NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jifa Flora Dewi

Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.


Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 : SERPIHAN OMBAK DAN RAHASIA YANG TERLAHIR KEMBALI

Aroma garam yang tajam beradu dengan wangi tanah basah di Desa Teluk Mutiara, sebuah pemukiman pesisir kecil di pinggiran pulau yang nyaris tak tersentuh oleh kemewahan ibu kota. Di sana, deru ombak laut selatan menjadi musik harian bagi para warga yang sebagian besar menggantungkan hidup sebagai nelayan dan petani rumput laut.

Namun, siang itu, ketenangan desa terusik oleh deretan mobil sedan mewah bersetelan hitam yang meluncur perlahan menyusuri jalanan bertanah kering.

Kehadiran rombongan petinggi Aletta Foundation bukan lagi hal baru, tetapi kedatangan dua pemilik nama besar di belakang yayasan tersebut selalu mampu menyedot perhatian warga lokal. James Daniel dan Ethan Austin melangkah turun dari kendaraan mereka. Tiga tahun berlalu sejak tragedi malam berdarah itu, namun waktu tidak sepenuhnya menyembuhkan mereka. Garis wajah kedua pria itu tampak jauh lebih tegas, matanya menyimpan kedalaman duka yang tak pernah benar-benar padam, meski setelan jas mahal mereka masih memancarkan aura dominasi yang tak terbantahkan.

Mereka datang untuk meninjau secara langsung perluasan gedung sekolah gratis dan fasilitas kesehatan desa—proyek CSR terbesar yang didanai penuh oleh konsorsium perusahaan mereka.

"Dokumen hibah tanah sudah ditandatangani oleh kepala desa, Pak James," bisik seorang asisten pribadi sambil menyerahkan map kulit cokelat.

James hanya mengangguk tipis, matanya menyapu bangunan sekolah kayu di hadapannya tanpa minat berlebih. "Pastikan semua suplai obat-obatan untuk klinik anak terpenuhi bulan ini. Jangan ada yang terlewat."

"Baik, Pak."

Di sebelahnya, Ethan Austin berjalan dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celana bahannya. Langkahnya tenang, namun tatapan matanya yang kelabu terus menatap kosong ke arah deretan ruang kelas. Bagi Ethan, setiap rupiah yang dikucurkan dari rekening banknya untuk yayasan ini hanyalah upaya putus asa untuk membeli rasa tenang yang tak pernah ia dapatkan sejak hari kematian Azahra.

Saat rombongan VIP itu melangkah menyusuri koridor kayu sekolah yang sempit, deretan guru relawan berdiri rapi di tepi dinding untuk menyambut mereka.

Di antara para guru tersebut, berdiri seorang wanita bergaun katun sederhana berwarna krem. Tatanan rambutnya diikat longgar di belakang leher, dan wajahnya bersih tanpa polesan riasan mahal. Di tangannya, ia memegang gulungan kertas gambar milik anak-anak kelas satu.

Itu adalah Azahra Aletta—yang kini dikenal warga desa sebagai Alya.

Jantung Azahra berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa nyeri saat langkah kaki James dan Ethan makin mendekat. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, merapatkan tubuhnya ke dinding kayu, membiarkan poni rambutnya menutupi sebagian samping wajahnya. Rasa panik yang sempat padam selama tiga tahun kini membumbung kembali seperti kobaran api.

Jangan tengok... tolong, melintaslah begitu saja, batin Azahra berdoa penuh keputusasaan.

Takdir tampaknya bermain-main. Tepat ketika James melintas di hadapannya, ponsel di dalam saku jas James berdering nyaring. James menghentikan langkahnya mendadak, tepat sesenti di samping bahu Azahra. Pria itu berbalik sedikit, menyebarkan aroma parfum tobacco dan leather yang begitu akrab di indra penciuman Azahra.

Ethan yang berada di depan ikut berhenti, memutar tubuhnya sambil membuka gulungan cetak biru bangunan di tangannya.

