NovelToon NovelToon
Belenggu Cinta Sang CEO

Belenggu Cinta Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Gastor Gaming

Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.

Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puncak Tirani Sang Pemimpin Tertinggi

​Serahkan subjek genetik itu, ucap pria bertopeng emas itu dengan dingin, atau seluruh kota ini akan kami ratakan dengan tanah dalam hitungan lima menit.

​Ancaman itu membeku di udara malam bersama hempasan angin badai yang kian ganas.

Di atas heli pad yang basah dan luluh lantak, moncong meriam gelombang laser dari helikopter siluman itu memancarkan kilatan energi biru keemasan yang makin membesar, siap membumihanguskan apa saja di hadapannya.

​Ratakan seluruh kota?! jerit Anindya dengan napas memburu, mendekap erat perutnya seraya bersandar pada dada Adrian.

Siapa kalian sebenarnya?! Mengapa anak yang bahkan belum lahir ini harus menanggung kegilaan kalian semua?!

​Anindya, jangan lepaskan peganganmu padaku! tegas Adrian dengan suara serak namun penuh intrik keberanian, mencoba memposisikan tubuhnya yang masih lemas untuk melindunginya.

​Pria bertopeng emas itu... desis Baskara dengan rahang menegang tajam, langkah kakinya gemetar hebat saat menatap sosok di pintu helikopter.

Dia bukan sekadar utusan... Dialah Sang Pemimpin Tertinggi dari Konsorsium Genetik Dunia!

​Konsorsium Genetik Dunia? panggil Sarah seraya terus mengacungkan pistolnya ke atas, meski matanya menyiratkan keputusasaan.

Tuan Baskara! Bukankah organisasi itu hanya mitos perkumpulan para taipan medis abad lalu?!

​Mitos yang mengendalikan seluruh perang, industri farmasi, dan nasib miliaran manusia dari balik layar, Agen Sarah! teriak Baskara menembus deru baling-baling.

Alexander, Nyonya Besar, bahkan Eleanor... mereka semua hanyalah boneka lapis bawah yang diperalat oleh pria itu!

​Pria bertopeng emas di atas helikopter terkekeh pelan-sebuah suara buatan dari modulator yang terdengar berat dan menusuk hingga ke tulang belulang.

​Penjelasan yang sangat akurat, Baskara Vane, puji pria bertopeng emas itu dari pengeras suara.

Tiga puluh tahun lalu kau melarikan diri karena ketakutan.

Dan kini, kau menyaksikan sendiri bagaimana benih yang kau sembunyikan telah matang sempurna di dalam rahim putrimu.

​Aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuh Anindya dan anakku! bentak Adrian, menatap lurus ke arah topeng emas tersebut dengan mata hitamnya yang menyala penuh dendam.

Jika Kau ingin menghancurkan kota ini, lakukan sekarang!

Tapi aku pastikan Kau tidak akan pernah mendapatkan sampel genetik ini hidup-hidup!

​Adrian Vane... bisik pria bertopeng emas itu seraya melambaikan jemarinya.

Daya tahan tubuhmu memang menakjubkan setelah menerima darah dari Julian dan Baskara.

Namun keberanianmu hanyalah kebodohan seorang pria yang terbawa emosi.

​Empat menit tersisa di penghitung mundur peledakan orbital! seru sebuah suara otomatis dari pengeras suara helikopter siluman.

​Bzzzt! Bzzzt!

​Julian! panggil Adrian tanpa berpaling dari musuh di atasnya. Kau bilang kau punya senjata dan pasukan dari Sindikat Hitam! Apa yang bisa kau lakukan menghadapi satelit peledak mereka?!

​Julian melangkah berdiri sejajar di samping Adrian, pisau taktis di tangannya berkilat tertimpa cahaya laser. Satelit peledak itu terhubung langsung dengan main frame di dalam helikopter siluman itu, Adrian. Kita harus menghancurkan pemancar sinyalnya sebelum hitungan mundur selesai.

​Tapi jaraknya terlalu jauh! potong Sarah panik.

Meriam laser itu akan membumihanguskan kita begitu kita melompat ke arah helikopter!

​Aku yang akan menjadi umpan! potong Julian cepat, menoleh menatap Adrian dan Anindya.

Adrian... jaga Anindya dan darah keluarga kita.

Biarkan aku yang menyelesaikan urusanku dengan masa lalu ini.

​Julian! Jangan gila! bentak Adrian, mencoba menahan lengan kembarannya.

Kau baru saja menyelamatkan nyawaku! Aku tidak akan membiarkanmu mati konyol di sini!

​Aku hidup selama dua puluh tahun sebagai bayangan tanpa nama, Adrian, sahut Julian dengan senyuman miring di bibirnya, mata kirinya yang berwarna merah memancarkan kedamaian yang aneh.

