Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Rasa hangat dari jaket varsity milik Jasver tak mampu menghalau dingin yang mengendap di dalam dadanya. Sepanjang perjalanan pulang hingga sampai di kamar, gestur Bumi yang begitu luwes menyampirkan hoodie ke bahu Aery, dan senyum Aery yang mekar sempurna sebagai balasannya terus berputar seperti rekaman rusak di kepalanya.
Jasver merebahkan tubuhnya di kasur tanpa sempat melepas seragam. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap.
Bumi emang beda level, batin Jasver sambil terkekeh pelan pada dirinya sendiri. Gue kelamaan mikir, sok-sokan ragu. Ya jelas keduluan.
Ia mengusap wajahnya kasar, berusaha membuang bayangan Aery yang tenggelam di balik hoodie kebesaran milik Bumi. Namun, makin dicoba dilupakan, rasa sesak yang halus itu makin terasa membakar.
Kruuuk...
Cacing di perutnya mendadak berdemo nyaring memecah heningnya kamar. Jasver melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Rumah berlantai dua itu, seperti biasa, sunyi senyap. Orang tuanya belum pulang, dan meja makan bersih tanpa ada tudung saji yang terisi.
"Apes banget hidup gue hari ini. Udah telat ngasih perhatian, kelaparan pula," gumam Jasver meringis.
Daripada makin kepikiran di dalam kamar yang sepi, Jasver akhirnya bangkit. Ia mengganti seragamnya dengan kaus hitam polos dan celana pendek bermerk lalu menyambar kunci motor serta dompet dan turun ke bawah.
Ia memutuskan menyusuri jalanan kompleks yang basah sisa hujan tadi sore. Udara malam terasa makin menusuk, tapi aroma gurih dari deretan gerobak pedagang kaki lima di persimpangan jalan utama cukup membuat selera makannya bangkit.
Jasver memarkirkan motor matic-nya di depan warung tenda Lamongan yang ditutupi kain bergambar lele, ayam, dan bebek yang khas. Suara minyak panas yang menggoreng ayam dan aroma sambal terasi langsung menyapa penciumannya.
"Pak, bebeknya satu ya! Nasi dan sambalnya sedang! Minumannya es jeruk!" seru Jasver sambil melangkah masuk menunduk melewati spanduk kain.
"Siap, mas!"
Saat Jasver hendak memilih tempat duduk lesehan di spanduk lipat, matanya tak sengaja menangkap sosok cewek berpakaian celana training dan jaket parasit yang sedang duduk sendirian di sudut meja kayu panjang. Gadis itu sedang sibuk mencolek sambal pakai lalapan timun. Rambutnya dikucir asal, dan dahinya sedikit berkerut fokus menatap layar ponsel.
Jasver menaikkan sebelah alisnya. Ia kenal betul postur tubuh dan gaya tomboy itu. "Lah? Farah?!" celetuk Jasver refleks.
Farah yang kaget mendadak mendongak. Tangannya yang memegang potongan timun membeku di udara. Begitu melihat muka Jasver yang berdiri di depannya, mata Farah melebar.
"Jasver?!" seru Farah kaget, hampir tersedak timun. "Ngapain lo di sini?!"
"Mau sholat tahajud! Ya mau makan lah, pake nanya lagi," cerocos Jasver santai, langsung menarik kursi di depan Farah dan duduk tanpa diundang. "Lo sendiri ngapain keluyuran malam-malam begini? Mana sendirian lagi. Ngga takut diculik hantu lele lo?"
Farah memutar matanya malas, berusaha menutupi degupan jantungnya yang mendadak melonjak kencang gara-gara kedatangan Jasver yang tiba-tiba. "Mulut lo ya! Gue habis pulang dari tempat latihan karate di GOR kompleks sebelah, kebetulan lapar makanya mampir ke Lamongan. Lagian rumah gue deket dari sini."
"Oalah, pantesan baunya bau minyak kapak plus ada bau-bau sambel terasinya dikit," goda Jasver sambil menyeringai konyol.
"Jasver, mau gue pukul pake ulekan sambel?!" ancam Farah sambil melempar kemangi ke arah Jasver. Pipinya mendadak terasa sedikit hangat.
Tak lama kemudian, sepiring bebek goreng hangat beserta segelas es jeruk pesanan Jasver mendarat di meja. Jasver langsung mencuci tangannya di kobokan dan menyantapnya dengan lahap. Farah memperhatikan cowok di depannya diam-diam dari balik gelas es teh manisnya.
Farah sadar betul, meski Jasver sekarang sedang tertawa konyol dan lahap memakan bebeknya, raut wajah cowok itu tidak sesegar biasanya. Sorot mata Jasver kelihatan sedikit letih. Tipe letih yang sama saat cowok itu memalingkan wajah di pendopo tadi sore saat melihat Bumi dan Aery.
