Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiara Puspita
Aroma khas tumisan bawang merah, serundeng kelapa yang gurih, dan kukusan daun pisang langsung menyambut indra penciuman Arya Prasetya begitu roda depan Honda Supra Fit 2006 kesayangannya memasuki pekarangan rumah petak berukuran tiga kali tiga meter di gang sempit Tambora. Setelah melewati ketegangan psikologis tingkat tinggi bersama sang supermodel internasional Nadia Anastasia di galeri seni elit Menteng, atmosfer bersahaja dan hangat khas kelas pekerja ini rasanya seperti oase yang menyiram jiwanya yang hampir gersang akibat gempuran baper.
Arya menurunkan standar samping motor bebek tuanya yang berbunyi berdecit nyaring—sebuah kontras mutlak yang selalu berhasil menghancurkan karisma ketampanan setingkat aktor drama Korea yang melekat pada struktur wajah tegasnya. Ia melepaskan helm INK bututnya yang sudah lecet-lecet di sana-sini, menyeka keringat tipis di dahi dengan punggung tangannya yang kokoh, lalu melangkah masuk ke dalam rumah sambil menenteng dompetnya yang kini terasa jauh lebih "berbobot" secara spiritual. Meskipun secara fisik saldo sepuluh juta rupiah itu tertanam aman di dalam akun Go-Pay gaibnya yang dikendalikan oleh Sistem Godjek, aura kemakmuran dadakan itu entah bagaimana membuat langkah kakinya terasa sedikit lebih ringan.
"Assalamualaikum, Bu, Pak," sapa Arya seraya melangkah melewati pintu tripleks yang catnya sudah mengelupas dimakan usia.
"Waalaikumsalam! Anak ganteng Ibu sudah pulang," sahut Bu Aminah dari arah dapur sempit yang menyatu dengan ruang tengah. Tangannya masih sibuk membungkus nasi timbel dagangannya dengan gerakan yang sangat cekatan. "Gimana tarikan hari ini, Ya? Kok mukanya agak kusut amat kayak cucian belum disetrika begitu? Tapi... tunggu sebentar. Kenapa badan kamu wangi banget, Arya? Ini bukan wangi minyak wangi saset seribuan yang biasa kamu semprot pakai botol kispray, ya! Wanginya... wangi orang kaya yang kalau lewat di depan warkop bisa bikin harga sewa tanah komplek mendadak naik!"
Arya seketika tersedak ludahnya sendiri. Tenggorokannya terasa kering dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia benar-benar lupa bahwa aroma parfum vanilla mewah kelas atas milik Nadia Anastasia masih menempel erat di serat kain jaket premium Anti-Gosong dan area dadanya akibat pelukan impulsif penuh luapan emosi dari sang supermodel beberapa puluh menit yang lalu.
"Aduh mampus! Sensor hidung emak-emak emang gak bisa diajak kompromi! Ini kalau gua bilang habis dipeluk supermodel papan atas di galeri seni gara-gara terapi ketoprak lima puluh cabai, Ibu pasti bakal langsung ngadain syukuran potong tumpeng sekampung Tambora karena mengira anak bujangnya keterima jadi gigolo elit! Sistem, ini semua salah lu! Kenapa efek skinship-nya harus meninggalkan jejak barang bukti aromatik sejauh ini sih?!" batin Arya menjerit histeris dalam kepanikan komedi yang berlapis.
"Ah... ini, Bu. Tadi dapet penumpang yang habis belanja dari mal mewah di pusat kota. Biasalah, AC malnya terlalu dingin jadi pas dia boncengan erat di belakang, wanginya nempel pas kena angin jalanan," kilah Arya dengan senyum canggung sekadarnya, mencoba menyembunyikan kepanikan batinnya dengan profesionalisme tingkat tinggi seorang driver ojol veteran. Jika ibunya tahu realitas yang sebenarnya, interogasi keluarga ini dipastikan akan berjalan lebih lama dan lebih melelahkan daripada durasi sidang paripurna DPR.
Dari sudut teras rumah yang sempit, Pak Surya yang sedang asyik memberikan ulat hongkong kepada burung perkutut kesayangannya yang masih setia membisu seribu bahasa tiba-tiba menoleh. Beliau membetulkan letak sarung kotaknya sebelum berdehem pelan. "Halah, Aminah, namanya juga ojol profesional zaman sekarang. Penumpang itu adalah raja, kalau penumpangnya wangi, ya wajar kalau driver-nya ikut ketularan wangi. Yang paling penting bagi kita itu bukan soal wanginya, tapi setoran hari ini aman atau tidak? Itu token listrik di ruang depan sudah bunyi tit-tit-tit dari waktu subuh tadi, nadanya sudah mirip kayak lagu sedih gubahan komposer dunia."
