NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya bertemu Ibu

Seminggu setelah operasi berjalan lancar, kondisi Bu Sari sudah cukup stabil untuk menerima kunjungan. Dokter pun memberikan izin agar Annisa bisa datang menjenguk, asalkan perjalanannya tidak terlalu melelahkan.

Pagi-pagi sekali Annisa sudah bangun. Ia menatap sofa untuk mencari sosok lelaki yang selama ini sudah begitu baik padanya. Meskipun terkadang sikapnya masih suka dingin dan datar, tetapi ia selalu di perhatikan.

"Kamu sudah bangun?" Sapa Chensi saat baru saja keluar dari ruang kerjanya yang memang pintunya terhubung ke kamar utama.

"Ah ya, Maaf saya telat bangun," jawab Annisa sedikit gugup. Ia memperhatikan penampilan lelaki itu yang sudah rapi dengan jas yang di kenakannya.

Chensi tertegun menatap Annisa dari beberapa meter. Pandangan mereka bertemu satu sama lain. Hal itu membuat wajah Annisa memerah dan salah tingkah.

"Aku akan membuatkan minum untuk Tuan," ucapnya seraya turun dari tempat tidur.

"Jangan pergi dulu!" Cegah Chensi membuat langkah Annisa terhenti.

"Apakah Tuan butuh sesuatu?" Tanya Annisa masih gugup.

"Hmm!" Jawabnya bergumam. "Kemarilah!" Titahnya.

Dengan langkah ragu Annisa mendekati ayah anaknya itu. Ia berhenti dengan jarak yang di atur.

Chensi tak lantas memerintah. Ia kembali mengamati wajah bantal Annisa. Perlahan bibirnya tersenyum tipis.

"Bantu aku pakai dasi," titahnya.

Annisa seketika mengangkat wajahnya dengan gugup. Sungguh kaki dan tangannya terasa sangat berat saat di gerakan. Annisa berjalan lebih dekat lagi, lalu menjangkau dasi yang tersampir di leher lelaki itu. Tingginya yang tidak seberapa, maka ia harus sedikit berjinjit agar sampai.

Wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti saja. Nafas hangat Chensi menerpa wajah Annisa. Hal itu membuat Jantung Annisa kembali tidak tenang.

"Sudah, Tuan." Annisa kembali menjarak saat pekerjaannya selesai.

Chensi hanya mengangguk datar. Tetapi tak bisa di sembunyikan rasa bahagia di hatinya. Kini wanita itu sudah tidak begitu takut padanya.

"Pagi ini aku tidak mau minum kopi, aku mau minum susu," ucap lelaki itu.

Annisa mengangguk patuh. "Baik, Tuan." Annisa seketika ngacir keluar kamar.

Kini pasangan itu sudah duduk di ruang makan. Annisa sedari tadi ingin bicara sesuatu, tetapi ia tetap saja takut dan ragu. Padahal semua orang di rumah sudah mengatakan bahwa ia adalah wanita yang sangat beruntung karena mendapatkan segala kasih sayang dan perhatian dari lelaki yang selama ini terkenal kejam dan kaku.

"Aku ke kantor dulu. Kamu jangan kemana-mana, jika butuh sesuatu tinggal bicara pada pelayan," pesan lelaki itu sebelum berangkat.

Annisa mengangguk. Ia ikut berjalan mengantarkan Chensi hingga depan pintu. Hal yang sudah biasa ia lakukan atas keinginan lelaki itu.

"Tuan?" Panggil Annisa ragu.

Chensi yang hendak masuk kedalam mobilnya, ia menoleh dan menatap ke arah Annisa.

"Ada apa?" Tanyanya.

"Tuan, apakah aku sudah boleh bertemu dengan ibu?"

Chensi menghela nafas dalam. Ia ingin sekali menolak, tetapi takut membuat wanita hamil itu salah paham kembali.

"Baiklah, nanti siang setelah aku pulang kantor, kita berangkat ke Malaka. Kamu siap-siaplah." Pada akhirnya lelaki itu mengikuti kemauan ibu dari anaknya itu.

