Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.
Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Crush to Husband
Hening.
Itu satu-satunya kata yang bisa menggambarkan suasana ruang rawat VIP 304 saat ini. Namun, ini bukan keheningan yang menenangkan. Ini adalah keheningan pekat yang seolah menekan dada hingga terasa sesak.
Kamar itu hanya diisi oleh bunyi beep... beep... monoton dari mesin monitor jantung. Desau halus selang oksigen. Serta suara napas yang mati-matian ditahan oleh semua orang.
Frina berbaring lemah. Selang oksigen masih menempel di hidungnya. Wajahnya pucat pasi. Namun, sepasang matanya menatap penuh harap ke arah dua anak muda di depannya.
Salah satu tangannya yang dingin dan gemetar menggenggam erat tangan Lintang. Gadis itu duduk kaku di tepi ranjang rawat.
Di sisi lain Lintang, Ilna duduk mendampingi. Tangannya tidak melepas genggaman dari jemari putrinya sedetik pun. Mengusapnya berulang kali dalam kebisuan yang pilu.
Sementara di lantai kamar yang dingin, beralaskan sajadah seadanya, Leno dan Arka duduk bersila. Mereka saling berhadapan.
Tidak ada setelan jas mewah. Tidak ada pula gaun pengantin putih yang megah.
Leno hanya mengenakan kemeja kasual berwarna biru dongker yang dipakainya sejak sore. Sementara Arka masih setia dengan kaus hitam dan hoodie longgar. Cowok itu sengaja menarik tudung hoodie-nya ke bawah. Menyembunyikan wajahnya yang lelah.
Di samping mereka, dua orang saksi berdiri canggung. Seorang perawat kepala ruangan dan seorang kepala satpam rumah sakit. Mereka diminta mendadak malam ini.
Sorot mata kaku mereka menunjukkan kalau ini adalah kali pertama mereka menjadi saksi nikah siri darurat di kamar pasien.
Leno menatap Arka lekat-lekat. Lama sekali. Menilai, menimbang, hingga akhirnya merelakan.
Beliau lalu membuka suara. Suaranya terdengar berat, namun dipaksa untuk tetap tegar.
"Ananda Gifarka Xilessanto, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Lintang Gentariana binti Zalenho, dengan maskawin emas seratus gram dan uang tunai sebesar lima ratus juta rupiah, dibayar tunai."
Arka menghirup napas dalam-dalam. Mengisi rongga dadanya yang sesak. Detik berikutnya, suaranya keluar dengan sangat mantap, tegas, dan sama sekali tidak bergetar.
"Saya terima nikah dan kawinnya Lintang Gentariana binti Bapak Haji Zalenho, dengan maskawin tersebut, dibayar tunai."
Selesai. Satu tarikan napas malam itu seketika mengubah garis takdir mereka berdua.
Leno menoleh cepat ke arah dua saksi di sampingnya. "Bagaimana para saksi?"
Perawat kepala ruangan menelan ludah pelan. "Sah."
Kepala satpam ikut mengangguk kaku. "Sah."
"Alhamdulillah..."
Desah napas lega yang teramat besar spontan meluncur dari bibir Ilna, Frina, dan Leno.
Ilna langsung menutup wajahnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pecah seketika. Itu bukan jenis tangis bahagia yang biasa terdengar di gedung resepsi megah.
Melainkan tangisan haru seorang ibu yang terpaksa melihat anak gadisnya menikah secara siri malam-malam di bawah temaram lampu neon rumah sakit.
Frina pun ikut menangis. Air matanya mengalir lambat melewati pelipis tanpa suara. Wanita itu menarik tangan Lintang, lalu mencium punggung tangan menantunya itu berkali-kali dengan penuh rasa syukur.
Sementara semua orang emosional, Lintang justru sama sekali tidak menangis. Dia bengong total. Pandangan matanya menatap kosong ke arah dinding putih di depan.
Otaknya mendadak mogok. Menolak untuk memproses kenyataan gila ini.