Arya tersenyum tipis, merasakan gelombang kehangatan yang tulus merayap di dadanya. Ia selalu merasa bersyukur atas didikan moral kedua orang tuanya yang selalu mengajarkan nilai kejujuran dan kerja keras tanpa pernah menuntut hal-hal di luar batas kemampuan materi mereka. Sifat tulus, apa adanya, dan teguh pada prinsip hidup inilah yang membuat Arya selalu disegani oleh rekan-rekan sesama driver ojol tua di basecamp Tambora.
"Aman, Pak, Bu. Hari ini Arya dapet tip lumayan besar dari pelanggan yang sangat puas sama pelayanan prima dari Godjek," ujar Arya sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari dompet fisiknya dan menyerahkannya kepada sang ibu untuk tambahan modal belanja bahan nasi timbel esok hari.
Tentu saja, ia sengaja menyimpan rapat-rapat rahasia tentang uang sepuluh juta rupiah yang baru saja masuk ke saldo Go-Pay-nya. Bukan karena ia pelit atau tidak berbakti, melainkan karena ia belum menemukan alasan logis yang masuk akal sehat bagi kedua orang tuanya tentang bagaimana bisa seorang driver ojol kelas menengah ke bawah mendapatkan uang sebanyak itu hanya dalam waktu satu jam tanpa terlibat praktik pesugihan hitam atau menjadi bagian dari komplotan begal internasional yang sedang dicari polisi.
"Terima kasih banyak ya, Nak... Ibu bangga sekali punya anak yang berbakti dan rajin seperti kamu," ucap Bu Aminah dengan mata yang mendadak berkaca-kaca penuh rasa syukur. Beliau segera menyimpan uang tersebut ke dalam kaleng biskuit rombeng di atas rak piring yang berfungsi sebagai brankas rahasia keluarga mereka. "Ya sudah, kamu buruan mandi sana. Badannya dibersihin dari debu jalanan, terus langsung makan nasi timbel sisa pesanan katering tadi siang. Ibu sengaja sisain bagian ayam goreng bumbu lengkuas yang paling besar kesukaanmu."
"Iya, Bu," jawab Arya hangat, merasakan kedamaian slice of life yang sesungguhnya. Di dalam ruangan galeri seni mewah milik keluarga Nadia Anastasia yang berharga puluhan miliar rupiah, suasananya terasa begitu dingin, kaku, dan dipenuhi dengan intrik bisnis korporat yang mencekik leher. Namun di dalam rumah petak yang sempit dan beratap seng ini, kebahagiaan sejati justru lahir dari hal-hal yang sangat sederhana; sepotong ayam goreng lengkuas dan obrolan hangat penuh kasih sayang dari orang tua.
Namun, kedamaian komedi romantis yang tenang itu tampaknya tidak diizinkan bertahan lama oleh semesta. Begitu Arya melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya yang hanya beralaskan kasur lantai tipis bermotif karakter kartun yang sudah pudar, sebuah getaran hebat yang disertai kilatan cahaya keemasan redup tiba-tiba muncul dari balik saku celana jeans-nya.
TING-TONG!
Jantung Arya rasanya hampir melompat keluar dari rongga dadanya begitu mendengar melodi notifikasi yang sudah sangat familiar namun selalu berhasil memicu trauma psikologis tersendiri baginya.
"Aduh, tidak... tolong jangan sekarang. Gua baru aja mau meluruskan pinggang yang encok," gumam Arya dengan nada panik yang langsung tertahan di tenggorokan. Ia buru-buru memutar grendel pintu kamar, menguncinya dari dalam sebelum mengeluarkan ponsel misterius berlogo Godjek yang telah mengubah total seluruh garis takdir hidupnya belakangan ini.
Layar holografis keemasan mencuat ke udara dengan megah, memancarkan teks dengan font formal yang sangat rapi namun mengandung aura intimidasi yang luar biasa kocak bagi siapa pun yang membacanya.
[NOTIFIKASI SISTEM: ORDERAN DARURAT KATEGORI KELAS KAKAP TELAH TIBA!]
Status Misi: Wajib Diambil (Tidak Ada Opsi Menolak untuk Driver Tampan Berbintang 5 Kelap-Kelip).
