✦ JERAT TIGA SISI ✦
"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"
Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.
Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.
Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.
Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.
Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kurungan Emas dan Kembalinya Bayang Masalalu
Pagi hari di kediaman keluarga Gunawan, tidak pernah diawali dengan kehangatan mentari, melainkan dengan ketegangan pekat, yang merayap di balik denting sendok perak.
Di ujung meja makan panjang, Papah duduk dengan koran bisnis di tangannya, memancarkan aura otoritas yang dingin, dan menuntut kepatuhan mutlak dari semua orang.
Sementara di sisi kiri meja, Tante Shafira sibuk mengoles selai ke atas roti, dengan gerakan yang sengaja dibuat seanggun mungkin, sangat bertolak belakang dengan sepasang mata liciknya, yang terus bergerak mengawasi gerak-gerik Azira.
"Papah sudah mengatur jadwal pertunanganmu dengan Baskara, akhir minggu ini," suara berat Papah memecah keheningan, terdengar begitu mutlak dan tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Beliau meletakkan korannya, menatap Azira dengan sepasang mata yang haus akan pangkat dan takhta korporasi.
"Jangan anggap kelakuan tidak sopanmu semalam di restoran, bisa menghapus perjodohan ini, Azira." Tegas Papah.
"Papah tidak mau tahu, kamu harus bersikap manis dan setuju. Jika kamu berani mengacaukan pertunangan ini, Papah tidak akan segan-segan menghentikan seluruh fasilitas, memblokir rekeningmu, dan memastikan kamu tidak akan bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi seumur hidupmu." lanjut Papah penuh ancaman.
Azira mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja, menahan gejolak penolakan yang membakar dadanya hingga bergetar. Ancaman Papah selalu sama dan berulang sejak dulu, harta, fasilitas, dan pengusiran. Pria paruh baya itu benar-benar menganggapnya sebagai bidak, yang tidak punya hak untuk menentukan hidup sendiri.
Belum sempat Azira membuka mulut untuk membalas, suara cicitan manja dari Sendy sengaja menyela, dengan nada pasif-agresif yang memuakkan.
"Iya nih, Kak Azira kok egois banget, sih?" Sendy memajukan bibirnya, berlagak prihatin padahal matanya berkilat penuh rasa iri dan dengki.
"Harusnya Kakak itu bersyukur setengah mati dijodohkan sama CEO sesukses Kak Baskara. Kalau aku yang ada di posisi Kakak, aku pasti bakal langsung terima dengan senang hati tanpa banyak drama. Kasihan Papah, sudah capek-capek memikirkan masa depan keluarga, tapi Kak Azira malah pasang muka cemberut terus."
"Sendy benar, Sayang," Tante Shafira menimpali dengan senyuman madu yang manipulatif.
Wanita itu mengusap punggung tangan Papah lembut, seolah-olah dia adalah sosok istri yang paling bijaksana di dunia.
"Kamu itu sudah dewasa, Azira. Jangan kekanak-kanakan dengan memikirkan cinta omong kosong. Baskara Prayoga itu aset berharga bagi masa depan kita. Jangan sampai karena keegoisanmu, nama baik keluarga Gunawan jadi jelek di mata kolega bisnis Papah. Lagipula, wanita sastra sepertimu mau cari pria seperti apa lagi, kalau bukan yang kaya raya?"
Sindiran halus dari ibu tiri, dan adik tirinya berpadu sempurna dengan tatapan mengancam dari Papah. Mereka bertiga bergerak seperti sekutu pemburu, yang siap menguliti harga diri Azira, demi ambisi mereka masing-masing.
Terjebak di antara ancaman dan manipulasi beracun ini, Azira menyadari satu hal dengan sangat menyakitkan, rumah megah ini bukan lagi tempat berteduh, melainkan sebuah sangkar besi yang perlahan-lahan sedang mencekik kebebasannya sampai habis.
Kata-kata penuh racun dari ketiga orang di hadapannya, membuat sisa kesabaran Azira menguap tanpa bekas. Rasa muak yang teramat sangat mendorongnya untuk berdiri dengan sentakan keras, hingga kursi makannya bergeser, dan menimbulkan suara decit yang memekakkan telinga. Seluruh meja makan mendadak bungkam.
"Cukup!" Azira menatap Papah, Tante Shafira, dan Sendy bergantian dengan sepasang mata yang berkilat tajam oleh amarah yang membara.
