NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:994
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 : Kabut Gelap Hutan Bambu dan Jejak Terlarang

Suara gema gesekan antarbatang bambu hitam terdengar bagaikan rintihan pilu yang menyayat hati di lereng timur Pegunungan Tengger. Hutan Bambu Hitam sejak ratusan tahun lalu dikenal sebagai wilayah terlarang yang dihindari oleh warga Karang Tumpuk maupun desa-desa sekitarnya. Di tempat ini, rimbunnya rumpun bambu raksasa menghalangi sinar matahari sore, menciptakan kegelapan remang yang lembap dan dingin.

Sari melangkah perlahan menginjak hamparan daun-daun bambu kering yang membusuk di atas tanah. Di dada gadis itu, ransel terpal berisi Kitab Usada Tengger terikat erat. Di samping kirinya, Marno berjalan sigap dengan martil besi raksasa yang sudah siap di genggaman, sementara tangan kirinya memegang obor minyak tanah yang memancarkan pendar api kemerahan. Si Mbah bertengger di atas pundak Marno, matanya yang tajam menatap ke sekeliling dengan telinga yang terus bergerak-gerak waspada.

"Hati-hati, Kang," panggil Sari dengan suara setengah berbisik. "Kabut di depan kita ini bukan kabut embun gunung biasa. Aromanya manis menyengat—ini uap racun Bunga Kecubung yang sengaja ditiupkan untuk menyesatkan arah pandang."

Marno menghentikan langkahnya, mengendus udara lembap di sekitarnya. "Pantas saja kepalaku agak terasa berat. Berapa banyak cairan penawar yang kita bawa, Sari?"

"Ada delapan bumbung bambu tebal di tasmu dan dua kuali tembaga siap pakai di kantong belakang," jawab Sari cepat. "Tapi jika cerita Nyai Ratih benar bahwa ada tiga ratus warga yang dikendalikan di dalam hutan ini, penawar kita harus digunakan secara sangat hemat dan tepat sasaran."

Uuk! Uuk-uuk!

Si Mbah mendadak melompat turun dari pundak Marno. Kera hitam itu berlari lincah menerobos kerapatan rumpun bambu hitam, lalu memberi isyarat dengan melambaikan tangannya agar Marno dan Sari menyusulnya dari balik tebing cadas.

Sari dan Marno merayap perlahan mendekati tepi tebing. Begitu mereka melongokkan kepala ke arah lembah di bawah sana, pemandangan yang tersaji membuat dada Sari terasa sesak oleh rasa prihatin dan kemarahan yang membuncah.

Di sebuah pelataran tanah cekung yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu kuno berukir relief naga purba, ratusan warga dari berbagai desa berdiri kaku. Pria, wanita, hingga para pemuda berbaris rapi tanpa mengeluaran sepatah kata pun. Mata mereka terbuka lebar namun pupilnya memutih kosong tanpa jiwa. Dengan gerakan mekanis yang serentak bagaikan boneka kayu, mereka mengayunkan cangkul, beliung, dan sekop kayu untuk menggali tanah di sekitar pondasi punden tua.

Punden itu adalah punden bersejarah milik penguasa ilmu purba ratusan tahun lalu—Candi Tua Ranubaya.

Di atas altar batu utama candi yang setengah tertimbun tanah, berdiri Nyai Ratih bersama belasan pengawal bertopeng kayu yang mengenakan selendang hijau pupus. Di tangan kanan Nyai Ratih, tergenggam sebuah genta perunggu kecil berukir gambar Bunga Kecubung Hitam. Setiap kali Nyai Ratih mengocok genta itu—CRING! CRING! CRING!—gelombang getaran ghaib memancar di udara, memaksa ratusan warga untuk terus menggali tanah tanpa kenal lelah.

"Lihat telapak kaki para warga itu, Sari," desis Marno dengan rahang menegang garang. "Kulit kaki mereka sudah pecah-pecah dan berdarah, tapi mereka tidak merasakan sakit sedikit pun karena kesadarannya dikunci!"

Sari meremas tali ranselnya, matanya mencermati aliran asap pekat berwarna ungu yang membumbung dari empat buah mangkuk perunggu di sekeliling altar. "Nyai Ratih memanfaatkan energi gaib di dalam candi itu untuk memperkuat jangkauan racun Bunga Kecubung. Jika genta perunggu itu tidak dihancurkan, para warga ini akan menggali sampai organ tubuh mereka rusak dan tewas kelelahan!"

Marno memperketat cengkeramannya pada gagang martil besi. "Aku akan melompat ke altar dan meremukkan genta perunggu itu sekarang juga!"