Nama Pelanggan: Tiara Puspita (21 Tahun / Atlet Lari Jarak Pendek Nasional / Mahasiswi Fakultas Ilmu Olahraga / Tingkat Visual: 9.7/10 - Tipe Sporty Cantik dengan Kaki Jenjang Eksotis yang Mampu Berlari Menembus Batas Kecepatan Angin Timur).
Lokasi Penjemputan: Area Parkir Barat, Stadion Madya, Gelora Bung Karno, Senayan.
Lokasi Tujuan: Stasiun Gambir (Pintu Keberangkatan Kereta Eksekutif Argo Bromo Anggrek). Jarak tempuh: 6,5 kilometer.
Skenario Krisis: Target harus mengejar jadwal keberangkatan kereta terakhir dalam waktu tepat 12 menit demi menghadiri seleksi akhir pelatnas (Pusat Latihan Nasional) di Surabaya. Jika target terlambat satu detik saja, impian karier atletiknya yang sudah dibangun sejak kecil akan hancur total, dan ia akan dipaksa pulang ke kampung halaman untuk dinikahkan dengan seorang juragan tanah paruh baya pilihan pamannya yang oportunis. Namun, kondisi riil jalanan utama Jakarta saat ini sedang mengalami kemacetan total tingkat dewa akibat demonstrasi masal di depan gedung DPR dan adanya truk kontainer yang mogok melintang di jalur arteri Jenderal Sudirman.
[ANCAMAN PENALTI JIKA MISI GAGAL ATAU DITOLAK]: Sistem akan secara otomatis meretas basis data bengkel astral dan mengubah total bentuk visual beserta komponen mekanis motor Honda Supra Fit 2006 milik Driver menjadi "Skuter Roda Tiga Merk Barbie" berwarna pink menyala dengan keranjang rotan imitasi di bagian depan, lengkap dengan klakson otomatis yang mengeluarkan suara melodi "Aku Imut, Tolong Jangan Tabrak Aku" setiap kali tuas gas tangan ditarik oleh Driver.
Arya memegangi kepalanya yang mendadak terasa pening seperti baru saja dihantam oleh palu godam milik Thor. Monolog batinnya kembali berteriak histeris dengan kecepatan transmisi data yang sanggup menandingi prosesor komputer kuantum tercanggih di dunia.
"Sistem gila!! Ini sih namanya pemerasan berkedok aplikasi ojek online berbasis kerakyatan! Skuter roda tiga Barbie berwarna pink menyala?! Lu bayangin gua tiba-tiba harus narik ojol di jalanan protokol Sudirman-Thamrin pakai sepeda mainan bocah TK yang bunyinya 'Aku Imut'?! Mau ditaruh di mana harga diri gua sebagai simbol maskulin pekerja mandiri Tambora?! Rekan-rekan ojol senior kayak Bang Jay dan Dedi di basecamp pasti bakal langsung bikin acara tumpengan tujuh hari tujuh malam buat merayakan kematian reputasi dan harga diri gua sebagai laki-laki normal! Belum lagi jarak dari Senayan ke Gambir dalam waktu dua belas menit di tengah kondisi macet total Jakarta itu sama saja kayak menyuruh gua terbang menembus ruang dan waktu menggunakan bensin eceran spek rendah!"
Sebelum Arya sempat menemukan celah untuk menekan tombol protes atau komplain yang sebenarnya memang tidak pernah disediakan oleh developer sistem gaib tersebut, layar ponselnya kembali berkedip-kedip dengan heboh, menampilkan sebuah menu baru mengenai peminjaman perlengkapan operasional misi dari sistem.
[BANTUAN ALAT OPERASIONAL DARURAT DISEDIAKAN]:
Sistem meminjamkan item modifikasi sementara: "Ban Motor Karet Ketapel (Level Override)" & "Aura Knalpot Sonic Boom (Mode Senyap)".
Cara Penggunaan: Pasang ban secara otomatis melalui konfirmasi aplikasi. Tarik mundur motor Supra Fit Anda sejauh lima meter ke belakang untuk mengumpulkan daya lentur kinetik dari karet elastis tingkat tinggi, lalu lepaskan tuas rem secara mendadak untuk melesat melompati kemacetan Jakarta layaknya peluru ketapel raksasa.
Efek Samping Penggunaan: Setiap kali motor meluncur bebas di udara bebas, Driver diwajibkan untuk menjaga keseimbangan visual dengan memastikan pelanggan memeluk tubuh Driver secara erat agar tidak terlepas akibat gaya sentrifugal eksternal yang ekstrem.