"Ambil! Ambil semua fasilitas yang Papah banggakan itu, Blokir rekeningku, sita mobilku, aku tidak peduli sedikit pun, Aku lebih baik hidup luntang-lantung di luar sana, daripada harus tinggal satu atap dengan manusia-manusia yang tega menjual anaknya sendiri, demi pangkat dan uang!"
Sendy dan Tante Shafira terpekik syok, memegangi dada mereka, sementara wajah Papah seketika memerah padam karena murka yang luar biasa. "Azira, Berani kamu"
"Aku menolak perjodohan ini, dan aku akan pergi dari rumah ini sekarang juga". Potong Azira lantang.
Dia berbalik, berniat melangkah lebar menuju kamarnya di lantai atas, untuk mengemas barang-barang berharganya.
"Jaga pintu depan! Jangan biarkan dia keluar!" bentakan menggelegar Papah, membuat dua pengawal berbadan tegap yang berjaga di luar ruang makan, langsung bergerak cepat. Sebelum Azira sempat mencapai tangga, kedua pengawal itu sudah menjegal langkahnya dengan kasar.
"Lepaskan aku! Papah, apa-apaan ini?!" teriak Azira histeris saat kedua pengawal itu mencengkeram lengannya, tidak membiarkannya melangkah ke pintu keluar.
Papah berjalan mendekat dengan napas memburu, tatapannya sedingin monster yang tidak punya hati.
"Kamu pikir kamu bisa merusak rencana besar yang sudah Papah bangun bertahun-tahun, Azira? Tidak akan pernah. Bawa dia ke kamarnya sekarang! Kunci pintunya dari luar dan sita semua alat komunikasinya. Dia tidak boleh keluar selangkah pun sampai hari pertunangannya dengan Baskara tiba!"
"Papah jahat! Lepaskan aku!" Azira memberontak sekuat tenaga, namun tenaganya kalah jauh. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Sendy menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat puas, sementara Tante Shafira berpura-pura mengelus dada seolah Azira adalah anak durhaka yang tidak tahu untung.
Brak!
Tubuh Azira didorong masuk ke dalam kamarnya sendiri. Detik berikutnya, suara anak kunci yang diputar dari luar terdengar begitu nyata, disusul dengan keheningan yang mencekam.
Azira menggedor pintu kayu kamarnya berkali-kali hingga tangannya memar, namun tidak ada jawaban. Di dalam kamar yang luas, kini berubah fungsi menjadi penjara berlapis emas, Azira luruh ke lantai. Air mata frustrasinya tumpah. Dia terkurung, sendirian, tanpa ponsel, dan tanpa tahu bagaimana caranya meminta bantuan kepada Farhan.
...****************...
Sementara itu, di koridor rumah sakit yang sibuk, Farhan tidak bisa fokus pada tumpukan rekam medis di hadapannya. Matanya terus melirik layar ponsel yang gelap. Nihil. Tidak ada satu pun balasan pesan atau panggilan telepon yang diangkat oleh Azira,sejak pagi tadi. Ini sangat tidak biasa, Azira tidak pernah menghilang seharian tanpa kabar, terutama setelah malam traumatis di restoran itu.
Firasat buruk mulai mencengkeram dada Farhan dengan kuat. Mengabaikan rasa lelahnya setelah shift panjang, Farhan menyambar jaket dan nekat mengendarai motornya, membelah jalanan kota menuju kediaman Gunawan. Pria itu tahu, posisinya hanya seorang sahabat, tetapi rasa cemasnya telah mengalahkan batas logika.
Begitu tiba, di depan gerbang tinggi rumah mewah itu, Farhan langsung dicegat oleh dua pengawal berbadan tegap. Beruntung, Tante Shafira kebetulan sedang berada di teras depan, mengawasi para pelayan yang sibuk menata dekorasi awal, untuk acara pertunangan.
Melihat kehadiran Farhan, langkah wanita paruh baya itu berayun mendekat, dengan senyum sinis yang meremehkan.
"Cari siapa, Dokter Farhan?" tanya Tante Shafira dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, sarat akan keangkuhan yang memuakkan.
"Kalau mau cari Azira, sebaiknya kamu pulang sekarang. Mulai hari ini, Azira tidak punya waktu untuk meladeni seorang teman yang tidak punya kepentingan bisnis dengan keluarga kami." Lanjut Tante Shafira.
Farhan berusaha keras menahan emosinya, meremas kunci motor di dalam saku jaketnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Saya hanya ingin memastikan keadaan Azira, Tante. Ponselnya tidak bisa dihubungi seharian. Apa dia baik-baik saja?"
