Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 – Kenangan di Bawah Langit Malam
Malam merayap perlahan menyelimuti hutan lebat, membungkus segala sesuatu dalam kesunyian yang lembut namun mendalam. Bulan purnama menggantung bulat sempurna di langit tanpa awan, cahayanya yang putih keperakan menyebar membasahi permukaan danau yang tenang, hingga air itu tampak seperti hamparan kristal cair yang berkilauan di bawah sinar rembulan. Pepohonan tinggi menjulang seperti penjaga diam, membiaskan bayang-bayang panjang di atas rumput. Suara jangkrik yang bersahutan di semak belukar dan desir angin yang menyapu dedaunan menjadi satu-satunya irama yang terdengar di sekitar rumah kayu Mizuna—irama damai yang seolah tak ingin terputus selamanya.
Di dalam ruangan kecil yang hangat, Haruto tertidur pulas di atas kasur jerami yang dilapisi kain tebal. Napasnya teratur, satu tangannya terulur ke tepi tempat tidur, wajahnya rileks seolah tidak memikul beban apa pun di dunia ini.
"Zzz..."
Di samping bantalnya, Pochi tidur meringkuk nyenyak. Tubuh kenyalnya perlahan melebar dan menebal, berubah menjadi bantal empuk berwarna biru muda yang pas sekali di bawah kepala Haruto. Sesekali slime itu mendesah pelan, memancarkan getaran halus yang membuat ujung rambut Haruto sedikit bergerak.
"Pyoo..."
Tanpa sadar, tangan Haruto meraba-raba ke samping, lalu memeluk erat tubuh lunak Pochi seolah sedang memeluk guling. Ia bergumam pelan dalam tidurnya, suaranya samar tak jelas.
"Rotiku... jangan dimakan... masih setengah..."
Pochi seolah mengerti, menggeser sedikit tubuhnya agar lebih nyaman di pelukan itu, lalu menjawab dengan suara tak kalah samar.
"Pyoo..."
Di luar rumah, udara malam terasa lebih dingin, menusuk kulit meski tidak menyakitkan. Daichi duduk diam di bangku kayu tua yang menghadap lurus ke tengah danau. Di tangannya tergenggam cangkir keramik berisi teh hangat, uap tipis mengepul perlahan ke udara sebelum lenyap begitu saja. Matanya menatap pantulan bulan di permukaan air, namun pikirannya melayang jauh ke masa yang sudah lama berlalu.
Belum lama berlalu, suara langkah kaki halus terdengar mendekat. Mizuna keluar dari pintu rumah, mengenakan jubah tebal tambahan berwarna biru tua, sambil membawa dua cangkir teh yang masih mengepul hangat. Ia berhenti di samping bangku itu.
"Boleh aku duduk di sini?"
Daichi menoleh sedikit, lalu tersenyum tipis dan mengangguk. "Tentu saja. Tempat ini milikmu, bukan?"
Mizuna duduk dengan tenang, meletakkan satu cangkir di meja kecil di depan Daichi dan menyimpan satu lagi di pangkuannya.
Untuk beberapa lama, keduanya hanya diam menikmati suasana malam, mendengarkan suara alam dan menatap cahaya bulan yang berkilau di atas air. Tidak ada keharusan untuk bicara—kebersamaan diam pun sudah cukup berarti bagi mereka.
Akhirnya Mizuna memecah keheningan, suaranya pelan namun terdengar jelas di udara yang tenang.
"Sudah lama sekali ya... sejak terakhir kali kita duduk seperti ini berdua."
Daichi tersenyum kecil, ujung jarinya mengusap pinggiran cangkir yang kasar. "Hampir sepuluh tahun. Rasanya seperti kemarin, sekaligus seperti seumur hidup yang lalu."
"Ya. Kita bahkan tidak pernah saling bertemu lagi sejak tim resmi dibubarkan," tambah Mizuna pelan.
Daichi mengalihkan pandangannya kembali ke danau yang gelap. "Siapa sangka... orang yang dulu selalu beradu mulut dan bertengkar denganku soal setiap keputusan, kini malah bersedia meluangkan waktu mengajar murid yang sama cerobohnya denganku."
Mizuna tertawa pelan, tawanya jernih seperti gemericik air. "Itu karena kau memang selalu ceroboh dan nekat. Kau tidak pernah berpikir dua kali sebelum melangkah."
"Hei protes sedikit itu!" Daichi menoleh sambil tertawa. "Tapi lihatlah aku sekarang—aku masih hidup dan sehat, kan?"
"Itu bukan karena keberuntungan atau kecerdikanmu," balas Mizuna datar namun tersenyum. "Itu karena aku dan yang lain selalu berusaha sekuat tenaga menyelamatkanmu dari kebodohanmu sendiri."
Daichi terkekeh lebar. "Benar juga. Aku tidak bisa menyangkal hal itu."
Mereka kembali diam sejenak. Angin malam bertiup sedikit lebih kencang, membuat permukaan danau beriak halus dan bayangan pohon bergoyang pelan. Mizuna menatap bulan purnama yang tergantung tinggi, matanya menyiratkan kerinduan yang mendalam.
