Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu yang Terkunci dan Nada yang Sunyi
Penyesalan adalah sebuah labirin tanpa pintu keluar, dan Dean baru saja mengunci dirinya sendiri di dalam sana.
Setelah badai konfrontasi yang menghancurkan karier Dania di ruang kerja CEO kemarin sore, Dean tidak bisa lagi menemukan ketenangan dalam duniakorporatnya yang serbapresisi. Angka-angka di layar komputer utamanya kini terlihat seperti deretan dakwaan yang menertawakan kebodohan logikanya. Kamar apartemen mewahnya terasa begitu luas, dingin, dan asing. Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan Valerie yang berdiri dengan tatapan kosong dan punggung yang tegak saat menerima kata putus sebulan lalu selalu hadir memicu denyut perih di dadanya.
Pukul delapan pagi, mobil sedan hitam milik Dean sudah terparkir di pelataran gedung apartemen mahasiswa tempat tinggal Valerie. Dean duduk di balik kemudi dengan tangan yang meremas ponsel pribadinya. Semalaman dia tidak tidur, mencoba mengulang panggilan telepon ke nomor Valerie, namun yang dia dapatkan hanyalah suara operator yang monoton dan sunyi.
“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi...”
Dean membuka pintu mobilnya, melangkah keluar menuju lobi gedung bertingkat itu dengan kemeja kasual yang sedikit kusut di bagian lengan—sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang CEO perfeksionis seperti dirinya. Dia menaiki lift menuju lantai lima belas, tempat di mana unit studio nomor 1502 berada.
Ketika pintu lift berdenting terbuka, lorong apartemen yang sunyi menyambut langkah kakinya yang kaku. Dean berjalan mendekati pintu kayu berwarna putih itu. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan, memompa rasa cemas yang kian pekat. Dia mengangkat tangan kanannya, lalu mengetuk pintu tersebut dengan ketukan yang pelan.
Tok. Tok. Tok.
"Valerie..." panggil Dean, suaranya terdengar lebih rendah dan serak dari biasanya. "Valerie, ini saya, Dean. Tolong buka pintunya sebentar. Saya... saya ingin bicara."
Hening. Tidak ada suara langkah kaki atau tanda-tanda kehidupan dari balik pintu kedap suara itu.
Dean menarik napas pendek melalui hidung, menekan rasa sesak yang mulai mencengkeram dadanya. Dia kembali mengetuk, kali ini dengan sedikit ketegasan yang rapuh. "Valerie, saya sudah tahu semuanya. Saya sudah memegang bukti forensik digital kalau kamu tidak bersalah. Dania yang memfitnahmu, dan hari ini dia sudah menerima konsekuensinya. Saya ke sini murni untuk meminta maaf atas kebodohan sikap saya sebulan lalu. Tolong... beri saya kesempatan satu menit saja untuk menjelaskannya padamu."
Namun, dinding apartemen itu tetap bungkam. Tidak ada balasan kata atau rengkuhan pintu yang terbuka. Nada yang sunyi dari dalam kamar seolah menegaskan bahwa pemiliknya telah menutup rapat-rapat seluruh akses bagi pria yang pernah menghancurkan harga dirinya di masa lalu.
Tiba-tiba, pintu unit apartemen di sebelah kanan nomor 1502 terbuka sedikit. Seorang wanita paruh baya yang merupakan petugas kebersihan lantai apartemen keluar membawa kantong plastik sampah, menatap Dean dengan pandangan heran.
"Cari Mbak Valerie ya, Mas?" tanya petugas tersebut dengan logat ramah.
Dean menoleh cepat, matanya memancarkan setitik harapan yang kian layu. "Iya, Bu. Apakah Valerie ada di dalam? Saya sudah mengetuknya beberapa kali tapi tidak ada jawaban."
Petugas itu menggelengkan kepalanya pelan. "Mbak Valerie sudah berangkat sejak jam tujuh pagi tadi, Mas. Hari ini jadwalnya padat sekali kata dia. Biasanya kalau jam segini dia sudah ada di ruang kelas laboratorium fakultas biologi." Petugas itu menjeda kalimatnya sejenak, mengamati penampilan Dean dari atas ke bawah. "Masnya ini... pacarnya Mbak Valerie yang dulu sering mengantar itu, ya?"
Dean tertegun, lidahnya mendadak terasa kelu untuk menjawab kata 'pacar'. "Saya... iya, Bu."