"Ya, tangani saja rapat board-nya tanpa saya," ujar James dingin ke dalam sambungan telepon, matanya tertuju pada dokumen yang dipegang Ethan.

Selama sepuluh detik yang menyiksa itu, Azahra berdiri kaku bagaikan patung di antara dua pria yang dulu menguasai seluruh jalan hidupnya. Keheningan koridor terasa begitu mencekat. Sebuah hembusan angin laut tiba-tiba bertiup menembus celah jendela, mengibarkan ujung gaun Azahra dan menyebarkan aroma sabun mandi melati yang lembut.

James mendadak terdiam di tengah kalimatnya. Pria itu menghentikan percakapan teleponnya, mengendus udara sebentar, lalu memutar kepalanya dengan gerakan lambat ke arah wanita yang berdiri menunduk di sampingnya.

Ada sesuatu yang bergetar samar di dalam dada James—sebuah intuisi asing yang terasa sangat tajam.

"James? Ada apa?" tanya Ethan, menyadari perubahan raut wajah saingannya itu.

James menatap wanita bergaun krem itu selama beberapa detik. Namun sebelum James sempat meneliti garis wajahnya lebih dekat, kepala sekolah desa mendadak memotong momen tersebut sambil merangkul bahu James ramah.

"Mari, Pak James, Pak Ethan! Anak-anak sudah menunggu di ruang aula untuk acara pemotongan pita!" ajak sang kepala sekolah dengan suara nyaring.

Kerumunan warga dan pengawal pribadi langsung bergerak maju, mendorong rombongan tersebut berjalan mengikuti arah aula. James terpaksa mengalihkan pandangannya, melangkah mengikuti arus orang banyak. Azahra menghela napas lega yang sangat panjang, menyandarkan punggungnya ke dinding kayu yang dingin sewaktu bayangan kedua pria itu akhirnya menghilang di belokan koridor.

tangannya gemetar hebat. Hampir saja...

Sore harinya, acara seremonial usai. Petinggi desa dan staf yayasan berkumpul di aula utama untuk beramah-tamah, tetapi Azahra memilih mengasingkan diri. Ia berjalan menyusuri jalan setapak di belakang desa menuju tepi Sungai Bakau—sebuah sungai berarus tenang namun memiliki beberapa titik muara yang sangat dalam.

Azahra menyusuri tepian sungai yang ditumbuhi rumput liar, berniat menenangkan pikirannya yang mengamuk setelah pertemuan singkat tadi.

Namun, langkah kakinya mendadak terhenti saat mendengar suara cicitan halus yang memilukan.

Di atas sebuah batang kayu lapuk yang terapung di tepi air, seekor anak kucing berwarna oranye tampak terjebak. Batang kayu itu perlahan terdorong oleh arus air menuju bagian tengah sungai yang lebih dalam dan deras. Anak kucing itu menempel ketakutan, mencicit minta tolong.

Hati Azahra teriris melihatnya. Tanpa berpikir panjang, rasa iba membakar akal sehatnya. Ia melepas sandal jepitnya dan melangkah masuk ke dalam air sungai yang dingin.

"Sini, Manis... tahan sebentar..." gumam Azahra, merentangkan tangannya untuk menyambar anak kucing tersebut.

Jemarinya berhasil meraih tengkuk anak kucing itu dan mengamankannya ke dalam pelukan dadanya. Namun, saat ia mencoba membalikkan badan untuk kembali ke pijakan daratan, pijakan lumpur di bawah kakinya mendadak ambrol.

SRRRK!

Azahra tergelincir masuk ke dalam palung sungai yang dalam. Arus bawah yang deras langsung menyeret tubuhnya ke tengah!

Kepanikan hebat seketika menghantam kesadarannya. Rasa dingin menyengat paru-parunya saat tubuhnya tenggelam ke dalam air. Dalam kepanikannya, sebuah kenyataan pahit menyengat otaknya—ia lupa bahwa dirinya sama sekali tidak bisa berenang!

