NovelToon NovelToon
GALACTIC PARCEL SERVICE

GALACTIC PARCEL SERVICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Komedi / Slice of Life
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.

Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.

Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.

Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.

Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Rute Birokrasi, Omelan Direktur, dan Paket Nyasar

Meninggalkan keramaian kantin dan beban pikiran soal asmara anak buahnya, Arka melangkah menyusuri koridor dek atas kapal kargo Andromeda. Berbeda dengan dek logistik yang bising oleh deru mesin dan robot pekerja, dek atas ini jauh lebih tenang. Lantainya dilapisi karpet sintetis peredam suara, dan dinding logamnya memancarkan pendar lampu biru yang menenangkan.

Tujuan Arka hanya satu: Ruang Transmisi Pusat.

Namun, tepat saat ia berbelok di sebuah persimpangan koridor yang melengkung, langkahnya terhenti. Di depannya, tampak Null sedang berjalan santai berdampingan dengan Eve. Keduanya tampak sedang mendiskusikan sesuatu dengan serius. Eve memegang sebuah sabak digital transparan yang memproyeksikan peta gugusan bintang.

"Ireng!" panggil Arka setengah berteriak.

Null, yang langkahnya seberat gravitasi, menoleh lambat. Pusaran materi gelap di wajahnya beriak pelan. "Nah, itu dia kaptennya," gumam Null datar ke arah Eve. "Kamu tanya aja langsung sama dia."

Arka mempercepat langkahnya hingga tiba di depan mereka berdua. Ia melirik Eve sekilas, melihat garis-garis cahaya keemasan di kulit ras Seraphi itu, lalu menatap Null. "Ada apa?"

Eve tersenyum sopan, auranya memancarkan ketenangan yang membuat suasana tegang Arka sedikit mereda. "Permisi, Kapten. Ini saya mau tanya soal mapping rute pengiriman ke bangsa Urana. Di sistem tata surya mereka kan ada dua planet dan satu bulan, ya, Kapten?"

Eve menggeser jarinya di atas sabak, membesarkan proyeksi hologram sebuah satelit alami. "Kalau dilihat dari kalkulasi bahan bakar dan jarak tempuh, kenapa kita nggak mampir ke bulannya dulu untuk bongkar muat?"

Arka menghela napas, tersenyum maklum melihat kepolosan staf operasional baru itu. "Oh, soal itu. Kalau dipikir pakai logika rute, memang paling dekat dan praktis kita mampir ke bulannya dulu. Tapi..." Arka menunjuk proyeksi planet terbesar di layar Eve, "...pusat pemerintahan dan pangkalan logistik bangsa Urana ada di planet ini."

"Planet Niovau ya..." celetuk Null mencoba menebak nama dari ingatannya yang payah soal geografi.

"Ninovia!" ralat Arka cepat, mengoreksi kesalahan fatal yang bisa memicu perang bintang jika diucapkan di depan penduduk aslinya.

"Ah, ya, itu maksudku," balas Null tanpa dosa.

"Ooh, gitu ya, Kapten," gumam Eve sambil mengangguk paham. "Ribet juga, ya. Padahal ujung-ujungnya kita juga yang harus bolak-balik ngirim ke bulannya nanti."

"Mau gimana lagi," kekeh Arka pasrah. "Kau tahu sendiri kan tabiat bangsa Urana itu gimana? Mereka itu bangsa super konsumtif dan penyumbang profit paling besar buat GPS. Jadi permintaannya banyak dan maunya selalu diutamakan. Hahaha."

"Woi! Malah ngumpul di sini!"

Sebuah suara melengking khas remaja yang membosankan memecah tawa mereka. YUI muncul dari persimpangan lain. AI bergaun Gothic itu berjalan dengan gaya slengekan, meniup balon dari permen karet hologramnya hingga meletus dengan suara pop digital.

