Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Akting berasa nyata
Langit sore menggantung kelabu ketika Altair keluar dari gerbang mansion Andrea's. Bau mesiu masih melekat di seragam taktisnya, bercampur dengan aroma hujan yang mulai turun rintik-rintik.
Alih-alih pulang, Altair membelokkan Ducati merahnya ke arah pasar tradisional. Deru mesinnya memecah riuh pedagang yang mulai beres-beres. Ia parkir di antara gerobak sayur dan tukang tambal ban, lalu melangkah masuk dengan kening berkerut. Matanya menyapu deretan kios hingga berhenti pada satu benda: kipas angin kecil, setinggi lutut, berwarna putih pudar.
Dibayarnya tanpa menawar. Dibawanya keluar dengan satu tangan, jaket kulitnya yang basah kuyup ikut menetes ke lantai pasar yang becek.
Ya kali,_ batinnya, _gue biarin dia tidur cuma pakai tanktop di kamar. Bisa-bisa perawan dia hilang. Gue juga laki-laki normal.
Ironi itu membuatnya mendengus geli. Altair, eksekutor yang ditakuti seantero dunia bawah, kini menenteng kipas angin selutut seperti bapak-bapak baru gajian.
Saat hendak menyalakan Ducati, langkahnya terhenti. Di seberang jalan, sosok yang sangat ia kenali baru saja keluar dari gang pasar. Aquilla.
Rambut panjangnya diikat asal, wajahnya tanpa rias dan tangannya... menenteng tiga kantong plastik kresek hitam yang penuh sesak. Di sebelahnya, Saira, sahabatnya sejak SMA, menenteng hal serupa sambil terkekeh.
Pemandangan itu absurd. Altair harus menggigit bibir bagian dalam untuk menahan tawa yang hampir lolos. Aquilla. Perempuan yang dulu keluar dari butik hanya untuk membeli syal seharga motornya, kini berjalan di antara becek pasar sambil menenteng kantong plastik.
Aquilla menoleh. Matanya yang tajam langsung menangkap sosok Altair yang bersandar di Ducati, bahu berguncang menahan tawa. Raut wajahnya seketika berubah masam.
Dengan langkah menghentak yang tidak anggun sama sekali, Aquilla mendekat, diikuti Saira yang sudah pasang wajah menahan geli.
“Ketawa terus,” dengus Aquilla, kedua alisnya bertaut. Air dari ujung rambutnya menetes ke pipi, membuatnya terlihat seperti anak kucing yang kehujanan namun tetap galak.
Altair akhirnya melepas tawanya. Suaranya rendah, berat, dan untuk pertama kalinya terdengar lepas. “Lagian lucu aja,” katanya, dagunya menunjuk ke kantong plastik di tangan Aquilla. “Biasanya keluar dari mall sambil tenteng paperbag Prada, Chanel. Sekarang keluar pasar tenteng kresek item. Turun kasta, Nona Manja?”
_Plak!_
Refleks tangan Aquilla mendarat telak di lengan Altair. Keras. Cukup untuk membuat orang biasa meringis. Namun bagi Altair, tepukan itu hanya seperti digigit semut. Alih-alih kesakitan, tawanya justru semakin keras, menggema di antara atap-atap pasar.
Saira tidak sanggup lagi. Ia tertawa terbahak hingga harus memegangi perutnya. “Ya ampun, Quil. Benar kata kak Al” ledeknya.
Aquilla melotot ke arah sahabatnya, lalu kembali menatap Altair dengan dagu terangkat. “Lo mau jemput gue?” tanyanya, separuh berharap, separuh menantang.
Altair memasukkan kunci ke motor, wajahnya kembali datar. “Kepedean lo.”
Jawaban itu sukses membuat bibir Aquilla mengerucut sempurna. Kesal. Kecewa. Dan Altair menikmatinya.
Saira yang paham situasi segera mencari alasan. “Eh, gue duluan ya. Kayaknya nyokap gue manggil. Tadi nitip beli nih.” Ia mengangkat kantong plastiknya tinggi-tinggi, lalu mengedipkan sebelah mata ke arah Aquilla sebelum berlari kecil menjauh. Kebohongan yang sangat transparan.
