"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesal
"Om calo tiket memang menyebalkan. Main tinggal Alka dan Papa. Malah di sini makan sama si ompong," omel Arka saat sudah berada di dekat Carlo dan Azura.
"Azura lapar. Nanti kalau dia pingsan, Om kan bisa diomeli sama Mama dan Papamu. Jadi mending Om bawa Azura beli makanan," ucap Carlo memberikan alasan.
"Pelasaan tadi yang bawa Azula tanpa bilang itu Om calo tiket deh. Kok sekalang jadi Azula yang dijadikan wedhus item," ucap Azura dengan tatapan bingungnya.
"Kambing hitam, ompong dua." seru Arka memperbaiki ucapan Azura.
"Bahasa lomawinya kambing apa? Wedhus kan? Jadi salahnya Azula apa? Aneh semua olang ini," seru Azura tak terima karena disalahkan terus.
Bahasa romawi?
Bahasa jawa kali, Azura. Puyeng Om mengartikan omonganmu itu,
Tampaknya Frans dan Carlo mulai pusing dengan bahasa yang digunakan oleh Azura. Tak hanya bahasa Azura saja, melainkan Arka juga. Mereka yang terbiasa menggunakan bahasa asing dan formal pun sangat kesulitan menerjemahkan ucapan dari Azura juga Arka. Azura sedang makan sempol sesuai keinginan gadis cilik itu. Pasalnya Carlo juga bingung harus membeli apa sehingga menuruti keinginan Azura saja. Dia tak terbiasa beli jajanan seperti ini.
Arka pun duduk di samping Azura kemudian mengambil jajanan di depannya. Sedangkan Frans dan Carlo hanya melihatnya saja. Mereka sama sekali tidak menyentuh jajanan itu. Selain belum pernah makan, keduanya tidak mau mengganggu jajanan Arka dan Azura. Frans mengambil foto Arka dan Azura kemudian mengirimkan pada kedua orangtuanya.
"Papa, ambil foto kita bayal satu juta ya." ucap Arka tiba-tiba tanpa melihat ke arah Frans.
"Astaga... Pelit amat sih. Kan Papa ambil foto anaknya sendiri," ucap Frans tak terima.
"Muka tampan Alka ini aset. Mama saja jadikan foto wajah Alka untuk iklan di media sosial lalu dibayal lho. Jadi kalau mau ambil foto, Papa halus bayal juga." ucap Arka dengan tegas.
"Azula juga jadi model balang-balangnya Mama Aliska. Telus nanti Azula dibayal," ucap Azura dengan antusiasnya.
"Kalau begitu, nanti kalian jadi model perusahaan Papa aja ya." ucap Frans dengan santainya.
"Pelusahaan apa?" tanya Azura dengan tatapan penasarannya.
"Perusahaan obat," jawab Frans dengan santainya.
Hahaha...
Si ompong dua mau jadi model obat panu,
Heh...
Arka langsung tertawa mendengar ucapan dari Frans. Sedangkan Azura mengerucutkan bibirnya sebal. Bisa-bisanya Papanya itu malah menawarkan dia menjadi model di perusahaan obat. Buat apa perusahaan obat itu membutuhkan model. Jika iklan pun akan terbatas karena obat yang diproduksi perusahaan Frans digunakan untuk pengobatan tertentu dan harus ada diagnosis dari Dokter. Frans dan Carlo pun ikut terkekeh pelan mendengar guyonan dari Arka. Hidupnya begitu berwarna akan kehadiran dua bocah cilik di hadapannya ini. Walaupun Azura bukan anak kandungnya, tidak masalah.
"Alka ndak boleh begitu. Masa Azula jadi model obat panu. Padahal kulit Azula nih mulus lho, ndak ada panunya." ucap Azura dengan raut wajah kesalnya.
"Model mah ndak halus ada panu atau apanya, kan kita cuma plomosi balangnya." ucap Arka dengan ledekannya.
"Alka menyebalkan sekali. Masa ya obat panu. Mending plomosi obat bial ndak julid lagi," ucap Azura dengan yakin.
"Julid mah nggak ada obatnya. Tapi ada calanya," ucap Arka memberikan saran dengan raut wajah serius penuh teka-teki.