Tante Shafira tertawa renyah, sebuah tawa palsu yang terdengar sangat merendahkan. "Tentu saja dia baik, Dia sedang beristirahat di kamarnya, mempersiapkan diri untuk hari pertunangan megahnya dengan Baskara Prayoga akhir minggu ini. Jadi, tolong tahu diri, Farhan."
Wanita itu melangkah satu kali lagi, menatap Farhan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan muak.
"Kamu itu hanya dokter biasa, Farhan. Gajimu sebulan bahkan tidak akan cukup untuk membeli satu buah gaun yang akan dipakai Azira, di pesta pertunangannya nanti. Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi, untuk terus berada di dekat Azira. Dunia kalian sudah berbeda, Azira akan menjadi istri seorang CEO konglomerat, sedangkan kamu". Melihat Farhan dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Kamu tidak akan pernah bisa menaikkan pangkat suamiku. Jadi, angkat kakimu dari rumah ini sekarang juga, sebelum saya menyuruh pengawal menyeretmu keluar!". Lanjut Tante Shafira, meremehkan.
Kata-kata beracun Tante Shafira, menghantam harga diri Farhan dengan telak. Rahang dokter muda itu mengeras, tangannya mengepal kuat. Dia tidak peduli dihina miskin, tetapi kenyataan bahwa Azira akan segera bertunangan dan mungkin sedang dikurung di dalam sana, membuat hatinya teriris.
Farhan mundur selangkah, menatap lantai atas rumah itu, berharap Azira bisa mendengar kehadirannya. Namun yang terdengar, hanyalah perintah ketus Tante Shafira kepada pengawal, untuk menutup gerbang rapat-rapat di depan wajahnya. Farhan berdiri mematung di luar pagar pembatas, terisolasi dari wanita yang sangat ingin ia selamatkan.
Sementara itu, di dalam kesunyian kamar yang dingin, telinga Azira mendadak menangkap suara raungan mesin motor, yang sangat ia kenal di depan gerbang. Detik berikutnya, terdengar suara lengkingan cacian Tante Shafira yang nyaring, samar-samar menembus kaca jendela kamar atas.
Farhan. Nama itu langsung terbersit di benak Azira, jantungnya berdegup kencang, Ia berlari panik menuju jendela, berusaha membukanya, namun jendela kayu itu ternyata sudah dipaku mati dari luar, oleh anak buah Papah sejak siang tadi. Azira menempelkan telinganya ke kaca, mati-matian mencoba mendengarkan apa yang terjadi di bawah sana.
Setiap kata hinaan yang dilontarkan Tante Shafira kepada Farhan, terdengar seperti belati yang menyayat dada Azira. Dia bisa membayangkan bagaimana harga diri pria berjas putih yang selalu menghangatkan bahunya itu, sedang diinjak-injak dengan kejam oleh ibu tirinya. Hanya karena Farhan adalah seorang dokter biasa, yang tidak bisa memberi suapan pangkat bagi Papah.
"Jangan, Tante... jangan hina Farhan," bisik Azira parau, air matanya luruh semakin deras menuruni pipi.
Azira beralih ke pintu kamarnya. Dia memukul permukaan kayu itu dengan sisa tenaga yang ia miliki, melupakan rasa perih di kepalan tangannya yang mulai memar.
"Buka pintunya, Papah, Tante Shafira, Lepaskan Farhan, Dia tidak tahu apa-apa!" teriak Azira histeris, namun suaranya diredam oleh dinding-dinding tebal rumah beracun ini.
Ketika suara deru motor Farhan perlahan menjauh dan menghilang ditelan bisingnya jalanan, tubuh Azira luruh ke lantai di balik pintu. Dia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata frustrasi.
Di tengah isak tangisnya yang sesak, rasa bersalah yang amat sangat mengurung hatinya. Azira tidak lagi mencemaskan nasibnya sendiri, yang sebentar lagi akan digiring ke altar pertunangan bersama Baskara. Fokusnya kini hanya satu, dia hanya bisa berdoa dan berharap dalam hati, semoga pria setulus Farhan akan baik-baik saja setelah menerima luka sedalam itu demi dirinya.
......................
Malam pun jatuh, mengganti langit jingga menjadi kegelapan yang pekat. Azira masih terduduk lemas di sudut kamar yang gelap gulita tanpa lampu. Perutnya berbunyi perih, namun rasa lapar itu kalah oleh rasa hancur di hatinya.
