Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 - AKTINGAN YANG BURUK INI
Teh yang masih mengepul di cangkir itu sudah lama berubah dingin, tetapi tak seorang pun di ruang tamu Puri Senja berniat menyentuhnya. Pangeran Panji duduk dengan punggung yang sedikit menegang, sesekali melirik gulungan lukisan yang tergeletak di pangkuan Nalendra dengan mata penuh harap, lalu menarik napas panjang dan menelan seluruh keberaniannya sebelum mengutarakan maksud hatinya. Bulan purnama di luar jendela jatuh temaram, dan lampu minyak di sudut ruangan berkedip-kedip seperti menahan napas bersama mereka.
"Pangeran Nalendra," kata Pangeran Panji pelan, "mengenai lukisan yang tadi... kudengar kau selalu melukis satu per satu untuk kusimpan. Apakah kali ini aku tidak mendapatkannya?" Nalendra tidak menjawab, hanya menatapnya datar tanpa berkedip. Pertemanan mereka yang sudah bertahun-tahun itu hampir menghabiskan seluruh kata-katanya, dan Pangeran Panji akhirnya mengerti bahwa permintaannya akan ditolak dengan halus tanpa ada ruang untuk memaksa. Ia menghela napas pelan, mengaku kalah sebelum bertanding.
Di sampingnya, Wulan menyaksikan seluruh adegan itu dengan perasaan rumit. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana ruang kerja di kediamannya dipenuhi lukisan yang dulu ayahnya dapatkan dari Nalendra, semuanya tampak dilukis dengan tangan sang pangeran sendiri — deretan lanskap pegunungan yang menjulang, taman yang bermekaran seolah hidup, hingga potret-potret yang nyaris tak berbentuk namun tetap membuat siapa pun yang melihatnya iri. Jika lukisan seperti itu hanyalah benda biasa, tentu ayahnya tidak akan menyimpannya dengan hati-hati seperti harta karun keluarga, bahkan sampai menolak memberikannya kepada siapa pun.
Lalu wajah Wulan berubah pucat seketika. Ingatannya melayang jauh ke masa lalu ketika ia bertengkar hebat dengan Waskita hingga belasan lukisan di ruang kerja itu rusak tercabik-cabik tak berbentuk. Saat itu Adipati Pramana menangis tersedu-sedu dan hampir pingsan, mengira lukisan-lukisan berharga itu hancur total tanpa sisa, padahal pemicu sebenarnya hanyalah sarang tikus mondok yang membuat seluruh kediaman keluarga Ardani geger sepanjang malam. Ayahnya mengamuk tanpa henti, dan kejadian itu menjadi salah satu kenangan paling memalukan dalam hidup Wulan.
Sekarang, setelah mendengar percakapan Pangeran Panji dan mengingat kembali lukisan-lukisan yang pernah ia rusakkan itu, tangan Wulan tanpa sadar mengepal erat di balik lipatan kain. Betapa borosnya tangannya waktu itu! Andaikan ia bisa memutar waktu, ia akan menyeret Waskita menjauh sejauh mungkin dari ruang kerja itu sebelum segalanya terjadi, bahkan jika harus mengikat kakinya terlebih dahulu.
Wulan dengan hati-hati memindahkan cangkir teh di tangannya ke samping meja. Ia takut bila secara tidak sengaja menumpahkan setetes pun ke atas gulungan lukisan itu, maka selamanya ia tidak akan pernah lagi berkesempatan meminta lukisan dari Nalendra. Gerakannya pelan dan kikuk, seolah memindahkan beling yang siap melukai kapan saja, dan setiap jentikan jarinya terasa berat.
Namun, begitu Nalendra melihat gerakan waspada itu, sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman yang nyaris tak terlihat. Ia menurunkan gulungan lukisan dari pangkuannya dan meletakkannya dengan rapi di rak di sampingnya, jauh dari jangkauan cangkir teh sekaligus di luar jangkauan mata yang serakah. Tindakan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Wulan menghela napas lega.
Pangeran Panji menatap lukisan itu dengan mata serakah, lalu menyadari bahwa Nalendra sama sekali tidak berniat memberikannya. Ia mengerutkan bibir dengan kecewa, memaksa diri melepaskan keinginannya, lalu mengganti topik pembicaraan dengan nada riang. "Perburuan musim gugur di Gunung Salju beberapa hari lalu cukup seru. Ayahku menangkap seekor rubah salju dan memberikannya kepada ibuku, sungguh menggemaskan. Ibuku memintaku bertanya — apakah kau menginginkannya?"