"Bagaimana calanya bial ndak julid lagi, Alka? Mau Azula kasih ke Mamanya Ichal itu bial ndak ngomongin olang telus," tanya Azura dengan tatapan penasarannya.
Jahit itu bibilnya,
Heh...
***
Mereka pun pulang ke rumah dengan langkah ringan. Semua yang terjadi di taman itu mengajarkan mereka banyak hal. Tidak semua permasalahan harus diselesaikan dengan cara kekerasan. Setiap orang dewasa juga harus mengajarkan dan mencontohkan sesuatu yang baik. Kelak kalau anak kecil melihat, tidak meniru hal yang tak baik. Azura dan Arka berjalan di depan dua orang dewasa sambil bergandengan tangan. Keduanya melompat-lompat kecil karena bahagia bisa merasakan jalan-jalan dan jajan gratis.
"Arka, kenapa kemarin menolak kartu dari Papa? Kan itu bisa kamu buat untuk jajan," tanya Frans mencoba mencari alasan di balik penolakan kartunya.
"Alka ndak butuh, Pa. Alka punya banyak uang. Kalau nanti ndak ada uang, Alka bisa ambil sendili di lekening pelusahaan Papa." jawab Arka dengan santainya.
"Kan lebih mudah ambil langsung dari kartu yang udah ada. Kenapa malah ambil dari rekening perusahaan? Harus pakai kode dan lainnya, itu juga namanya nyolong." ucap Frans memberitahu.
"Alka lagi asah kemampuan, Pa. Kalau ada yang sulit, kenapa halus yang mudah? Kulang menantang," jawab Arka yang sebenarnya ingin membanggakan dirinya sendiri karena di umurnya baru 3 tahun sudah bisa meretas dan mencari uang.
Kaya Tuan Frans kan? Segala sesuatu yang mudah, dibuat rumit. Contohnya nih aku disuruh temani menemui Arka, padahal tinggal berangkat sendiri beres. Kerjaan juga nggak keteteran,
Dihh...
Frans tak terima dikatakan mempersulit sesuatu oleh Carlo. Jika ada Carlo disampingnya, Frans bisa menyuruhnya jadi dia tidak kesusahan. Itu lah tujuan utamanya membawa Carlo bersamanya untuk menemui Ariska dan Arka. Di samping itu, jika nanti dia pusing atau sakit langsung Carlo bisa bertindak. Apalagi dia belum tahu bagaimana respons dari Ariska dan Arka. Saat sampai di rumah, ternyata ada satu mobil lain yang terparkir di halaman toko milik Ariska.
"Mobilnya Om doktel," seru Azura langsung berlari dan melepaskan genggaman tangannya pada Arka.
"Siapa, Arka?" tanya Frans pada anaknya yang tidak ikut berlari. Bahkan terlihat sekali ada perubahan pada raut wajah Arka.
"Doktel bakwan," jawab Arka dengan singkat. Bahkan moodnya sudah berantakan karena melihat mobil itu.
"Bakwan? Itu makanan ya? Dokternya suka membawa bakwan?" tanya Frans dengan pertanyaan yang aneh.
"Tahu lah, Alka sebal." gerutu Arka yang langsung pergi masuk ke dalam rumah dengan kaki dihentakkan.
"Kenapa itu anakmu, Tuan Frans? Tadi Azura senang sekali melihat mobil itu. Berbeda dengan Arka yang tidak antusias sama sekali," ucap Carlo menatap aneh pada perbedaan ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Arka dan Azura.
Keduanya pun segera masuk ke dalam toko milik Ariska. Di sana ada seorang laki-laki dewasa sedang duduk berhadapan dengan Ariska. Frans dan Carlo belum melihat bagaimana wajah dari sosok laki-laki yang tengah berbincang dengan Ariska itu. Namun dari pakaiannya, jelas itu adalah seorang Dokter. Laki-laki itu menggunakan jas putih khas seorang Dokter.
Ehemm...
"Tuan Frans..." seru laki-laki itu saat membalikkan badannya ketika mendengar suara deheman dari arah belakang.
"Dokter Wawan rupanya," ucap Frans sambil menganggukkan kepalanya.
Namanya Wawan, kenapa sama Arka jadi bakwan? Anakku itu emang luar biasa,
Sainganmu, Bos.