"Melompat bebas di udara pakai motor bebek tua?!" Arya mendelik hebat sampai matanya hampir keluar dari kelopak. "Ini sistem sebenarnya mau menyelamatkan masa depan seorang atlet berprestasi atau mau bikin gua jadi atraksi maut tong setan di pasar malam daerah Cengkareng sih?! Tapi... kalau gua biarin impian itu cewek hancur gara-gara paksaan juragan tanah, moralitas gua sebagai pria sejati yang dibesarkan dengan nasi timbel penuh doa bakal benar-benar ternoda. Dan yang paling krusial... ancaman skuter Barbie pink itu benar-benar sebuah ancaman nyata yang sangat berbahaya bagi keselamatan psikologis jangka panjang gua!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk berpikir rasional, Arya langsung menyambar jaket premium hijau peraknya yang memancarkan kilau maskulin tingkat tinggi di bawah temaram lampu kamar. Ia memasang helm INK bututnya dengan satu gerakan tangan yang tegas dan penuh wibawa, lalu membuka pintu kamar dengan terburu-buru hingga menimbulkan suara bantingan pelan.
"Bu, Pak! Arya ada orderan darurat panggilan negara tingkat tinggi! Cabut dulu, assalamualaikum!" teriak Arya sambil berlari kencang menuju teras rumah.
"Lho, Ya! Itu ayam goreng lengkuasnya belum disentuh sama sekali!" seru Bu Aminah setengah berteriak dari arah dapur, namun respons yang terdengar kemudian hanyalah suara raungan mesin Honda Supra Fit yang mendadak terdengar jauh lebih responsif, berat, dan bertenaga bulat berkat intervensi energi sistem yang sudah mulai mengalir deras ke dalam komponen mesin tuanya.
Motor bebek tua itu melesat cepat membelah gang sempit Tambora dengan kecepatan yang luar biasa presisi, meninggalkan kepulan debu tipis dan tatapan mata penuh kekaguman dari para tetangga sekitar yang sempat melihat sekilas wajah tampan Arya di balik kaca helm yang terbuka sebagian. Target operasional kali ini adalah Stadion Madya, Senayan. Sebuah tempat di mana seorang gadis sporty berbakat sedang menanti datangnya sebuah keajaiban di antara tetesan air mata keputusasaan dan deru klakson kemacetan ibu kota yang mencekik. Perjalanan absurd babak baru untuk mempertahankan rating bintang lima kelap-kelip resmi dimulai dengan taruhan harga diri sebuah motor legenda!
Deru angin sore kota Jakarta menerpa permukaan jaket premium milik Arya saat ia memacu motornya membelah jalur tikus menuju kawasan Senayan. Berkat modifikasi mesin terselubung dari Sistem Godjek, Supra Fit 2006 yang biasanya batuk-batuk jika dipaksa menembus kecepatan enam puluh kilometer per jam, kini meluncur dengan kestabilan yang luar biasa halus, seolah-olah seluruh komponen internalnya telah diganti dengan partisi motor balap kelas dunia.
Hanya dalam waktu kurang dari tujuh menit, Arya sudah berhasil mencapai kawasan luar kompleks Gelora Bung Karno. Pemandangan di depannya benar-benar sesuai dengan deskripsi darurat yang diberikan oleh sistem. Lautan kendaraan bermotor—mulai dari mobil pribadi mewah, bus kota, hingga ribuan motor—berhenti total tak bergerak di sepanjang jalan arteri. Suara klakson yang bersahut-sahutan menciptakan simfoni stres massal yang sangat memekakkan telinga. Polusi udara dari gas buang kendaraan membuat langit sore Jakarta tampak abu-abu pekat dan pengap.
Arya mengarahkan motornya memotong jalur trotoar dengan seliper yang lihai, mengabaikan tatapan kesal beberapa pejalan kaki yang kalah cepat, hingga akhirnya ia berhasil menembus gerbang masuk Stadion Madya. Di sana, di dekat area pembatas parkir barat yang teduh di bawah pohon beringin besar, berdiri seorang gadis yang langsung menarik seluruh perhatian visual di tempat itu.
Dialah Tiara Puspita.