"Tolong...! Tolong...!" jerit Azahra tersengal-sengal tiap kali kepalanya berhasil menyembul ke permukaan, sebelum akhirnya arus air kembali menariknya ke bawah. Tangan kanannya tetap mendekap erat anak kucing itu di atas permukaan air, sementara seluruh fisiknya makin melamah dihantam kepungan air sungai.

Di saat pandangan matanya mulai menggelap dan dadanya sesak oleh air yang terhirup, sebuah bayangan hitam melompat dari atas tebing sungai dengan bunyi dentuman air yang keras.

SPLASH!

Sepasang lengan kekar nan kuat tiba-tiba menyambar pinggang Azahra dari belakang, menarik tubuhnya naik dengan hentakan yang bertenaga. Pria itu berenang melintasi arus deras dengan ketenangan luar biasa, membawa tubuh Azahra yang terkulai lemas menuju daratan rumput yang dangkal.

UHUK! UHUK-UHUK!

Azahra tersungkur di atas rumput basah, memuntahkan air sungai dari tenggorokannya sambil terbatuk-batuk hebat. Pelukannya pada anak kucing kecil itu melonggar, membiarkan hewan kecil yang basah kuyup itu berlari menyelamatkan diri ke semak-semak.

"Terima... kasih, Pak..." ucap Azahra terbata-bata dengan napas memburu. Tangannya yang gemetar menyapu helai rambut basah yang menempel di wajahnya, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

Namun, pria yang berlutut di sampingnya sama sekali tidak menjawab.

Pria itu—yang basah kuyup dengan setelan kemeja putih mahal yang kini kotor berlumur lumpur—berdiri membeku total. Tangannya terulur di udara, gemetar hebat saat jemarinya perlahan menyentuh rahang Azahra dan memutar wajah wanita itu agar menghadap penuh ke arahnya.

Mata James Daniel membelalak lebar. Pupil matanya bergetar hebat di antara rasa syok murni, tangis yang tertahan, dan ketakjuban yang tak percaya pada apa yang sedang disaksikan oleh penglihatannya sendiri.

Garis alis itu, kelembutan bibirnya, dan binar mata brown yang selama tiga tahun terakhir hanya hadir dalam mimpi buruknya... kini ada tepat di depan matanya. Bernapas. Nyata.

"Kamu..." suara James memecah keheningan sore, bergetar parau oleh serangkaian emosi yang meledak di dalam dadanya. Cengkeraman tangannya di kedua bahu Azahra mengencang, meluapkan seluruh histeria yang tertahan. "...kamu Zahra Aletta, kan?"

Jantung Azahra mencelos ke dasar perutnya. Seluruh sendi tubuhnya terasa melumpuh seketika saat menatap mata James yang memerah pekat dan berkaca-kaca oleh air mata murni. Pria tangguh yang tak pernah tunduk di dunia bisnis itu kini menangis di hadapannya di atas tanah kotor.

Rasa takut, panik, dan memori kelam masa lalu berputar hebat di dalam kepala Azahra. Ia tidak boleh ketahuan. Ia tidak boleh membiarkan kehidupan damainya sebagai Alya hancur begitu saja.

Dengan sisa keberanian terakhirnya, Azahra memaksakan raut wajah bingung, asing, dan sedikit terganggu. Ia secara perlahan namun tegas menepis kedua tangan James dari bahunya.

"Maaf, Pak..." kata Azahra dengan nada suara sejernih dan sedatar mungkin, meski dadanya bergemuruh hebat. "Bapak salah orang. Saya Alya... warga lokal desa sini."

"Jangan berbohong padaku, Azahra!" raung James, air matanya menetes menembus pipinya yang basah, menyatu dengan air sungai. Pria itu mencoba kembali meraih tangan Azahra. "Aku tahu ini kamu! Aku mengenali suaramu, matamu... Demi Tuhan, Azahra, aku menangisimu setiap malam selama tiga tahun! Aku mengutuk diriku sendiri setiap detik!"

