NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:50.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

​Suasana pagi di kantor pusat jaringan grosir dan distributor bahan bangunan milik Husna terasa begitu bergairah. Sinar matahari menerobos masuk melalui dinding kaca setinggi langit-langit, menimpa meja kerja kayu jati yang tertata rapi. Husna duduk di kursi kebesarannya dengan setelan blazer berwarna lavender lembut. Anggun, tenang, dan memancarkan wibawa seorang pemimpin wanita yang memegang kendali atas suplai material konstruksi di berbagai daerah.

​Sejak berkas perceraian resmi diproses dan seluruh keterlibatan Bian dicabut total dari gurita bisnisnya, perusahaan distributor bahan bangunan milik Husna justru bergerak semakin pesat. Tidak ada lagi beban keuangan yang bocor untuk membiayai ambisi kosong Bian atau gaya hidup Salma. Husna bisa memfokuskan seluruh energinya untuk pengembangan ekspansi gudang dan kemitraan dengan para kontraktor besar.

​Tok... Tok...

​Pintu ruangan kerja Husna diketuk pelan. Asisten pribadinya, Nia, melangkah masuk dengan senyuman ramah seraya membawa sebuah buket bunga mawar putih segar dan sebuah kotak kayu berukir indah.

​"Selamat pagi, Ibu Husna. Ada titipan kurir khusus untuk Ibu," ujar Nia seraya meletakkan buket bunga dan kotak tersebut di atas meja Husna.

​Husna tersenyum tipis. Sebenarnya ia sudah bisa menebak pengirimnya. Semalam, setelah pertemuan tak sengaja di supermarket premium, Rafli mengirimkan pesan singkat untuk menanyakan kabar sekaligus menanyakan lokasi kantor pusat jaringan distributor bahan bangunan milik Husna. Mereka sempat berkomunikasi hangat via pesan singkat hingga larut malam, saling bertukar cerita singkat mengenai kesibukan masing-masing.

​"Terima kasih ya, Nia. Tolong taruh saja di meja," ujar Husna bersahaja.

​Setelah Nia meninggalkan ruangan, Husna meraih kartu ucapan berwarna krem yang terselip di antara tangkai mawar putih yang masih basah oleh embun. Tulisan tangan di dalam kartu itu begitu rapi dan berkarakter tulisan tangan Rafli yang sangat familiar di ingatan masa mudanya.

​Untuk Husna,

​Mawar putih ini untuk menyegarkan pagimu di kantor, dan kotak kayu ini berisi camilan kue semprong wijen resep kuno favoritmu zaman kuliah dulu. Aku kebetulan menemukan toko kue langganan tua kita di daerah Cikini kemarin sore saat mengantar Dita dan Tita.

​Semoga harimu menyenangkan dan penuh keberkahan.

​Rafli

​Husna mengelus permukaan kartu ucapan itu. Sebuah senyuman manis yang hangat perlahan terukir di bibirnya. Husna membuka kotak kayu berukir tersebut. Aroma gurih wijen dan manisnya kue tradisional langsung menyeruak, persis seperti rasa kue yang sering mereka nikmati bertiga bersama teman-teman kampus puluhan tahun lalu.

​"Rafli... kamu ternyata masih ingat saja hal-hal kecil seperti ini," bisik Husna lirih. Dadanya berdesir hangat. Di tengah pengkhianatan Bian yang belasan tahun menginjak-injak harga dirinya, tindakan sederhana namun penuh penghormatan dari seorang sahabat lama seperti Rafli terasa sangat menyejukkan batin.

​Layar ponsel di samping laptopnya menyala. Sebuah pesan masuk dari Rafli.

​[Rafli]: Selamat pagi, Na. Bunga dan kuenya sudah sampai di mejamu? Semoga kodenya tidak salah dan kamu masih suka kue semprong wijen.

​Husna menyandarkan punggungnya di kursi, jemarinya lincah membalas pesan tersebut.

​[Husna]: Selamat pagi, Rafli. Masya Allah, kuenya sudah sampai dan aromanya persis seperti dulu! Terima kasih banyak ya, mawar putihnya juga cantik sekali. Kamu tidak perlu repot-repot begini padahal.

