Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..
selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.
malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.
seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.
plak
plak
plak
"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.
pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.
Cring
Zzzzzrrkkk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Ultimatum Keenan
Rumah itu sepi. Terlalu sepi untuk ukuran rumah yang biasanya ada suara Queen lari-lari atau tawa kecil dari dapur.
Netha mengunci pintu di belakangnya. Tas ia letakkan di sofa. Kaki rasanya masih lemas setelah perjalanan dari rumah Oma Rita. Kepalanya masih berat, tapi pikirannya lebih kacau.
"Mas?" panggilnya pelan. Tidak ada jawaban.
Ia berjalan ke ruang tamu. Napasnya tertahan saat melihat sosok berdiri di sudut ruangan, bersedekap. Wajahnya datar. Matanya menatap tanpa ekspresi.
Keenan.
Netha tersenyum kecil di sela keterkejutannya. "Kamu ngomong apa sih, Mas? Aku nggak paham deh maksudnya kamu gimana."
Keenan tidak membalas senyumnya. "Mulai hari ini, detik ini juga, aku minta kamu berhenti dari pekerjaanmu. Batalkan semua kontrak kerja yang sedang kamu ambil. Aku ingin kamu berhenti bekerja dan fokus merawat Queen di rumah saja."
Netha mengerutkan kening. "Kamu nggak lagi bercanda kan, Mas?"
"Aku serius," jawab Keenan lugas. Tatapannya tajam, tidak berkedip.
Netha tertawa kecil, tapi tawanya kering. "Jangan gila kamu, Mas. Enak saja main suruh aku batalin proyek film yang jelas-jelas sudah terikat kontrak. Kamu nggak mikir kalau aku sampai batalin kontrak, aku bisa kena denda pinalti yang jumlahnya nggak sedikit?"
Keenan diam sesaat. Rahangnya mengeras. Otaknya berhitung cepat. Gajinya sebagai fotografer di perusahaan Arsen tujuh juta per bulan. Lima juta setor ke ibu dan dua adiknya yang kuliah. Sisanya untuk kebutuhan rumah. Tidak akan cukup untuk bayar pinalti proyek Netha yang nilainya fantastis. Apalagi salah satu proyek itu di bawah agensi besar milik pamannya sendiri. Tapi gengsinya sudah terlanjur naik.
"Aku yang akan bayar pinaltinya," kata Keenan dengan dagu terangkat. "Kamu tinggal sebutin berapa jumlah nominalnya."
Mata Netha membulat. Ia terperangah. "Mas... kamu serius dengan ucapanmu barusan?"
"Kalau aku bilang serius ya serius," bentak Keenan. "Budek kamu, hah?"
Netha mundur selangkah. Mulutnya menganga. "Mas, kamu..."
"Sebutin berapa denda pinalti yang harus kamu bayar," potong Keenan.
"Tapi Mas--"
Brak!
Keenan menggebrak meja kayu di dekatnya. Suaranya menggelegar di ruangan kosong itu.
"Buruan sebutin berapa nominalnya! Bodoh!" kali ini nadanya setengah menghardik.
Netha terkejut. Bahunya naik. Suaranya bergetar. "Li... lima ratus juta."
Dada Keenan naik turun. Ia menahan emosi yang baru saja meledak. Tapi ia tidak mundur.
"Itu belum proyek film satunya yang berada di bawah naungan agensi perusahaan paman kamu," sambung Netha pelan karena Keenan diam. "Sebutin semua sekalian, Mas. Jangan setengah-setengah."
Keenan menatapnya tajam. "Sebutin."
Netha menelan ludah. "Kalau yang di paman kamu... satu setengah miliar. Jadi total semuanya... dua miliar."
Glek.
Keenan menelan salivanya dengan susah payah. Dua miliar. Angka itu menampar langsung ke kepalanya. Gaji tujuh juta, setor lima juta, sisa dua juta untuk Netha dan Queen. Butuh berapa tahun untuk kumpulkan dua miliar?
Beruntung selama ini Netha yang menutupi semua kebutuhan dapur dan sekolah Queen dari hasil kerjanya sendiri. Kalau tidak, rumah ini mungkin sudah lama runtuh.
"Mas--" Netha mencoba bicara lagi.
"Oke, aku bakal bayar semuanya," potong Keenan cepat. Nadanya berusaha tetap tinggi. "Tapi aku minta secepatnya kamu urus pembatalan kontrak kerjamu."
"Tapi Mas, aku tetap nggak bisa," tolak Netha.
"Harus bisa," sentak Keenan. "Aku nggak mau dengar kata penolakan. Titik. Paham kamu?"
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan masuk ke kamar. Pintu dibanting hingga bergetar.
Netha berdiri mematung. Dadanya sesak. Ia mengepalkan tangan lalu mengejar Keenan ke dalam kamar.
"Mas, jangan egois kamu, Mas!" desisnya. Amarahnya mulai naik saat mereka sudah berada di dalam kamar.
Keenan berbalik. Tatapannya tajam ke arah Netha yang kini berdiri tepat di belakangnya.
"Kamu yang egois!" hardik Keenan. Rahangnya mengetat.
"Aku?" Netha menggeleng sambil menunjuk dirinya sendiri. "Aku egois?"
