NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.

Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

------------------------------

## BAB 33: Ancaman Baru dari Swiss

Hawa dingin malam di lantai dasar paviliun utama mendadak terasa laksana cengkeraman es yang siap mencekik seluruh pasokan oksigen di dalam paru-paru. Informasi darurat yang dibawa oleh Yan mengenai kepulangan Albert Syailendra runtuh menjadi teror nyata yang meretakkan dinding pertahanan aliansi maut Nicholas dan Elena. Saksi hidup dari Prancis yang membawa dokumen kematian Elena Vance asli tiga tahun lalu di Pegunungan Alpen adalah kartu mati yang tidak bisa diretas oleh sistem komputer mana pun.

Sret.

Nicholas Syailendra merapikan kerah kemeja hitam kasualnya dengan gerakan yang teramat lambat namun konstan. Sepasang mata elangnya yang biasanya sedingin kutub utara kini menyala merah penuh tirani amarah yang tersembunyi. Pria itu membalikkan tubuh tegapnya, menatap langsung ke dalam manik mata indah Elena Vance, lalu merangkul pinggang ramping sang istri dengan lengan kekarnya yang kokoh dan posesif.

"Albert Syailendra... serigala tua dari Swiss itu akhirnya mencium bau darah bisnis di Jakarta," desis Nicholas rendah, suaranya sarat akan ancaman berbahaya yang mematikan. "Jangan lepaskan genggamanmu seujung senti pun, Elena. Di hadapan paman kandungku yang paling kejam itu, kelemahan sekecil apa pun akan menjadi kapak algojo untuk memotong leher kita."

Elena Vance menegakkan kepalanya, memaksa kilat ketegasan baja kembali mengunci sepasang mata indahnya. Sebuah senyuman miring yang begitu dingin dan tak tersentuh terukir jelas di bibir merah meronanya. "Aku sudah mati satu kali di bawah hujan badai satu bulan lalu, Nicholas. Menghadapi bangkai dari Prancis tidak akan membuat lututku gemetar ketakutan."

Nicholas tersenyum miring—sebuah senyuman kejam namun penuh pesona maskulin yang luar biasa memikat. Pria itu menggandeng erat telapak tangan Elena yang mungil ke dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat, menuntunnya berjalan keluar dari paviliun menembus pelataran menuju ruang kerja utama Kakek Agung di bangunan depan.

------------------------------

Suasana di dalam ruang kerja utama Kakek Agung Syailendra malam itu terasa begitu mencekam laksana ruang eksekusi mati korporat. Begitu pintu ganda jati tua ditarik terbuka lebar, bau cerutu premium Swiss langsung menyengat indra penciuman.

Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya bertubuh kurus tegap dengan setelan jas wol abu-abu potongan khas penasihat keuangan Eropa. Wajahnya tampak begitu tenang, bersih dari emosi, namun sepasang mata miliknya memancarkan kejeniusan kalkulatif yang jauh lebih kejam dan berbahaya daripada milik Ardi. Pria itu adalah Albert Syailendra.

Di sebelah kursi Albert, berdiri seorang pria paruh baya berkulit kaukasia dengan setelan jas hitam formal yang memegang sebuah draf map kulit berlogo firma hukum tertinggi di Paris.

"Nicholas, keponakanku yang luar biasa cerdas," sapa Albert, suaranya terdengar sangat lembut namun sarat akan racun intimidasi tingkat tinggi yang sanggup membekukan atmosfer seluruh ruangan. "Sepuluh tahun aku mengelola aset gelap keluarga di Swiss, aku tidak pernah menduga akan pulang ke Jakarta hanya untuk melihatmu menikahi hantu dari masa lalu."

Kakek Agung Syailendra duduk diam di kursi kebesarannya, meremas kepala tongkat perak naganya dengan ketegasan tirani yang mengawasi jalannya interogasi.

Nicholas membimbing Elena untuk berdiri tegap tepat di hadapan meja kerja raksasa tersebut, membalas tatapan paman kandungnya dengan sepasang mata elang sedingin es. "Paman Albert, jika kepulangan Anda dari Swiss hanya untuk membawa draf dongeng palsu dari Eropa, saya sarankan Anda segera memesan tiket penerbangan kembali sebelum fajar menyingsing."