​Tak butuh waktu lima detik, ponsel Husna kembali bergetar.

​[Rafli]: Sama sekali tidak repot, Na. Justru aku yang senang kalau kamu menyukainya. Seperti yang aku tanyakan semalam, kalau siang ini kamu tidak ada jadwal rapat penting dengan klien distributor, bolehkah aku mengundangmu makan siang? Ada restoran Sunda berkonsep saung di atas danau yang tenang dekat kawasan kantor bahan bangunanmu. Tempatnya sangat nyaman untuk ngobrol santai.

​Husna menatap layar ponselnya seraya menimbang-nimbang jadwalnya. Hari ini seluruh rapat dengan penyuplai semen dan besi sudah diselesaikan sejak pagi hari.

​Sebelum Husna sempat membalas, pintu ruangannya terbuka. Devan dan Deka melangkah masuk dengan seragam sekolah/kuliah mereka yang rapi. Kedua anak kembarnya sengaja mampir ke kantor Husna sehabis jam belajar usai untuk menjemput Bunda mereka makan siang bersama.

​"Bunda! Kami sudah selesai nih, yuk makan si eh, bunga dari siapa tuh, Bun?" celekit Deka cepat. Matanya yang jeli langsung menangkap buket mawar putih dan kotak kue anggun di meja ibunya.

​Devan meletakkan tasnya di sofa ruangan, lalu matanya ikut melirik ke arah bunga dan kertas ucapan yang berada di dekat tangan ibunya. Senyum tipis nan penuh arti mengembang di wajah anak sulung Husna itu.

​"Wah, wah, wah... sepertinya Pak Rafli gerak cepat nih setelah semalam kirim pesan sama Bunda," goda Deka seraya mendekati meja dan menghirup aroma kue semprong. "Ini kue semprong wijen kesukaan Bunda kan?"

​Husna menggeleng pelan dengan rona merah di pipinya. "Kalian ini baru datang bukannya menyapa malah menggoda Bunda."

​"Bunda gak usah bohong, semalam kan Pak Rafli udah nanya lokasi kantor Bunda," kata Deka tertawa geli. "Terus itu ponsel Bunda nungguin balasan ya? Pak Rafli ngajak makan siang kan, Bun?"

​"Iya, Rafli mengajak makan siang santai di restoran dekat sini," jawab Husna jujur. Ia menatap kedua putranya. "Menurut kalian... bagaimana?"

​Devan melangkah mendekati ibunya, lalu menepuk pelan bahu Husna dengan penuh rasa kasih sayang. "Kenapa harus ragu, Bun? Bunda sudah menyelesaikan semua urusan masa lalu dengan sangat terhormat. Bunda berhak bahagia, berhak punya teman ngobrol yang setara, dan berhak diperlakukan dengan sangat baik. Pak Rafli itu pria terhormat, bukan seperti Si Tua Bian. Devan sama Deka dukung seratus persen kalau Bunda mau makan siang sama beliau."

​"Betul kata Devan, Bun!" sambung Deka mantap. "Terima aja ajakannya!"

​Sebelum Husna sempat menyentuh layar ponselnya untuk mengetikkan jawaban untuk Rafli, ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini ketukannya terkesan terburu-buru dan sedikit gelisah.

​Tok! Tok! Tok!

​Pintu kayu jati itu terbuka perlahan. Nia melangkah masuk terlebih dahulu dengan raut wajah yang tampak serba salah. Kehangatan dan ketenangan yang tadinya melingkupi ruangan itu mendadak surut perlahan. Nia menatap Husna, lalu melirik sejenak ke arah Devan dan Deka yang berdiri di dekat sofa.

​"Maaf mengganggu, Ibu Husna... Mas Devan, Mas Deka," bisik Nia pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.

​Husna mengerutkan keningnya halus. Ia mengenali gestur asistennya itu. Nia bukanlah tipe pekerja yang mudah panik kecuali ada situasi luar biasa di luar kendali operasional harian.

​"Ada apa, Nia? Ada kendala dengan pengiriman armada truk atau penagihan kontraktor?" tanya Husna tenang.