Kontras visual yang dipancarkan oleh gadis itu benar-benar berada di level yang berbeda. Tiara mengenakan setelan baju olahraga atletik ketat berwarna hitam dengan aksen garis merah yang mengekspos bentuk tubuhnya yang luar biasa atletis, kencang, dan proporsional tanpa lemak sedikit pun. Kaki jenjangnya yang eksotis karena sering terpapar sinar matahari sirkuit lari tampak begitu kukuh namun tetap feminin. Rambut hitam panjangnya diikat gaya ponytail yang rapi, memperlihatkan leher belakangnya yang berkeringat tipis setelah sesi latihan keras.
Saat ini, wajah cantiknya yang biasanya memancarkan ketegasan seorang juara tampak begitu rapuh. Air mata murni mengalir perlahan melewati pipinya yang merona alami, merusak kertas tiket kereta eksekutif yang sedang diremasnya dengan tangan yang gemetar. Di sampingnya, sebuah koper besar berwarna biru tua tergeletak begitu saja di atas aspal.
"Hiks... kenapa jalanan harus macet total sekarang..." bisik Tiara dengan suara yang tercekat oleh rasa putus asa yang mendalam. Ia melihat layar ponselnya yang menunjukkan waktu tinggal sembilan menit lagi sebelum kereta Argo Bromo Anggrek berangkat meninggalkan peron Stasiun Gambir. "Kalau aku gak sampai ke Surabaya malam ini... Paman pasti akan membatalkan status keanggotaanku di pelatnas. Aku... aku gak mau dinikahkan sama juragan tanah itu... impianku bukan di dapur rumah besar itu..."
Tepat pada momen keputusasaan tertinggi sang atlet, sebuah suara raungan mesin motor yang berwibawa memecah keheningan di sudut parkiran tersebut. Tiara mendongak dengan cepat, matanya yang sembab menangkap kedatangan sebuah motor bebek tua yang dikendarai oleh seorang driver ojol berjaket premium hijau perak yang mengkilap di bawah siraman cahaya matahari terbenam.
Arya mengerem motornya dengan presisi tinggi tepat satu jengkal di depan Tiara. Gerakan pengeremannya begitu halus hingga tidak menimbulkan debu sedikit pun. Ia membuka kaca helm INK-nya, menampilkan struktur rahang tegas dan mata elangnya yang memancarkan kejujuran serta kekuatan moral kelas pekerja yang mutlak.
"Nona Tiara Puspita? Saya Arya, mitra Godjek yang akan mengantar Anda menembus batas waktu menuju Stasiun Gambir," ujar Arya dengan suara berat yang sarat akan keyakinan maskulin. Efek tersembunyi dari sisa aura pekerja mandiri miliknya membuat kata-kata sederhana itu terdengar seperti titah seorang penyelamat bagi Tiara.
Tiara tertegun sesaat, menatap wajah menawan Arya yang tampak begitu kontras dengan motor Supra tua yang dikendarainya. "Kamu... driver ojol pesenanku? Tapi... tapi apa kamu gak lihat ke luar sana? Jalanan Asia Afrika dan Sudirman mati total! Gak ada kendaraan yang bisa lewat, bahkan motor sekalipun terjebak di antara sela-sela mobil! Waktu kita gak sampai sepuluh menit lagi! Ini mustahil!"
Arya tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh pesona yang sanggup membuat pertahanan batin gadis mana pun goyah dalam sekejap. Ia turun dari motornya dengan gerakan efisien, langsung menyambar koper besar milik Tiara dan mengikatnya di jok belakang dengan tali karet khusus yang sudah disiapkan sistem dengan kekuatan ikat setingkat baja.
"Bagi driver biasa, ini mungkin mustahil, Nona," ucap Arya sambil memberikan sebuah helm cadangan yang mendadak berubah menjadi bersih dan wangi mint berkat fitur kebersihan otomatis sistem. "Tapi bagi mitra Godjek yang membawa impian besar seorang atlet nasional, kata 'mustahil' itu cuma sekadar ulasan bintang satu yang bisa kita hapus dari sistem kehidupan. Pakai helm Anda, naik ke belakang, dan pegang tubuh saya seerat mungkin jika Anda masih ingin melihat sirkuit lari di Surabaya esok hari."
Mendengar penegasan yang begitu mantap dari Arya, Tiara merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Rasa putus asa yang semula melumpuhkan kekuatannya mendadak menguap, digantikan oleh rasa percaya yang mutlak kepada pria asing yang baru pertama kali ditemuinya ini. Ia buru-buru memakai helm cadangan itu, naik ke jok belakang, lalu mengunci kedua lengannya di pinggang Arya.