Albert terkekeh rendah—sebuah tawa renyah penuh pesona kemenangan yang terlihat sangat dingin. Ia melirik ke arah pria asing di sampingnya. "Tuan Gerard, silakan buka draf laporan otentik yang Anda bawa dari firma hukum pusat Paris untuk mencerahkan ingatan keponakan saya yang sedang diliputi kegilaan asmara ini."

Tuan Gerard melangkah maju, meletakkan selembar dokumen bersertifikat segel lilin merah resmi dari otoritas Prancis ke atas meja rapat.

Pluk.

"Berdasarkan draf manifes rekam medis dan investigasi asuransi jiwa kementerian Prancis, Nona Elena Vance yang asli—putri kandung dari pemilik Vance Jewelry—telah dinyatakan tewas akibat kecelakaan longsor salju saat bermain ski di Pegunungan Alpen pada musim dingin tiga tahun lalu," ucap Tuan Gerard dengan bahasa Inggris beraksen Prancis yang kaku namun tegas. "Seluruh draf sertifikat kematian dan draf penutupan rekening bank miliknya ditandatangani oleh saya selaku pengacara keluarga resmi mereka."

Tuan Gerard memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah wajah cantik Elena Vance dengan pandangan menghakimi. "Oleh karena itu, wanita yang berdiri di samping Tuan Nicholas malam ini... 100% adalah seorang penipu internasional berwajah palsu yang memalsukan identitas internasional demi memeras hak waris Syailendra Group."

Deg!

Suasana di dalam ruang kerja seketika membeku. Detik itu juga, seluruh pasokan udara di dalam ruangan seolah tersedot habis. Kakek Agung Syailendra mengetukkan tongkat naganya ke lantai dengan satu ketukan keras laksana vonis mati.

"Nicholas, Elena... apa pembelaan kalian atas fakta hukum internasional ini?" desis Kakek Agung, nadanya berat dipenuhi amarah tirani yang amat pekat. "Jika identitas Prancis ini palsu, malam ini juga silsilah pernikahan kalian dibatalkan secara hukum dan seluruh aset jabatan CEO milikmu disita negara!"

Elena Vance menatap dokumen kematian bersegel lilin merah itu dengan pandangan mata yang menyipit dingin. Jantungnya sempat berdegup kencang secara tidak teratur, namun di bawah bimbingan Nicholas, mentalnya kini sudah sekeras baja hitam. Ia menyadari satu celah tipis di dalam dokumen tersebut yang tidak dipahami oleh orang luar Prancis.

Sebuah kekehan renyah yang terdengar sangat beracun dan kejam mendadak keluar dari bibir merah merona Elena, memutus keheningan ruang eksekusi tersebut.

"Paman Albert... dan Tuan Gerard yang terhormat," Elena memajukan tubuh rampingnya sedikit, menatap langsung ke manik mata Albert dengan pancaran keangkuhan dingin yang mematikan. "Saya sangat mengagumi kecepatan Anda dalam membawa draf dokumen kematian dari Alpen. Namun, tampaknya hukum waris Prancis yang Anda pelajari di Swiss kurang cukup mendalam untuk menguliti areaku."

Elena merogoh tas pesta kecilnya, mengeluarkan sebuah gawai pintar tipis berlogo khusus Syailendra Group, lalu melemparkan sebuah draf sertifikat adopsi digital resmi berstempel hukum internasional ke atas meja.

"Elena Vance yang tewas di Pegunungan Alpen tiga tahun lalu adalah Elena Vance Junior—putri kandung pertama yang menderita sakit kronis sejak kecil," ucap Elena, suaranya yang renyah terdengar begitu tegas laksana tamparan visual di depan wajah Albert. "Sedangkan saya... adalah anak angkat rahasia yang diadopsi secara resmi oleh mendiang Tuan Vance dari garis keturunan keluarga besar ibunya di Asia satu tahun sebelum kecelakaan itu terjadi. Nama hukum kami memang sama di dalam draf draf dokumen paspor, demi mengamankan draf pengalihan aset bebas pajak Vance Wholesale dari kepunahan hukum Uni Eropa."

