NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

"A-Ayah...?" suara Jordan keluar dengan gemetar dari tenggorokannya yang menyempit.

Pria itu meringis kesakitan seraya memegangi rahang kirinya yang berdenyut hebat.

Arthur Carlton melangkah maju dengan tatapan mata sehitam jelaga, penuh dengan kemurkaan yang tak tertahankan. Aura dominan sang pemimpin memenuhi seluruh sudut kamar VIP rumah sakit hingga membuat udara terasa mencekik.

"Kau benar-benar membuatku malu, Jordan!" bentak Arthur dengan suara berat yang menggelegar.

"Tidak cukup kau mempermalukan keluarga dengan kelakuan murahanmu di rumah, sekarang kau malah mau memukul wanita yang sedang terbaring lemah di rumah sakit?!"

"Ayah, dengarkan aku dulu! Ini salah paham!" panggil Jordan gagap, berusaha merangkak bangun.

"Vanessa sengaja menjebakku! Dia tidak bilang kalau alergi makanan laut agar Ayah menghukumku!"

"Tutup mulutmu!" potong Arthur tanpa ampun. Tatapannya dingin bak es di kutub.

"Pengawal! Seret dia!"

Dua pengawal bertubuh tegap yang berjaga di luar kamar segera melangkah masuk dan mencengkeram kedua lengan Jordan dengan cengkeraman sekuat besi.

"Bawa dia ke rumah utama! Kurung dia di aula leluhur! Dia harus berlutut di sana tanpa makan dan minum sampai besok pagi!" perintah Arthur tegas. "Dan mulai detik ini, bekukan seluruh kartu kredit, rekening pribadi, dan jatah uang bulanan milik Jordan!"

Wajah Jordan yang tadinya pucat kini berubah sepenuhnya menjadi seputih kertas. Hukuman berlutut di aula leluhur sudah cukup menyiksa, tetapi pembekuan seluruh aset finansialnya adalah hukuman mati bagi gaya hidup mewahnya.

"Ayah! Jangan, Ayah! Aku mohon padamu!" jerit Jordan panik. Ia mulai memberontak kasar, berusaha melepaskan diri dari himpitan para pengawal.

"Aku salah, Ayah! Ampuni aku! Jangan bekukan fasilitasku!"

Saat tubuhnya mulai diseret melintasi lantai marmer, mata Jordan yang liar menangkap sosok Vanessa di atas ranjang.

"Vanessa! Tolong aku! Katakan pada Ayah kalau ini cuma salah paham! Vanessa, tolong bicaralah!"

Vanessa hanya diam. Dengan dingin dan perlahan, wanita itu memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan menatap Jordan walau sekilas pun.

Penolakan bisu itu menjadi penutup keputusasaan Jordan sebelum suaranya perlahan menghilang menelusuri koridor.

Setelah keheningan melingkupi ruangan, Arthur membalikkan badan. Matanya tertuju cukup lama pada Alessio yang masih berdiri tenang di sudut ruangan.

Ada riak emosi yang rumit di mata Arthur saat menatap putra bungsunya itu, namun Alessio hanya membalasnya dengan tatapan datar tak tersentuh.

Arthur kemudian mengalihkan fokus sepenuhnya pada ranjang perawatan, melangkah mendekat dengan raut wajah yang melunak.

"Bagaimana keadaanmu, Vanessa?" tanya Arthur penuh perhatian, sebuah sikap yang sangat bertolak belakang dengan kemurkaannya beberapa detik lalu.

Vanessa menghela napas pendek. Ia menatap wajah tegas pria paruh baya di hadapannya.

"Paman Arthur... bisakah pernikahan ku dengan Jordan dibatalkan saja?"

Ruangan mendadak hening. Benny Grey dan Rika menahan napas mereka.

"Aku sudah hampir kehilangan nyawa sekali karena perbuatan Jordan hari ini," lanjut Vanessa dengan nada bergetar namun penuh ketegasan.

"Di masa depan, tidak ada jaminan kejadian yang sama tidak akan terulang lagi jika pernikahan ini tetap dipaksakan terjadi."

Arthur menggelengkan kepala secara tegas.

"Tidak, Vanessa. Pernikahan ini harus tetap terlaksana. Aku berjanji padamu, kali ini aku sendiri yang akan mendidik Jordan dengan tangan besi sampai dia benar-benar sadar."

Arthur lalu memalingkan tubuhnya, menatap tajam ke arah Benny Grey yang berdiri kaku.

"Dan kau, Benny," tegas Arthur, suaranya kembali dingin. "Beri pengertian pada anakmu, Yessika, agar tahu diri dan tidak terlalu dekat dengan Jordan."

Yessika yang berada di atas kursi roda tersentak pelan.

"Ingat, Yessika adalah calon tunangan Alessio," lanjut Arthur tanpa kompromi. "Jika dia masih berani menggoda Jordan dan menghasut Jordan untuk terus menyudutkan Vanessa, maka acara perjodohan Yessika dan Alessio akan batal saat ini juga."

Benny Grey menyapu keringat dingin di dahinya dan membungkuk dalam-dalam. "M-mohon maafkan kami, Tuan Arthur... Kami akan mendidik Yessika lebih baik..."

