NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.5k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24 - Mobil Tergores

[Aset Host telah mencapai ambang batas. Misi khusus akan segera dibuka.]

Panel biru itu hanya bertahan beberapa detik, lalu menghilang seperti kabut tipis.

Raka menatap jalan Citraland yang rapi dari balik kaca mobil. Lampu taman menyala berurutan, membentuk garis kuning lembut di sepanjang trotoar. Di kursi depan, Adi masih memeriksa daftar vendor interior. Agus duduk di belakang kemudi, matanya sesekali melihat kaca spion, kebiasaan orang yang pernah hidup dengan disiplin pengamanan.

"Bos," kata Adi tanpa menoleh, "misi khusus itu maksudnya apa?"

Raka tidak menjawab langsung. Ia tahu Adi tidak melihat panel. Adi bertanya karena Raka tadi sempat diam.

"Ada beberapa urusan baru yang mungkin muncul," kata Raka. "Kita siapkan rumah dulu."

Adi menutup map. "Kalau begitu saya percepat CCTV, kontrol akses, dan pagar sensor. Villa sebagus itu justru menarik mata orang."

"Setuju."

Agus berkata pendek, "Saya juga sarankan patroli acak selama masa pindahan. Orang yang pernah mengganggu Bos bisa coba datang."

Raka menoleh sedikit. "Bu Sumini?"

"Termasuk."

Ternyata Agus benar.

Seminggu kemudian, saat beberapa perabot pertama mulai masuk ke Villa Citraland Blok A No.3, Bu Sumini berhasil menemukan alamat baru Raka.

Ia tidak menemukannya lewat cara hebat. Tidak ada detektif, tidak ada jaringan gelap. Hanya gabungan mulut tetangga, rasa iri, dan satu sopir pengantar barang yang terlalu mudah bercerita setelah diberi teh manis. Dari potongan informasi itu, Bu Sumini tahu bahwa Raka pindah ke kawasan elit.

Malam itu, hujan tipis baru berhenti. Aspal di depan villa masih basah, memantulkan lampu jalan. Toyota Alphard hitam milik Raka terparkir di area depan karena garasi sedang dibersihkan oleh vendor.

Sosok Bu Sumini muncul dari ujung jalan klaster dengan langkah hati-hati. Ia memakai jaket tua dan masker. Di tangannya ada kunci rumah lama yang ujungnya sudah menghitam.

Ia berhenti di dekat pagar.

Rumah itu membuat dadanya panas.

Dulu, ia bisa datang ke apartemen Raka, mengetuk pintu, menangis, memaki, lalu pulang membawa uang. Dulu, Raka adalah menantu yang bisa ditekan dengan kata "keluarga". Sekarang pria itu punya villa, pengawal, kantor, dan uang yang tidak bisa ia bayangkan jumlahnya.

Di kepala Bu Sumini, semua itu bukan hasil kerja Raka.

Semua itu penghinaan.

"Dasar anak tidak tahu diri," bisiknya.

Ia mendekati Alphard, memastikan jalan sepi, lalu menempelkan ujung kunci ke pintu samping. Satu tarikan panjang meninggalkan garis putih kasar di cat hitam mengilap.

Suara goresan itu kecil, tetapi bagi Bu Sumini terdengar seperti napas lega.

Ia menggores lagi. Kali ini lebih panjang, dari pintu belakang ke dekat lampu.

"Biar tahu rasa."

Ia tidak sadar bahwa kamera kecil di sudut pagar sudah merekam wajahnya sejak ia memasuki area depan. Kamera kedua di bawah kanopi menangkap tangannya. Kamera ketiga dari rumah seberang, bagian dari sistem keamanan klaster, melihat ia menoleh ketakutan sebelum pergi.

Pagi berikutnya, Agus menemukan goresan itu lebih dulu.

Ia jongkok di samping Alphard, memeriksa panjang garis, lalu menatap kamera depan rumah.

"Bos," katanya saat Raka keluar dengan kemeja santai, "mobil digores. Pelaku kemungkinan masuk dari sisi timur. Saya sudah minta salinan rekaman klaster."

Raka berdiri di samping mobil.

Cat hitam itu terbelah garis putih panjang, seperti luka yang dibuat dengan niat buruk. Jika dulu ia melihat kerusakan seperti ini, ia mungkin akan menghitung biaya reparasi dengan kepala pusing. Sekarang biaya bukan masalah.

Masalahnya adalah batas.

"Ada wajah?"

"Jelas."

Agus membuka tablet. Rekaman muncul. Bu Sumini, dengan masker turun sesaat karena menarik napas, tertangkap kamera. Tangannya menggores. Tubuhnya menoleh. Lalu ia pergi cepat.

Raka melihat sampai selesai.

"Simpan tiga salinan," katanya. "Satu untuk saya, satu untuk pengacara, satu untuk arsip Garuda Shield. Jangan sebar."