"Saya bilang Bapak salah orang!" bentak Azahra lebih keras, menatap James dengan pandangan dingin seolah pria di hadapannya adalah seorang asing yang gila. "Saya tidak kenal siapa itu Azahra. Tolong lepas, atau saya panggil warga desa karena Bapak bertindak tidak sopan!"

Azahra bangkit berdiri dengan cepat. Walau kakinya masih lemas dan tubuhnya basah kuyup, ia membalikkan badan dan melangkah pergi secepat mungkin, setengah berlari meninggalkan James yang masih berlutut mematung di tepi sungai.

James menatap punggung wanita itu yang makin menjauh dengan dada yang naik turun tak teratur. Tangannya mencengkeram rumput basah hingga jemarinya tertanam ke dalam tanah.

Dia hidup... batin James menjerit di antara rasa tidak percaya dan kebingungan yang membakar jiwa. Tapi kenapa dia berbohong? Kenapa dia menatapku seolah aku ini orang asing?

Keesokan harinya, kabut tipis masih membungkus kawasan hutan pinus yang berbatasan dengan area bukit perbatasan desa.

Ethan Austin yang tidak bisa tidur nyenyak di pondok VIP fasilitas yayasan memilih untuk menunggangi salah satu kuda pacu milik pengelola lokal. Berada di atas punggung kuda menembus kesunyian hutan adalah satu-satunya cara bagi Ethan untuk melarikan diri dari bayang-bayang masa lalunya yang خان (khan/menyiksa).

Namun, nasib naas menimpanya di tengah jalur setapak yang terisolasi.

Seekor ular semak mendadak melintas di depan kaki kuda pacunya. Kuda itu terkejut hebat, meringkik nyaring dan berdiri dengan dua kaki belakangnya. Ethan yang tidak siap kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terlempar keras dari atas pelana, jatuh berguling menyusuri tebing berbatu kecil di tepi jalur.

KRAK!

"ARGH!" meringis Ethan kesakitan saat bahu kirinya menghantam batu tajam dan pergelangan kakinya terkilir hebat.

Kuda itu berlari kencang meninggalkan tempat kejadian, menghilang ke dalam pekatnya hutan. Ethan terbaring terlentang di atas tanah kotor, napasnya tersengal-sengal menahan rasa sakit yang menusuk. Rombongan pengawalnya tertinggal jauh di belakang jalur utama.

Di saat Ethan mencoba bergerak dan meringis kesakitan, suara langkah kaki yang menginjak dedaunan kering terdengar mendekat.

Azahra—yang pagi itu sedang menyusuri jalan pintas hutan menuju sekolah sambil membawa keranjang bambu berisi sayuran—terkejut melihat seorang pria bersetelan tunggang kuda terbaring tak berdaya di tanah. Rasa kemanusiaannya refleks bergerak. Ia meletakkan keranjangnya dan berlari menghampiri pria tersebut.

"Pak! Anda tidak apa-apa?" tanya Azahra cemas, menundukkan tubuhnya dan merengkuh bahu pria itu untuk membantunya duduk.

Ethan membuka matanya yang agak terpejam akibat rasa sakit. Namun, begitu matanya yang berwarna kelabu terkunci pada wajah wanita yang sedang memangku bahunya, seluruh rasa sakit di fisiknya seketika menguap, berganti dengan histeria yang melumpuhkan akal sehatnya.

Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Ethan bisa melihat dengan jelas setiap detail garis wajah itu—garis wajah yang selama tiga tahun ini menghantui setiap cangkir kopi malamnya dan merusak setiap tidur nyenyaknya.

"Zahra...?" bisik Ethan, suaranya tercekat di tenggorokan.

Topeng dingin, keangkuhan sebagai pewaris Austin Group, dan gengsi setinggi langit yang selalu Ethan agungkan runtuh berkeping-keping di detik itu juga.

