NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:32.3k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Beberapa hari berlalu setelah peristiwa malam kelam itu, namun bayangan Nadia tak pernah benar-benar lepas dari benak Aksa. Sementara itu, ketegangan di kediaman Mahendra mencapai puncaknya.

Papa Mahendra duduk di ruang tengah dengan raut wajah melunak dan berusaha meredam ego putra tunggalnya yang sekeras batu, ia memandangi Aksa yang berdiri kaku di dekat jendela dan memiringkan wajahnya dengan tatapan acuh tak acuh.

​"Hanya satu kali, Aksa. Papa tidak minta kamu langsung menyetujui pernikahan ini, bertemu saja dulu dengannya satu kali. Kalau setelah pertemuan itu kamu tetap merasa dia tidak pantas buat kamu atau kamu tidak menyukainya, Papa janji tidak akan pernah membahas perjodohan ini lagi seumur hidupmu," ucap Papa Mahendra dengan suara rendah namun penuh penekanan.

​Aksa diam sejenak, manik matanya yang pekat menatap sang ayah dan menimbang tawaran tersebut. ​"Oke, hanya satu kali. Dan setelah ini, Papa harus pegang janji Papa untuk tidak lagi mencampuri kehidupan pribadi Aksa," balas Aksa dingin, suaranya sarat akan kepastian.

​"Oke, Papa janji," sahut Papa Mahendra lega.

​Keesokan harinya, sebuah mobil sedan hitam mewah membelah kawasan pemukiman padat dan terpencil di pinggiran kota. Jalannya sempit, berkali-kali menyajikan pemandangan deretan rumah tua yang bersahaja.

​Aksa yang duduk di kursi belakang bersama Papa Mahendra mengerutkan dahi, ia merasa tidak asing dengan suasana jalanan berdebu ini, namun ia menepis pikirannya. Di mata Aksa, kedatangan mereka ke rumah kumuh seperti ini hanyalah formalitas buang-buang waktu.

​Mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah kayu sederhana dengan halaman kecil yang bersih, ​Papa Mahendra merapikan jasnya dan melangkah turun penuh rasa hormat, disusul Aksa yang melangkah dengan keangkuhan dinginnya. Namun, begitu langkah kaki mereka sampai di ambang pintu yang sedikit terbuka, raut wajah Aksa seketika membeku total.

​Di dalam ruangan tamu yang sempit itu, seorang gadis sedang sibuk mengelap meja kayu dengan kain lap basah. Gadis itu mengenakan pakaian sederhana membungkus tubuh ringkih yang amat sangat Aksa kenali.

​"Nadia...?" panggil Papa Mahendra lembut.

​Gadis itu tersentak pelan, Nadia membalikkan badannya dengan cepat. Ketika matanya menangkap sosok Papa Mahendra, pria yang wajahnya sangat mirip dengan foto teman almarhum ayahnya, matanya berbinar haru.

Namun, saat pandangannya bergeser ke samping, menatap sosok pria jangkung bertubuh tegap di sebelah Papa Mahendra, napas Nadia seketika tertahan di tenggorokan. ​Di sana, berdiri Aksa. Bagi Nadia, Aksa adalah penyelamatnya, dan kini pria itu berdiri tepat di dalam rumah sederhananya.

​"Tu-Tuan Aksa...?" gumam Nadia pelan, jemarinya bergetar hebat hingga kain lap di tangannya hampir terjatuh.

​Di sisi lain, jantung Aksa serasa dihantam godam raksasa. Matanya melebar, urat-urat di lehernya menegang saat kenyataan pahit itu menghantam kesadarannya tanpa ampun.

​'Jadi, anak temannya Papa yang mau dijodohkan denganku itu Nadia,' batin Aksa murka pada takdir.

​Aksa teringat kata-kata pedasnya sendiri di ruang kerja papanya beberapa hari lalu, dimana ia menolak perjodohan ini karena ia tidak mau memiliki istri yang tidak bisa bicara. Namun, kini semuanya justru berbalik menghantam dadanya seperti bumerang yang beracun.

​Papa Mahendra yang tidak menyadari riak gejolak mematikan di antara mereka berdua melangkah maju dan menatap Nadia dengan mata berkaca-kaca penuh penyesalan.

​"Nadia... ini Om, nak. Om Mahendra, teman almarhum Ayah kamu, maafkan Om baru menemukanmu sekarang... Maafkan Om membiarkanmu berjuang sendirian di tempat sekeras ini," ujar Papa Mahendra dengan suara serak.

​Nadia menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata bening meluncur deras membasahi pipinya yang masih menampakkan bekas memar tipis. Dengan jemari bergetar, ia mengambil buku tulis kecilnya di meja dan mengetik pesan.

​[Om Mahendra... Ayah sering cerita tentang Om dulu, terima kasih sudah berkunjung ke rumah sederhana kami]

​Papa Mahendra membaca tulisan itu dan mengusap bahu Nadia penuh kasih, lalu menoleh ke belakang dan menatap sang putra yang masih berdiri mematung bagaikan patung es di tengah ruangan.

​"Aksa, sini," panggil Papa Mahendra.

"Ini Nadia, anak dari teman Papa, yang Papa ceritakan sebelumnya," lanjut Papa Mahendra, saat Aksa sudah didekatnya.

​Aksa melangkah mendekat dengan sangat pelan, setiap pijakan kakinya terasa begitu berat. Tatapan pekatnya terkunci lurus pada mata bulat Nadia yang jernih namun menyiratkan kepasrahan dan kejutan yang sama besarnya.