"Ver," panggil Farah pelan, memecah keheningan di antara desis minyak goreng dan kendaraan yang melintas di luar tenda.
Jasver mendongak dengan mulut masih sibuk mengunyah. "Napa, Far?"
Farah mengaduk-aduk es batu di gelasnya pakai sedotan. "Lo... kenapa sih tadi pas di pendopo?"
Jasver sempat terhenti mengunyah. "Hah? Pendopo mana? Pas si Ren minta kartu gaple?"
"Bukan, bego," sahut Farah pelan, menatap lurus ke mata Jasver. "Pas lo udah nurunin resleting jaket lo... tapi langsung lo naikin lagi gara-gara Bumi udah ngasih hoodie-nya ke Aery."
Deg.
Jasver mendadak tersedak nasi putih. Ia cepat-cepat menyambar gelas es jeruknya dan meminumnya sampai tandas. Muka Jasver berubah kaku, cengiran konyolnya perlahan luntur digantikan oleh raut serba salah.
Jasver tidak menyangka kalau gestur kecilnya yang canggung tadi sore ternyata tertangkap basah oleh Farah. "N-ngomong apaan sih lo, Far? Gue cuma... cuma merasa jaket gue agak ketiup angin aja tadi," elak Jasver heboh, berusaha tertawa meski terdengar sangat garing.
Farah tidak tertawa. Cewek tomboy itu hanya menatap Jasver dengan pandangan yang dalam, campuran antara rasa kasihan, sedikit cemburu yang terendam, dan pengertian.
"Ngga usah bohong sama gue, Ver," bisik Farah pelan namun menusuk. "Mata lo, tuh, ngga bisa bohong kalau lagi ngeliatin Aery."
Jasver terdiam sejenak. Tenggorokannya mendadak terasa kering, padahal baru saja menenggak es jeruk sampai habis. Ia dengan cepat berusaha menguasai raut wajahnya, memaksakan kekehan keras yang sengaja dibuat heboh untuk memecahkan ketegangan diantara mereka.
"Bwahahaha! Ngaco lo, Far! Asli, ngaco banget!" seru Jasver sambil menepuk meja kayu Lamongan itu sampai piring didepannya bergetar. "Lo tuh keseringan kena pukul pas latihan karate ya? Otak lo jadi geser begini!"
Farah tidak menyahut. Ia hanya melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Jasver datar tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.
"Beneran, Far!" Jasver menunjuk dirinya sendiri dengan jari jempol yang masih belepotan. "Gue? Suka sama Aery? Ya kali! Cewek tipe anggun, pinter, dingin kayak pinguin gitu mana masuk kriteria gue. Lagian lo tau sendiri kan, mantan gue si Clara tuh kayak gimana? Beda jauh, bro!"
"Terus kenapa lo ngeliatin dia segitunya pas di pendopo?" tembak Farah cepat, tidak memberi celah untuk Jasver bernapas. "Kenapa tangan lo langsung buka resleting jaket varsity lo pas liat dia kedinginan?"
Jasver mengibaskan tangannya santai, berusaha menunjukkan gestur tubuh paling luwes yang ia punya. "Yaelah, Far, itu refleks yang manusiawi! Gue kan cowok gentleman," cerocos Jasver asal, memamerkan cengiran konyolnya. "Lagian siapa sih yang ngga kasihan liat Aery menggigil kayak anak kucing hanyut gitu? Kalau yang kedinginan saat itu si Ren atau bahkan lo, gue juga bakal minjemin jaket gue, kali!"
"Gue?" Farah menaikkan sebelah alisnya, tersenyum sinis. "Ngga usah bawa-bawa gue. Gue yakin kalau gue yang kedinginan, lo malah bakal ngetawain gue terus nyuruh gue push-up biar anget."
"Nah! Itu tau!" sahut Jasver cepat sambil tertawa kencang, merasa diatas angin karena berhasil mengalihkan topik. "Makanya ngga usah sok-sokan jadi detektif cinta deh lo. Mending itu lele lo habisin, kasihan udah dingin."
Jasver kembali menyambar bebek gorengnya dan memakannya cepat-cepat, seolah-olah fokus utamanya di dunia saat ini hanyalah melahap makanan didepannya. Namun di balik gerakan makannya yang terburu-buru itu, jantung Jasver berdegup kencang. Ia mengutuk dirinya sendiri karena ceroboh. Gila, ternyata si Farah sejelas itu ya merhatiin gue? Bahaya nih kalau sampai bocor ke yang lain, batin Jasver panik.
Sementara itu, Farah hanya memandangi Jasver yang pura-pura sibuk mengunyah. Farah menyuap sendok terakhir nasinya dengan pelan.Tentu saja Farah tidak percaya satu kata pun dari alasan Jasver. Ia kenal Jasver, cowok yang kalau lagi bohong atau salah tingkah pasti bakal makin banyak omong dan tertawanya makin kencang.