"Masih ingat Tim Azure?"
Daichi mengangguk mantap, senyum di wajahnya perlahan melembut menjadi pandangan penuh kenangan. "Bagaimana mungkin aku bisa melupakan nama itu? Itu adalah masa terbaik sekaligus tersulit dalam hidupku."
Tim Azure—nama yang dulu bergema di seluruh penjuru benua, menjadi simbol harapan bagi banyak orang. Kelompok petualang peringkat tertinggi yang beranggotakan empat orang dengan kemampuan saling melengkapi:
Daichi, pendekar pedang yang berani namun sering bertindak gegabah, menjadi ujung tombak pertempuran.
Mizuna, penyihir air jenius yang tenang dan teliti, bertugas mengendalikan medan tempur serta memberikan dukungan sihir.
Leon, ksatria pelindung yang teguh dan sabar, selalu berdiri di barisan terdepan menahan serangan musuh demi rekan-rekannya.
Dan Serena, penyembuh ceria yang penuh kasih sayang, nyawanya sendiri sering ia pertaruhkan demi menyelamatkan nyawa orang lain.
Bertahun-tahun mereka berjalan bersama, menembus hutan beracun, menaklukkan ruang bawah tanah yang terlupakan, melawan monster legendaris, serta melindungi desa-desa terpencil dari ancaman yang tak sanggup dihadapi penduduk biasa. Ke mana pun mereka pergi, nama Tim Azure selalu membawa kabar baik.
Daichi tersenyum getir mengenang wajah teman lamanya. "Leon selalu marah besar kalau aku nekat maju sendirian ke dalam formasi musuh. Dia akan berteriak sampai wajahnya merah padam sambil menarik kerah bajuku kembali ke barisan belakang."
Mizuna ikut tersenyum samar, matanya sedikit berkaca-kaca. "Dan Serena... dia tak pernah berhenti mengomel setiap kali kau pulang dengan luka baru yang dalam. Ia bilang kalau kau tidak menghargai nyawamu sendiri, setidaknya hargai waktu yang ia habiskan untuk merawatmu."
"Kau juga tidak kalah sering memarahiku," timpal Daichi pelan.
"Itu berbeda," tolak Mizuna lembut namun tegas. "Kau keras kepala sampai menyakitiku sendiri. Itu tidak bisa dibiarkan begitu saja."
Daichi hanya terkekeh pelan. "Memang benar. Aku tidak bisa membantahnya."
Perlahan senyum itu lenyap dari wajah keduanya. Suasana menjadi lebih berat, seolah bayangan sepuluh tahun lalu tiba-tiba berdiri di antara mereka. Daichi menggenggam cangkir tehnya lebih erat, buku jarinya memutih.
"Kalau saja... misi itu tidak pernah ada."
Mizuna menundukkan pandangannya ke air yang tenang, menelan ludah susah payah.
Malam itu terasa semakin sunyi, seolah seluruh alam pun turut berduka mengingat peristiwa kelam itu.
Sepuluh tahun yang lalu. Tim Azure menerima misi rahasia tingkat tinggi untuk menyelidiki reruntuhan kuno di puncak pegunungan utara—tempat yang lama dikabarkan menyimpan sisa-sisa sihir kuno yang hilang. Mereka menduga hanya akan berhadapan dengan monster penjaga biasa atau mayat hidup yang lemah. Namun kenyataan di sana jauh lebih mengerikan dari dugaan siapa pun.
Di dalam ruang bawah tanah terdalam, mereka berpapasan dengan monster purba yang kekuatannya melampaui pemahaman mereka saat itu. Makhluk itu bukan sekadar binatang buas—ia adalah wujud sisa kekuatan kegelapan yang terperangkap selama ribuan tahun, dan kemarahannya tak terlukiskan.
Pertarungan itu berlangsung singkat namun sangat sengit. Tanpa ampun.
Leon, sang pelindung, menempatkan dirinya di depan serangan mematikan yang seharusnya menyapu bersih seluruh tim. Ia gugur seketika, tubuhnya hancur namun posisinya tak pernah berubah—tetap berdiri melindungi rekan-rekannya di belakangnya.
Serena melihat kawan baiknya tewas, lalu melihat Daichi dan Mizuna terluka parah dan hampir tak bernyawa. Tanpa ragu sedikit pun, ia menguras seluruh cadangan mana di dalam tubuhnya—bahkan hingga batas yang seharusnya tidak boleh dilanggar—untuk menutup luka mereka dan mengusir makhluk itu menjauh. Mereka selamat. Namun sejak hari itu, Serena tidak pernah lagi bisa memanggil sedikit pun sihir. Cahaya penyembuh itu lenyap dari dirinya selamanya.
Tak lama kemudian, Tim Azure resmi dibubarkan. Empat orang yang dulu tak terpisahkan kini berjalan sendiri-sendiri ke arah yang berbeda.
Daichi menghela napas panjang, napas yang terdengar berat seperti beban batu yang dipanggul selama belasan tahun.
