NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:261k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Koridor lantai khusus dokter di Rumah Sakit Kasih Ibu terasa sunyi dan menegangkan. Langkah kaki Emran Richard berjalan lebih dulu dengan wajah dingin yang sulit dibaca.

Di belakangnya, Dokter Mario dan Dokter Erika ikut berjalan sambil membawa beberapa berkas pemeriksaan. Sementara, Annisa Erlangga diminta menunggu di ruang VIP agar identitasnya tidak diketahui siapa pun.

Sebelum sampai di depan ruangan dokter, Emran akhirnya berhenti. Tatapannya lurus pada Dokter Mario dan Erika.

“Jangan beri tahu Emeli kalau pasien itu Annisa.” Nada suaranya rendah namun penuh tekanan.

Dokter Erika mengernyit kecil.

“Kenapa?”

Emran tersenyum tipis dingin.

“Saya ingin melihat seberapa lama dia bisa berdiri sebelum semuanya runtuh.”

Dokter Mario langsung memahami maksud pria itu.

Emran melanjutkan dengan sorot mata tajam,

"Kalau dia tahu ini tentang Annisa, dia akan bersiap membela diri.”

Tatapannya semakin gelap.

“Dan saya tidak ingin itu.”

Dokter Erika akhirnya mengangguk pelan.

“Baik.”

Setelah itu, ketiganya berjalan menuju ruangan milik Emeli. Dari dalam ruangan terdengar suara kesal wanita itu yang sedang memarahi seorang perawat.

“Kalau pasien VIP datang lagi tanpa jadwal, jangan langsung masukkan—”

Pintu ruangan terbuka keras.

Emeli langsung tersentak. Wanita itu refleks berdiri dari kursinya begitu melihat siapa yang datang.

“D-Dokter Mario?” Wajahnya langsung berubah gugup.

Apalagi saat melihat Dokter Erika ikut masuk dengan wajah dingin.

“Saya...” Emeli buru-buru tersenyum canggung. “Selamat siang, Dok.”

Namun, tak ada yang membalas senyum itu. Suasana mendadak terasa berat. Satu berkas tebal dilempar keras ke atas meja hingga beberapa kertas berserakan di depan Emeli.

Wanita itu langsung membelalak kaget. Tangannya gemetar kecil saat melihat logo pemeriksaan rumah sakit dan beberapa data pasien di sana.

“D-dok?” Tatapan Dokter Erika penuh kemarahan yang ditahan susah payah.

“Jelaskan,” suara dokter senior itu dingin menusuk.

Emeli menelan ludah gugup.

“A-apa maksud Dokter?”

“Jangan pura-pura bodoh!” Bentakan Dokter Erika membuat Emeli langsung pucat.

Sementara di belakang sana, Emran berdiri diam dengan kedua tangan di saku celana. Tatapannya lurus pada Emeli, dan penuh tekanan hingga membuat napas wanita itu mulai terasa sesak tanpa alasan yang jelas.

Ruangan praktik itu terasa semakin sesak. Emeli berdiri kaku di belakang mejanya dengan wajah pucat. Tangannya gemetar kecil memegang berkas yang tadi dilempar oleh Dokter Erika.

Sementara di hadapannya, Emran Richard berdiri diam dengan tatapan dingin yang menekan seluruh ruangan. Pria itu bahkan belum duduk sejak tadi, justru diamnya terasa jauh lebih menakutkan.

Emran melangkah maju satu langkah. Tatapannya lurus pada Emeli.

“Kau telah melanggar kode etik rumah sakit.”

Napas Emeli langsung tercekat.

“Memvonis pasien dengan pemeriksaan palsu.” Suara Emran rendah.

“Kau tahu apa akibatnya?”

Wajah Emeli mulai memucat.

Emran melanjutkan tanpa sedikit pun rasa iba, “Kau akan kena pasal pidana medis, izin praktikmu dicabut.” Tatapannya semakin tajam.

“Dan setelah ini ... kau tidak akan bisa melanjutkan kariermu di kota ini kapan pun.”

Berkas di tangan Emeli hampir terjatuh. Lututnya terasa lemas seketika. Pria di depannya bukan sekadar sedang mengancam. Dia benar-benar mampu menghancurkan hidupnya. Namun, rasa takut itu perlahan berubah menjadi panik dan marah.

“Siapa Anda sebenarnya?!” bentak Emeli dengan suara bergetar.

Tatapannya penuh emosi pada Emran.

“Anda datang-datang langsung menuntut saya?!”

Namun, sebelum Emran menjawab Dokter Mario lebih dulu bersuara dingin.

“Tuan Emran adalah salah satu investor terbesar rumah sakit ini.”

Wajah Emeli langsung membeku. Dokter Mario melanjutkan tegas,

“Beliau punya hak penuh untuk meminta pemecatan dokter yang melanggar kode etik.”

Tubuh Emeli benar-benar terasa dingin sekarang. Tatapannya kembali pada Emran dengan wajah tidak percaya. Orang yang sedang menyerangnya bukan orang biasa.

“Dok ... saya bisa jelaskan...” suara Emeli mulai melemah.

Wanita itu buru-buru menoleh pada Dokter Mario dan Erika.

“Selama ini saya bekerja dengan benar. Saya tidak pernah sengaja—”

“Cukup!” Suara Dokter Erika memotong tajam. Tatapan dokter senior itu penuh kekecewaan.

“Kamu mengecewakan saya, Emeli.”

Air muka Emeli langsung berubah.

“Saya membimbingmu dari awal.” Nada suara Erika mulai bergetar menahan marah.

