Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara Makan Malam
Nara pulang ke rumahnya sore itu juga. Setelah berkeliling Jakarta untuk menghilangkan rasa bosannya, akhirnya ia sampai di rumah. Begitu pintu terbuka, Nara langsung masuk sambil berseru dengan suara melengking khasnya.
"Mami, Nara pulang!" ucap Nara dengan ceria.
"Astaga, kenapa baru pulang, sih? Mami cemas, loh, dari tadi mikirin kamu belum pulang-pulang," ucap Mami Felly yang sejak tadi menunggu kepulangan anak gadisnya.
"Sorry, Mam. Habisnya Nara bosan. Pergi sekolah, pulang, di rumah. Besoknya pergi sekolah lagi, pulang, terus di rumah lagi. Itu terus kegiatannya. Jadi, Nara butuh refreshing buat menghilangkan kejenuhan Nara, oke?" jelas Nara dengan gaya centilnya sambil memainkan ujung rambut.
"Ya, Mami tahu. Tapi masalahnya, sebentar lagi tamu Papi kamu mau datang ke sini. Mereka datang jam tujuh, sedangkan sekarang sudah jam enam. Kamu enggak punya banyak waktu buat siap-siap santai," ucap maminya.
Ucapan itu langsung membuat Nara menghentikan langkahnya. Matanya membesar karena kaget.
"What? Seriously? Who?" tanyanya penasaran.
"Ada, deh. Nanti kamu juga tahu. Sana, cepat siap-siap. Lima belas menit lagi Papi kamu pulang," ucap Mami Felly sambil mendorong pelan tubuh anak gadisnya itu masuk ke dalam lift.
Nara hanya bisa menurut meskipun wajahnya masih dipenuhi rasa penasaran. Begitu pintu lift hampir tertutup, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil mengerutkan kening.
"Siapa, ya, tamu Papi yang mau datang? Mendadak banget, sumpah," gumamnya pelan.
Di tempat lain, Ronald sedang melajukan mobilnya di jalan raya. Pandangannya fokus ke arah jalan yang mulai dipenuhi kendaraan. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering hingga membuatnya menoleh sekilas. Ronald segera menyambungkan panggilan tersebut melalui perangkat yang ada di mobilnya.
"Ada apa?" tanya Ronald dengan suara dingin.
"Selamat sore, Tuan. Saya sudah menjalankan tugas yang Tuan minta tadi pagi. Nona Naya sudah kami pindahkan ke London untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif," ucap seseorang dari seberang telepon.
Ronald mengembuskan napas lega. Setidaknya satu kekhawatirannya sudah sedikit berkurang.
"Baik. Pantau terus kondisi anak saya. Kalian wajib melapor kepada saya kalau terjadi sesuatu sekecil apa pun," perintah Ronald dengan tegas.
Anaknya yang masih terbaring koma setelah kecelakaan yang diduga sebagai upaya pembunuhan itu kini sudah dipindahkan secara mendadak. Ronald mengambil keputusan tersebut setelah mendapat laporan dari anak buahnya bahwa ada beberapa orang mencurigakan yang berkeliaran di sekitar rumah sakit tempat Naya sebelumnya dirawat.
Tanpa membuang waktu, Ronald langsung memerintahkan agar Naya dipindahkan ke London. Selain memiliki fasilitas perawatan yang lebih lengkap, rumah sakit itu juga berada dekat dengan tempat tinggal mamanya, sehingga Naya bisa berada dalam pengawasan keluarga.
"Baik, Tuan. Akan kami laksanakan," balas anak buahnya dari seberang sana.
Setelah panggilan berakhir, Ronald kembali memusatkan perhatiannya ke jalan. Tangannya menggenggam kemudi dengan erat. Dalam hati, ia berharap keputusan memindahkan Naya ke London adalah pilihan terbaik untuk keselamatan putrinya.
Saat mendengar kabar bahwa cucu mereka, Naya, sudah dipindahkan ke London, Oma Ena dan Opa Jhon menyambutnya dengan senang hati. Mereka merasa lebih tenang karena bisa melihat dan memantau kondisi cucunya secara langsung.
Namun, Ronald memberikan satu catatan penting. Ia tidak ingin mamanya kembali jatuh sakit karena terlalu lelah dan memaksakan diri menjaga Naya setiap waktu. Ronald tahu betul bagaimana besarnya rasa sayang Oma Ena kepada cucunya. Karena itu, meskipun Oma Ena dan Opa Jhon diperbolehkan menemani Naya, seluruh kebutuhan perawatan tetap harus ditangani oleh dokter, perawat, dan orang-orang kepercayaan Ronald.
Saat malam tiba, Nara mulai bersiap-siap di kamarnya. Ia mengenakan dress pendek bermotif bunga yang terlihat lucu dan manis. Setelah selesai merapikan rambutnya, Nara berdiri di depan cermin sambil memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah.
"Awww, cantik juga gue pakai dress. Kayak cewek anggun gitu," gumamnya sendirian dengan wajah puas.