Aquilla hanya bisa pasrah. Ditinggalkan di tengah pasar becek dengan seorang suami yang menyebalkan dan sebuah kipas angin selutut.
“Mau pulang nggak?” Altair bertanya lagi, kali ini sambil memasang helm, suaranya teredam.
“Tadinya ngomong bukan jemput gue,” Aquilla masih bersikeras, gengsinya setinggi langit.
“Yaudah kalo nggak mau, lo pulang sama angkot sana.” Altair pura-pura memutar gas, suara Ducati menggerung pelan.
“Ish jangan...” Panik, Aquilla spontan mencengkeram lengan jaket Altair. Sentuhan itu menghentikan Altair seketika. “Bau tahu naik angkot, amit-amit deh,” lanjut Aquilla dengan wajah jijik yang dibuat-buat.
“Harus terbiasa,” balas Altair, tanpa menoleh.
“Iya harus terbiasa, ya nggak naik angkot juga kali. Pengap lagi,” Aquilla mendebat cepat.
Altair mendesah. “Buruan naik.”
Aquilla tidak membantah lagi. Ia menggantungkan kantong-kantong belanjaannya di stang motor. Saat itulah matanya menangkap benda di sisi lain stang. Kipas angin kecil berwarna putih.
“Beli apa?” tanyanya, membiarkan Altair memakaikan helm ke kepalanya. Jari-jari kasar Altair tidak sengaja menyentuh dagunya, dan Aquilla merasakan aliran aneh di dadanya.
“Kipas angin buat lo,” jawab Altair singkat, suaranya datar.
Reaksi Aquilla di luar dugaan. Wajahnya yang cemberut tadi langsung cerah seketika. Matanya berbinar, senyumnya mengembang lebar tanpa rekayasa. “Uh... Al lo baik banget sih!” Serunya girang, dan tanpa ragu ia memeluk lengan Altair erat-erat, pipinya menempel di bahan kulit jaket yang dingin dan basah.
Altair membeku.
Dadanya sesak oleh sesuatu yang tidak ia kenali. Perempuan di hadapannya ini... Aquilla yang sombong, yang membanting ponsel seharga dua puluh juta hanya karena lelet, yang menganggap semua orang di bawahnya, kini bersorak gembira hanya karena sebuah kipas angin selutut. _Apa selama ini dia hanya memakai topeng?_ Pertanyaan itu menggerogoti benaknya.
“Lebay... buruan naik,” desaknya lagi, menyembunyikan kegugupannya dengan ketus.
Aquilla mengangguk patuh. Dengan mudah ia menaiki jok Ducati yang tinggi itu, seolah sudah terbiasa. Tangannya kemudian mencengkeram erat kedua ujung jaket Altair. “Udah,” katanya pelan.
Altair menarik gas. Motor melesat membelah jalanan pasar yang mulai sepi.
“Al... ada genangan air di depan,” rengek Aquilla, suaranya nyaris hilang ditelan angin.
Alih-alih menghindar, Altair justru sengaja mengarahkan motornya tepat ke tengah genangan.
Byur!
Cipratan air kotor berwarna cokelat muncrat tinggi, menghantam dan mengotori sepatu kets putih milik Aquilla hingga mata kakinya.
“Ish Al! Jijik banget sumpah! Lo sengaja kan?” Aquilla menjerit, tangannya refleks menepuk helm Altair dari belakang. Keras.
Jawaban yang ia dapat hanya tawa. Tawa renyah, tulus, yang belum pernah ia dengar dari laki-laki itu. Altair menemukan hobi baru: menjahili istrinya.
Mood Aquilla hancur seketika. Ia bungkam. Sepanjang sisa perjalanan, ia hanya diam, dagunya tidak lagi bersandar di punggung Altair. Hanya jemarinya yang tetap mencengkeram jaket itu, seolah takut terjatuh.
Altair hanya mengedikkan bahunya, tidak peduli. Atau berpura-pura tidak peduli.