"Aku masih merasa bersalah setiap kali mengingatnya. Seandainya waktu itu aku tidak terburu-buru masuk ke ruangan itu lebih dulu... seandainya aku mendengarkan peringatanmu dan Leon..."
Mizuna menoleh ke arahnya, lalu meletakkan tangannya lembut di atas punggung tangan Daichi. "Jangan terus menyalahkan dirimu. Keputusan untuk maju adalah keputusan kita bersama. Tidak ada satu orang pun yang harus menanggung semua rasa sakit ini sendirian."
"Tetap saja..." suara Daichi bergetar pelan. "Aku gagal melindungi mereka berdua."
Mizuna menatapnya tajam namun penuh kelembutan. "Dulu kau selalu berkata dengan lantang, ingat tidak? 'Petualang tidak boleh berhenti melangkah, karena di depan masih ada orang yang menunggu pertolongan kita.' Kenapa sekarang justru kau yang berhenti di sini, terjebak dalam penyesalan lama?"
Daichi terdiam lama. Ia menatap kedua tangannya yang kini kasar, penuh bekas luka lama dan guratan usia—tangan yang dulu menggenggam pedang berat dengan mantap, kini hanya terbiasa memegang tali kendali kuda.
"Aku lelah, Mizuna," ucapnya pelan. "Lelah kehilangan orang yang kucintai satu demi satu. Itulah sebabnya aku memilih menjadi kusir. Jauh dari pertempuran, jauh dari bahaya, cukup membawa orang dari satu kota ke kota lain dengan selamat. Rasanya... cukup bagiku."
Mizuna tersenyum tipis, lalu menarik tangannya kembali. "Kalau begitu... kenapa kau bersusah payah membawa Haruto sejauh ke sini? Kenapa kau tidak membiarkannya berjalan sendiri menuju takdirnya?"
Daichi terdiam sejenak, lalu menatap ke arah jendela kamar tempat Haruto tidur. Senyumnya kembali muncul, lebih tenang dan damai.
"Entahlah... mungkin saat melihatnya pertama kali di Guild, aku melihat bayangan diriku sendiri saat masih muda. Sama cerobohnya, sama keras kepalanya, sama polosnya, dan sama-sama belum tahu betapa kejamnya dunia ini."
Mizuna tertawa pelan. "Yang membedakan..."
"Haruto jauh lebih konyol dan menggemaskan," sambung Daichi, lalu tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memecah keheningan malam. "Itu benar sekali!"
Mereka kembali menatap jendela rumah. Di balik kaca yang temaram, terlihat bayangan Haruto yang masih tidur lelap sambil memeluk erat Pochi. Slime biru itu perlahan menyebar, menutupi dada dan lengan Haruto seperti selimut hangat, membuat sudut bibir pemuda itu terangkat membentuk senyum damai dalam tidurnya.
Melihat pemandangan itu, Mizuna berkata sangat pelan, hampir berbisik.
"Anak itu membawa sesuatu yang berbeda. Sejak dia datang, rumah tua ini terasa lebih hidup, lebih hangat. Seperti ada harapan baru yang tumbuh di sini."
Daichi mengangguk setuju, namun wajahnya segera berubah serius kembali. "Dan Pochi... ingat tidak apa yang dikatakan Master Gensai di Guild hari itu?"
Ia menunduk menatap pantulan wajahnya di cairan teh. "Slime Purba seharusnya sudah punah ribuan tahun yang lalu. Mereka adalah makhluk legendaris yang keberadaannya bahkan hanya dicatat dalam kitab kuno yang tersembunyi. Kalau berita ini menyebar luas ke seluruh benua... pasti banyak organisasi gelap, penyihir jahat, maupun bangsawan serakah yang akan memburunya demi kekuatan yang dimilikinya."
Mizuna menatap jauh ke tengah danau, matanya tajam penuh tekad. "Selama mereka berada di tempatku, tidak ada satu pun orang jahat yang bisa menyentuh sehelai rambut di kepala Haruto, maupun satu bagian kecil dari tubuh Pochi. Aku berjanji pada diriku sendiri."
Daichi berdiri perlahan, menyesap sisa tehnya yang mulai dingin, lalu menatap kegelapan hutan di kejauhan. "Begitu juga denganku. Aku tidak akan membiarkan sejarah terulang lagi. Semoga saja... Haruto tumbuh cukup kuat, cukup cepat, untuk menghadapi takdir besar yang sedang menunggunya di depan sana."
Keduanya tidak menyadari bahwa di balik rimbunnya pepohonan gelap, di tempat di mana cahaya bulan tak mampu menjangkaunya, sepasang mata merah menyala perlahan terbuka. Sosok yang mengenakan jubah hitam pekat berdiri diam di sana, napasnya tak terdengar sama sekali. Wajahnya tertutup bayangan tudung, hanya menyisakan senyum tipis yang mengerikan.
"Jadi... di sinilah kalian bersembunyi, dan menyimpan harta karun yang sangat berharga..." bisik sosok itu pelan, tak ada yang mendengarnya kecuali kegelapan.
Detik berikutnya, sosok itu lenyap tanpa suara seolah terserap malam.