NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

012

Perasaan itu bergetar liar, memukul-mukul dinding dadanya bagai badai yang tak berkesudahan.

Braxley berdiri di dekat jendela besar ruang perawatan VIP, menatap pantulan dirinya pada kaca temaram yang menghadap ke arah gemerlap lampu kota Los Angeles. Kemeja hitamnya yang sudah tergulung rapi tak mampu menyembunyikan ketegangan yang merambat di sepanjang bahunya yang tegap.

Rasa apa ini? batin Braxley meringis, jemari tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Demi Tuhan... aku menerima Aurora. Aku mencintainya sampai gila! Aku menerima kenyataan bahwa wanita ini pernah berada dalam cengkeraman si brengsek Jonathan Carser. Tapi kenapa... kenapa tubuhku seakan menolak dan merasa jijik seperti ini?! Ini bukan diriku!

Ia meremas pelipisnya yang berdenyut hebat. Rasa rindu yang menggebu-gebu untuk merengkuh, mencium, dan memiliki Aurora secara utuh bagaikan api yang membakar jiwanya dari dalam.

Namun, setiap kali imajinasi beracun itu terlintas—bayangan akan bibir halus Aurora yang mungkin pernah disentuh oleh pria lain—lambungnya mendadak bergolak hebat.

Rasa mual itu adalah reaksi psikosomatis yang brutal dari ego dan obsessed-nya sebagai seorang Desmon; sebuah penolakan fisik absurd yang bertolak belakang dengan cinta matinya yang tak bertepi.

Sementara itu, dari sudut ranjang tempat Draco terlelap tenang, Aurora berdiri memperhatikan punggung tegap pria itu.

Manik matanya menatap tajam, meneliti setiap perubahan gestur dari pria yang sudah ia kenal sejak bertahun-tahun lalu.

Axley bukanlah pria asing yang baru ia temui sehari dua hari. Aurora tahu persis bagaimana pria itu berakting, bertingkah, dan menyembunyikan rasa sakit.

"Jika ini hanya karena pukulan Paman Austin..." suara Aurora meluncur pelan namun memecah keheningan ruangan, "kenapa kau harus semuntah dan sepucat itu, Axley?"

Braxley tersentak kecil. Tubuhnya mematung di dekat jendela sebelum perlahan-lahan memutar tubuhnya menghadap Aurora.

Aurora melangkah pelan mendekatinya. Matanya yang jernih menatap lurus ke dalam manik mata Braxley yang meredup.

Sejak keluar dari kamar mandi tadi, Aurora menyadari satu hal ganjil: Braxley terus memperhatikan bibirnya.

Tatapan pria itu sarat akan rasa haus dan kerinduan yang mendalam, namun anehnya, pria yang biasanya bertindak impulsif dan dominan itu kini seolah tidak berani melangkah lebih dekat, apalagi mendaratkan kecupan di bibirnya seperti yang biasa ia lakukan.

Ada jarak tidak kasatmata yang sengaja dibangun oleh Braxley—bukan karena benci, melainkan karena perang batin gila yang sedang menghancurkan pria itu dari dalam.

Aurora menghela napas halus. Sejujurnya, di balik ketegasannya, Aurora pun tahu diri. Status hukumnya secara kaku masih terikat sebagai istri Jonathan Carser, meskipun pernikahan itu hanyalah sangkar beracun yang dipenuhi intimidasi.

Ditambah lagi, fakta mengejutkan tentang hasil tes DNA Draco—kejadian gila di mana Braxley membius dan memasuki kehidupannya secara rahasia hingga melahirkan persentase paternitas $99,99%—masih sangat sulit dicerna oleh akal sehatnya.

Namun, saat Aurora memikirkan kembali bagaimana pria ini menggerakkan seluruh kekuasaannya hanya untuk menyelamatkannya, dan saat ia teringat bahwa sandi pintu apartemennya dulu masih menggunakan tanggal jadian mereka... Aurora hanya bisa mengusap dadanya.

Dia teledor. Pria ini benar-benar gila... batin Aurora konyol, antara merasa gemas, terharu, sekaligus tak habis pikir dengan tingkah obsesif Braxley yang sangat konsisten selama bertahun-tahun.

"Kenapa diam?" tanya Aurora lembut saat ia kini berdiri hanya berjarak dua langkah dari Braxley. "Kau takut padaku, Tuan Desmon?"

Braxley menatap Aurora, menatap mata yang selalu menjadi tempatnya berlabuh. Rasa mual dan perang batin di kepalanya perlahan runtuh, kalah telak oleh pesona dan aura keberadaan wanita di hadapannya.

Kesabarannya yang tak bertepi kembali mengambil alih. Ia menelan seluruh ego dan pergolakan absurdnya, bertekad untuk menjadi pelindung sejati bagi Aurora.

Braxley mengulurkan tangannya, namun alih-alih menyentuh bibir Aurora, ia hanya menyentuh lembut helai rambut di dekat telinga wanita itu, menyangkutkannya dengan jemari yang gemetar tipis.