Malam ini, biarkan aku mati sebagai seorang Vane yang melindungi keluarganya.

​Tidak! Harus ada cara lain! jerit Anindya, air matanya menetes makin deras.

Jangan ada lagi yang dikorbankan demi anak ini!

​Tiga menit tersisa! suara sistem otomatis kembali bergema nyaring.

​Eleanor, yang terkapar di lantai dengan dada bersimbah darah akibat tembakan laser sebelumnya, perlahan terbatuk dan memegang kaki Julian.

Ju... Julian... bawa... bawa aku bersamamu...

​Julian menatap ibunya dengan pandangan dingin tanpa belas kasihan, menepis tangan Eleanor pelan.

Penyesalanmu sudah terlambat, Ibu. Tempatmu adalah di dalam neraka yang kau ciptakan sendiri.

​Dengan satu gerakan cepat dan tak terduga, Julian merogoh dua bom granat elektromagnetik dari balik mantel hitamnya, mencabut pin pengamannya sekaligus, lalu menerjang melompati pagar pembatas heli pad menuju pintu helikopter siluman di udara!

​JULIAN! teriak Adrian dan Anindya serentak.

​BOOM! BZZZZZZT!

​Ledakan emp hebat tercipta tepat di udara saat tubuh Julian menghantam bagian depan meriam laser helikopter siluman tersebut.

Percikan arus listrik biru membakar seluruh panel kontrol penerbangan helikopter, memicu kepulan asap hitam yang tebal dan mematikan sistem senjatanya seketika!

​Argh! Pengacau keparat! bentak pria bertopeng emas saat helikopternya mulai hilang kendali dan terguncang hebat di udara.

​Wush... Brak!

​Helikopter siluman yang terbakar itu terlempar mundur akibat ledakan sistem, menabrak menara pemancar komunikasi di puncak gedung seberang, lalu meluncur jatuh meledak di tengah kegelapan jurang cakrawala kota.

​BOOOOMMM!

​Kobaran api membumbung tinggi dari kejauhan, memancarkan cahaya merah yang menerangi wajah Adrian, Anindya, dan Baskara yang terpaku di tepi heli pad.

​Julian... gumam Anindya seraya menutupi mulutnya, tangisnya pecah meratapi kepergian pria yang baru saja mereka temui itu.

​Adrian mengepalkan tangannya kencang-kencang hingga kukunya menancap di telapak tangan, matanya memerah menahan kesedihan dan amarah yang luar biasa.

Dia... dia mengorbankan dirinya demi kita...

​Hitungan mundur peledakan orbital telah dibatalkan akibat hilangnya sinyal induk! seru Sarah lega setelah memeriksa perangkat peretas di genggamannya.

Satelit itu tidak jadi meledakkan kota!

​Baskara menghembuskan napas panjang, mendatangi Anindya dan Adrian lalu merangkul bahu mereka berdua. Semuanya sudah berakhir...

Konsorsium telah kehilangan pemimpin dan pemancarnya malam ini.

​Apakah benar-benar sudah berakhir, Ayah? tanya Anindya pelan seraya mengelus lembut perutnya yang terasa hangat.

​Namun, sebelum rasa lega itu sempat meresap ke dalam dada mereka, lantai heli pad tempat mereka berdiri mendadak bergetar kembali.

Kali ini bukan karena ledakan atau helikopter, melainkan dari sebuah mekanisme lif bawah tanah yang perlahan terangkat naik tepat di tengah helipad.

​Krrrrk... Klik!

​Pintu lift khusus itu terbuka lebar. Dari dalam remang-remang cahaya lampu neon hijau lif tersebut, melangkah keluar puluhan pria berjas hitam dengan logo naga emas di dada mereka.

​Dan di tengah-tengah pengawalan ketat itu, seorang wanita tua anggun yang mengenakan kursi roda canggih meluncur keluar secara perlahan.

​Wajah wanita tua di atas kursi roda itu sangat keriput, namun matanya memancarkan aura kegelapan yang jauh lebih tua dan mematikan daripada Alexander maupun Eleanor.

​Baskara membelalakkan matanya, lidahnya membeku seketika hingga kakinya lemas jatuh berlutut. Ti... Tidak mungkin... Nenek Buyut... Nenek Buyut Sophia?!

​Wanita tua di atas kursi roda itu tersenyum sangat dingin, menatap Anindya dan Adrian dengan pandangan penuh kemenangan.

​Kalian pikir pria bertopeng emas tadi adalah Pemimpin Tertinggi? ucap wanita tua itu dengan suara parau yang amat menyeramkan.

Pria itu hanyalah prajurit pelindungku. Akulah pencipta darah murni Vane yang sesungguhnya... dan malam ini, cicitku akan lahir di tanganku sendiri.

1
Om Udik
lanjut🙏
Om Udik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!