"Siap, Bos."

Siang itu, Raka mendatangi rumah Hartono.

Ia tidak datang dengan rombongan besar. Hanya Agus bersamanya, membawa map berisi tangkapan layar dan salinan laporan estimasi kerusakan bengkel resmi. Toyota Alphard yang tergores sengaja tidak dibawa; Raka datang dengan mobil operasional biasa.

Gang kecil itu langsung hidup ketika Raka turun.

Beberapa tetangga membuka pintu. Warung yang biasanya ribut mendadak pelan. Setelah insiden Budi di pasar malam, nama Hartono sudah tidak sekuat sebelumnya. Orang-orang yang dulu cepat percaya pada Bu Sumini kini lebih hati-hati menatap.

Bu Sumini keluar dengan wajah keras.

"Mau apa lagi kamu?"

Raka membuka map dan menunjukkan foto pertama. "Ini Ibu?"

Wajah Bu Sumini berubah sepersekian detik. "Bukan."

Raka menunjukkan foto kedua. Lebih jelas. Masker turun, wajah terlihat, tangan memegang kunci di pintu Alphard.

Suara di depan rumah itu hilang.

Seorang tetangga tua berdeham. Seorang ibu yang membawa belanjaan langsung berhenti di pinggir gang.

Bu Sumini meraih foto itu, tetapi Agus menahan map dengan satu tangan. Tidak kasar. Hanya kukuh.

"Bu Sumini," kata Raka, "pengrusakan barang bisa dilaporkan. Ada rekaman CCTV klaster, ada estimasi bengkel resmi, ada saksi keamanan."

"Itu... itu cuma goresan kecil!"

"Mobil itu bukan milik Ibu."

"Kamu kaya! Apa susahnya perbaiki?"

Raka menatapnya. "Jadi Ibu mengakui sengaja merusak karena saya mampu memperbaiki?"

Bu Sumini tersentak.

Beberapa tetangga mulai berbisik. Kali ini bisikan itu tidak berpihak padanya.

"Bu," kata Raka, suaranya tetap datar, "dulu Ibu pakai alasan lapar. Lalu alasan malu pada tetangga. Sekarang Ibu merusak properti. Saya bisa lapor polisi hari ini."

Ratna muncul dari dalam rumah. Wajahnya kusam, rambutnya diikat asal. Begitu melihat foto di tangan Raka, ia memucat.

"Ibu..." bisiknya.

Bu Sumini menatap Ratna seperti mencari dukungan. Tetapi Ratna tidak maju. Setelah Budi mencuri, setelah tabungan habis, setelah video pasar malam menyebar, Ratna tampak seperti orang yang sudah terlalu lelah untuk menambal kebohongan baru.

"Raka," suara Bu Sumini melemah. "Jangan begitu. Ibu khilaf."

"Khilaf itu sekali bicara kasar," kata Raka. "Ini Ibu datang malam-malam membawa kunci."

Kaki Bu Sumini bergetar. Ia melihat tetangga, melihat Agus, melihat map, lalu akhirnya melihat Raka. Semua jalur kabur tertutup oleh bukti.

Lalu ia berlutut.

"Raka, jangan lapor polisi," katanya, suara pecah. "Ibu sudah tua. Kalau masuk kantor polisi, Ibu malu. Tolong. Ibu mohon."

Gang itu benar-benar sunyi.

Dulu, Bu Sumini membuat orang lain menunduk dengan kata-kata "keluarga" dan "tetangga". Siang itu, ia menunduk sendiri di depan orang-orang yang pernah ia jadikan senjata.

Raka tidak bergerak membantunya berdiri.

"Saya tidak butuh Ibu berlutut," katanya. "Saya butuh Ibu berhenti."

Bu Sumini menangis sungguhan kali ini. Alasan yang tersisa hanya takut.

"Saya beri satu kali kesempatan," lanjut Raka. "Biaya perbaikan tetap Ibu bayar sesuai kemampuan dan jadwal tertulis. Kalau Ibu menolak, mengulangi, atau memfitnah lagi, saya lapor polisi tanpa datang ke sini dulu."

Ratna cepat-cepat mengangguk. "Aku yang pastikan, Mas. Aku pastikan Ibu tidak ganggu lagi."

Raka menatap Ratna. "Itu urusan kalian. Jangan jadikan aku tempat pembuangan akibat."

Ia menyerahkan satu lembar salinan estimasi kepada Ratna, bukan kepada Bu Sumini. Setelah itu ia berbalik.

Agus mengikuti di belakangnya.

Di ujung gang, sebelum masuk mobil, Agus menerima panggilan singkat. Wajahnya tidak banyak berubah, tetapi matanya mengeras.

"Bos," katanya setelah menutup telepon, "adik ipar Anda... Budi, sekarang lagi diuber pinjol. Utangnya gede."

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!