elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Perawat Baru dan Kesalahan Kecil
Pintu ruang Bu Ratna belum sempat diketuk ketika suara dari dalam menghentikan langkah Nan Shin.
“Kebutuhan IGD tetap tinggi, tapi komposisi pegawainya harus disesuaikan,” kata seorang perempuan.
Nan Shin mengenali suara Kepala Bidang Keperawatan.
“Kalau tenaga berpengalaman dikurangi sekaligus, pelayanan bisa terganggu,” jawab Bu Ratna.
“Saya tidak bilang sekaligus. Perawat baru masuk bertahap. Yang lama membantu transisi.”
“Mereka bukan sekadar alat transisi.”
Ruangan mendadak sunyi.
Nan Shin mengetuk.
“Masuk,” kata Bu Ratna.
Kepala Bidang Keperawatan berdiri di depan meja dengan map hitam. Tatapannya jatuh pada tumpukan kontrak dalam pelukan Nan Shin.
“Ada perlu apa?”
Nan Shin meletakkan map itu di meja. “Saya ingin memastikan data masa kerja saya masuk dalam evaluasi.”
Perempuan itu membuka lembar paling atas. “Dua belas tahun?”
“Iya.”
“Bu Ratna sudah menyampaikan bahwa pengalamanmu baik. Tapi rumah sakit juga perlu regenerasi. Sudah waktunya memberi ruang kepada tenaga baru.”
“Kalau saya masih dibutuhkan untuk mengajari tenaga baru, kenapa saya dianggap mengambil ruang?”
Bu Ratna menatapnya cepat.
Kepala Bidang Keperawatan menutup map. “Jangan menyimpulkan sebelum hasil evaluasi keluar. Besok Suster Putri mulai shift penuh. Tolong dampingi orientasinya dengan profesional.”
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Nan Shin tetap berdiri di depan meja.
Bu Ratna mengembuskan napas. “Saya sudah memasukkan catatan kompetensimu, jumlah shift, dan pengalaman menangani kasus emergensi.”
“Tapi saya harus mengajari orang yang punya perlindungan lebih besar daripada saya.”
“Saya tahu ini nggak adil.”
“Mengetahui tidak mengubah apa-apa, Bu.”
Bu Ratna tidak membantah. “Saya tetap butuh kamu memastikan Putri bisa bekerja aman. Pasien nggak boleh ikut menanggung masalah manajemen.”
“Saya akan mengajarinya sesuai standar,” kata Nan Shin. “Tapi saya juga akan menulis setiap kompetensi yang belum aman.”
Bu Ratna mengangguk. “Itu yang saya minta. Jangan longgarkan penilaian, tapi jangan pula memperberatnya hanya karena situasinya menyakitkan.”
“Saya tahu bedanya.”
“Berapa lama orientasinya?”
Bu Ratna membuka laci dan mengeluarkan formulir kompetensi. “Tiga shift pendampingan, lalu dua shift dengan pengawasan tidak langsung. Kamu cek kemampuan triase dasar, dokumentasi, pemberian obat, dan respons emergensi.”
Nan Shin membaca daftar itu. Setiap keterampilan memiliki kotak kecil untuk diberi tanda mampu atau perlu bimbingan. Dua belas tahun pengalaman di IGD kini diminta berpindah ke seorang pegawai baru dalam lima giliran kerja.
“Kalau saya menilai dia belum siap?”
“Tulis sesuai fakta.”
“Dan kalau saya menilai dia siap, data itu dipakai untuk membuktikan IGD bisa berjalan tanpa saya?”
Bu Ratna menutup mata sesaat. “Saya nggak akan menyuruhmu menurunkan standar demi melindungi posisi sendiri. Saya juga nggak akan menyuruhmu meluluskan orang yang belum mampu.”
“Berarti saya harus melakukan pekerjaan ini sebaik mungkin, meski hasilnya mungkin dipakai untuk menggantikan saya.”
“Iya.” Suara Bu Ratna mengecil. “Saya minta maaf karena tidak punya jawaban yang lebih baik.”
Nan Shin menandatangani kolom pembimbing. Tinta hitam membentuk namanya dengan rapi.
Kalimat itulah yang membuat Nan Shin mengangguk.
Keesokan paginya, Suster Putri datang lima belas menit sebelum serah terima. Ia membawa buku kecil dan menuliskan setiap penjelasan Nan Shin tentang troli emergensi, kode warna, jalur pasien, dan urutan pelaporan.
“Obat berisiko tinggi dicek berdua,” kata Nan Shin. “Jangan mengandalkan ingatan meski sedang ramai.”
“Kalau tidak ada perawat kedua?”
“Panggil. Lebih baik terlambat satu menit daripada salah.”
Putri mengangguk dan memberi garis bawah dua kali.
Shift pagi segera berubah padat. Tiga pasien datang hampir bersamaan. Seorang anak mengalami kejang demam, seorang pria tua mengeluh sesak, dan korban kecelakaan kerja dibawa dengan luka terbuka di telapak tangan.
Nan Shin menempatkan Putri bersama Suster Ayu untuk mengamati penanganan pasien sesak.
“Putri, ukur tanda vital lengkap. Ayu, cek ulang hasilnya.”
“Baik, Kak,” jawab Ayu.
Nan Shin beralih ke anak yang baru berhenti kejang. Ibunya menangis sambil terus mencoba menyelipkan sendok ke mulut anak.
“Jangan dimasukkan, Bu. Bisa melukai mulutnya.”
“Tapi lidahnya nanti tergigit!”
“Miringkan tubuhnya. Biar jalan napas aman. Saya cek suhunya dulu.”
“Dia tadi kaku hampir satu menit. Apa otaknya rusak?”
