Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Gedung Pratama Tower berdiri megah menembus langit ibu kota, memantulkan bias cahaya matahari siang yang menyengat dari balik dinding kaca floor-to-ceiling di lantai lima puluh. Ruang kerja utama Rangga Pratama adalah sebuah mahakarya arsitektur modern berbalut kemewahan minimalis. Didominasi oleh warna monokrom, aksen kayu eboni gelap, dan sentuhan marmer hitam Carrara, ruangan itu memancarkan aura kekuasaan mutlak seorang pemimpin korporasi raksasa.
Di balik meja kerja besar dari kayu mahoni utuh, Rangga duduk dengan postur tegap sempurna. Hari ini, kesibukan kantor menuntut konsentrasi penuh dari sang CEO muda. Jemari tangannya yang panjang bergerak lincah di atas papan ketik laptop ultrabook berdesain eksklusif, mengetik serangkaian laporan keuangan kuartal ketiga yang harus segera ditinjau sebelum rapat besar dengan para direktur dimulai.
Ada pemandangan yang sedikit berbeda dari penampilan Rangga hari ini. Batang hidungnya yang mancung dan tegas kini berhiaskan sepasang kacamata baca berbingkai titanium tipis dengan lensa anti-radiasi. Kacamata berdesain klasik modern itu seolah menegaskan garis rahangnya yang kokoh, mempertajam tatapan matanya yang dingin, dan memancarkan pesona intelektual tingkat tinggi yang sanggup membuat siapa saja—terutama para karyawati yang berlalu-lalang di luar ruangan—menahan napas jika memandangnya.
Pria itu tampak begitu memukau, perpaduan sempurna antara ketampanan maskulin dan otoritas bisnis yang tak terbantahkan.
Di layar laptopnya, grafik penjualan dan laporan dividen perusahaan bergeser cepat. Namun, di balik konsentrasinya pada urusan angka-angka jutaan dolar milik Pratama Group, ada satu hal lain yang sejak tadi mengusik sudut pikirannya: pesan singkat investigasi yang dijanjikan oleh Pak Darma mengenai toko roti kecil milik istrinya, Sweet Crumb.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk berbunyi lembut dari komputer meja kerjanya, disusul oleh sebuah dokumen berformat PDF berenkripsi tinggi yang dikirimkan langsung oleh sang asisten pribadi.
Rangga menghentikan ketikannya sejenak. Jemarinya meraih dan membuka dokumen tersebut dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh keyakinan mutlak. Di dalam hatinya, Rangga sudah menyiapkan skenario: ia akan menemukan tumpukan utang, manajemen yang berantakan, perizinan yang hampir kedaluwarsa, atau laporan keuangan compang-camping dari toko roti Rania. Dengan data itu, ia bisa dengan mudah menekan sang istri, menjadikannya bahan sandera negosiasi, dan memaksa gadis garang itu tunduk di bawah telapak kakinya.
Rangga menyandarkan punggungnya ke kursi kerja berlapis kulit impor, merapikan letak kacamatanya, lalu mulai membaca baris demi baris laporan investigasi komprehensif yang disusun oleh Pak Darma.
Pada halaman pertama, tertera profil singkat dari toko roti Sweet Crumb. Alamatnya berada di kawasan komersial strategis pusat kota. Rangga mengangguk kecil, menganggap lokasi itu wajar. Namun, begitu matanya bergeser ke halaman kedua—bagian analisis keuangan dan performa bisnis—gerakan napas Rangga mendadak melambat.
Matanya melebar di balik lensa kacamata titaniumnya. Dahinya mengerut dalam-dalam.
Omzet bulanan bersih: konsisten di angka ratusan juta rupiah.
Tingkat retensi pelanggan (customer retention rate): di atas delapan puluh lima persen.
Status hukum kepemilikan ruko: Lunas, dibeli atas nama pribadi Rania Pratama dari hasil kerja kerasnya sendiri tanpa ada sepeser pun kucuran dana pinjaman bank atau bantuan keluarga.
Rangga mengerjapkan matanya sekali lagi, mengira ia salah membaca deretan angka di layar. Ia menggulir ke halaman berikutnya, membaca lampiran data ulasan publik dan media sosial mengenai toko roti tersebut.