"Satu hal lagi yang harus kau ingat, Benny," potong Arthur dengan nada mengintimidasi yang sangat pekat. "Jika Vanessa masih memperoleh ketidakadilan atau penderitaan gara-gara anak harammu ini, maka aku sendiri yang akan menghancurkan seluruh bisnis Keluarga Grey hingga tak bersisa."

Kata 'anak haram' yang diucapkan Arthur bagai sembilu yang menusuk tepat di dada Yessika. Gadis itu seketika menundukkan kepala sangat dalam, wajahnya memerah padam menahan malu yang teramat sangat. Status kelahirannya dikuliti secara telanjang di depan semua orang.

"Perjodohan antara Vanessa dan Jordan ada karena perjanjian lama antara ayahku dan ayah mertuamu, kakek kandung Vanessa," sambung Arthur dingin. "Jadi jika Keluarga Grey hancur, itu bukan tanggung jawab Keluarga Carlton. Orang yang kami tempati untuk membalas budi hanyalah Vanessa, bukan kau... apalagi anak harammu."

Benny gemetar hebat. "Saya mengerti, Tuan... Saya berjanji akan memperlakukan Vanessa jauh lebih baik setelah ini."

"Munafik sekali," gumam Alessio pelan dari sudut ruangan. Suara bisikannya yang sarat akan sindiran tajam terdengar jelas di tengah keheningan. Tanpa membuang waktu, Alessio berbalik dan melangkah keluar meninggalkan kamar VIP tersebut.

Arthur menatap punggung Alessio yang menjauh. Ia lalu menoleh kembali pada Benny. "Bawa istri dan anakmu keluar dari sini sekarang juga. Jangan ganggu Vanessa! Dia harus istirahat."

Tanpa berani membantah, Benny segera mendorong kursi roda Yessika keluar dengan terburu-buru, diikuti oleh Rika yang memasang raut wajah penuh dendam namun tak berdaya.

Arthur menghela napas berat, lalu menyusul langkah Alessio keluar menuju area taman rumah sakit yang sepi.

---

Di bawah naungan pohon rindang di taman rumah sakit, Alessio berdiri menyandar pada pilar batu sambil menikmati udara sore. Langkah kaki Arthur yang mendekat tidak membuat posisinya bergeser sedikit pun.

"Bagaimana kabarmu selama sepuluh tahun di luar negeri, Alessio?" tanya Arthur, membuka pembicaraan dengan suara yang terdengar lebih pelan dari biasanya.

Alessio terkekeh sinis tanpa menoleh. "Setidaknya aku masih hidup. Walaupun harus bertahan tanpa bantuan sedikit pun dari Ayah kandungku selama sepuluh tahun terakhir."

Dahi Arthur berkerut dalam. "Apa maksudmu? Aku selalu menyuruh orang untuk mengirimkan uang bulanan dalam jumlah yang lebih dari cukup tepat waktu ke rekeningmu."

Alessio akhirnya menoleh, menyunggingkan senyum ejekan yang penuh kepahitan. "Oh ya? Dan siapa orang terpercaya yang Anda suruh untuk menjalankan tugas mulia itu, Tuan Besar Arthur?"

"Sekretaris pribadiku," jawab Arthur mantap.

Alessio melangkah mendekati ayahnya, menatap lurus ke dalam iris mata pria paruh baya itu dengan pandangan yang menusuk.

"Kalau begitu, saranku... cari tahu secara teliti mulai hari ini," bisik Alessio dingin. "Periksa kembali setiap transaksi itu. Apakah sekretaris kesayangan Anda benar-benar melakukan tugasnya sesuai perintah... atau dia justru menyelewengkan uang itu dan memberikannya pada orang lain?"

1
ryuka
bagusss vanesaa.. mati kutu kan kamu yesika
Mundri Astuti
kalo sebaliknya berarti Jordan yg merat 😛
Titi Liana
suka
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
Tri Handayani
seru semakin seru, up lagi donk kak
rurry Irianty
KK outhor up banyak² yaaa
Muft Smoker
aaaaaa gregeeet ,,

lanjuut kak ,,
ryuka
adduuhhh alesioo semoga rencana kamu berhasil ya
Tri Handayani
up lagi kpn thor🤭🤭🤭
ryuka: 🤭🤭🤭🫠🫠 ku tunggu up nya thoorrr
total 1 replies
Muft Smoker
kata aq mh udh aj pergi Vanessa toh klo 22 ny gx nikah ma km ,, 22 ny juga gx bakal dpat tahta yg mereka ingin kan ,,
Allea
ahh percuma vanes ngancam2 si arthur😅
Ayu Padi
jgn mau Vanessa
Mundri Astuti
kayanya ada sesuatu yg disembunyikan Arthur y, apa Jordan anak Arthur sama emaknya Kunti yak🤔
ryuka
gilaaa.. gillaaaa.. bpak nya gila
Muft Smoker
mungkin tuan Arthur bisa tutup mata dg kelakuan Jordan,, tp tanpa dsadari ia telah membangunkan singa yg sdang tidur ,,
Muft Smoker
ke tunggu peperangan tu terjadi ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏
Muft Smoker
karena hanya aq yg peduli dg harta mu ,,, hrus ny km ngomong ny bgtu yessika ,, 😏😏😏😏
Mundri Astuti
makin seru ini
ryuka
manttaaabbb alesiooo 🔥🔥🔥
Tri Handayani
ku tunggu up selanjutnya ka😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!