“Tapi ternyata kamu menggunakan profesimu untuk menghancurkan pasien.”

“Tidak, Dok...” Bantah Emeli.

“Kalau kamu masih punya hati nurani,” potong Erika tajam, “mengaku saja!"

Namun, Emeli justru hanya menangis pelan sambil menggeleng. Melihat itu, Dokter Mario akhirnya menarik napas panjang sebelum berkata tegas,

“Mulai hari ini ... Dokter Emeli resmi diberhentikan dari Rumah Sakit Kasih Ibu.”

Air mata Emeli langsung jatuh deras, hukuman itu belum selesai.

“Saya juga akan mengajukan pencabutan izin praktik Anda ke dewan etik kedokteran.” Suara Dokter Mario terdengar dingin dan final.

“Mulai sekarang, Anda tidak lagi bekerja di rumah sakit ini.”

Tubuh Emeli langsung terduduk lemas di kursinya.

Emran masih berdiri tegak dengan tatapan dingin tanpa sedikit pun rasa kasihan. Suasana ruang praktik itu terasa begitu menyesakkan. Tangisan Emeli pecah memenuhi ruangan setelah keputusan pemecatan dijatuhkan.

Sementara berkas-berkas pemeriksaan masih berserakan di atas meja seperti bukti kehancuran hidupnya sendiri.

Di tengah keadaan itu, Emran Richard sama sekali tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Tatapannya tetap dingin. Pria itu hanya membenarkan jas hitamnya pelan sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan ruangan.

“Dokter Erika...” Suara Emeli pecah penuh tangis.

Wanita itu buru-buru bangkit lalu memegang lengan Dokter Erika dengan tangan gemetar.

“Tolong saya...” Air matanya jatuh semakin deras.

“Saya mohon ... saya bisa jelaskan semuanya...”

Tatapan Erika perlahan jatuh pada tangan Emeli yang mencengkeramnya.

“Kamu bukan lagi dokter yang saya kenal.”

Emeli langsung menangis lebih keras.

“Dok ... saya mohon...”

Erika perlahan melepaskan tangan wanita itu dari lengannya.

“Saya tidak bisa membela orang yang sengaja menghancurkan hidup pasien.”

Sementara Dokter Mario bahkan tidak menoleh lagi. Pria itu hanya berjalan keluar mengikuti Emran tanpa menggubris tangisan Emeli sedikit pun.

Pintu ruangan terbuka.

Dan di luar sana, beberapa perawat yang tadi dimarahi Emeli berdiri memperhatikan. Tatapan mereka kini berubah.

“Itu dokter yang tadi marah-marah...”

“Katanya manipulasi data pasien.”

“Pantas saja...” Bisikan itu membuat wajah Emeli semakin pucat.

Emeli benar-benar merasakan bagaimana rasanya jatuh dari tempat tertinggi dalam satu waktu.

1
mimief
lah..gimana si pak
mau ngasih kejutan
emang kejutan bener si,tapi ga gini juga🫣🤣🤣
mimief
rumahmu Anissa
ambil lagi..
enak amet mereka bisa tinggal gratis 😒
Nadja 🎀
makanya Dido terlalu meremehkan emran.. udah sadar lum? emran itu gak butuh warisan toh dia udh kaya jg memiliki kekuasaan lbh tinggi daripada kmu si bocah!
Jaya Fandi
seruuu,, lanjuuut ka
mimief
semangat say
mimief
semangat say
Dini Anggraini
Sebaiknya USB itu di buat salinannya dan yang asli tetap di tanganmu emran takutnya suatu saat salinannya hilang ataupun musnah yang asli tetap ada. Dido sifatmu persis ortumu demi harta rela menghilangkan nyawa orang lain tanpa mikirkan bagaimana perasaannya anak dan istrinya bila di tinggal meninggal tulang punggung keluarga miris sekali padahal harta itu meskipun di berikan semuanya ke rudi dan keluarganya jangka waktu 3 tahun langsung bangkrut dan jatuh miskin bagaimana nasib kakek luxio nanti. 🥰🥰🥰🥰🥰😡😡
Oma Gavin
anaknya paman emran ternyata dalang nya
Teh Euis Tea
oh ternyata si dido ta kira adrian yg musuh dlm selimut, duh maafkan sku ya pak adrian nuduh km yg jahat🤭
dyah EkaPratiwi
wah ternyata dido kirain adrian
Jaya Fandi
tambah seruu,, lanjuuut ka
Teh Euis Tea
ya ampun othor bisa bgt dah bikin orang penasaran, ini sebenarnya si adrian terlibat x ya, makin penasaran aku
Yeni Astriani
akhirnya pelaku sebenarnya terungkap☺☺
yuuk lanjut lagi Author
Fia Ayu
Aku masih bingung, gimana Caranya itu USB ngerem semuanya ok lah klo suara, bisa masuk akal klo gambar, kan itu rekamann di masukkan ke dalam tempat pen,
Atau itu USB dah di program nyambung ke cctv utama🤔
Aisyah Alfatih: maaf typo kamera tersembunyi
total 2 replies
mimief
tak ada dan tak pernah ada seorang orang tua yg bener bener benci sama anknya
🥹🥹 km
mimief
tak ada dan tak pernah ada seorang orang tua yg bener bener benci sama anknya
🥹🥹
mimief
yah.. begitu laki laki kalau udah enak
suka ga tau diri
mama
ealaa dido
mimief
aku datang thor🥹🥹
Abisatya
lahdalaaaah digantung meneh kayak jemuran Ra garing,,,lanjutlah kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!