Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik
"Pak Kafka..." seru seorang wanita di depan pintu ruangan Kafka sambil terus mengetuknya. Namun Kafka seperti tidak mendengar ketukan pintu itu hingga membuat wanita itu kesal.
"Jika anda tidak segera membukanya, saya akan panggilkan security agar mendobrak ruangan ini." ancam wanita itu dengan tegas.
"Masuk lemari itu, Silvy." pekik Kafka tertahan agar tak terdengar oleh orang di luar ruangannya.
Tentu saja Silvy terkejut mendengar suara wanita yang menurut Kafka adalah Aruna. Silvy tak mau bersembunyi di dalam lemari yang pengap dan sempit karena berisi beberapa dokumen juga barang tak terpakai. Tak ada pilihan lain daripada nanti Silvy semakin lama, maka Kafka segera mendorong badannya. Alhasil Silvy memilih bersembunyi di bawah meja kerja Kafka. Sedangkan Kafka, segera membuka pintu dan mencoba mencegah Aruna untuk masuk. Saat pintu terbuka, benar saja jika Aruna yang mengetuk pintu.
"Ada apa, Aruna?" tanya Kafka dengan raut wajah pura-pura terkejut.
"Ini laporan dari divisi pemasaran. Buat ulang, saya tidak menerima sampah seperti ini untuk dilaporkan. Kamu bukan karyawan yang kerja satu atau dua tahun di sini. Masa formatnya saja bisa salah begitu," ucap Aruna sambil memberikan map berisi laporan dari divisi pemasaran.
"Ini bukan sampah, Ar..."
"Ibu Aruna. Kita di sini sama-sama pekerja," sela Aruna dengan tatapan tajamnya.
"Baik, Ibu Aruna. Ini bukan sampah yang seperti Ibu maksud. Ini laporan bulanan dan kami mengerjakan ini selama beberapa hari. Lagi pula Ibu Aruna kan belum aktif bekerja, masih besok. Coba cek lagi," ucap Kafka menahan emosi yang ingin meledak karena Aruna.
"Anda yakin ini dibuat beberapa hari? Bukan semalaman saja, Pak Kafka?" tanya Aruna yang langsung merangsek masuk ke dalam ruangan Kafka.
"Tidak sopan, membiarkan orang bertemu di depan pintu tanpa dipersilahkan masuk." sindirnya pada Kafka.
Kafka bukannya tidak mau membawa Aruna masuk ke dalam ruangan, hanya saja ada Silvy yang tengah bersembunyi. Justru malah Kafka yang ingin Aruna masuk ke ruangannya jika Silvy tak ada. Dia bisa berbicara empat mata dan merayu Aruna agar membantunya membuat laporan. Dia juga bisa meminta Aruna agar mengamankan jabatannya.
"Maaf, Ibu Aruna. Sebentar lagi saya akan istirahat, jadi lebih baik bertemu di luar saja." ucap Kafka yang jantungnya berdetak tak karuan karena Aruna. Namun Aruna malah duduk di depan mejanya. Sedangkan di bawahnya, ada Silvy yang tengah bersembunyi.
"Ruangan Pak Kafka wangi sekali ya. Kaya bau parfum wanita," ucap Aruna tak mempedulikan ucapan Kafka.
"Ini pewangi ruangan, Ibu Aruna. Saya tidak tahu, itu dari pihak kantor yang memberi." ucap Kafka yang ingin Aruna segera pergi.
"Silahkan keluar, Bu. Atau mau makan siang ber..."
"Oke. Saya minta laporan itu diperbaiki dan serahkan besok siang. Buat laporan yang benar, jangan asal." sela Aruna yang kemudian berdiri.
Dugh...
Awwww...
"Apaan tuh?" tanyanya saat mendengar suara teriakan kesakitan.
Saat Aruna hendak pergi, tak sengaja dia melihat tangan di bawah meja. Aruna tersenyum sinis saat melirik sekilas ke arah Kafka. Dia yakin kalau suaminya itu menyembunyikan selingkuhannya di ruangan ini. Apalagi bau parfumnya sangat menyengat. Dia masuk ke dalam ruangan Kafka juga disengaja. Pasalnya tadi merasakan ada sesuatu yang janggal. Dia pun akhirnya menendang tangan Silvy hingga terdengar suara kesakitan.
"Suara teman-teman di sebelah, Ibu Aruna. Biasa mereka suka heboh atau apa begitu," ucap Kafka dengan ketar-ketir.