​Nia menggeleng pelan. Ia melangkah dua tindak lebih dekat ke meja Husna, menyatukan jemarinya di depan tubuh dengan ekspresi serba canggung.

​"Bukan masalah operasional gudang, Bu. Di bawah... di lobby utama pusat pelayanan... ada Pak Bian," jelas Nia pelan namun cukup jelas untuk membuat Devan dan Deka seketika menegakkan posisi berdiri mereka.

​Aroma keheningan mendadak pekat. Deka menggeretakkan giginya pelan, sementara Devan memicingkan mata dengan pandangan dingin yang tajam.

​"Pak Bian minta bertemu dengan Ibu," lanjut Nia dengan hati-hati. "Petugas security di depan sebenarnya sudah berusaha menahan dan menjelaskan bahwa Pak Bian tidak memiliki janji temu resmi. Tapi Pak Bian memaksa. Beliau terus berdiri di dekat area resepsionis dan meminta untuk naik ke ruangan Ibu."

​Husna menghela napas panjang. Ada kelelahan yang sangat dalam memancar dari binar matanya untuk sekejap mata. Rasa malas, enggan, dan muak berbaur menjadi satu di dalam dadanya. Baginya, nama Bian sudah seperti lembaran usang yang seharusnya tertutup rapat di tempat sampah masa lalu. Perceraian sudah diproses hukum, seluruh jalur bisnis sudah dipisahkan secara sah, dan tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara mereka.

​"Usir saja, Mbak Nia," potong Deka tegas tanpa ragu. Suaranya dipenuhi kekesalan yang menumpuk. "Untuk apa lagi pria itu datang ke sini? Tidak punya malu sekali setelah apa yang dia lakukan pada Bunda!"

​"Betul, Bun," Devan menimpali dengan nada dingin yang sarat kendali diri.

"Kalau Bunda tidak mau melihat mukanya, Devan sama Deka yang akan turun ke bawah buat menyuruh dia pergi dari gedung ini. Biar security yang lempar dia ke luar pelataran."

​Husna mengangkat tangan kanannya pelan, memberi isyarat agar kedua putra kembarnya menenangkan emosi mereka. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi jati, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara teratur.

​Husna berpikir cepat. Kantor pusat grosir dan distributor bahan bangunan ini adalah jantung dari reputasi bisnis yang ia bangun dengan darah dan keringatnya sendiri. Setiap hari, puluhan staf, mitra bisnis, hingga distributor dari luar daerah berlalu-lalang di lobby utama. Jika ia membiarkan Bian bertingkah di bawah atau membiarkan sekuriti menyeretnya keluar secara paksa di depan publik, hal itu hanya akan menciptakan keributan liar. Media lokal atau karyawan bisa mengambil gambar, dan keributan semacam itu hanya akan membuat perusahaannya menjadi tontonan gratis yang murah.

​Ia tidak akan membiarkan Bian merusak martabat dan nama bersih yang sudah ia rawat dengan susah payah.

​"Nia," panggil Husna dengan suara pelan namun sangat berwibawa.

​"Iya, Bu Husna?"

​"Izinkan dia naik ke atas."

​"Bunda!" panggil Deka kaget. "Kenapa malah disuruh naik?"

​Husna menatap Deka dan Devan bergantian dengan pandangan teduh namun penuh ketegasan seorang ibu sekaligus pimpinan tertinggi di perusahaan itu.

​"Bunda sama sekali tidak bermaksud memberi ruang untuk pria itu, Deka. Tapi Bunda tidak akan mengizinkan orang luar menjadikan kantor pusat kita sebagai panggung drama gratisan. Jika dia membuat keributan di lobby bawah, itu akan menjadi tontonan karyawan dan penyuplai bahan bangunan kita. Nama baik tempat ini jauh lebih berharga daripada rasa malas Bunda untuk melihat mukanya."

​Husna kembali menatap Nia. "Bawa dia langsung ke ruangan ini lewat lift eksekutif. Jangan biarkan dia berkeliaran di area kerja staf. Dan pastikan tidak ada yang membuat spekulasi di luar."