Baru kemarin mereka berdua sibuk menjaga stan bazar sekolah. Berada dalam satu kelompok yang sama. Lintang ingat betul betapa ugal-ugalan dirinya kemarin. Dengan urat malu yang sudah putus, ia dengan pedenya sering memanggil Arka dengan sebutan "calon suami" di depan teman-teman kelasnya.
Tentu saja saat itu ia hanya bercanda demi menggoda cowok bermuka batu tersebut.
Bahkan baru semalam, Lintang sempat merengut kesal dan kecewa setengah mati karena Arka tiba-tiba membatalkan janji malam mingguan mereka tanpa alasan jelas.
Namun sekarang? Lihatlah situasi absurd ini. Cowok dingin yang semalam ia tangisi dan ia incar selama dua tahun terakhir, kini benar-benar menjadi suaminya secara hukum agama.
Statusnya berubah secepat kilat dalam hitungan jam tanpa ada aba-aba. Rasanya tidak nyata, tapi ini nyata adanya.
Leno mengangkat kedua telapak tangan untuk memimpin doa. Suaranya sempat pecah dan serak di tengah-tengah lafaz kalimat mulia.
"Bismillahirrahmanirrahim... Allahumma shalli 'ala Muhammad..."
Setiap untaian doa yang mengalun itu rasanya seperti menyayat hati Leno. Semua ini terjadi terlalu cepat. Sebagai ayah, dia belum siap melepas anak perempuannya. Namun, dia harus melakukannya demi menolong nyawa sahabat istrinya.
Arka tetap menundukkan kepalanya dalam-dalam. Keningnya hampir menyentuh permukaan sajadah. Cowok itu tidak tersenyum, tidak juga menangis. Wajahnya lempeng, datar, dan kelihatan kosong.
Namun, kedua tangannya mengepal erat di atas paha. Buku-buku jarinya memutih. Menyiratkan ada badai besar yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Takut, panik, bingung, dan bersalah beradu jadi satu.
Doa pun selesai dibacakan. Akad siri mereka sah secara agama.
Leno bangkit berdiri lalu menepuk pelan bahu tegap Arka. "Jagain anak Papi. Papi beking kamu di belakang. Pernikahan kalian ini masih sangat rapuh. Papi harap, kamu maupun Lintang, jangan sembarangan mengucap kata pisah kalau lagi nggak sepemikiran."
Arka ikut berdiri lalu meraih tangan mertuanya. Mencium punggung tangan Leno takzim sebagai bentuk janji dalam keheningan.
Setelah Arka kembali tegak, Leno mengarahkan pandangannya ke ranjang. "Sekarang bangun, ketemu sama istri kamu."
Arka mengangguk kaku. Dia melangkah pelan mendekati ranjang rawat tempat bundanya, ibu mertuanya, dan istrinya berada. Saat mereka berdua berdiri berhadapan, sepasang mata mereka kembali bertemu lurus.
Lintang bisa melihat dengan sangat jelas betapa lelahnya sorot mata cowok itu—mata suaminya. Mata yang selama dua tahun ini selalu kelihatan cuek dan tidak peduli dengan dunia sekitar. Namun malam ini, dia ternyata rela menyerahkan seluruh masa depannya demi menyelamatkan dunia milik ibunya.
"Salim, Nak..." bisik Ilna lembut.
Lintang meraih tangan kanan Arka dengan gerakan yang agak ragu. Ia perlahan menundukkan kepalanya, lalu mencium punggung tangan cowok itu.
Di saat yang sama, tangan kiri Arka terangkat naik. Mendarat di atas ubun-ubun kepala Lintang. Dia mendoakan teman hidupnya untuk pertama kali.
Saat itulah, Arka bisa merasakan telapak tangan kanannya mendadak tertetes sebutir cairan hangat. Lintang ternyata menangis pelan dalam diamnya.
Selesai berdoa, Arka menarik kembali tangan kirinya. Lintang kembali menegakkan punggung dan melepaskan genggaman tangannya dari Arka. Cowok itu kemudian beralih menyalami tangan Ilna dengan hormat.
"Selamat ya, anakku..." ujar Ilna tulus.
"Terima kasih, Mami..." sahut Arka pelan.