“Saya belum bisa menyimpulkan, Bu. Dokter akan memeriksa setelah jalan napas dan tanda vitalnya aman.”
“Saya harus pegang tangannya?”
“Jangan menahan gerakannya dengan paksa. Singkirkan benda keras dan lihat jam kalau kejang terjadi lagi.”
Ibu itu menghapus air mata. “Saya panik.”
“Wajar panik. Dengarkan satu instruksi setiap kali. Sekarang sebutkan obat yang sudah diberikan di rumah.”
“Parasetamol sirup, sekitar satu jam lalu.”
“Berapa takarannya?”
“Lima mililiter.”
“Baik. Bawa botolnya saat dokter datang supaya dosisnya bisa dicocokkan.”
Ia menjelaskan sambil bekerja. Saat dokter datang, suhu, durasi kejang, berat badan, dan riwayat obat sudah siap disampaikan.
Belum selesai, Ayu memanggil dari bed sebelah. Saturasi pasien sesak turun. Putri berdiri kaku dengan lembar catatan di tangan.
“Pasang oksigen sesuai instruksi. Saya ke sana.”
Nan Shin menyerahkan pemantauan anak kepada perawat lain, lalu berpindah bed. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ia menjawab keluarga pasien, memeriksa dosis, membantu pemasangan alat, dan menerima telepon dari laboratorium.
Kepala Bidang Keperawatan masuk bersama dua anggota tim evaluasi tepat saat suasana paling kacau.
Bu Ratna sedang menangani komplain di pintu. Suster Dewi membawa pasien baru ke triase. Nan Shin tetap bekerja tanpa melihat siapa yang mengamati.
Setelah kondisi pasien sesak membaik, Putri menyerahkan lembar pemantauan kepadanya.
Nan Shin mencatat waktu tindakan, lalu beralih menerima hasil pemeriksaan anak yang kejang. Pulpen bergerak cepat di dua lembar berbeda.
“Suster, ini jamnya?” tanya Putri.
Nan Shin menoleh.
Pada lembar pasien sesak, ia menulis waktu pemberian oksigen pukul 09.25. Seharusnya 09.15. Tindakan dilakukan tepat waktu, tetapi angka pada catatan salah sepuluh menit.
“Koreksi sesuai prosedur,” katanya. “Coret satu garis, tulis waktu yang benar, paraf.”
Putri segera melakukannya.
Tidak ada obat salah. Tidak ada tindakan terlambat. Tidak ada pasien dirugikan.
Namun Kepala Bidang Keperawatan sudah berdiri di belakang mereka.
“Kenapa dokumentasi diubah?”
Nan Shin berbalik. “Saya salah menulis waktu, Bu. Tindakannya pukul 09.15, terkonfirmasi dari monitor dan catatan Putri. Sudah dikoreksi sesuai prosedur.”
“Kesalahan tetap kesalahan.”
“Iya. Saya bertanggung jawab.”
Perempuan itu mengambil lembar pemantauan. “Dalam kondisi restrukturisasi, akurasi dokumentasi menjadi bagian evaluasi. Pengalaman dua belas tahun seharusnya membuat hal seperti ini tidak terjadi.”
Suara di meja perawat menurun. Ayu berhenti membuka kemasan alat. Dewi menoleh dari komputer. Bahkan keluarga pasien yang duduk paling dekat ikut memperhatikan.
Panas naik ke wajah Nan Shin.
“Kami menangani tiga pasien bersamaan dengan tenaga terbatas,” kata Bu Ratna. “Kesalahannya ditemukan dan dikoreksi sebelum serah terima.”
“Saya sedang bicara dengan Suster Nan Shin.”
Bu Ratna mengatupkan rahang.
Kepala Bidang Keperawatan mengembalikan lembar itu kepada Nan Shin. “Kalau beban tinggi, justru ketelitian harus meningkat. Jangan menjadikan kekurangan orang sebagai alasan.”
Nan Shin menerima lembar itu. “Saya tidak menjadikannya alasan. Saya menjelaskan urutan kejadian dan memperbaiki catatan sesuai prosedur.”
“Seharusnya tidak perlu diperbaiki.”
“Betul. Karena itu saya akan menulis langkah pencegahan.”
Putri mengangkat tangan sedikit. “Saya punya catatan waktu dari monitor, Bu. Boleh saya lampirkan?”
Kepala Bidang Keperawatan menatapnya. “Lampirkan fakta, bukan pembelaan.”
“Itu fakta,” kata Nan Shin. “Waktu tindakan terkonfirmasi dan pasien tidak terlambat menerima oksigen.”
“Suster Nan Shin, pengalaman tidak membebaskan seseorang dari evaluasi.”
“Saya tidak meminta dibebaskan. Saya meminta kesalahan dokumentasi tidak ditulis seolah tindakan klinis terlambat.”
Bu Ratna berdiri di sampingnya. “Saya akan memeriksa laporan dan lampiran sebelum dikirim.”
Putri maju setengah langkah. “Bu, saya yang terlambat mengingatkan. Suster Nan Shin juga sedang...”
Nan Shin menyentuh lengannya pelan. “Sudah, Putri.”
Ia tidak ingin perawat muda itu memulai pekerjaannya dengan catatan menentang atasan.
“Saya akan buat koreksi dan laporan kejadian,” ujar Nan Shin.
“Bukan laporan kejadian pasien. Buat penjelasan tertulis tentang kelalaian dokumentasi dan langkah pencegahannya.” Kepala Bidang Keperawatan menatapnya di depan semua orang. “Masukkan ke Bu Ratna sebelum pulang.”
Lalu perempuan itu berkata, pelan tetapi cukup keras untuk didengar satu meja perawat.
“Buat laporan tertulis.”