​"Baik, Bu Husna. Segera saya laksanakan," jawab Nia patuh sebelum membungkuk hormat dan bergegas keluar dari ruangan.

​Devan menghela napas panjang, mencoba menguasai amarahnya seraya menatap ibunya. "Devan sama Deka bakal tetap di sini, Bun. Kami tidak akan biarkan pria itu macam-macam atau membebani Bunda lagi."

​Husna tersenyum tipis, merasa terlindungi oleh keberadaan anak-anaknya. "Terima kasih, Nak. Tapi tetap kontrol emosi kalian. Kita sudah berada di atas. Jangan biarkan kemarahan merendahkan martabat kita di hadapannya."

1
Naufal hanifah
bagus ceritanya
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍
susi ana
aku geli sama istilah "niat jantan" dr Rafli..... lucu banget 😂
falea sezi
wahh uda end ternyata si bapak durjana
Noey Aprilia
Akhir tragis buat sng pngkhianat....
btw,srius end kk????
mksh crtanya,aku otw crtamu yg lain...💃💃💃
blcak areng: terima kasih Kak
total 1 replies
Muft Smoker
ceritanya seperti biasa ,,
bagus dan banyak pelajaran ny
Muft Smoker
waaah udh tamat kak ,,

yx seburuk-buruk ny kelakuan manusia di saat Dy berpulang tetap harus d lakukan yg terbaik ,,
bian udh menyadari dan menyesali perbuatan ny ,, ,,

terimakasih buat cerita ny kali ini kak ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
semangat dan sukses selalu buat kk ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,,
karya terbaru ny udh msuk list aq ,,
total 2 replies
Muft Smoker
kn emnk udh jdi ibu ny kak 🤭🤭😁😁🫰
T🥀007
lanjut
Nieta Poedjo
kartu hitam = black card
bukan
kartu hitam black card
Nieta Poedjo
katanya berhijab, kok ada kalimat anak rambut?
katanya sdh nikah, kok ada kalimat calon ibu?
Muft Smoker: 👌👌👌👌😁😁😁😁
total 3 replies
Noey Aprilia
Buah ksbaran husna d msa lalu,akhrnya ktmu jg dgn kbhgiaan...
slain syng sm dia,jg syng sm ank2nya....
Noey Aprilia
Mkin meranalh nnti sng mntan...
smntra mntan istri mkin sukses plus nkah lg sm orng brkuasa,dia msh ttp jd gmbel.....😛😛😛
Muft Smoker
semangat truuus kak ,,

lanjuut kak ,,

akhirnya Bu Husna menemukan org yg tepat ,,
semoga bahagia truss keluarga kalian ,,
Muft Smoker
kak sbnrnya yg kk sypa ,, Dita tita atau Devan deka ,,
kn yg menikah dluan pak Rafli ,,
Rahmawati Amma
awalnya ceritanya menarik tapi setelah aku baca sengaja loncat di bagian bab 38an aku udah malas bacanya pada hal aku ingin melihat bian menderita dan husna walaupun janda tapi berkelas dan tambah sukses tak taunya kawin lagi jadi malas baca soalnya bosan yg cerita cerai tapi kawin lagi😔😮‍💨
Rahmawati Amma
maaf thor saya ke luar dari novelmu paling malas klu ceritanya gini awalnya saya emang suka ceritanya tapi melihat babnya saya langsung berhenti ku kira ngak bakalan kawin lagi soalnya anaknya udah pada remaja tak tahunya malahan kawin lagi sama aja mantan suaminya gila s***n## kukira habis cerai dia akan menjadi lebih sukses dan menjadi janda elegan tak taunya gini ceritanya maaf thor aku keluar maaf tidak beri bintang full😔😢🙏
Muft Smoker
laki2 kayak pak Rafli 1 banding 100000000 ,, bnr2 langka ,,
Rahmawati Amma
pembalasan berkelas🤣🤣🤣
Noey Aprilia
D saat yg lain lbh suka pmer hrta dmi pujian,tp mas rafli lbih mmilih k tnah suci dmi niat yg suci jg....salut plus mkin mnghormati dia krna skapnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!