Elena beralih menatap Tuan Gerard yang kini wajahnya mendadak menegang. "Tuan Gerard, sebagai pengacara keluarga, Anda pasti tahu poin klausul rahasia pasal 12 tentang draf anak angkat tersembunyi yang drafnya hanya disimpan di dalam brankas notariskementerian dalam negeri Prancis, bukan? Ataukah Anda sengaja menyembunyikan fakta adopsi saya karena Anda sudah menerima suap dana gelap dari Albert Syailendra melalui rekening Bank Of Swiss dua hari yang lalu?"

Boom!

Plot twist analisis balik dari Elena laksana hantaman bom waktu yang meledakkan seluruh keheningan malam di dalam ruang kerja Kakek Agung.

Tuan Gerard seketika membelalakkan matanya samar karena terkejut, seluruh tubuhnya gemetar hebat kehabisan kata-kata karena rahasia konspirasi keuangannya dibongkar secara telanjang oleh Elena dalam hitungan menit. Wajah Albert Syailendra yang semula tenang dan bersih dari emosi, kini mendadak mengeras dengan urat-urat kemarahan yang mencuat tajam di pelipisnya. Serigala tua dari Swiss itu menyadari bahwa ia baru saja meremehkan taring singa betina baru di samping keponakannya.

Nicholas Syailendra menyunggingkan sebuah senyuman miring penuh pesona kemenangan yang terlihat sangat seksi namun penuh dengan tirani kejam yang mutlak. Pria itu kembali merangkul pinggang ramping Elena begitu erat dan posesif, menariknya merapat sempurna ke dadanya.

"Kakek, bukti adopsi hukum internasional ini sah dan tidak bisa dibantah oleh draf dokumen palsu bawaan Paman Albert," suara berat Nicholas berdesis dingin laksana lonceng kematian. "Konfrontasi malam ini selesai. Dan untuk Anda, Tuan Gerard... bersiaplah menghadapi pencabutan lisensi hukum Anda oleh otoritas Paris besok pagi."

Namun, tepat saat Nicholas dan Elena hendak melangkah berbalik menuju pintu keluar ruang kerja, Albert Syailendra perlahan bangkit dari kursi jatinya. Pria paruh baya itu merogoh saku jas wol abu-abunya, mengeluarkan selembar draf foto polaroid kuno yang warnanya sudah mulai menguning, lalu meletakkannya tepat di bawah sorot lampu meja kerja Kakek Agung.

"Analisis yang sangat genius, Elena," desis Albert rendah, suara lembutnya mendadak berubah menjadi sangat mengerikan bercampur kegilaan intrik yang mematikan. "Kamu bisa memalsukan status anak angkat di Prancis. Tapi kamu lupa satu hal... sepuluh tahun lalu di Swiss, aku adalah sahabat karib dari mendiang ayah kandung Adeline Wijaya. Dan draf foto polaroid ini... adalah foto masa kecil Adeline saat berusia lima tahun bersama ayahnya di Jenewa, lengkap dengan tanda lahir berbentuk mawar hitam kecil di balik daun telinga kirinya. Mari kita buka draf rambut indahmu malam ini, Elena... dan kita lihat apakah mawar hitam masa lalu itu juga tumbuh di balik telingamu sekarang."

Deg!

Elena Vance seketika menahan napasnya yang mendadak sesak, seluruh tubuh ringkihnya membeku mematung diserang oleh horor ketakutan yang teramat sangat. Tangan kekar Nicholas yang melingkari pinggangnya mendadak mengencang keras saat mata elang Albert terkunci mati pada daun telinga kiri Elena yang kini tertutup oleh helai rambut panjangnya. Babak baru dari kepunahan total sandiwara di atas draf kertas emas kini telah resmi meledak di tengah kegelapan malam, mengunci sepasang penguasa takhta dalam sebuah sangkar jebakan maut fisik yang paling berdarah dan mematikan.

------------------------------

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!