​Nadia menatap Aksa, jemarinya yang masih bergetar perlahan mengetik di buku tulisnya, lalu mengarahkannya ke depan dada Aksa dengan senyuman tipis yang amat tulus.

​[Tuan Aksa... ternyata Tuan adalah putra dari Om Mahendra? Dunia benar-benar sempit, terima kasih sekali lagi untuk bantuan Tuan.]

​Membaca tulisan polos itu, ego dan kesombongan Aksa hancur berkeping-keping. Pria yang tak pernah tunduk pada siapapun itu kini merasakan sesak luar biasa di dadanya, perasaan bersalah, gengsi dan ketertarikan yang coba ia sangkal selama ini mendadak meledak menjadi satu.

​Papa Mahendra memandangi keduanya ganti-berganti dengan dahi berkerut bingung. "Kalian... sudah saling kenal sebelumnya?" tanya Papa Mahendra heran.

Aksa membeku. Pertanyaan sang ayah menggantung di udara ruangan yang sempit itu, beradu dengan aroma kayu tua dan sisa wangi cendana dari tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Aksa, lidahnya yang biasa tajam dan penuh kendali mendadak terasa kelu.

​Nadia reflek menundukkan kepala. Jemari tangannya meremas pinggiran buku tulis kecilnya, ada ketakutan terselip di hatinya. Ia takut jika menceritakan bahwa mereka bertemu di Eternity Club, hal itu justru akan mencoreng nama baik Aksa di depan ayahnya sendiri dan Nadia tidak ingin pria yang telah menjadi pahlawannya itu mendapat masalah.

​[Tuan Aksa pernah membantu saya saat saya mendapat kesulitan di jalan beberapa hari lalu, Om. Tuan Aksa orang yang sangat baik.]

​Papa Mahendra menaikkan alisnya, matanya berpindah menatap sang putra dengan pandangan tidak percaya sekaligus penuh rasa ingin tahu. "Oh ya? Kamu mau menolong orang, Aksa? Papa tidak tahu kamu punya sisi dermawan seperti itu," sindir Papa Mahendra.

​Aksa berdehem keras untuk menutupi gejolak di dadanya, ia mengepalkan tangan di samping tubuhnya dan memalingkan wajah sedikit dari tatapan jernih Nadia yang tampak sengaja melindunginya dari kebenaran tentang pekerjaan malamnya, kepolosan dan kebaikan gadis itu justru terasa bagaikan tamparan yang makin memanjakan rasa bersalah di ulu hati Aksa.

​"Cuma kebetulan, Pa," jawab Aksa singkat dengan suara beratnya yang kini terdengar agak kaku.

​Papa Mahendra tersenyum lebar, keheningan canggung itu diartikannya sebagai takdir yang manis. Ia menepuk bahu Aksa pelan, lalu kembali menatap Nadia dengan raut wajah penuh keseriusan dan kasih sayang seorang Ayah.

.

.

.

Bersambung.....

1
Ari Sawitri
wali nya Nadia siapa? trs kok sebulan Aksa tdk mencari tahu siapa calon istri nya.. harusnya klu mencari tahu kan bs aja mslh di campusnya diselesaikan Aksa .. kok ceritanya lurus aja ya 🤨😕
Aidil Kenzie Zie
puasa y Aksa🤔🤔🤭🤭🤭
erviana erastus
kan konsekuensi gtu nadia ..... harusx dr awal kamu tolak lamaran aksa bukan mau lari stlh pny anak 😏
erviana erastus: ho oh ...
total 2 replies
erviana erastus
eh monic nggak lama giliran km nyusul tamara ... hati2 nadia itu kesayangan Aksa
Felycia Fernandez
Gak jelas apa mau mu Monic?? iri kah?? atau anak mu nggak di pilih Aksa dulunya...
Syifa Fauziah
mdh2 Aksa menyadari dan tahu knpa nadia tiba-tiba nangis
Felycia Fernandez
bukan capek,tapi setres dengan perkataan onty kalian yang bermulut durjana😤
Felycia Fernandez
kenapa nggak Elang panggilan nya,lebih bagus lagi
erviana erastus
mantap eh pasangan ini sama² berengsek Alhamdulillah nadia selamat dan dinikahi aksa
Felycia Fernandez
luar binasa 😆😆😆😆
erviana erastus
tamara sama roy asli nambah masalah
Felycia Fernandez
bener banget tebakan mu Nad 😆😆😆
erviana erastus
roy kamu itu bersyukur masih bisa bernafas loh ngerik eh datang ke nadia dgn tdk tau malux minta pertolongan buat tamara .... sakit kamu roy 🤬
erviana erastus
anak durhakim kau aksa 🤣 mamax dilarang berkunjung
Felycia Fernandez
kurang ajar si Aksa,mama nya datang tapi di larang 🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
walah 🤣🤣🤣🤣🤣
aku juga pernah ngidam tengah malam,pengen makan kolak ubi campur pisang,tapi Nadia luar biasa ngidamnya malah pengen setrika 🤣🤣🤣
erviana erastus
ngidam nyetrika baju 🤣
erviana erastus
emang bisa ya aksa 🤣 puasa selama 3 bulan
erviana erastus
hadehhhh kalo diawal muncul garis keduax emang lambat nadia oneng banget sih .... 🤭
Felycia Fernandez
percaya tespek dari dokter ,gtu???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!