Seketika senyum Annisa mengembang. Baru kali ini ia bisa tersenyum lebar dan sangat bahagia. "Terimakasih, Tuan. Aku akan mempersiapkan semuanya."

Chensi hanya mengangguk dan membalas dengan senyum tulus. Ia segera masuk mobil dan memerintahkan asistennya untuk jalan.

Annisa mempersiapkan diri dengan sangat hati‑hati. Ia memilih gamis berwarna krem yang sangat longgar, menjuntai hingga menutupi seluruh tubuhnya, dan mengenakan kerudung yang menutupi dada serta bahu. Tujuannya satu. Yaitu agar perutnya yang sudah mulai membuncit di usia kehamilan lima bulan itu tidak terlihat sedikit pun. Ia belum berani memberitahu kenyataan ini pada ibunya—takut kejutan dan kecemasan justru akan membuat kondisi Bu Sari kembali menurun, apalagi saat ini ibunya baru saja pulih dari operasi besar. Belum lagi status hubungan mereka yang belum jelas, membuatnya semakin ragu untuk membuka semuanya.

Chensi juga bersiap dengan pakaian yang lebih sederhana dan tidak terlalu mencolok, namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. Ia memutuskan untuk ikut serta, bukan hanya untuk mengantar, tapi juga sebagai bentuk tanggung jawab, sekaligus memastikan keamanan dan kenyamanan Annisa selama di perjalanan dan di rumah sakit. Hanya butuh waktu beberapa jam. Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat sempurna di Malaka.

Sesampainya di kamar rawat, pintu terbuka perlahan. Begitu melihat putrinya berdiri di ambang pintu, mata Bu Sari segera berbinar. Wajahnya yang masih pucat namun berseri‑seri karena senyum yang lebar.

“Annisa… Nak, akhirnya Ibu bisa melihatmu lagi,” ucapnya lemah namun penuh kebahagiaan, lalu mengulurkan tangan.

Annisa segera melangkah mendekat memeluk tubuh sang ibu, lalu duduk di sisi tempat tidur dan menggenggam tangan ibunya erat‑erat. “Ibu… maafkan aku baru bisa datang sekarang. Bagaimana perasaan Ibu? Apakah masih terasa sakit?”

“Sudah jauh lebih baik, Nak. Berkat doamu dan bantuan yang luar biasa ini,” jawab Bu Sari sambil menatap wajah putrinya lekat‑lekat. Matanya bergerak dari atas ke bawah, memperhatikan penampilan Annisa yang terlihat jauh berbeda dari saat ia masih bekerja sebagai pembantu dulu.

Kulitnya terlihat lebih segar, matanya berbinar, dan pakaian yang dikenakannya terlihat bersih, rapi, serta terbuat dari bahan yang halus dan bagus—sesuatu yang tidak pernah mampu ia beli dengan gaji pelayan sebelumnya.

Saat itu Chensi melangkah masuk dan berdiri di belakang Annisa, memberi salam dengan nada sopan dan lembut.

“Hallo Bu Sari. Saya Chensi. Semoga Ibu segera pulih sepenuhnya dan bisa beraktivitas seperti sedia kala,” ucapnya dengan nada yang sangat hormat.

Bu Sari menoleh, matanya melebar sedikit. Ia mengira Chensi hanya akan mengirim orangnya saja, tidak menyangka lelaki yang menjadi penyelamat hidupnya itu akan datang sendiri.

Annisa segera mentransletkan arti ucapan chensi dalam bahasa indo. Tentu saja ibu tidak tahu apa yang di ucapkan majikan putrinya itu.

“Ya Halo, terima kasih banyak, Tuan Chensi. Tanpa bantuan Tuan, Ibu mungkin sudah tidak ada di sini sekarang. Ibu tidak tahu harus membalas kebaikan ini dengan apa,” ucapnya tulus, lalu menoleh kembali ke Annisa dengan pandangan yang mulai menyimpan rasa penasaran.