"Oh... Baik lah. Itu saja, Pak Kafka. Saya permisi dulu,"
"Tolong jangan menyembunyikan karyawan di ruangan ya, Pak Kafka. Apalagi berselingkuh karena perusahaan ini tidak mentolerir perselingkuhan," ucap Aruna dengan santainya kemudian pergi dari ruangan Kafka.
Astaga...
Kafka bergegas menutup pintu ruangannya dan duduk di kursinya. Silvy segera keluar dan mengibaskan tangannya yang nyeri. Kafka berusaha menenangkan detak jantungnya yang sudah seperti akan melompat keluar. Ucapan dari Aruna itu terngiang dalam ingatannya. Kafka masih ingat bahwa perusahaan ini menerapkan untuk berlaku jujur dan setia. Jika sudah menikah, tidak boleh berselingkuh apalagi dengan karyawan kantor. Jika belum menikah, dilarang genit atau mendekati pasangan orang.
"Mas, kayanya Aruna sengaja deh injak kakiku." rengek Silvy sambil menunjukkan punggung tangannya yang memerah.
"Kenapa kamu bodoh sekali sih, Silvy? Kenapa kamu berteriak begitu?" seru Kafka menyalahkan Silvy tanpa peduli dengan rengekan kekasihnya itu.
"Sana pergi. Bikin pusing aja," usirnya pada Silvy.
"Jangan sampai ketahuan karyawan lain saat keluar dari ruangan ini," lanjutnya membuat Silvy mendengus kesal.
"Awas saja kamu, Aruna. Bikin aku susah. Aku akan balas," gumam Silvy sambil menghentakkan kakinya.
***
Sedangkan di rumah, Ibu Salma tengah makan siang bersama dengan Nasya. Aruna memberikan uang satu juta sisa kemarin dia membantu Ibu Lala yang kecopetan. Aruna meminta Ibu Salma untuk membeli sayur atau lauk matang saja. Pasalnya Aruna khawatir dengan kaki Ibu Salma yang masih sakit. Namun Ibu Salma yang ingin mengirit pun memilih untuk memasak saja. Lagi pula jika membeli yang matang, lumayan mahal dan harus mencari lagi saat malam hari untuk makan.
"Nenek, Ibu sekarang sudah bekerja. Nanti tasnya Nasya bisa ganti kan? Soalnya bolong dan resletingnya rusak," ucap Nasya dengan tatapan polosnya.
"Astaga... Kenapa nggak bilang sama Nenek sih, Nasya? Ibu udah tahu?" tanya Ibu Salma terkejut melihat tas Nasya yang sudah tidak layak pakai. Bahkan bagian bawahnya robek karena bahan tasnya sudah tipis.
"Ibu belum tahu soalnya Nasya kasihan. Ibu kan ndak ada uang," ucap Nasya yang tak mau menyusahkan Ibunya.
"Ini Ibumu pasti akan merasa bersalah kalau tahu tasmu begini, Nasya. Habis makan, kita ke pasar. Beli tas baru," ucap Ibu Salma dengan cepat.
"Kata Ibu, Nenek juga ndak ada uang. Besok saja kalau Ibu sudah gajian," ucap Nasya dengan yakin.
Aruna selalu menekankan Nasya untuk tidak merepotkan Neneknya. Pasalnya Ibu Salma itu juga sama susahnya dengan mereka. Apalagi Ibu Salma tidak bekerja dan badannya mudah lelah. Ini sebelum Aruna tahu bahwa mertuanya mempunyai simpanan satu milyar lebih. Namun setelah tahu, Aruna juga meminta Nasya agar tak merepotkan Ibu Salma. Aruna juga sudah bilang pada Nasya bahwa yang membayar pendidikan anaknya sampai kuliah nanti adalah Ibu Salma. Jadi Nasya tidak boleh jahat atau melupakan Ibu Salma.
"Eh... Ada kok. Uangnya masih ada kalau buat beli tas dan sepatu untukmu. Pokoknya habis makan, kita ke pasar." ucap Ibu Salma dengan tegas.
"Nanti Ibu marah lho, Nek." ucap Nasya yang khawatir Aruna akan memarahinya karena membuat Ibu Salma kelelahan.
"Enggak. Nanti Nenek omelin balik," ucap Ibu Salma dengan yakin.
Baik lah. Nasya ikut Nenek,
😁😁😁😁
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
makin seruu cerita ny
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
smangattt hempasssss cpttttt😄💪