"Cepetan jalan! Udah ditungguin itu sama Direktur di ruang transmisi!" omel YUI sambil berkacak pinggang.

Null memutar bola matanya atau setidaknya, materi gelapnya berputar membentuk pola melingkar. Ia menoleh ke arah stafnya. "Ya sudah, Eve. Kamu balik aja ke kantor, kerjain sorting yang lain. Saya sama Kapten udah dijemput sama ABG puber."

"Baik, Pak." Eve menunduk hormat, lalu berbalik pergi sambil tersenyum geli melihat wajah YUI yang langsung tertekuk kesal mendengar panggilan 'ABG puber' tersebut.

Arka, Null, dan YUI pun melanjutkan perjalanan menuju ujung koridor. Sepanjang jalan, beberapa kru teknisi tingkat atas yang berpapasan langsung menepi dan memberi hormat pada sang Kapten.

"Ngomong-ngomong..." Arka mengusap tengkuknya yang mendadak dingin. "Kenapa level Direktur sampai nelpon langsung ke kapal pengantar barang begini, ya?"

YUI mendengus mengejek. "Pakai nanya lagi, Bos. Udah tahu masukin urusan politik dan anggota kerajaan sembarangan ke kapal kargo, malah belaga nggak tahu."

Arka memijat pangkal hidungnya. "Haduuh... bakal kena semprot habis-habisan nih. Gara-gara si Pipi neeh!"

Null menatap lurus ke depan, langkahnya tak berubah tempo sedikit pun. "Terus, aku dipanggil juga buat apa sih? Kan aku cuma ngurusin kardus."

"Mana ku tahu," sahut YUI santai. "Tanya aja sendiri nanti ke atasannya. Paling-paling kalian berdua mau dipecat berjamaah."

***

Akhirnya, mereka tiba di depan sebuah pintu logam ganda berukuran raksasa dengan ukiran lambang Galactic Parcel Service. Berbeda dengan ruangan lain, pintu ini dijaga ketat oleh dua kamera otomatis di langit-langit.

"Nah, good luck yah kalian," ucap YUI, menyandarkan punggungnya ke dinding koridor. "Semoga tidak dipecat di hari pertama kerja."

"Kuharap kau diam," balas Null datar.

Arka menarik kerah baju Null saat kepala kargo ikut bersender. "Hei, kau juga ikut masuk, Reng!"

Pintu logam itu mendesis terbuka. Arka dan Null melangkah masuk ke dalam Ruang Transmisi Pusat. Ruangan itu sangat luas, kedap suara, dan bernuansa gelap elegan. Tidak ada kursi atau meja kerja di sana. Fokus utama ruangan itu hanyalah sebuah piringan proyektor melingkar berdiameter tiga meter yang tertanam rata di tengah-tengah lantai.

Begitu mereka berdua berdiri di tepi piringan tersebut, pilar-pilar cahaya kebiruan langsung memancar dari lantai. Cahaya itu merajut partikel-partikel digital hingga membentuk sebuah hologram real-time seukuran aslinya.

Di tengah piringan cahaya itu, berdirilah seorang perempuan berwibawa dari ras Avior.

Tubuh humanoidnya sangat ramping namun tegap, dibalut setelan jas kerja two-piece berwarna ungu gelap yang disetrika sempurna. Kepalanya menyerupai burung elang bersimbah bulu putih keperakan, dengan sepasang mata tajam yang memancarkan kecerdasan. Di balik punggungnya, terlipat anggun sepasang sayap berselaput yang ujung-ujungnya menyentuh lantai hologram. Ia adalah COO (Chief Operating Officer) GPS Pusat: Ibu Arle.

Melihat tatapan setajam elang itu menusuk tepat ke arahnya, Arka buru-buru menegakkan punggungnya.

"Selamat siang waktu Bumi, Bu Arle," sapa Arka formal.

"Selamat siang, Bu," tambah Null di sebelahnya dengan nada datarnya yang khas.

