorokannya mendadak mengering seketika.

Binar mata Alfa menyapu siluet anggun istrinya, sebelum akhirnya pria itu tersadar dan dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha meredam gejolak asing yang mendadak menyerang pertahanan dirinya.

"Kamu... ganti baju pakai ini, Mas!"

Suara Senja memecah keheningan. Wanita itu melangkah mendekat seraya menyodorkan sebuah kimono robe berbahan satin hitam yang serasi ke hadapan Alfa.

Alfa menatap jubah tidur di tangan Senja, lalu beralih menatap wajah Senja dengan raut wajah sarat akan kebingungan yang memuncak.

"A-apa maksud kamu, Senja? Sebenarnya apa rencanamu?" Tanya Alfa terbata-bata, berusaha keras menjaga nada suaranya agar tetap terdengar datar meski dadanya bergemuruh hebat.

"Pakai saja dulu, Mas!" Pinta Senja singkat namun tegas, menyodorkan jubah itu makin dekat.

Alfa tidak punya pilihan lain. Mengingat janji dan ketenangan Senja sejak di rumah sakit, pria itu akhirnya menurut. Ia mengambil jubah tersebut, berbalik melangkah menuju bilik ganti, dan segera menanggalkan pakaian kasualnya untuk berganti dengan kimono robe satin tersebut.

Beberapa menit kemudian, Alfa keluar dari bilik ganti. Ia mengikat tali jubah di pinggangnya dengan agak longgar. Pandangannya langsung menyapu sekeliling kamar, mencari keberadaan Senja.

Wanita itu sedang berdiri di balkon kamar yang pintunya terbuka lebar. Angin malam yang berhembus pelan membuat tirai tipis kamar melambai halus. Senja berdiri membelakangi ruangan dengan sebuah ponsel pintar yang sudah berada di dalam genggaman tangannya.

Alfa berjalan mendekat menuju pintu balkon. Pandangan mata pria itu terkunci rapat pada punggung Senja dari belakang. Di bawah terpaan pendar cahaya rembulan malam itu, tubuh berbentuk indah milik Senja tampak kian memesona.

Gaun putih tipis berbahan sutra itu menyapu lembut kulitnya saat tertiup angin, berpadu sempurna dengan kibasan halus rambut hitamnya yang tergerai.

Pemandangan itu menciptakan sebuah siluet yang teramat cantik dan sensual, sebuah keindahan alami yang membuat laki-laki manapun tak akan sanggup mengalihkan pandangannya meski hanya sedetik.

Alfa menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan debar di dadanya, lalu mengeluarkan dehaman pelan untuk menutupi keagungannya yang sempat terpesona.

"Hmm..." Dehem Alfa.

Senja menoleh ke belakang. Wajah cantiknya bersinar lembut oleh pendar lampu balkon.

"Oh, kamu sudah selesai, Mas? Ayo sini mendekat!" Perintah Senja halus, mengibaskan tangannya memberi isyarat agar Alfa berdiri di sisinya.

Alfa melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ia kini berdiri tepat di hadapan Senja, merasakan aroma wangi lavender dan mawar yang menguar dari tubuh istrinya.

Alfa menatap Senja lurus-lurus, tak sanggup lagi membendung rasa penasarannya yang sudah berada di puncak.

"Apa rencana kamu sebenarnya, Senja?" tanya Alfa dengan nada suara yang dalam.

1
Cahaya
pnasaran alpamart senja
Cahaya
harus ny up berapa yh hari ini 🙏
santi.santi: bentar ya, soalnya anak otor lagi sakit jadi nggak bisa pasti🙏🏻
total 1 replies
Cahaya
jangan lama dong thor up ny.menunggu itu ngga enakkkkk🙏
Rina Wati.S
lanjut kak
Nadja 🎀
Ares hanya di anggap adik bagi senja... makanya senja menolak ares cuma di anggap adik. jgn khawatir Alfa.. senja gak suka laki-laki melimpah duit kyk ares hanya ingin hidup sederhana gk peduli miskin.
Silvia
ayo berjuang bersama💪💪 semangat
Hanima
👍👍
Agnezz
Alfa dan Senja sudah sama2 berkorban satu sama lain. Senja mengorbankan ginjalnya demi kesembuhan Dila yg menurut pikirannya saat itu sumber kebahagiaan Alfa.
Alfa mengorbankan harta dan jabatannya di perusahaan ayahnya demi membayar kebebasan Senja. Memilih bekerja keras tak kenal sebagai operasional kurir demi mencari keberadaan Senja sehingga kondisi fisiknya menurun.
Sedangkan Ares hanya membantu Senja keluar dari Alfa dan keluarganya. Ares tidak kekurangan apapun, dia membantu dari kelimpahannya dan kemampuannya. Jadi nothing to lose buat Ares. Cuma soal ditolak cintanya oleh Senja.
Hanima
Bodxx..
Agnezz
jadi 3 alasan Senja mendonorkan ginjal dan memilih pergi :
1. karena tidak tahan dan tidak tega melihat Alfa yg sedih dan terpuruk saat Dila drop.
2. karena ingin bebas dari tuntutan orang tuanya
3. karena tidak ingin dari duri dalam hubungan Alfa dan Dila. Sebelum Alfa menceraikannya lebih baik Senja yg pergi lebih dulu.
Agnezz: ya sama2 kak, terima kasih sudah up banyak dan tetap semangat👍
total 2 replies
Nurminah
keterbukaan dengan pasangan komunikasi yg bagus amat sangat penting dalam rumah tangga berhubung dua duanya punya luka masa lalu jadi ya walaupun pintar terlihat bodoh dalam menyikapi keadaan terkadang seseorang yg tidak marah diam lebih mengerikan dibandingkan orang yg melampiaskan amarahnya dengan bercerita
Maharani Rani
lanjuttt😍
Maharani Rani
lanjutt kak😍
Cahaya
lanjutt
Cahaya
lanjuttt
Cahaya
ko spi ini yh pada kmana ini redssss
Cahaya
emm emmm akir ny tuntas sudah salah paham ny tinggal buka lmbaran baru
Nar Sih
kejujuran dan saling terbuka kini tdk ada lgi rahasia antara kalian senja juga alfa ,makasih kak santi udh up lgi sampai q bca nya tgh mlm🙏🥰🥰
Agnezz: iya kubaca sambil ngantuk tengah malam, baru koment pagi🤭🤭
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya keslh pahaman sdh selesai ,tinggalah memulai hidup yg baru dgn saling terbuka
Sastri Dalila
👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!