Arka lalu bergerak berjongkok di sisi ranjang. Membuat posisinya sejajar dengan tangan bundanya yang tampak rapuh. Dia menyalami jemari itu dengan sangat hati-hati.
Setetes air mata kembali lolos dari pelupuk mata Frina. Namun, wanita itu buru-buru menahannya agar tidak membuat suasana kamar semakin terasa getir.
"Sayang... Kamu nggak sendirian lagi sekarang..." Frina membuka suara dengan nada sangat pelan. "Ada Lintang yang setelah ini... bakal nemenin hidup kamu..."
"Bunda..." panggil Arka dengan nada suara yang serak dan rendah, menahan sesak. "Aku udah nikah."
"Besok Bunda operasi, ya. Bunda harus sembuh," lanjut cowok itu penuh penekanan.
Lintang yang berdiri di samping hanya bisa terdiam memandangi interaksi ibu dan anak tersebut. Dia baru benar-benar menyadari malam ini. Di balik sosok Arka yang selama ini terkenal tidak peduli dengan orang lain, ternyata ada banyak pilu dan beban berat yang dia pikul sendirian di dalam hidupnya.
Soal ayahnya, soal bundanya yang sakit, dan soal nasibnya yang kini mendadak harus menyandang gelar sebagai seorang suami muda demi operasi ibunya. Operasi yang bahkan tidak menjamin kesembuhan total.
"Lintang..." Suara lemah Frina seketika memecah lamunan Lintang.
Lintang dengan sigap ikut berjongkok di sebelah Arka. Menyejajarkan posisinya. "Iya, Bunda..."
Frina memandang wajah menantunya itu penuh harap. "Cantik... Kamu temenin Arka setelah ini, ya? Setelah Bunda nggak lagi ada... Tolong jangan biarin Arka terpuruk sendirian."
"Bunda... Jangan ngomong gitu," tegur Arka dengan nada suara yang mendadak sesak. "Bunda kan mau operasi... Pasti sembuh."
Frina menggelengkan kepalanya pasrah. "Takdir nggak ada yang tahu... Bunda cuma mau nyampein permintaan Bunda selagi masih hidup."
"Bunda... Bunda tenang aja, aku bakal selalu nemenin Arka. Aku janji! Aku bakal selalu ada buat Arka, sekalipun Arka lagi di titik paling nyungsep," potong Lintang cepat. Ia mengubah intonasi suaranya menjadi lebih mantap.
Ucapan blak-blakan terakhir dari Lintang itu seketika membuat atmosfer kamar yang tadinya pilu mendadak jadi sedikit lebih ringan.
"Jadi Bunda tenang aja. Fokus Bunda sekarang, positif thinking, berdoa, terus operasi. Habis itu sembuh... Hidup lebih sehat, sampai aku kasih cucu yang lucu-lucu buat Bunda," lanjut Lintang dengan cengiran khasnya yang ugal-ugalan.
Frina akhirnya tersenyum. "Makasih, ya... Bunda jadi lebih tenang sekarang..."
...----------------...
Sekitar pukul sebelas malam, suasana di dalam ruang rawat VIP 304 mulai berangsur sepi. Leno dan Ilna sudah pamit pulang sejak jam besuk rumah sakit resmi ditutup. Sementara Lintang dan Arka memutuskan untuk tetap tinggal menemani Frina di dalam ruangan itu.
Di atas ranjang, Frina sudah tertidur pulas. Suara monitor jantung masih berbunyi lambat, namun tetap memberikan sensasi menegangkan di keheningan malam.
Di samping ranjang, Arka masih setia duduk di kursi plastik. Ia terus memegangi tangan bundanya. Seolah-olah jika dia melonggarkan jemarinya sedikit saja, ibunya akan benar-benar hilang malam itu juga.
Lintang yang baru selesai menunaikan salat Isya—karena baru sempat jam segini—perlahan melangkah memasuki ruangan kembali.
"Lu nggak tidur?" tanyanya pelan saat melihat posisi Arka masih belum berubah dari tempatnya duduk sejak tadi.