Paruh Bu Arle bergerak pelan, menerjemahkan bahasanya menjadi suara manusia yang jernih dan tegas di ruangan itu. "Selamat siang, Kapten Arka dan Kepala Kargo Null. Langsung saja ke pokok permasalahan. Ini soal Putri dari Kekaisaran Fontain yang saat ini sedang dirawat di kapal kalian."

Arka menelan ludah. "Baik, Bu. Saya sungguh tidak punya alasan lain. Ini semua benar-benar kebetulan, ada baku tembak di darat dan Kepala Keamanan saya, Pipi, tak sengaja terlibat, jadi..."

Bu Arle mengangkat tangannya yang bersarung tangan putih, menghentikan penjelasan Arka seketika.

"Saya tahu. Kalian tidak perlu repot-repot menjelaskan kronologinya," sela Bu Arle dengan nada datar, namun auranya sangat mendominasi. "Saya sudah melakukan rapat darurat bersama dewan direksi yang lain. Ini urusan yang sudah tidak bisa melibatkan level kru lapangan seperti kalian lagi."

Arka dan Null terdiam, menyimak dengan saksama.

"Nanti, setelah sang Putri sudah baikan dan bisa diajak bicara, suruh dia mengisi formulir suaka diplomatik yang akan saya kirimkan ke sistem YUI milikmu. Mengerti?" perintah Bu Arle.

"Siap, mengerti, Bu!" jawab Arka cepat, sedikit lega karena ternyata perusahaannya mengambil alih tanggung jawab ini.

Mata elang Bu Arle menajam. Sayap di punggungnya sedikit mengembang, sebuah gestur peringatan alami dari ras Avior. "Lain kali, periksa dan selidiki dulu siapa yang mau naik ke kapalmu. Berhati-hatilah, kalian ini sudah tanpa sengaja terlibat dalam urusan yang jauh di luar yurisdiksi dan kuasa kalian. Kalian mengerti?"

Bu Arle mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke mata Arka. "Terutama kau, Arka. Aku tahu betul ini adalah hari pertama kerjamu sebagai kapten ekspedisi kargo. Seluruh kinerjamu akan diawasi secara langsung oleh pusat untuk dicatat dalam portofolio promosimu. Jadi, jangan bertindak sembarangan dan gegabah. Paham?"

"Baik, Bu. Saya paham. Maaf atas kesalahan pengawasan saya," ucap Arka sambil menundukkan kepala hormat.

Bu Arle kembali berdiri tegak, merapikan kerah jas ungunya. "Ya sudah. Anggap masalah ini sedang ditangani oleh manajemen. Sekarang, untuk urusan kedua."

Arka mendongak heran. "Ada urusan lagi, Bu?"

Bu Arle mengalihkan pandangan tajamnya dari Arka menuju sosok gelap di sebelahnya. "Kepala kargo Null."

"Iya, Bu," sahut Null.

"Apa di gudang brankas kargomu, ada paket VIP prioritas yang dikhususkan untuk dikirim ke Planet Gun'Mar?"

Arka dan Null spontan saling menoleh dengan cepat. Jantung Arka yang baru saja tenang kini kembali berdebar dua kali lebih kencang.

"Izin menjawab, Bu," kata Arka ragu-ragu. "Itu adalah paket pengiriman pertama kami di rute ini. Dan... mohon maaf yang sebesar-besarnya, paketnya berstatus gagal kirim karena si penerima tidak ada di rumah."

Bu Arle membuang napas panjang. "Ya, itu adalah paket pribadi saya. Jelas saja kalian gagal mengirimnya. Anak saya salah memasukkan alamat koordinat, dia malah mengirimkannya ke vila liburan saya yang ada di Gun'Mar."

Rahang Arka nyaris jatuh. "Oh... begitu."

