Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Besok kita lihat."
Kalimat Xiao Hanzhou masih terus terngiang di kepala Shen Yunche. Bukan karena terasa menakutkan, bukan pula karena Yunche merasa tertantang, melainkan karena dia sama sekali tidak mengerti maksudnya.
"Siapa yang lebih pantas berdiri di sampingnya?"
Yunche berjalan sendirian menyusuri jalanan Kota Qinghe sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Orang itu sebenarnya bicara apa, sih?"
Langkahnya mendadak terhenti.
"Tunggu." Yunche menepuk dahinya sendiri. "Jangan-jangan..."
Dia menoleh ke belakang. Kereta megah milik keluarga Gu tentu saja sudah hilang dari pandangan. Yunche kembali menatap jalan di depannya.
"Xiao Hanzhou menyukai Gu Qingli?" Yunche terdiam sejenak, lalu mengangkat bahu acuh tak acuh. "Ya lalu kenapa? Bagus, dong."
Yunche kembali melangkah. Namun, baru beberapa meter berjalan, dia kembali mematung.
"Kenapa aku harus memikirkannya?" Dia menggelengkan kepala. "Tidak penting sama sekali."
Dia melangkah lagi. Satu, dua, tiga, empat, lima langkah—lalu berhenti lagi.
"Kenapa dia bilang aku tidak pantas?" Yunche mengerutkan kening. "Memangnya aku berniat berdiri di samping Gu Qingli?"
Pikirannya melayang. Bayangan Gu Qingli mendadak berputar di kepalanya—wajah tenangnya, senyum tipisnya yang langka, hingga sentuhan lembut jemarinya saat merapikan rambut Yunche pagi itu.
Yunche refleks menggelengkan kepala kuat-kuat. "Tidak, tidak!"
Dia menepuk kedua pipinya sendiri agar tersadar. "Jangan berpikir yang aneh-aneh."
Seorang nenek yang sedang berjalan di dekatnya menatap Yunche dengan pandangan heran sekaligus cemas. Yunche yang menyadarinya langsung melempar senyum ramah. "Nenek."
Nenek itu justru mempercepat langkahnya, seolah-olah baru saja melihat orang kurang waras. Yunche tertegun sendirian. "Kenapa semua orang malah menghindariku?"
Sore harinya, di halaman latihan keluarga Shen.
Gu Qingli berdiri anggun dengan pedang kayu di tangannya, berhadapan dengan Yunche. Keduanya sudah berlatih hampir satu jam penuh. Namun, sore itu terasa sedikit berbeda. Biasanya Yunche banyak bicara dan tidak bisa diam, tetapi hari ini pemuda itu lebih banyak bungkam.
Gu Qingli menyadari keanehan itu. "Yunche."
"Hm?"
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Kau lebih banyak diam hari ini."
"Aku memang diam."
"biasanya kau tidak seperti ini."
Yunche mengerutkan kening. "Maksudmu, biasanya aku berisik?"
"Ya."
"Berarti bagus, dong."
Gu Qingli menatapnya datar. "Kenapa begitu?"
"Berarti aku makin dewasa dan berkembang."
Gu Qingli hampir saja mengulas senyum. "Logikamu sungguh aneh."
"Terima kasih atas pujiannya."
"Itu bukan pujian."
"Tetap kuterima dengan senang hati."
Gu Qingli menggelengkan kepala seraya menghela napas, lalu mendadak melancarkan serangan. Yunche dengan sigap menangkisnya.
Brak!
Benturan pedang kayu membuat keduanya terdorong mundur. Yunche tidak tinggal diam; dia langsung menyerang balik dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari biasanya. Gu Qingli sedikit terkejut, meski refleknya masih cukup tangkas untuk menghindar.
"Bagus," puji Gu Qingli singkat.
Yunche tersenyum bangga. "Benarkah?"
"Ya."
"Kalau begitu, terima ini!" Yunche kian mempercepat tempo gerakannya.
Gu Qingli mengangkat satu alisnya. "Jangan sombong."
"Aku tidak sombong."
"Trik dan gerakanmu mengatakan sebaliknya."
Yunche tertawa lepas. Keduanya terus bertukar serangan. Pedang kayu saling beradu berulang kali dengan ritme yang makin cepat dan lincah.
Namun, di tengah pertarungan, tubuh Yunche mendadak membeku.
"Ah..."
Gu Qingli seketika menarik serangannya. "Yunche?"
Yunche meremas dadanya kuat-kuat. Rasa panas yang membakar itu kembali menerjang, dan kali ini rasanya jauh lebih menyiksa dari sebelumnya.
"Yunche!" Gu Qingli bergegas mendekat.
Yunche jatuh berlutut di atas tanah. "Jangan..."
Langkah Gu Qingli terhenti sejenak.
"Jangan mendekat... jangan sentuh aku."
"Kenapa?"
Yunche menggertakkan gigi menahan derita yang mencekat tenggorokannya. "Aku... tidak tahu."
Gu Qingli tidak memedulikan peringatan itu. Dia langsung berlutut tepat di hadapan Yunche. "Biarkan aku memeriksa meridianmu."
"Qingli..."
"Diam."
Tanpa ragu, Gu Qingli menggenggam pergelangan tangan Yunche dan menyalurkan energi spiritualnya. Namun selang beberapa detik, raut wajah Gu Qingli berubah pucat pasi.
"Yunche..."
"Ada apa?" bisik Yunche terengah-engah.
Gu Qingli tidak langsung menjawab. Wajahnya dipenuhi kecemasan. Dari aliran energinya, dia bisa merasakan keanehan hebat di dalam tubuh pemuda itu. Energi spiritual Yunche sangat bergejolak dan tidak stabil—seolah-olah ada dua kekuatan raksasa yang sedang bertabrakan hebat di dalam meridiannya.