Ternyata, Sweet Crumb bukanlah sekadar toko roti pinggir jalan yang kumuh seperti asumsi meremehkan yang ia ucapkan pagi tadi. Toko itu telah menjadi sebuah fenomena kuliner urban yang sangat viral di kalangan pencinta pastry ibu kota. Produk unggulan mereka—mulai dari artisan sourdough, croissant berlapis mentega impor, hingga tart pernikahan pesanan khusus—mendapatkan ulasan bintang lima di berbagai platform digital terkemuka. Bahkan, beberapa food vlogger terkenal sering kali antre berjam-jam secara diam-diam hanya untuk mencicipi menu edisi terbatas buatan toko tersebut.
Lebih mengejutkannya lagi, laporan itu mencatat bahwa Rania mengelola seluruh operasional keuangannya dengan tingkat efisiensi yang luar biasa jenius. Tidak ada pemborosan, manajemen rantai pasok bahan baku yang sangat ketat, serta loyalitas karyawan yang begitu tinggi karena sistem bagi hasil yang adil diterapkan oleh sang pemilik.
Rangga terdiam seribu bahasa. Kursi kerjanya terasa mendadak kaku.
Semua asumsi sinis yang ia bangun sejak kemarin sore—bahwa Rania hanyalah gadis manja numpang hidup, bahwa toko rotinya adalah bisnis main-main yang akan bangkrut dalam sebulan, bahwa istrinya itu tidak punya daya tawar apa pun selain memeras kekayaan keluarga Pratama—hancur berkeping-keping dalam waktu kurang dari lima menit pembacaan laporan.
Toko roti itu mandiri. Toko roti itu sukses besar. Dan yang lebih menampar harga diri seorang CEO besar sepertinya Sweet Crumb mendulang keuntungan fantastis tanpa pernah sedikit pun bergantung pada nama besar keluarga Pratama atau uang sepeser pun dari suaminya.
Di dalam keheningan ruang kerja mewah itu, Rangga melepaskan kacamatanya perlahan, meletakkannya di atas meja kerja, lalu memijat pangkal hidungnya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan—campuran antara rasa takjub, tidak percaya, dan sedikit rasa malu yang membakar tengkuknya.
"Sial..." gumam Rangga pelan, suaranya nyaris berbisik di antara dinding ruang kerja yang kedap suara. "Bagaimana bisa gadis yang hobinya marah-marah, matre, dan pelit itu ternyata... mengelola bisnis seketat dan sebesar itu di belakangku?"
Pria itu kembali menatap layar laptopnya, meneliti grafik pertumbuhan omzet Sweet Crumb yang terus meroket tajam selama dua tahun terakhir. Semakin ia membaca detail kerja keras yang ditanamkan Rania di balik kesuksesan toko tersebut, semakin pula dinding pertahanan sinis di dalam dada Rangga runtuh perlahan.
Ia teringat kembali pada bagaimana Rania mengamuk di ruang rias saat diancam toko rotinya akan dibakar. Ia teringat bagaimana wanita itu mati-matian mempertahankan tempat usahanya, bukan karena haus harta, melainkan karena itu adalah keringat dan darah yang ia bangun dari nol seorang diri.
Dan entah dari sudut mana datangnya, di balik rasa gengsi dan keterkejutannya sebagai seorang CEO yang terbiasa mendominasi, sebuah sensasi asing tiba-tiba menyusup ke dalam lubuk hati Rangga paling dalam.
Sebuah rasa... Bangga.
Ya, rasa bangga yang aneh dan tidak masuk akal. Rangga menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menepis perasaan itu, namun sudut bibirnya justru tanpa sadar terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Istri dadakannya, gadis garang berbalut kemeja flanel yang tadi pagi memandangnya dengan tatapan jijik, ternyata memiliki otak bisnis dan kemandirian mental yang jauh melampaui para sosialita kelas atas yang selama ini mengelilingi lingkaran pergaulannya.
"Hebat juga kucing garong satu itu," bisik Rangga pada dirinya sendiri, menyandarkan punggungnya kembali ke kursi sambil menatap kosong ke arah langit Jakarta dari balik kaca raksasa. "Dia menyembunyikan taring dan cakarnya rapat-rapat di balik omelan kasarnya."
Rangga merapikan kembali dokumen laporan tersebut, menutup filenya, lalu mengenakan kacamatanya kembali. Meski harga dirinya sebagai seorang pria dominan sempat tersaingi oleh pencapaian sang istri, ada satu hal baru yang kini disadari oleh Rangga: permainan pernikahan kontrak ini ternyata jauh lebih menarik daripada yang ia bayangkan sebelumnya.
Di balik dinding dingin penthouse mereka, pertempuran ego antara sang CEO arogan dan sang ratu roti mandiri baru saja memasuki babak baru yang jauh lebih menantang.
•
•
•
•