Penakut lo, Ver... batin Farah meringis pelan. Ada rasa lega yang tipis karena Jasver menolak mengakui perasaannya, tapi di saat yang sama, dada Farah makin terasa perih. Sebab ia makin sadar, rasa suka Jasver ke Aery sudah sedalam itu sampai Jasver harus bersusah payah membohongi dirinya sendiri dihadapannya.
Sementara di sudut kota yang lain, Aery baru saja selesai mengeringkan rambutnya setelah mandi malam. Kamarnya yang didominasi warna krem dan pencahayaan hangat terasa begitu tenang. Suara gerimis tipis yang membasahi kaca jendela mengiringi lagu mellow yang berputar pelan dari speaker Bluetooth-nya.
Aery berjalan mendekati sandaran kursi belajarnya. Di sana, tergantung hoodie hitam milik Bumi yang tadi sore disampirkan cowok itu ke bahunya. Gadis itu mendekat, lalu dengan gerakan pelan mengusap bahan kainnya yang tebal dan lembut. Ia mendekatkan hoodie itu ke wajahnya, menghirup aromanya tipis-tipis. Aroma maskulin khas minyak wangi Bumi yang menenangkan dan samar-samar tercium seperti perpaduan kayu cendana dan angin hujan masih tertinggal jelas disana.
Aery tersenyum tipis. Mengingat kebaikan Bumi tadi sore selalu berhasil membuat perasaannya terasa hangat. Ia berjalan ke tepi tempat tidur, menyambar ponselnya yang tergeletak di atas kasur, lalu membuka aplikasi chat. Dipilihnya kontak bertuliskan Bumi.
Aery: Bum, makasih banyak ya buat tadi sore. Hoodienya super anget, penyelamat banget pas angin kencang. Nanti hoodienya aku kembaliin lusa yaa, mau aku cuci dulu besok biar wangi.
Tidak sampai satu menit, ponsel Aery bergetar. Balasan dari Bumi langsung masuk.
Bumi: Sama-sama, Ry. Syukurlah kalau membantu, aku agak cemas tadi liat kamu menggigil. Eh, ngga usah dicuci! Langsung balikin aja besok pas di sekolah, gapapa kok.
Aery menaikkan kedua alisnya, jemarinya bergerak cepat menari di atas layar.
Aery: Lho, kok engga boleh dicuci? Kan udah dipake seharian sama aku, Bum. Aneh banget kalau dikembaliin gitu aja wkwk.
Bumi: Ngga aneh kok. Soalnya kalau dicuci nanti wangi detergent kamu, Ry. Nanti malah bukan wangi hoodie aku lagi haha.
Mata Aery melebar membaca balasan Bumi. Pipinya mendadak terasa hangat. Ia tidak menyangka cowok sekalem Bumi bisa melempar candaan–atau barangkali godaan tipis?
Aery: Prabumi! Engga ya, tetep wajib aku cuci! Nanti kalau kotor atau baunya aneh gimana? Pokoknya lusa aku kembalikan dalam kondisi udah wangi pelembut pakaian.
Bumi: Haha iya deh iya, terserah kamu aja, Ry. Tapi makasih ya udah dirawat hoodienya. Jangan lupa minum vitamin, cuaca lagi kurang bagus.
Aery: Siap, Pak Dokter. Kamu juga ya, makasih Bumi.
Aery menutup layar ponselnya, meletakkannya diatas dada sambil memandang langit-langit kamar. Senyum manisnya terukir utuh.
Namun, tepat saat ia hendak mematikan lampu tidur di samping tempat tidurnya, pandangan Aery tak sengaja tertuju pada sepasang TWS warna putih yang tergeletak diatas meja belajarnya. Kejadian saat TWS-nya tertukar dengan milik Jasver saat di sekolah seketika berputar di pikirannya.
Bayangan wajah Jasver yang merah padam sampai ke telinga saat tertangkap basah mendengarkan lagu Katseye, juga momen saat cowok itu mengomeli pilihan lagu Criminal-nya, mendadak berputar ulang di benaknya.
"Yee... lo juga jalan sambil melamun dengerin lagu criminal!"
Aery terkekeh pelan sendirian di dalam kamar yang sunyi. Suara tawa konyol Jasver dan raut wajah salah tingkahnya tadi siang mendadak terasa begitu menggelitik.
Gadis itu mengembuskan napas pelan, menarik selimut hangatnya sampai ke dada. Di malam yang dingin itu, hatinya dipenuhi dua hangat yang berbeda: rasa nyaman dan tenang dari obrolannya dengan Bumi, serta sebuah kekehan geli yang tak disadari terbit gara-gara membayangkan tingkah konyol seorang Jasver.