"Rubah salju?" Nalendra mengangkat sebelah alis dengan heran. Ia sudah tumbuh sebesar ini, untuk apa memelihara binatang kecil yang hanya akan merepotkan dan menuntut perhatian sepanjang hari?
Pangeran Panji yang sudah mengenal Nalendra bertahun-tahun segera menangkap maksud dari tatapan tajam itu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Wulan dan mengerutkan bibir penuh arti. Tentu saja ia tahu Nalendra tidak tertarik pada rubah kecil semacam ini, tetapi itu belum tentu berlaku untuk gadis kecil seperti Wulan. Bukankah semua gadis di usianya menyukai binatang berbulu halus yang lucu dan menggemaskan, apa pun bentuknya?
Rupanya Selir Marina hanya ingin bertanya kepada Wulan — apakah ia menyukai rubah salju itu atau tidak. Pangeran Panji pun berharap Wulan akan menyambut tawaran itu dengan senang hati, sehingga suasana ruangan yang kaku dan menyesakkan ini bisa sedikit mencair dan menjadi lebih hangat.
Tanpa diduga, sebelum Nalendra sempat mengajukan pertanyaan itu, Wulan tiba-tiba menjerit nyaring dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan Nalendra dengan kedua tangan terentang lebar, seolah-olah sedang dikejar hantu.
Jeritan itu sama sekali tidak mengejutkan Nalendra, tetapi membuat tangan Pangeran Panji gemetar. Ia tak sempat memegang cangkir teh di tangannya, dan teh hangat tumpah membasahi separuh lengan bajunya hingga menetes ke lantai, meninggalkan genangan yang tidak sempat ia pedulikan.
Wulan bahkan tidak melirik Pangeran Panji sedikit pun dari sudut matanya. Ia hanya memasang ekspresi ketakutan yang dibuat-buat semaksimal mungkin, memeluk Nalendra erat-erat dengan kedua tangannya, lalu berteriak dengan suara gemetar yang ia coba buat selembut dan setakut mungkin. "Ah —! Rubah Salju! Nalendra, aku sangat takut. Rubah salju itu sangat menakutkan!"
"..." Pangeran Panji menatap kemampuan aktingnya yang buruk itu dengan mata setengah menyipit, dan sudut mulutnya berkedut hebat. Ini benar-benar di luar batas kesopanan.
Hiss — wajah gadis ini berubah begitu cepat. Siapa yang menyangka Nona Ketujuh keluarga Adipati Ardani ini tidak pernah takut pada langit maupun bumi sejak kecil? Ia ternyata sangat berani dan tak kenal takut. Jika diberi sebatang bambu, ia berani menusuk langit sampai berlubang, apalagi hanya sekadar berpura-pura ketakutan di depan seekor binatang kecil yang tak berbahaya.
Terlebih lagi, Pangeran Panji masih ingat dengan jelas bahwa pada perjamuan perburuan musim semi awal tahun ini, Wulan mencuri perhatian semua orang dengan ilmu langkah anginnya yang luar biasa memukau. Ia berani berburu seekor beruang hitam beserta anak-anaknya sendirian tanpa sedikit pun rasa takut, membuat anak-anak keluarga bangsawan yang hanya berburu kelinci dan rubah merasa malu hingga hampir tidak berani mengangkat kepala di depan orang banyak.
Orang seperti itu — yang berani pergi jauh ke pedalaman Gunung Salju untuk berburu binatang buas sendirian — akan takut pada seekor rubah salju kecil? Hanya hantu yang mau mempercayainya.
Saat hendak membongkarnya, Pangeran Panji tiba-tiba merasakan tatapan sinis datang dari arah atas kepalanya. Ia mendongak dan melihat Wulan yang sedang dimanja dalam pelukan Nalendra melotot ke arahnya dengan ekspresi mengancam yang terpampang jelas di wajahnya. Emosinya diungkapkan dengan gamblang tanpa perlu kata-kata: Jika kau berani membongkarku, kau akan merasakan akibatnya, Pangeran Panji!