Belum sempat ia beranjak dari depan cermin, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dari luar.
"Nara, sudah siap belum?" panggil maminya.
"Sudah, Mi!" jawab Nara sedikit berteriak.
"Kalau sudah, yuk, keluar. Kita sambut teman Papi kamu," ucap Mami Felly dari balik pintu.
Nara segera mengambil ponselnya, lalu keluar dari kamar. Ia berjalan mengikuti maminya menuju lantai bawah sambil terus memikirkan siapa tamu yang akan datang malam itu.
"Memangnya siapa, sih, Mi, tamu Papi? Sampai aku harus pakai dress juga," tanya Nara penasaran.
"Nanti juga kamu tahu. Lagian, kamu kenal sama mereka," jawab maminya santai.
Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Nara semakin besar. Mereka menunggu di ruang tengah bersama Ronald. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berwarna hitam dengan aksen emas masuk ke area parkir rumah.
"Nah, itu teman Papi sudah datang," ucap Ronald.
Mereka pun berjalan keluar untuk menyambut tamunya. Begitu pemilik mobil itu turun, mata Nara langsung terbuka lebar. Tubuhnya seketika menegang saat mengenali orang yang datang.
"Om Arka..." gumamnya pelan.
Ternyata teman papi yang datang berkunjung ke rumahnya malam itu adalah keluarga Adinata. Ada Om Arka, Tante Ariana yang biasa dipanggil Ana, Asha, dan yang terakhir, Alden.
"Ini ada apa, ya?" gumam Nara dengan wajah kaget.
"Arka, akhirnya lo datang juga!" sambut Ronald kepada sahabatnya.
Arka langsung menghampiri Ronald dan keduanya saling berjabat tangan. Sementara itu, Ana berjalan mendekati Felly dengan senyum lebar.
"Gimana kabar kamu, Jeng? Kenapa waktu ngumpul kemarin kamu enggak datang?" tanya Felly saat menyambutnya.
"Maaf, Jeng. Kemarin aku harus ke Bandung dulu buat lihat Mama. Mama aku lagi sakit," jawab Ana.
Felly mengangguk mengerti. Setelah itu, keduanya saling cipika-cipiki seperti biasanya. Di sisi lain, Asha langsung menghampiri temannya dengan penuh semangat.
"Naya! Aku senang, deh, bisa ketemu sama kamu lagi malam ini," ucap Asha dengan gaya khasnya yang selalu terlihat aesthetic.
Nara hanya tersenyum kaku. Dari semua orang yang datang, perhatiannya justru tertuju kepada Alden yang sejak tadi hanya diam tanpa banyak bergerak. Cowok itu berdiri santai di dekat mobil, seolah tidak terlalu peduli dengan acara makan malam tersebut.
"Ah, iya... iya," jawab Nara gugup.
"Kamu tahu enggak, sih? Tadi pagi Daddy bilang ke aku kalau papi kamu mengundang kami makan malam di sini. Terus, pas pulang sekolah, aku minta tolong sama Abang buat nemenin nyari baju baru. Taraa! Cantik enggak bajunya? Dua jam, loh, aku nyarinya sama Abang, khusus buat acara makan malam ini," cerita Asha panjang lebar sambil memamerkan gaunnya.
"Cantik. Selera lo memang selalu cakep-cakep," jawab Nara seadanya.
Pikirannya masih dipenuhi rasa kaget. Ia tidak menyangka keluarga Adinata akan datang ke rumahnya malam ini, apalagi tanpa pemberitahuan apa pun sebelumnya.
Setelah selesai berbicara dengan Ronald, pandangan Arka beralih ke arah dua gadis yang sedang mengobrol. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat putrinya sedang berbicara dengan anak dari sahabatnya itu.
"Halo, Nara. Senang bertemu denganmu lagi," sapa Arka dengan ceria.
Ucapan itu langsung membuat Nara dan Asha menoleh bersamaan. Tubuh Nara semakin kaku setelah mendengar namanya disebut dengan jelas oleh Arka.
"A-pa?" ucap Nara terbata-bata.
"Nara, kok kaget? Biasa aja, dong. Kayak lihat hantu saja kamu ini," ucap Daddy Arka sambil tertawa kecil.
Alden yang sejak tadi terlihat tidak peduli akhirnya menoleh. Tatapannya langsung tertuju kepada gadis yang berdiri di sebelah Asha. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk smirk kecil yang sulit diartikan.
"Daddy, Nara siapa, Dad? Ini Naya. Daddy salah sebut, ih, mulutnya," protes Asha yang belum memahami situasinya.
"Ah, kamu belum paham, Princess. Kamu masih kecil," jawab Arka santai.
Sementara itu, Nara masih mematung dan belum bisa percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Dari mana Om Arka tahu kalau gue ini Nara?" gumamnya dalam hati.
"Maksud Daddy apa?" tanya Asha lagi karena masih merasa bingung.