"Iya," jawab Keenan. "Kamu wanita egois! Kamu tidak memikirkan perasaanku. Perasaan Queen putri kita. Kamu terlalu mendewakan kariermu sampai lupa kewajibanmu dan peranmu sebagai seorang ibu sekaligus seorang istri. Di mana otakmu, hah? Kamu tahu Queen selalu protes denganku karena kamu akhir-akhir ini mengesampingkan dia. Dia rindu sosok ibunya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya itu!"
Jedar.
Ucapan itu menghantam Netha seperti tamparan. Ia tertegun. Memang benar, beberapa minggu ini jadwal syutingnya padat sekali. Ia sering pulang larut malam. Queen sering bertanya, "Mama pulang jam berapa?" dengan mata mengantuk.
"Kenapa kamu diam saja, hah?" bentak Keenan lagi. "Apa kamu sudah bisa berpikir kalau selama ini kamu sudah menelantarkan anak kita!"
"Jangan salahkan aku sepenuhnya, Mas," balas Netha. Suaranya meninggi. "Ini juga semua salah kamu. Kalau saja kamu bisa mensyukuri dan mencukupi semua kebutuhan kita sehari-hari, mana mungkin aku akan tega menelantarkan anak. Kamu tidak bisa adil antara aku, Queen, dengan ibu dan juga kedua adikmu!"
Keenan langsung mencengkeram rahang Netha dengan kasar.
"Brengsek! Jangan bawa-bawa ibu dan juga adik-adikku dalam masalah kita," umpatnya. "Di sini kamu yang salah. Jangan menyalahkan orang lain, bodoh!"
Netha menggeram kesakitan. "Kamu yang egois, Mas. Kamu yang jahat. Kamu berulang kali menyakitiku dan aku selalu memaafkanmu demi mental Queen. Bahkan saat kamu berbuat menjijikkan dengan perempuan murahan itu aku tetap mau menerimamu kembali. Dan ini balasanmu, Mas?"
"Diam kamu!" hardik Keenan. Cengkeramannya makin kuat hingga Netha mengerang. "Dengarkan aku baik-baik. Kalau sampai kamu tidak mengindahkan perkataanku, siap-siap saja kamu kehilangan Queen untuk selama-lamanya!"
Netha tercengang. Matanya melebar. "Maksudmu apa, Mas?"
"Aku akan menceraikanmu saat ini juga dan membawa Queen pergi," kata Keenan tegas. "Kamu tidak akan bisa melihat Queen lagi jika kamu tidak mau menurut dengan kata-kataku barusan. Paham kamu!"
Setelah itu ia menghempaskan wajah Netha dengan kasar lalu keluar dari kamar, membanting pintu lagi.
Netha terduduk di lantai. Air matanya jatuh. Bukan karena sakit di rahang, tapi karena ancaman itu. Kehilangan Queen. Itu hal yang paling ia takutkan di dunia ini.
---
Sore harinya, langit mendung. Angin bertiup pelan di antara meja-meja kafe kecil dekat lokasi syuting.
Netha duduk dengan punggung membungkuk. Di depannya, Inka menatapnya dengan mata melot setelah mendengar seluruh cerita.
"Apa? Suami kamu tiba-tiba nyuruh kamu berhenti kerja dan membatalkan beberapa kontrak kerja yang sudah kamu ambil?" suara Inka nyaring, mengundang beberapa orang menoleh.
Netha mengangguk lemah. "Iya, Inka. Jujur aku bingung sekali saat ini. Dia mengancamku jika aku tidak menuruti kemauannya, dia bakal menceraikan aku dan membawa Queen pergi dari hidupku. Aku masih bisa terima jika dia ingin menceraikan aku, tapi aku tak sanggup jika harus kehilangan Queen, putri kecilku."
"Gila tuh orang," geram Inka. "Emang dia pikir gampang main putus kontrak kerja tanpa ada risikonya? Pakai acara ngancam kamu segala. Memang dia suami nggak ada otak. Udah tukang selingkuh, sekarang berani KDRT juga. Emang gila laki lo itu, Tha."
Netha menunduk. Jari-jarinya meremas tisu di atas meja. "Aku benar-benar bingung, Inka. Apa yang harus aku lakuin saat ini? Keenan mendesakku untuk segera berhenti bekerja dan kembali fokus di rumah."
Inka menyandarkan punggung ke kursi. "Emangnya suami lo udah tahu kalau jumlah denda royalti yang harus dibayar kalau main putus kontrak itu nggak sedikit nominalnya, Tha?"
Netha mengangguk lemah. "Iya. Dan dia bilang akan membayar semuanya."
Inka melot. "Serius? Dua miliar, Tha. Dua miliar! Dia pikir itu uang jajan?"
Netha hanya mengangguk lagi. Suaranya hilang.
Tanpa mereka sadari, ada sosok berdiri beberapa meter dari mereka. Pria bertubuh tegap dengan kemeja hitam. Kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya. Tapi senyum tipis di bibirnya terlihat jelas.
Arsen.
Ia berdiri di balik tiang kafe, tangannya masuk ke saku celana. Dari jarak itu, ia bisa mendengar seluruh percakapan Netha dan Inka dengan jelas.
Matanya menatap intens ke arah Netha. Bukan kasihan. Bukan marah. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang belum ia beri nama.
Ia tidak berencana diam saja.
Angin bertiup lagi, menggoyang ujung kacamata hitamnya. Dan di dalam kepala Arsen, keputusan sudah bulat.
Tbc