Motor berhenti di lampu merah. Dari arah samping, sebuah mobil sport tanpa atap melambat. Di dalamnya, Ruby dan Evan. Sepasang tunangan yang selalu terlihat serasi.
Evan yang duduk di kursi kemudi menoleh. Begitu melihat Altair, ia langsung menurunkan kacamata hitamnya dan tersenyum lebar, senyum yang terlihat tulus bagi siapa pun yang tidak mengenalnya.
“Woi, Al!” sapanya ramah, melambaikan tangan. “Udah lama nggak nongol di base. Sibuk mulu lo.”
Altair menoleh. Di balik kaca helm yang gelap, matanya berubah dingin. Amarah dari kehidupan pertama mendidih di dadanya. Ia masih ingat jelas bagaimana tangan Evan yang sekarang melambai itu, dulu menekan pelatuk ke arahnya dan Steve. Darah Steve di tangannya. Dentuman peluru terakhir. Pengkhianatan itu terpatri di tulang.
Namun di kehidupan ini, topeng harus dipakai lebih dulu daripada senjata.
Altair hanya membalas dengan senyum tipis, nyaris tak terlihat. “Sibuk,” jawabnya pendek. Satu kata. Cukup untuk membalas sapa, tapi tidak cukup untuk disebut ramah.
Ia menahan emosinya kuat-kuat. _Dia masih pasang topeng yang sama,_ batin Altair. _Senyum teman, niat menghancurkan. Tapi kali ini beda. Kali ini gue yang pegang kendali. Kejadian itu tidak akan terulang. Tidak untuk gue, tidak untuk Steve._
Belum sempat Evan berkata lagi, Ruby yang duduk di sampingnya sudah lebih dulu menoleh. Matanya menyipit saat melihat Altair dan Aquilla berdua di atas Ducati.
Dalam sepersekian detik, sebelum Ruby sempat mencerna apa pun, Altair bergerak cepat. Ia meraih tangan Aquilla yang mencengkeram jaketnya, lalu menariknya paksa untuk melingkar di perutnya yang keras.
Aquilla tersentak. Napasnya tercekat. Ia hendak protes, namun saat menoleh dan melihat Ruby di dalam mobil itu, otaknya langsung memahami skenario yang sedang dimainkan suaminya.
Akting.
Bukannya melepaskan, Aquilla justru semakin mengeratkan pelukannya. Ia menempelkan pipinya di punggung tegap Altair, menyamankan posisinya seolah itu adalah hal paling alami di dunia. Jemarinya ia tautkan di perut Altair, posesif.
Dari spion, Altair melihat alisnya terangkat sendiri. Ia menatap bayangan Aquilla yang tiba-tiba menjadi sangat kooperatif. Di saat yang sama, ia juga menangkap rahang Ruby yang mengeras. Sementara Evan, di kursi kemudi, senyumnya sedikit memudar saat melihat kemesraan itu, tapi dengan cepat ia pasang lagi.
Perlahan, Altair mengangkat tangannya sendiri, lalu mengusap lembut punggung tangan Aquilla yang melingkar di perutnya. Gestur itu kecil, namun intim. Dari balik kaca helmnya yang gelap, ia menyunggingkan senyum miring, senyum kemenangan yang hanya ditujukan untuk dua orang di mobil itu. Untuk Ruby, dan terutama untuk Evan.
Lampu hijau menyala. Ducati melesat lebih dulu, meninggalkan mobil sport itu dalam debu dan kebisingan.
Begitu jarak cukup jauh, Aquilla mendesis pelan di belakangnya. “Totalitas banget akting lo, Al.”
Altair tidak langsung menjawab. Ia membiarkan angin sore membungkam mereka selama beberapa detik sebelum akhirnya suaranya terdengar, ketus dan dingin seperti biasa.
“Siapa juga akting. Gue cuma nggak mau lihat lo jatuh. Ribet jadinya kalo harus balik lagi.”
Aquilla mendengus. Ia tahu itu bohong. Tapi anehnya, ia tidak melepaskan pelukannya. Ia justru semakin menyandarkan kepalanya, membiarkan aroma hujan dan keringat Altair memenuhi indranya.