Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Potong Jari
"Bukan kita," kata Brandon kepada Amanda. "Keira harus dibawa ke rumah sakit."
Dokter memindahkan Keira ke ruang depan yang tenang bersama Oma dan Bi Sari. Ambulans masih menyiapkan alat imobilisasi kepala. Keira tidak melihat ketika pintu ballroom ditutup di belakangnya.
Di dalam, Rayhan meminta tim keamanan memutar rekaman serangan pada layar.
Gambar diperlambat hanya untuk menghitung tindakan, bukan untuk menghibur tamu. Perempuan pertama menampar dua kali. Perempuan kedua dan ketiga masing-masing satu kali. Perempuan keempat menarik rambut, merobek gaun, lalu melakukan satu tamparan terakhir sebelum tangannya ditangkap Rayhan.
Lima tamparan.
Satu per satu, keempat perempuan mencoba mengganti kata `memukul` dengan `melerai`.
"Saya hanya ikut karena Nyonya Jessica bilang dia berbahaya."
"Saya tidak tahu dia tunangan Ko Rayhan."
"Vanessa mengatakan dia penjahat."
Rayhan berdiri di bawah layar. "Kalau Keira bukan tunanganku, kalian merasa boleh memukulnya?"
Tidak ada jawaban.
Arief menaruh empat kantong bukti di meja. Di dalamnya ada perhiasan yang terlepas, serat tulle pada kuku, dan rekaman dari sudut berbeda. Ia berkata penyidik harus menerima semua itu bersama laporan medis Keira dan Andy.
"Polisi akan memproses penganiayaan," katanya. "Kita tidak perlu menambah korban."
Rayhan tidak membantah fakta tersebut. Ia memandang layar terakhir, ketika dunia Keira berubah sunyi, lalu menoleh kepada Amanda.
"Kamu tadi bertanya apakah ini giliranmu."
Amanda membuka pisau kupu-kupu.
Brandon menangkap pergelangan tangannya sebelum ia maju. "Manda. Setelah Lucas, kamu sudah tahu akibatnya."
"Aku tahu."
"Kalau kamu melakukan ini, tidak ada alasan perlindungan yang membuatnya sah."
"Aku juga tahu."
Amanda melepaskan tangannya dari Brandon. Tatapannya tidak bangga atau gembira. Ia telah memilih, dan pilihan itu akan menjadi bagian dari perkara pidananya jika bukti sampai kepada penyidik.
Rayhan berkata, "Satu tamparan, satu jari."
Beberapa tamu berteriak menolak. Sebagian berbalik. Oma tidak berada di ruangan untuk memberi persetujuan. Keira tidak pernah diminta memilih dan bahkan tidak mengetahui keputusan itu.
Apa yang terjadi berikutnya berlangsung di balik tubuh petugas medis yang sudah dipanggil mendekat. Tidak ada uraian gerakan, hanya hasil yang tidak bisa ditarik kembali.
Lima jari terputus dari empat tangan.
Jeritan memenuhi ballroom. Darah ditahan dengan kasa tekan. Bagian tubuh yang terpisah dimasukkan ke wadah steril untuk kemungkinan operasi penyambungan, sedangkan ambulans kedua dipanggil. Perempuan yang pergelangannya retak kehilangan satu jari dari tangan lain.
Dokter mencatat waktu, kondisi saraf, dan siapa yang berada di tempat kejadian. Prognosis penyambungan belum pasti. Tidak seorang pun menyebut luka tersebut pembayaran yang sudah lunas.
Arief mengambil pisau yang sudah ditutup Amanda dan memasukkannya ke dalam kantong bukti. Ia meminta petugas keamanan menyalin rekaman mulai dari perintah Rayhan, bukan hanya serangan terhadap Keira. Nama setiap saksi dicatat sebelum mereka diizinkan meninggalkan ballroom.
"Ini akan terlihat sebagai penganiayaan berat yang direncanakan," katanya kepada Rayhan.
"Karena memang begitu."
"Pengacara tidak bisa menghapus fakta hanya karena para korban lebih dulu menjadi pelaku."
"Jangan minta mereka menghapusnya."
Amanda menyerahkan pisau tanpa melawan. Brandon memotret mansetnya dan waktu penyerahan untuk rantai bukti. Keduanya memahami bukti tersebut suatu hari bisa digunakan terhadap Amanda, bukan untuk membelanya.