"Oh, pantesan baru kelihatan lagi. Tapi Mas... akhir-akhir ini Mbak Valerie sudah jarang pulang sendirian. Hampir setiap sore dia selalu diantar pulang oleh mas-mas jangkung yang pakai jaket denim. Mas tingkatnya di kampus kalau tidak salah namanya Mas Carlo. Mbak Valerie kelihatan seneng banget kalau jalan sama dia, ketawanya lepas terus di koridor bawah," cerita petugas itu tanpa bermaksud menyakiti, murni hanya membagikan apa yang dilihatnya sehari-hari.
Kata-kata petugas kebersihan itu bagai hantaman palu godam tak kasat mata yang menghancurkan sisa-sisa harapan di dada Dean. Lorong apartemen yang dingin itu mendadak terasa semakin mencekik lehernya. Mas-mas jangkung berjaket denim. Carlo. Mengingat pemandangan di taman kampus tiga hari lalu, di mana Valerie tertawa begitu bebas dan bahagia di bawah kehangatan tulus pria itu, logika Dean dipaksa menghadapi kenyataan yang teramat pahit: ruang kosong di hati Valerie yang dulu dia tinggalkan dalam keadaan hancur, kini telah mulai diisi oleh kehadiran konsisten pria lain yang jauh lebih layak menjaganya.
"Baik, Bu. Terima kasih informasinya," ucap Dean kaku, memaksakan sebuah anggukan sopan sebelum membalikkan tubuhnya dan melangkah kembali menuju lift dengan perasaan yang sepenuhnya runtuh.
Setibanya di dalam mobil sedan hitamnya, Dean tidak langsung melajukan kendaraannya kembali ke kantor. Dia menyandarkan kepalanya pada kemudi, memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa bersalah yang teramat sangat besar berbaur dengan rindu yang membakar, mengacaukan seluruh skema berpikir rasional yang selama ini dia agungkan dalam hidup.
Dia tahu, membersihkan nama Valerie dari fitnah Dania di duniakorporat ternyata tidak serta-merta menghapus luka batin yang telah dia goreskan di hati gadis itu. Statusnya sekarang bukan lagi seorang kekasih yang protektif, melainkan sesosok masa lalu yang kaku yang telah kehilangan hak moral untuk mendekat.
Dengan sisa tenaganya, Dean meraih ponsel pribadinya kembali. Dia membuka aplikasi pesan teks dan mengetik sebuah pesan panjang untuk dikirimkan ke nomor Tiara—satu-satunya jembatan komunikasi yang tersisa yang tidak memblokir nomornya, meskipun adiknya itu juga sedang bersikap dingin padanya.
“Tiara, saya sudah memecat Dania secara tidak hormat kemarin sore setelah bukti forensik digital membuktikan Valerie tidak salah. Saya menarik seluruh investasi dari bisnis keluarga Timoty. Saya tahu penyesalan saya tidak akan mengubah apa pun, dan saya tahu Valerie sudah memblokir nomor saya total. Tolong sampaikan pada Valerie... saya minta maaf. Saya tidak akan mengganggu proses penyembuhan hatinya atau kebahagiaannya di kampus lagi. Saya memilih mundur demi kebaikan dirinya.”
Klik. Pesan terkirim ke nomor Tiara.
Dean meletakkan ponselnya di atas dashboard mobil, menarik napas panjang untuk menguasai emosinya kembali. Logika bisnis dan ego lak-lakinya harus menerima kekalahan mutlak hari ini. Bagi seorang pria perfeksionis yang selalu berjalan dengan kalkulasi presisi, mundur demi kebahagiaan wanita yang sangat dicintainya adalah satu-satunya keputusan paling logis dan dewasa yang bisa dia ambil, meskipun keputusan itu harus dibayar dengan mengorbankan seluruh ketenangan jiwanya sendiri dalam labirin kesepian yang tak berujung. Roda mobil sedan hitamnya perlahan bergerak meninggalkan pelataran apartemen Valerie, membelah jalanan Jakarta yang bising, membawa pergi sang CEO kaku yang kini harus belajar hidup berdampingan dengan bayang-bayang penyesalan bisu yang terlambat.
Dean telah memilih mundur total dari hidup Valerie demi memberikan jalan bagi kesembuhan hatinya, sementara statusnya tetap memantau dari kejauhan melalui Tiara.