"Nanti Daddy jelasin. Yuk, semuanya masuk dulu," ucap Arka sambil berjalan lebih dulu. "Anggap saja seperti rumah sendiri."
"Kan memang rumah gue sendiri," gerutu Ronald.
Ucapan Ronald langsung membuat Arka tertawa. Mereka semua kemudian masuk ke dalam rumah, meninggalkan Nara yang masih berdiri mematung di halaman.
Nara masih berusaha mencerna keadaan ketika tiba-tiba Alden berjalan mendekat dan berhenti tepat di sampingnya.
"Enggak usah tegang begitu. Gue sudah tahu juga," ucap Alden pelan.
Nara langsung menoleh cepat ke arahnya. Wajahnya semakin pucat dan jantungnya terasa berdegup lebih kencang.
"Apa?" gumamnya tidak percaya.
Makan malam itu berlangsung dengan khidmat. Tidak ada satu pun yang membuka obrolan. Ruang makan hanya dipenuhi suara dentingan sendok dan piring yang sesekali terdengar, itu pun sangat pelan. Suasana yang terlalu hening malah membuat Nara semakin merasa tidak nyaman.
Entah kenapa, papinya menyuruh Nara duduk tepat di sebelah Alden. Sementara itu, Asha duduk di sebelah Mommy Ana. Sejak tadi Nara terus bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan keluarga Alden datang ke rumahnya. Rasanya tidak mungkin mereka datang hanya untuk makan malam biasa.
Nara melirik ke arah Alden dari sudut matanya. Cowok itu terlihat santai menikmati makanannya, seolah tidak merasa terganggu dengan suasana canggung di meja makan. Karena kesal, Nara sengaja menginjak kaki Alden dari bawah meja.
Alden langsung menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke arah Nara dengan tatapan datar.
"Apa tujuan lo datang ke sini, sih?" tanya Nara dengan suara berbisik agar tidak terdengar oleh yang lain.
"Nanti juga lo tahu," jawab Alden sambil ikut berbisik.
"Lo bilang aja langsung sama gue, gimana, sih? Terus juga, kenapa bisa Daddy lo sama Papi gue temenan?" tanya Nara lagi. Tatapannya penuh rasa penasaran.
"Langsung aja tanyain ke papi lo nanti," jawab Alden dengan santai, lalu kembali melanjutkan makannya.
Nara mendengus pelan. Ia benar-benar kesal melihat Alden yang masih bisa bersikap setenang itu, sedangkan dirinya sejak tadi hampir mati karena penasaran.
Beberapa saat kemudian, makan malam itu akhirnya selesai. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang langsung beranjak dari kursinya. Mereka masih duduk diam di meja makan selama beberapa detik, seolah sedang menunggu seseorang membuka pembicaraan.
Ronald berdeham pelan untuk memecah keheningan.
"Siapa yang mau ngomong?" tanya Ronald sambil menatap Arka.
"Lo aja dulu," jawab Arka santai.
Ronald langsung mendengus mendengar jawaban sahabatnya. Sementara Arka hanya menahan senyum, seolah sengaja menyerahkan pembicaraan penting itu kepadanya.
"Nara," panggil Ronald dengan nada serius.
Nara yang sejak tadi menunggu langsung menatap papinya. Tangannya tanpa sadar meremas ujung dress yang ia kenakan.
"Jadi, kamu pasti penasaran, kan, kenapa keluarga Arka datang ke sini malam ini?" tanya papinya.
Nara segera mengangguk.
"Ada apaan, sih, Pi?" tanyanya tidak sabaran.
"Seperti yang Papi bilang tadi, malam ini akan ada acara makan malam bersama teman Papi. Nah, ini teman Papi, Om Arka. Kamu sudah kenal sama Om Arka, kan?" tanya Ronald lagi.
Nara kembali mengangguk pelan. Ia sudah tahu siapa Arka, tetapi masih tidak mengerti kenapa mereka semua harus berkumpul dengan suasana seserius ini.
"Nah, selain acara makan malam, sebenarnya ada tujuan lain yang ingin kami bicarakan," lanjut Ronald.
Ucapan itu entah kenapa membuat jantung Nara mulai berdegup lebih cepat. Ia melirik sebentar ke arah Alden, tetapi cowok itu masih memasang wajah tenang tanpa menunjukkan reaksi apa pun.
"Tujuannya apa, Pi?" tanya Nara mulai waswas.
Ronald menarik napas sejenak sebelum akhirnya menyampaikan alasan utama pertemuan malam itu.
"Tujuannya, kami berencana menjodohkan kamu dengan Alden," ucap Ronald dengan serius. "Jadi, bagaimana? Kamu siap, kan, dijodohkan dengan Alden?"
Mata Nara langsung terbuka lebar. Ia bahkan tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. Kepalanya spontan menoleh ke arah Alden yang duduk tepat di sebelahnya.
"What? Dijodohkan?" teriak Nara kaget dengan suara cemprengnya yang langsung memenuhi seluruh ruang makan.