Null, yang biasanya tidak peduli pada hierarki korporat, buru-buru menyela untuk menyelamatkan divisinya. "Paketnya tidak lecet sedikit pun, Bu. Sudah saya simpan lagi dengan aman di brankas khusus untuk kami coba kirim ulang jadwal berikutnya, jadi..."

"Tidak perlu dikirim ulang," potong Bu Arle tegas. "Nanti, kasih saja paket VIP itu ke YUI biar asisten robotmu itu yang menyimpannya sementara. Mungkin besok atau lusa, orang suruhan pribadi saya yang akan mampir ke kapal Andromeda untuk mengambil paketnya langsung. Jadi kalian tidak usah ribet-ribet lagi mengurus birokrasi pengiriman dan resinya. Paham?"

"Siap, paham, Bu!" jawab Null dan Arka serempak.

Mereka pun akhirnya melanjutkan diskusi singkat selama sepuluh menit ke depan, membahas beberapa logistik teknis operasional GPS, tenggat waktu pengiriman Urana, dan efisiensi bahan bakar. Setelah rentetan perintah itu selesai, hologram Bu Arle meredup dan menghilang, menyisakan piringan logam yang kembali dingin.

Arka dan Null memutar tubuh mereka dan berjalan keluar dari Ruang Transmisi Pusat.

Di koridor, YUI masih bersandar di dinding, mengunyah dan meletuskan permen karet hologramnya dengan santai. Mata ungunya berkedip menyambut mereka.

"Gimana? Udah selesai urusan negara tingkat tingginya? Terus... jadi dipecat nggak?" goda YUI dengan senyum mekanis.

"Pecat-pecat, enak aja mulutmu ngomong," sungut Arka sambil meregangkan leher dan bahunya yang kaku. "Udah, udah selesai semuanya beres. Haaah... capek bener rasanya. Baru hari pertama kerja ngirim barang aja rasanya udah kayak simulasi perang, kena semprot atasan pula."

Null memutar pusaran materi gelapnya, melirik Arka dengan tatapan meremehkan. "Dasar makhluk biologis lemah. Gitu aja capek."

Null menepuk bahu Arka cukup keras. "Simpan keluhanmu. Besok kita landing di Ninovia buat ngurusin bangsanya Urana. Itu bakal jauh lebih capek dari ini."

Arka membelalakkan matanya, membayangkan ratusan birokrasi dan protes dari alien-alien melayang yang cerewet. "Iya juga ya... Haduuuh..." erang sang Kapten, meratapi keputusannya mengambil pekerjaan ini.

1
Feburizu
Mirip Guardian galaksi ya
helena (Hiatus 12/8/26- idk)
ilustrasinya remind me film the guardians of the galaxy 😍
Sarah
Lyra ini yang muncul di bab berapa yah Thor? Hehehe aku lupa. Soalnya tokoh cerita ini emang banyak banget. 😅😆
Maya: Bab 3 & 14, Lyra itu pilot yang tangannya ada 6 😁
total 1 replies
Sarah
Iyeyyyy lanjut!
Eka
wkwkkw🤣
Eka
pasti di suri nyari putri itu
Eka
apakah ini villain pertama?
MayAyunda
mampir kak
Eka
apa itu berarti bu Maya lebih kuat dari pipi? secara dia kan authornya 👀b🤣
Eka
wkwkkw
Eka
bagus sih ini
Eka
tapi kasian GK sih? nanti suaminya pasti kan berpulang duluan kalo kek gitu🥲
Eka
yak authornya nongol
Eka
maksa banget namanya Thor? 🤣
Eka
Hajar mbak zer!! 🤭
Eka
ini yui tuh robot kan ya? apa settingannya emang gitu?
Eka
Author sering sekali pake Kyaaaaa kenapa Thor ? 🤣
Eka
ternyata di masa depan kita tidak financial freedom ya 🤣
Eka
alasan pembully emang always klasik
Eka
pijat apa ne 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!