Satu aliran energi berasal dari kultivasi Yunche sendiri. Yang lainnya... jauh lebih tua, jauh lebih kuat, dan terasa sangat asing.
"Yunche," panggil Gu Qingli pelan namun tegas.
"Hm?" Yunche menyahut lirih, napasnya masih memburu.
"Berhenti berkultivasi untuk sementara waktu."
Yunche mendongak dan menatapnya kebingungan. "Apa? Kenapa?"
"Karena tubuhmu tidak akan mampu menahannya," Gu Qingli menatapnya sangat serius, cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Yunche kian mengerat. "Kalau kau terus memaksakan diri... kau bisa terluka sangat parah."
Suasana mendadak hening. Yunche memandangi raut cemas di wajah gadis di depannya, lalu perlahan sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. "Baik."
Gu Qingli justru mengerutkan kening, tidak menyangka jawaban secepat itu. "Kau menyanggupinya begitu saja? Tanpa membantah?"
"Kenapa harus membantah?" Yunche memotong ucapan Gu Qingli dengan nada lembut. Dia menatap lurus ke dalam iris mata gadis itu. "Kalau kau yang bilang harus berhenti... aku akan berhenti. Karena aku percaya padamu."
Gu Qingli membeku. Kalimat sederhana itu entah bagaimana membuat dadanya berdesir hangat dan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Mencoba menguasai diri, Gu Qingli melepas pegangannya dan berdiri. "Sudahlah. Ayo bangun, kita pulang."
"Oh, oke."
Yunche mencoba berdiri sendiri, tetapi tubuhnya masih sangat lemah hingga langsung oleng ke samping. Dengan sigap, Gu Qingli menangkap dan memegang erat lengan pemuda itu.
"Aku masih bisa jalan sendiri, tahu," gumam Yunche agak canggung.
"Aku tahu, tapi kau tetap harus dipapah," sahut Gu Qingli tanpa membantah, memeluk lengan Yunche sedikit lebih erat agar tidak jatuh.
Mereka mulai berjalan perlahan menyeberangi Halaman Latihan. Sepanjang jalan tidak ada perkataan yang keluar dari mulut mereka. Namun, Yunche mulai menyadari satu hal: Gu Qingli ternyata sama sekali tidak sedingin kabar yang beredar. Di sisi lain, Gu Qingli juga menyadari sesuatu saat bahu Yunche bersandar padanya—dia sama sekali tidak merasa terganggu atau riyuh.
Akan tetapi, belum sempat mereka mencapai gerbang keluar, sesosok pria melangkah menghadang jalan mereka.
Xiao Hanzhou.
Tatapannya langsung tertancap pada jemari Gu Qingli yang merangkul lengan Yunche, sebelum akhirnya beralih menatap wajah pucat Yunche.
"Qingli, apa yang terjadi?" tanya Xiao Hanzhou dengan raut menaruh perhatian.
"Yunche terluka," jawab Gu Qingli singkat.
"Terluka serius?" Xiao Hanzhou melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya. "Kalau begitu, biarkan aku saja yang memapah atau membawanya."
"Tidak perlu," potong Gu Qingli dengan cepat.
Jawaban yang terlontar begitu spontan itu membuat mereka semua tertegun. Bahkan Gu Qingli sendiri tampak terkejut dengan reaksinya yang terkesan sangat protektif.
Xiao Hanzhou tersenyum tipis, mencoba mencairkan ketegangan. "Qingli, dia itu pria dan tubuhnya tentu lebih berat darimu."
"Hei, aku tidak seberat itu, ya!" celutuk Yunche tiba-tiba sambil memprotes. Dia menatap Gu Qingli dan Xiao Hanzhou secara bergantian dengan kening berkerut. "Kenapa kalian berdua malah membicarakanku seolah-olah aku ini barang pajangan?"
Gu Qingli hampir saja menahan tawa mendengar ocehan Yunche, sementara Xiao Hanzhou menyunggingkan senyum tipis—meski kilat di matanya tidak menunjukkan keramahan yang sama.
"Baiklah kalau begitu," ujar Xiao Hanzhou seraya mundur satu langkah memberi jalan. Dia menatap Yunche dengan penuh arti. "Jaga dirimu baik-baik, Yunche."
"Terima kasih atas perhatiannya," jawab Yunche sopan sembari mengangguk.
Xiao Hanzhou berlalu pergi meninggalkan mereka. Gu Qingli kembali memapah Yunche menyusuri lorong kediaman, tetapi pemuda di sampingnya itu mendadak memecah keheningan.
"Qingli, kau marah?"
"Tidak."
"Bohong, wajahmu kelihatan sekali sedang kesal," desak Yunche penasaran. "Kenapa harus marah?"
"Aku bilang aku tidak marah," tegah Gu Qingli datar.
Yunche memiringkan kepalanya sedikit, mencoba mengintip ekspresi gadis itu. "Kakak Xiao tadi kan hanya berniat baik ingin membantu memapahku. Kenapa kau malah menolaknya mentah-mentah?"
Gu Qingli mendadak bungkam. Langkahnya agak melambat.
Kenapa?
Dia sendiri tidak tahu jawabannya. Xiao Hanzhou adalah kultivator yang kuat dan jelas punya tenaga lebih besar untuk membantu Yunche yang sedang terluka. Secara logika, menyerahkan Yunche pada Xiao Hanzhou adalah pilihan paling masuk akal.
Namun, tepat saat Xiao Hanzhou mengulurkan tangan tadi, pikiran logis itu menguap begitu saja. Hatinya secara naluriah menolak, meninggalkan satu jawaban mutlak yang keluar dari bibirnya tanpa ragu: Tidak perlu.
apa gk syok tuh thor