Brandon memandang Amanda. Ada titik merah pada manset gaun hitamnya.
"Puas?" tanyanya.
Amanda menutup pisau. "Tidak."
Jawaban itu adalah satu-satunya hal jujur dari pembalasan malam tersebut. Merusak tangan orang lain tidak mengembalikan pendengaran Keira atau menyambung Peony Agung.
Rayhan memerintahkan seluruh rekaman disimpan tanpa penyuntingan. "Kalau ada laporan, nama pemberi perintah dicatat lebih dulu."
"Nama saya juga," kata Amanda.
"Semua yang terlibat."
Empat perempuan dibawa ke rumah sakit melalui jalur berbeda. Para tamu yang tersisa berdiri dalam ketakutan. Sebagian kini takut pada Hartono, bukan memahami penderitaan Keira. Rayhan melihat perbedaan itu dan tidak mencoba menyebutnya kemenangan.
Vanessa berusaha keluar bersama rombongan medis. Arief menutup pintu.
"Aku tidak memukul siapa pun," katanya. "Aku cuma tidak sengaja merusak kain."
Rayhan meletakkan dua potong Peony Agung yang sudah diamankan di atas meja panjang. Laporan penilaian berada di sampingnya.
"Kamu merobek sulaman Keira. Karya itu bernilai Rp 30 miliar. Bagaimana kamu mau menggantinya?"
Vanessa memucat. "Harga itu palsu. Keluarga Hartono bisa menulis angka berapa pun."
Seorang kurator maju. "Penilaian dibuat oleh tiga lembaga sebelum pesta. Kerusakan, kehilangan nilai, dan hak moral seniman akan dihitung terpisah."
Kurator menunjukkan laporan kondisi sebelum dan sesudah kerusakan. Karena foto delapan sudut, nomor klip, serta rekaman kamera tersedia, Vanessa tidak dapat mengatakan kain sudah terbelah sebelumnya. Konservator memperkirakan sebagian besar benang bisa diselamatkan, tetapi komposisi pertama tidak mungkin dikembalikan persis.
Tim hukum sudah memiliki jalur yang sah: laporan perusakan, gugatan ganti rugi, pembekuan aset melalui putusan, dan pemberitahuan pelanggaran syarat pembebasan. Semua itu tetap berjalan. Mencukur kepala Vanessa bukan pengganti proses tersebut. Itu keputusan penghinaan tambahan yang dibuat Rayhan di depan publik.
"Aku tidak punya uang sebanyak itu. Papa yang mengatur semua rekeningku."
"Kartu Rp 100 miliar, biaya sekolah internasional, apartemen, dan kendaraan semuanya tercatat atas manfaatmu," kata Brandon. "Pengadilan yang akan menentukan aset mana yang bisa disita."
Vanessa mulai menangis. Ia berlutut dan mencoba meraih celana Rayhan, tetapi Arief menahan bahunya.
"Ko Rayhan, aku salah. Aku cemburu. Aku akan meminta maaf kepada Kak Keira. Jangan kirim aku kembali ke rutan."
"Permintaan maaf bukan pembayaran."
"Aku akan bekerja. Aku akan mencicil."
"Kalau tidak bisa membayar, pakai cara lain."
Rayhan memberi isyarat kepada Andy.
Andy sudah mendapat perban baru di pelipis. Bahunya sakit, tetapi tangannya masih stabil. Di atas meja rias, Brandon menaruh alat cukur listrik dari ruang staf.
"Saya penata gaya," kata Andy. "Bukan algojo."
"Rambut tumbuh kembali," jawab Rayhan. "Karya itu tidak."
Andy memandang dua bagian Peony Agung. Ia juga melihat Vanessa tersenyum ketika mendorongnya jatuh. Setelah hening panjang, ia mengambil alat cukur.
"Aku tidak mau!" Vanessa menjerit. "Tante Jessica, tolong aku!"
Jessica melangkah maju.
Tongkat Oma terdengar dari pintu. Ia kembali setelah memastikan Keira bersama dokter.
"Jessica, kamu mau ikut dicukur?"
Jessica berhenti.