Tangan Ethan yang gemetar menyambar jemari Azahra, membawanya ke wajahnya sendiri. Pria dingin yang tak pernah meneteskan air mata di depan siapa pun itu kini terisak histeris. Air matanya menetes membasahi telapak tangan Azahra.

"Zahra... ini beneran kamu, kan? Katakan padaku kalau aku tidak gila..." rintih Ethan, suaranya pecah oleh rasa penyesalan murni yang begitu dalam. Pria itu mendekap tangan Azahra ke dadanya, menatap wanita itu dengan mata kelabu yang penuh dengan permohonan. "Maafin aku... tolong, jangan tinggalin aku lagi... Aku mohon, Zahra... aku tidak bisa hidup dalam siksaan ini lagi..."

Melihat seorang Ethan Austin—pria angkuh yang dulu memandangnya sebelah mata dan mengancamnya dengan kontrak pertunangan gila—kini menangis tersedu-sedu di atas tanah kotor sambil memohon maaf padanya, ada sesuatu di dalam hati Azahra yang tergerak sedikit. Ada rasa iba dan kehangatan aneh yang menyusup tipis.

Namun, rasa trauma akan masa lalu membuat Azahra dengan cepat membentengi dirinya kembali. Ia mempertahankan raut wajah asingnya.

"Kamu kenapa, Pak?" kata Azahra pelan, membiarkan suaranya terdengar lembut namun penuh keheranan. "Bapak salah orang... Saya bukan Zahra. Nama saya Alya, guru relawan di sekolah bawah. Mari saya bantu Bapak berdiri, rombongan Bapak pasti sedang mencari."

"Jangan bohong padaku, Azahra!" tangis Ethan kian menjadi, tidak memedulikan sakit di bahunya, ia mempertahankan cengkeraman tangannya pada jemari Azahra. "Aku tahu ini kamu! Bau ini, matamu... Tolong, jangan berpura-pura tidak mengenalku!"

"Pak, tolong lepaskan tangan saya," ujar Azahra tegas, meraut wajah dingin. "Bapak sepertinya terguncang karena jatuh dari kuda. Saya cuma orang desa biasa."

Dengan perlahan, Azahra menarik tangannya dari genggaman Ethan, lalu berdiri dan memanggil-manggil bantuan ke arah jalur utama sampai suara teriakan pengawal Ethan terdengar menyahut dari kejauhan.

Satu jam kemudian, di dalam kamar suite VIP fasilitas yayasan desa.

Ethan duduk di tepi ranjang dengan pergelangan kaki yang sudah terbebat perban medis. Matanya menatap kosong ke luar jendela, menembus deretan pohon kelapa yang melambai di tepi pantai.

Kesadaran itu menghantam otaknya dengan kekuatan dahsyat: Azahra masih hidup. Dia tidak mati tiga tahun lalu.

Dan di saat yang sama, sebuah perasaan baru tumbuh mekar di dalam dada Ethan—bukan lagi rasa bersalah atau gengsi yang terancam, melainkan sebuah rasa cinta murni dan mendalam yang terlambat ia sadari. Ia mencintai wanita itu. Begitu dalam hingga ia rela melepaskan seluruh kekayaannya di Jakarta demi melihat wanita itu tersenyum kembali.

Pintu kamar mendadak terdorong terbuka. James Daniel melangkah masuk dengan raut wajah sangat berantakan dan tegang. Rambutnya acak-acakan, kemejanya sedikit kusut.

James berjalan bolak-balik di depan ranjang Ethan dengan gelisah.

"Ethan," panggil James dengan suara parau, menatap saingannya itu dengan mata yang memerah pekat. "Kemarin... aku melihat seorang wanita di dekat sungai. Namanya Alya. Mukanya... suaranya... persis sekali dengan Azahra. Tadi pagi aku mencarinya lagi ke sekolah, tapi dia menghindar dariku."