"Aku tidak pernah takut pada apa pun di dunia ini, Aurora... kecuali kehilanganmu untuk kedua kalinya," bisik Braxley, suara perkasanya bergetar oleh kejujuran murni yang dalam.

Ia menatap Aurora dengan binar mata yang begitu hangat, memancarkan kebucinan mutlak yang sanggup meruntuhkan dinding es terkeras sekalipun.

"Perutku boleh bergolak, kepalaku boleh hancur oleh rasa cemburu gila yang membakar jiwaku, dan tubuhku mungkin bertindak konyol karena terlalu mencintaimu sampai batas luar biasa..." Braxley merendahkan tubuhnya, menyejajarkan tatapannya dengan mata Aurora. "...tapi ketahuilah satu hal. Tidak peduli berapa banyak luka yang kau bawa, tidak peduli seberapa kelam masa lalu yang berusaha menghancurkanmu, kau adalah puncak dari segala hal yang kuinginkan dalam hidup ini."

Aurora menahan napasnya. Dadanya bergemuruh hebat mendengar setiap patah kata yang meluncur dari bibir pria itu.

"Jika tubuhku harus berdarah atau muntah ribuan kali hanya untuk belajar bagaimana cara memelukmu kembali tanpa rasa sakit, maka akan kulakukan," lanjut Braxley dengan nada bucin yang begitu pekat namun sarat akan janji suci. "Kau tidak perlu tahu diri, kau tidak perlu merasa kotor, dan kau tidak perlu berpikir kau ini beban. Di mataku, di mata keluargaku... kau adalah rumah. Dan aku tidak akan pernah melepaskan rumahku lagi pada siapa pun."

Air mata yang sejak tadi ditahan Aurora akhirnya menetes membasahi pipinya.

Bukan air mata duka, melainkan rasa terharu yang teramat sangat atas kebesaran hati dan cinta gila pria di hadapannya. Kata-kata Braxley membalut seluruh luka dan trauma yang selama ini membusuk di dalam jiwanya akibat perlakuan kejam Jonathan.

Aurora melangkah maju, merobek jarak ragu di antara mereka, dan menyandarkan dahinya tepat di dada bidang Braxley. Ia membiarkan aroma parfum sandalwood yang familiar itu menenangkan seluruh syarafnya.

"Kau benar-benar pria paling bodoh dan paling gila yang pernah kukenal, Axley..." bisik Aurora dengan suara parau bercampur isak tangis halus.

Braxley menyunggingkan senyum tipisnya. Ia melingkarkan kedua lengan tegapnya di sekeliling tubuh Aurora, merengkuh wanita itu dalam dekapan protektif yang begitu erat dan hangat, memastikan bahwa tidak ada lagi badai yang sanggup memisahkan mereka.

"Ya, aku gila," jawab Braxley pelan, mengecup puncak kepala Aurora dengan kelembutan yang tiada tara. "Dan kegilaanku ini adalah satu-satunya hal yang akan membawamu dan Draco menuju kebahagiaan yang seutuhnya."

Dekapan hangat Braxley terasa kian erat, seolah-olah seluruh semesta di luar ruangan rumah sakit itu menguap dan melenyap dari kesadaran mereka.

Aurora membiarkan tangannya terangkat perlahan, melingkari pinggang tegap Braxley. Jemari tangannya meremas kain kemeja hitam pria itu, menyerap setiap detak jantung Braxley yang berhembus konstan di dadanya.

Selama Hampir satu tahun berada dalam cengkeraman ketakutan, di bawah bayang-bayang ancaman Jonathan Carser dan rasa cemas akan nasib panti asuhan, Aurora hampir lupa bagaimana rasanya dilindungi secara utuh. Ia lupa bagaimana rasanya memiliki seseorang yang bersedia menjadi tameng tak tembus peluru untuk dirinya dan putranya.

"Terima kasih..." bisik Aurora lagi, suaranya sangat tenggelam dalam lipatan kemeja Braxley. "Terima kasih karena tidak pernah benar-benar pergi, Axley..."

Braxley memejamkan matanya rapat-rapat. Setiap inci dari gejolak mual absurd yang sempat menguasai tubuhnya perlahan mereda, tergantikan oleh rasa hangat yang mengalir deras memenuhi rongga dadanya.

Kejujuran dan kerapuhan Aurora yang pasrah di dalam dekapannya menghancurkan sisa-sisa bayangan beracun tentang Jonathan Carser.

"Kau tidak perlu berterima kasih untuk sesuatu yang memang sudah seharusnya menjadi kewajibanku, Aurora," bisik Braxley lembut. Jemari panjangnya bergerak mengusap punggung Aurora dengan ritme yang menenangkan. "Aku yang harus meminta maaf... karena membiarkanmu berjuang sendirian di tempat itu terlalu lama."

Braxley melonggarkan dekapannya sedikit, lalu menangkup kedua pipi Aurora dengan telapak tangannya yang hangat. Ibu jarinya mengusap jejak air mata di pipi wanita itu dengan sangat hati-hati, seolah Aurora adalah barang porselen termahal yang amat ringkih dan mudah pecah.

Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Aurora. Tidak ada lagi kilat kegilaan atau cemburu liar yang mendominasi; yang tersisa hanyalah pengabdian murni seorang pria pada wanita yang dipilihnya.

"Mulai detik ini, lepaskan semua beban di bahumu," ucap Braxley dengan nada tegas, sarat akan kewibawaan mutlak. "Urusan hukum dengan Jonathan Carser, pembatalan pernikahan, hingga kepemilikan aset... semuanya sedang diselesaikan oleh tim pengacara Desmon Group. Kau tidak perlu lagi berhadapan dengan pria bajingan itu."

Aurora menatap wajah Braxley yang begitu dekat. Sudut bibir pria itu yang sedikit memar akibat pukulan Austin Jaxon justru menambah kesan ketampanan yang berbahaya—seorang villain yang rela menjadi jahat dan menghancurkan dunia demi wanita yang dicintainya.

"Bagaimana dengan media?" tanya Aurora pelan, teringat akan potensi skandal besar yang bisa merusak nama baik dinasti Desmon jika berita tentang Draco dan Jonathan mencuat ke publik. "Jika Jonathan berbicara kepada media tentang..."

"Dia tidak akan sempat melangkah ke hadapan media," potong Braxley dingin, sebuah senyuman tipis yang tajam terukir di bibirnya. "Besok pagi, seluruh jalur kredit Carser Corporation akan dibekukan secara permanen. Pengusutan atas kasus penggelapan pajak dan intimidasi finansial yang dilakukan keluarganya akan resmi dibuka. Pada saat berita tentang pernikahanmu hancur beredar, Jonathan tidak akan lagi memiliki panggung atau uang untuk bersuara."

Aurora menelan ludahnya pelan. Kekuasaan dinasti Desmon benar-benar bagaikan gelombang tsunami yang sanggup meratakan apa pun yang menghalangi jalan mereka.

Namun, alih-alih merasa takut seperti dulu, kini Aurora merasa bersyukur karena kekuatan raksasa itu dipaksa berdiri kokoh di belakangnya.

Tiba-tiba, suara erangan halus dari arah boks bayi mengalihkan perhatian mereka.

Draco menggeliat pelan, kedua tangannya yang mengepal mungil diregangkan ke atas kepala sebelum matanya perlahan terpejam kembali, memasuki fase tidur yang lebih nyenyak. Selimut tipis bergambar beruang yang membalut tubuhnya sedikit merosot akibat gerakan lincahnya tadi.

Braxley dan Aurora berpaling bersamaan menatap sang buah hati. Keheningan yang menyelimuti ruangan kini terasa begitu menenangkan dan sarat akan kedamaian.

Braxley membimbing Aurora melangkah mendekati boks bayi tersebut. Pria itu membetulkan posisi selimut Draco, menutup hingga sebatas dada bayi kecil itu dengan gerakan yang sangat cermat dan canggung—sebuah pemandangan kontras yang cukup menggemaskan untuk pria bertubuh tegap berotot yang biasa mengendalikan transaksi bisnis bernilai triliunan rupiah.

Aurora tersenyum menatap gestur canggung Braxley. "Kau terlihat lucu saat mengurus bayi, Axley."

Braxley menoleh, menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan pura-pura tersinggung.

"Lucu? Aku sedang belajar menjadi ayah yang sempurna untuk Draco, Mommy. Nanti saat kita kembali ke mansion utama, aku akan memastikan ruangan kamar bayinya direnovasi total."

"Mansion utama?" Aurora mengerutkan dahinya.

"Tentu saja," jawab Braxley mantap tanpa memberi ruang untuk bantahan. "Mommy Zephyr sudah memerintahkan tim untuk menyiapkan sayap kanan mansion Desmon untukmu dan Draco. Jangan bermimpi kau bisa tinggal di tempat lain setelah hari ini. Ibu dan ayahku tidak akan membiarkan cucu mereka tinggal di luar jangkauan pengawasan mereka."

Aurora menarik napas panjang, membayangkan betapa luas dan megahnya mansion dinasti Desmon yang dulu hanya bisa ia impikan dalam ketakutan. Namun teringat akan kehangatan pelukan Zephyr dan pembelaan tegas dari Austin Jaxon beberapa saat lalu, ketakutan itu perlahan sirna.

"Tampaknya aku tidak punya pilihan lain selain menurut pada perintah keluarga Desmon," gumam Aurora berpura-pura menyerah.

"Kau memang tidak punya pilihan, Sayang," sahut Braxley terkekeh pelan. Ia meraih jemari Aurora, menggenggamnya erat dan menyatukan buku-buku jari mereka di atas tepi boks bayi Draco. "Karena rumahmu, takdirmu, dan seluruh masa depanmu sudah terkunci di sini... bersamaku."

Di dalam ruang perawatan medis yang tenang itu, di bawah paparan sinar temaram lampu malam dan diiringi napas teratur sang buah hati, takdir baru yang pernah terkoyak oleh kesalahpahaman dan kegelapan akhirnya kembali bertaut utuh.

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!