Vanessa didudukkan di depan cermin. Tidak ada kulit yang dilukai. Andy membagi rambutnya, memotong bagian panjang lebih dulu, lalu menggunakan alat cukur sampai seluruh kepala bersih. Prosesnya tidak menghapus kecantikan atau martabat manusia, tetapi dimaksudkan sebagai penghinaan publik. Itulah yang membuatnya tetap menjadi kekerasan, meskipun tidak mematahkan tulang.
Ketika selesai, Vanessa menatap bayangannya dan menutup kepala dengan kedua tangan.
Brandon mengambil satu foto dari depan. Wajah dan kepala terlihat, tidak ada bagian tubuh lain. Ia mengirimkannya ke grup percakapan elite Jakarta bersama satu kalimat faktual.
`Vanessa Pratama merusak Peony Agung senilai Rp 30 miliar di pesta Oma Hartono. Tuntutan ganti rugi dan laporan perusakan sedang disiapkan.`
Foto itu keluar dari grup dalam hitungan menit. Akun gosip mengunggah ulang. Nama Vanessa masuk daftar topik terpopuler lokal di X, yang masih disebut banyak orang sebagai Twitter. Sepuluh menit kemudian, ribuan komentar memenuhi layar Jessica.
Tim hukum mengirim pemberitahuan kepada jaksa penuntut dan pengadilan tentang pelanggaran syarat pembebasan Vanessa. Waktu masuk, kerusakan kain, serta upaya mendekati Keira tercatat pada kamera. Petugas rutan mengonfirmasi kendaraan penjemput sedang menuju Menteng.
Vanessa tidak lagi bisa berlindung di balik jaminan Jessica. Namun jejak digital kepala gundulnya juga tidak akan hilang ketika perkara selesai. Sekali lagi, hukuman hukum dan penghinaan publik menjadi dua hal berbeda.
Oma menatap Brandon. "Kirim laporan kerusakan, bukan hinaan. Minta tim hapus akun yang mengunggah foto tanpa konteks."
"Baik, Oma."
Kerusakan sosial sudah terjadi lebih cepat daripada perintah koreksi.
Jessica memegang ponsel dengan tangan gemetar. Kartu Hartono mati, akses rumah dicabut, dan perempuan yang ia bela kini menjadi bahan pembicaraan seluruh kota.
"Semua ini karena kamu," bisiknya kepada Vanessa.
Vanessa mengangkat wajah basah. "Tante yang memilih memukul Kak Keira."
Keduanya saling menatap. Persekutuan mereka retak pada malam yang sama ketika dibentuk.
Rayhan meninggalkan ballroom setelah menyerahkan Vanessa kepada petugas yang akan mengembalikannya ke rutan karena melanggar syarat pelepasan dan terlibat perusakan. Ia mencuci tangan, melepas manset kotor, lalu masuk ke ruang depan.
Keira duduk dalam jubah yunjin. Oma berbicara sambil menulis kalimat pendek di tablet. Di samping kursi, kotak konservasi Peony Agung sudah ditutup.
Dokter memasang penyangga lembut di leher Keira dan memberi lembar rujukan. Tekanan darahnya stabil, tetapi mual, gangguan keseimbangan, dan hilangnya pendengaran membuat CT tidak boleh ditunda. Rumah sakit tujuan sudah menghubungi spesialis THT serta bedah saraf. Amanda membawa map medis, bukan pisau.
Pada tablet, Oma menulis bahwa rumah sakit didahulukan dan pesta selesai bagi mereka. Keira membaca dua kali, lalu menandatangani persetujuan ambulans dengan tangan yang masih gemetar.
Rayhan duduk dan menggenggam tangan kanan Keira. Ia memastikan wajahnya terlihat sebelum berbicara.
"Kamu ke mana?" tanya Keira.
"Mengurus sedikit urusan."
Keira memahami kalimat itu dari bibirnya, tetapi tidak mengetahui apa yang terjadi di balik pintu.
Suara mesin mobil berhenti di halaman, tak terdengar olehnya.
Kevin kembali dari rumah sakit setelah memastikan Edmond dan Yolanda diterima di IGD. Hujan turun deras. Ia keluar tanpa payung dan berdiri di depan pintu rumah Menteng, pakaian hitamnya langsung basah.
Ia tidak masuk.