Tiba-tiba, sebuah suara ketukan halus terdengar. Bukan dari pintu kamar yang dikunci, melainkan dari arah balkon luar kamarnya.
Tok... Tok... Tok...
Azira tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana mungkin ada orang di balkon lantai dua, Dengan langkah gemetar, Azira mendekati pintu kaca balkon yang untungnya tidak dipaku mati. Ia menyibak tirai tipis, dan matanya seketika membelalak lebar.
Di balik kaca, berdiri seorang pria jangkung dengan setelan jas abu-abu gelap yang sangat elegan. Pria itu memegang sebuah senter kecil, dan sebuah ponsel hitam di tangannya. Ketika cahaya bulan menerangi wajah pria itu, Azira merasa napasnya tercekat di tenggorokan. Ketampanan pria itu begitu asimetris dan tajam, namun senyuman yang terukir di bibirnya terasa sangat familier dari masa lalunya yang terkubur.
Pria itu menggeser pintu kaca balkon yang ternyata tidak terkunci dari dalam, lalu melangkah masuk ke dalam kamar penjara Azira dengan gerakan seringai kucing.
"Lama tidak bertemu, Zira-ku," suara pria itu terdengar begitu berat, seksi, namun membawa getaran manipulatif yang membuat bulu kuduk Azira meremang.
"Kamu... kamu..." Azira mundur selangkah, otaknya berputar keras mencari memori masa kecil. "Gavin? Gavin Manzies?"
Pria itu, Gavin Manzies tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi. Dia melangkah maju, memangkas jarak, lalu mengulurkan tangannya untuk menghapus sisa air mata di pipi Azira, dengan ibu jarinya yang dingin. Sentuhan Gavin terasa begitu posesif, seolah-olah ia sedang menyentuh barang berharga miliknya yang sempat hilang.
"Iya, ini aku, teman masa kecilmu yang memegang janji setiamu," bisik Gavin, matanya berkilat penuh obsesi gila di dalam kegelapan.
Gavin mengangkat ponsel hitam di tangannya dan menyodorkannya pada Azira.
"Aku melihat semuanya dari bawah tadi, Zira. Aku melihat bagaimana ibu tirimu mengusir dokter miskin itu, dan bagaimana Papahmu mengurungmu seperti burung hiasan."
Gavin memiringkan kepalanya, menatap Azira dengan tatapan penuh simpati yang dibuat-buat, namun sangat meyakinkan. "Gunakan ponsel ini untuk menghubungi siapa pun yang kamu mau, termasuk dokter itu. Tapi ingat, Zira"
"CEO sombong bernama Baskara itu tidak akan melepaskanmu, dan dokter itu terlalu lemah untuk menyelamatkanmu dari Papahmu. Hanya aku, hanya Gavin mu yang punya kekuasaan untuk menghancurkan pernikahan bisnismu dan membawamu keluar dari neraka ini. Jadi, bersandarlah padaku, ya?". Lanjut Gavin.
Azira menatap ponsel di tangan Gavin dengan bimbang. Di satu sisi, pria ini adalah penyelamatnya malam ini, namun di sisi lain, Azira bisa merasakan ada jerat tak kasat mata yang jauh lebih berbahaya dan manipulatif, dari dalam sepasang mata terobsesi milik Gavin Manzies.
Gavin mengulas senyum misterius dan menyodorkan ponsel hitam itu.
"Gunakan ini untuk menghubungi doktermu, Zira. Bersandarlah padaku."
Azira menatap ponsel itu, lalu menatap mata Gavin yang berkilat obsesif. Nalurinya berteriak bahwa pria di depannya ini bukan lagi Gavin yang dulu, ada jerat berbahaya di balik kebaikannya.
"Tidak, Gavin. Terima kasih," Azira mundur selangkah, menolak ponsel itu dengan tegas.
"Aku tidak bisa menerima ini. Pergilah sebelum pengawal Papah melihatmu." Gavin menarik kembali ponselnya tanpa marah.
Senyumnya justru semakin melebar, dingin dan penuh teka-teki.
"Kamu masih keras kepala seperti dulu, Zira. Tapi tidak apa-apa, kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan di sangkar emas ini sebelum akhirnya memohon padaku."
Setelah membisikkan kalimat itu, Gavin melangkah mundur ke balkon, dan kemudian menghilang ditelan kegelapan malam, meninggalkan Azira yang mendekap dadanya yang bergetar ketakutan.