Ethan perlahan menengadahkan kepalanya, menatap James dengan ekspresi wajah yang mendadak kembali dingin dan tak terbaca.

"Aku merasa seperti orang gila, Ethan," lanjut James, mengepalkan tangannya di udara. "Apakah mungkin... apakah mungkin dia sebenarnya selamat? Apakah kamu sempat melihat wanita bernama Alya itu di sekitar sekolah? Kamu merasa ada yang aneh tidak?"

James menatap Ethan penuh harap, membutuhkan pembenaran atas intuisi batinnya dari pria lain yang juga mengenal Azahra.

Ethan menatap mata James secara langsung. Di sana, Ethan melihat rasa penyesalan James yang luar biasa—rasa bersalah seorang pria yang hanya menginginkan permintaan maaf dan pengampunan agar jiwanya tenang.

Namun Ethan... Ethan menginginkan hal yang jauh lebih besar. Ethan menginginkan hati Azahra sepenuhnya. Dan Ethan tahu, jika James ikut campur dan menggunakan kekuatan korporasinya lagi, kehidupan Azahra akan kembali terkoyak dalam pusaran persaingan mereka.

Ethan mengambil keputusan paling berani dan paling licik dalam hidupnya.

"Kau hanya berhalusinasi karena rasa bersalahmu, James," kata Ethan datar, suaranya begitu tenang tanpa ada sedikit pun kebohongan yang terdeteksi di matanya. "Aku sudah melihat guru-guru relawan di sekolah itu kemarin. Tidak ada satu pun dari mereka yang mirip dengan Azahra. Kau terlalu banyak bermimpi buruk."

James tertegun. "Tapi, Ethan... mata itu—"

"Gadis itu sudah mati tiga tahun lalu, James," potong Ethan dingin, memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela. "Terimalah kenyataan itu. Jangan membebani warga desa lokal hanya karena bayang-bayang masa lalumu yang belum selesai."

James menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghela napas panjang yang sarat akan kekecewaan mendalam. Kata-kata Ethan berhasil menyuntikkan keraguan besar ke dalam benaknya, membuatnya percaya bahwa wanita di sungai itu mungkin memang hanya kembaran kebetulan yang mirip secara visual.

"Mungkin... kau benar," gumam James lirih, suaranya padam oleh keputusasaan. "Aku cuma orang gila yang mengharapkan keajaiban."

Tanpa berkata apa-apa lagi, James berbalik dan melangkah keluar dari kamar, berniat mengemas barang-barangnya untuk kembali ke Jakarta sore itu juga.

Setelah pintu kamar tertutup rapat dan langkah kaki James menjauh, Ethan menarik napas panjang. Pria itu perlahan berdiri, mengabaikan rasa nyeri di pergelangan kakinya, dan berjalan menuju jendela kaca yang menghadap langsung ke arah pemukiman desa.

Di ujung jalan setapak di bawah sana, sosok wanita bergaun krem tampak sedang berjalan sambil menggandeng tangan dua anak kecil desa, tertawa lepas di bawah sinar matahari sore.

Ethan menyunggingkan sebuah senyuman tipis—sebuah senyuman penuh tekad murni yang tak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun.

"Biarkan James pulang ke Jakarta dengan penyesalannya," bisik Ethan pelan pada kaca jendela yang mengembun. "Aku yang akan tinggal di sini, Azahra. Aku akan menyembunyikanmu dari dunia... dan aku akan membuktikan padamu bahwa kali ini, cintaku adalah nyata."

1
Nisasaidatus
kaaa kenapa g lanjutt
Jifa Flora Dewi: terima kasih sudah menyukai cerita ini saya akan segera mengupdate bab selanjutnya terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
Nisasaidatus
kaa Azahra ga beneran mati kan🥺
Nisasaidatus
kaaa kenapa Azahra meninggal 🥲
Nisasaidatus
lanjuttt kaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!