NovelToon NovelToon
Godaan Paman Mantanku

Godaan Paman Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.

​Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."

​Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.

​Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.

​Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketenangan Di Kamar Sederhana

​"Baik, terima kasih banyak, Tuan," ucap Aura halus.

​Ia berdiri anggun dari kursi kayu berbusa, lalu membungkukkan badannya memberi hormat secara profesional ke arah Arsen dan wakil direktur. Setelah merapikan kemeja putih dan rok span hitamnya, Aura membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang eksekutif itu dengan dada yang jauh lebih lapang.

​Jam digital di dinding koridor menunjukkan pukul 10.00 pagi tepat saat Aura menyelesaikan seluruh proses wawancaranya. Udara pagi menjelang siang di luar gedung terasa cukup hangat. Setelah menyerahkan kartu pengunjung di meja resepsionis lobi, Aura melangkah keluar melintasi pintu kaca otomatis menuju pelataran depan A&P Group.

​Saat ia sedang berdiri di tepi trotoar untuk memesan taksi melalui ponselnya, sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap perlahan melaju masuk dan berhenti persis di area drop-off utama gedung pencakar langit itu. Pintu penumpang depan terbuka, lalu sosok Sean keluar dengan setelan jas rapi yang dipaksakan tampak dewasa. Tak lama kemudian, dari pintu sebelah kiri, Lyona turun dengan gaun ketat berwarna cerah dan riasan tebal yang mencolok.

​Sean tampak membukakan pintu untuk Lyona sambil tersenyum manja, keduanya berjalan beriringan seolah area perkantoran berkelas ini adalah panggung pamer hubungan mereka.

​Aura yang berdiri hanya beberapa meter dari mereka sempat beradu pandang secara tidak sengaja. Namun, alih-alih panik, marah, atau memperlihatkan raut terluka, ekspresi wajah Aura berubah sangat dingin dan datar. Ia berpura-pura tidak mengenali mereka berdua, mengalihkan pandangannya lurus ke arah jalan raya tanpa sedetik pun memberi ruang bagi bayangan masa lalunya itu.

​Sebuah armada taksi kuning yang dipesannya perlahan mendekat dan berhenti tepat di depan Aura. Dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang, Aura membuka pintu belakang, mengibaskan bagian bawah rok spannya, lalu masuk ke dalam kabin taksi tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sean yang sempat tertegun menyadari keberadaan mantan kekasihnya.

​"Jalan ya, Pak," perintah Aura lembut pada sopir taksi.

​Taksi itu meluncur meninggalkan area gedung, membiarkan Sean dan Lyona tertinggal di belakang dalam pusaran kehidupannya yang kini sudah resmi ia tutup rapat.

​Pintu kontrakan berderit halus saat Aura melangkah masuk dan menutupnya rapat-rapt dari kebisingan jalanan luar. Udara sejuk di dalam ruangan kecil itu seolah menyambut kehangatan yang telah lama ia rindukan. Segala beban, ketegangan wawancara di gedung pencakar langit A&P Group, hingga bayang-bayang sosok Sean dan Lyona di pelataran parkir tadi pagi, seketika menguap berganti rasa lelah yang menghinggapi sekujur tubuhnya.

​Aura melepaskan sepatu hak tingginya di dekat pintu, membiarkan jemari kakinya menyentuh dinginnya lantai keramik. Ia melangkah perlahan menuju tempat tidur sederhananya di sudut ruangan, meletakkan tas serta map lamarannya di atas meja kecil, lalu merebahkan diri terlentang di atas kasur busa yang empuk.

​Huuuh...

​Helaan napas panjang lolos dari bibirnya yang dipoles lipstik tipis. Aura menatap langit-langit kamar kontrakannya yang putih polos. Matanya terpejam sejenak, menikmati keheningan yang kini melingkupinya. Rasa perih dan kelelahan fisik akibat kejadian beberapa hari terakhir masih menyisa tipis, namun hatinya terasa jauh lebih lapang dari sebelumnya.

​Di dalam ketenangan itu, bayangan sosok Arsenio Pratama kembali berkelebat di benaknya. Tatapan mata tajam sang CEO yang duduk anggun di kursi kebesaran, wibawanya yang memikat namun dingin, serta suara beratnya saat mengajukan pertanyaan pamungkas masih teringat begitu jelas. Pria itu adalah sosok yang menyelamatkan dirinya dari titik terendah, sekaligus sosok misterius yang kini memegang kendali atas nasib karier yang amat ia harapkan.

​Aura mengusap dadanya pelan, merasakan detak jantungnya yang perlahan kembali normal. Ia telah memberikan kemampuan terbaiknya dalam wawancara tadi. Apapun keputusan yang akan diambil oleh pihak HRD maupun Arsen lusa nanti, Aura tahu ia telah melangkah dengan terhormat—sebagai wanita mandiri yang siap menembus kerasnya kehidupan tanpa tergantung pada siapa pun lagi.

​Dengan senyum tipis yang mengulas di bibir cantiknya, Aura menyamankan posisi tidurnya dan merapatkan selimut, membiarkan rasa kantuk perlahan membawa tubuhnya yang letih menuju lelapnya istirahat siang.

1
Ryuu
Keren
Ryuu
semangat😍
Ade Chubi
dua pilihan itu ,dua dua nya menguntungkan tuan CEO
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!