"Duluan aja," ujar Arka tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun.
Lintang menghela napas panjang, lalu berjalan meraih kasur lipat yang tadi sempat dibawakan oleh Papanya dari rumah. Dia menggelar kasur busa itu dengan rapi tepat di depan sofa panjang.
Sebuah bantal berukuran panjang kemudian dia taruh tepat di bagian tengah kasur. Bantal panjang itu sengaja diletakkan melintang agar bisa menjadi tumpuan kepala mereka berdua sekaligus—menjadi satu-satunya tumpuan kepala di kasur yang sempit itu.
"Sini, tidur," ajak Lintang menepuk kasur busa.
Kepala Arka akhirnya terangkat. Menoleh menatap gadis itu yang ternyata sudah selesai menggelar kasur sendirian.
"Cepetan," ulang Lintang yang kini sudah duduk di atas kasur dengan tangan bersedekap. Ia memasang wajah menuntut.
Arka akhirnya bangkit berdiri dan mendekat ke kasur busa itu. Dia melepas sandal rumah sakitnya, lalu ikut duduk di sebelah Lintang.
Dahi Lintang langsung mengernyit protes. "Kok malah duduk? Tidur dong," omelnya refleks dengan nada lantam andalannya yang kembali keluar.
Arka tidak mendebat. Dia langsung bergerak merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai. Mengambil posisi di sisi kanan, menaruh kepalanya di bantal panjang yang diletakkan di tengah kasur.
Lintang tanpa babibu langsung ikut merebahkan tubuhnya di sisi kiri, memosisikan kepalanya di bantal panjang yang sama.
Kini, dengan satu bantal panjang yang menopang kedua kepala mereka, keduanya berbaring telentang bersisian dengan sangat dekat. Pandangan mata mereka sama-sama menatap lurus ke arah atap plafon kamar yang putih bersih.
Hening menyelimuti mereka selama beberapa detik.
"Jadi... alasan lu batalin malmingan kita semalem, gara-gara Bunda sakit? Terus... nge-chat gue subuh-subuh juga karena mau nikah mendadak?" tanya Lintang memecah kesunyian.
"Hm," gumam Arka.
Lintang menoleh. "Kenapa harus ngasih tahu gue? Takut nggak tega kalau ternyata gue ngejar suami orang?"
"Gue cuman nggak mau lu tambah gila," ujar Arka datar.
Lintang tertawa. "Sialan lu."
Arka mendengus.
"Tapi... emang lu nggak tahu bakal dijodohin sama siapa?" tanya Lintang lagi.
"Enggak," ujar Arka singkat.
Lintang tertawa lagi. "Gue jadi nggak tahu mau sedih apa seneng. Bisa dapet lu secara tiba-tiba, tapi situasinya nggak bahagia kayak pengantin baru."
Hening.
"Menurut lu... Bunda bakal sembuh, nggak?" Arka membuka suara duluan akhirnya. Pertanyaannya terdengar lirih, sarat akan sebuah harapan besar yang rapuh.
"Gue nggak tahu, bukan Tuhan soalnya," jawab Lintang jujur, enteng, dan asal ceplos seenak jidat. Sukses membuat Arka berdecak sebal di sebelahnya.
"Tapi gue malah kepo sama satu hal. Kalau semisal... Bunda nggak sembuh..." Ucapan Lintang mendadak menggantung di udara.
Hal itu membuat Arka spontan menoleh tajam ke samping. Di atas bantal panjang yang sama, mata mereka bertemu dalam jarak dekat. Arka melotot, hendak melayangkan protes keras.
"Ini kan cuma kalau, andai-andai!" potong Lintang cepat sebelum suaminya sempat mengamuk. "Gue cuma kepo. Kalau semisal takdirnya begitu dan Bunda nggak sembuh... Pernikahan kita ini bakal selesai juga atau enggak?"
Arka terdiam. Tatapan matanya yang tadi menegang perlahan berubah menjadi sedingin es. Pertanyaan Lintang telanjur menusuk tepat ke inti ketakutan terbesar yang sedang ia sembunyikan malam ini.