Ia melihat bagaimana Chensi bersikap. Lelaki itu tidak mendekat secara berlebihan, namun setiap kali Annisa bergerak sedikit, matanya selalu mengawasi dengan perhatian. Saat Annisa ingin menuangkan air minum, Chensi segera melangkah lebih dulu dan melakukannya dengan lembut, lalu menyodorkan gelas itu pada gadis itu seolah itu hal yang biasa ia lakukan setiap hari.

Perhatian itu bukan sekadar perhatian majikan pada pelayan, melainkan terasa lebih dalam, lebih hangat, dan penuh rasa hormat.

“Nak…” panggil Bu Sari pelan, menarik tangan Annisa agar lebih dekat. “Katakan pada Ibu, apakah Tuan Chensi ini benar‑benar hanya majikanmu? Kenapa sikapnya sangat baik sekali padamu? Dan lihat penampilanmu sekarang… Ibu melihat kamu tidak lagi terlihat seperti orang yang bekerja keras melayani orang lain. Wajahmu terlihat tenang, tidak lelah seperti dulu.”

Annisa menelan ludah, jantungnya berdebar kencang. Ia tersenyum paksa, berusaha menjawab sehalus mungkin tanpa membuka kenyataan.

“Benar, Bu. Beliau adalah majikan Annisa. Tapi beliau orang yang sangat baik dan adil. Beliau tahu Annisa harus menjaga kesehatan agar bisa bekerja dengan baik, jadi beliau melarang Annisa melakukan pekerjaan yang terlalu berat. Makanya penampilan Annisa terlihat lebih segar sekarang,” jawabnya hati‑hati.

Namun jawaban itu tidak sepenuhnya memuaskan rasa ingin tahu Bu Sari. Ia menatap sekilas ke arah Chensi yang sedang berdiri menjaga jarak dengan sopan, lalu kembali menatap putrinya.

“Tapi sikapnya… cara ia melihatmu, cara ia memperlakukanmu… Ibu sudah tua dan sudah banyak melihat dunia. Sikap itu bukan sekadar perhatian pada karyawan biasa. Ada sesuatu yang lebih di balik itu, Nak. Dan satu lagi…” Bu Sari berhenti sejenak, matanya menatap sekilas ke arah perut Annisa yang tertutup rapat oleh pakaian panjang itu. “Apakah kau merasa sehat‑sehat saja? Wajahmu terlihat sedikit lebih bulat dan segar, tapi Ibu merasa ada yang berbeda dengan tubuhmu.”

Annisa terkejut, tangannya secara refleks menekan sedikit bagian perutnya yang tersembunyi. “Annisa sehat, Bu… hanya karena makan teratur dan cukup istirahat saja, makanya terlihat lebih bulat,” jawabnya cepat, berusaha menutupi kegugupannya.

Di sudut ruangan, Chensi mendengar percakapan itu, meskipun ia tidak terlalu paham apa yang mereka bahas, tetapi ia yakin Annisa sedang berusaha meyakinkan ibunya, dan ia memahami posisi sulit Annisa. Ia melangkah mendekat dengan senyum tenang, lalu membantu menjawab agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut.

Chensi bertanya pada Annisa apa yang di katakan ibunya, dan Annisa menjelaskan. Chensi ikut membantu untuk bicara.

“Benar, Bu Sari. Saya selalu mengingatkan Annisa untuk menjaga kesehatannya, karena dia adalah satu‑satunya orang yang bisa saya andalkan untuk mengurus kebutuhan pribadi saya. Jadi saya memastikan dia hidup sehat dan nyaman. Itu saja,” ucapnya meyakinkan.

Namun meski demikian, rasa curiga dan tanya tetap tergantung di hati Bu Sari. Ia merasa ada rahasia besar yang disembunyikan oleh putrinya dan lelaki itu. Namun melihat kondisi dirinya yang baru pulih, dan melihat kebahagiaan yang terlihat di mata Annisa, ia memutuskan untuk menahan pertanyaannya terlebih dahulu. Ia akan menunggu waktu yang tepat, dan berharap suatu saat nanti keduanya akan jujur menceritakan semuanya.

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!