"Jangan, Kang Marno! Tahan dulu!" celetuk Sari menahan lengan Marno yang kekar. "Jika genta itu dihancurkan secara mendadak tanpa disertai penetralan racun di udara, getaran jiwa yang terputus secara paksa bisa merusak ingatan para warga secara permanen! Kita harus menyebarkan uap Bunga Kemuning Putih ke empat penjuru angin sebelum menyerang altar!"

Marno menatap mata Sari yang dipenuhi keyakinan, lalu mengangguk mantap. "Baik. Kau beri petunjuk, aku dan Si Mbah yang akan bergerak menempatkan kuali penawar!"

Dengan gerakan senyap, Marno merayap menyusuri ceruk-ceruk tebing bambu untuk menempatkan empat kuali tembaga berisi racikan Bunga Kemuning Putih, Garam Murni, dan Air Kelapa Hijau di empat sudut lembah. Si Mbah membantu membawa bumbung-bumbung bambu penawar, memanjat dahan-dahan bambu tinggi untuk menyiramkan cairan herbal tersebut ke atas mangkuk-mangkuk asap racun milik musuh.

Sari sendiri bersiap di balik batu punden terbesar, memegang bumbung penawar raksasa yang sudah disiapkannya sejak dari Karang Tumpuk.

Saat Marno menyulut api di bawah kuali tembaga keempat, uap harum wangi bunga kemuning mulai menyebar perlahan membungkus seluruh area pelataran lembah. Aroma manis racun Bunga Kecubung yang menyengat mendadak pudar tergeser oleh kesegaran herbal alami.

Di atas altar, genta perunggu di tangan Nyai Ratih mendadak bergetar hebat dan mengeluarkan suara sumbang yang terputus-putus!

CRING... KRAK...

Gerakan ratusan warga yang sedang menggali tanah seketika berhenti melambat. Beberapa petani mulai mengedipkan mata, memegang kepala mereka yang pening, dan mengerang pelan saat kesadaran mereka mulai berontak melawan belenggu racun!

"Apa yang terjadi dengan asap racunnya?!" jerit Nyai Ratih panik, menoleh ke sekeliling pelataran dengan mata menyala murka. "Siapa yang berani merusak susunan racun Sekte Kecubung di tempat ini?!"

"Pengaruh racunmu sudah berakhir di sini, Nyai Ratih!"

Sebuah teriakkan lantang memecah kesunyian Hutan Bambu Hitam! Sari melompat keluar dari balik batu punden, berdiri tegap di hadapan altar seraya mengacungkan bumbung bambu penawarnya tinggi-tinggi ke udara!

Nyai Ratih tersentak kaget, wajah cantiknya berubah menjadi sangat mengerikan oleh kemurkaan. "Gadis penumbuk soto dari Karang Tumpuk?! Berani sekali kau menyusul sampai ke punden terlarang ini!"

"Rakyat di tanah Tengger bukan budak yang bisa kau peralat demi ambisimu!" seru Sari penuh keberanian. "Serahkan penawar utama atau kami yang akan menghancurkan punden ini!"

"Cari mati!" raung Nyai Ratih histeris. "Pengawal! Cincang gadis itu dan jadikan darahnya tumbal penggalian!"

Delapan pengawal berselendang hijau mencabut keris-keris beracun dari pinggang mereka, melompat menerjang Sari secara bersamaan dari berbagai arah!

Namun sebelum senjata-senjata beracun itu sempat menyentuh Sari, sebuah bayangan raksasa meluncur turun dari puncak tebing batu!

HURAAAAGH!

CRANGGG!

Marno mendarat tepat di antara Sari dan para pengawal musuh! Hantaman martil besi Marno ke tanah pelataran menciptakan gelombang tekanan udara yang sangat dahsyat, melontarkan delapan pengawal berselendang hijau hingga terpelanting belasan meter dan dihantamkan ke batang-batang bambu hitam!

Di saat yang sama, Si Mbah meluncur dari dahan atas, mendarat tepat di atas pundak Nyai Ratih! Kera hitam itu dengan cepat merebut genta perunggu dari tangan Nyai Ratih, lalu melemparkannya tepat ke dalam kuali tembaga penawar murni yang sedang mendidih di bawah altar!

PSSSSSSST!

BOMMM!

Genta perunggu beracun itu meleleh dan meledak menjadi uap putih di dalam kuali!

Seketika itu juga, belenggu ghaib yang mengikat ratusan warga terputus total! Ratusan petani dan warga desa dari berbagai wilayah memuntahkan cairan ungu dari mulut mereka, terbangun dari linglung, dan sadar sepenuhnya. Dengan kepanikan yang luar biasa, para warga berlarian menyelamatkan diri keluar dari Hutan Bambu Hitam menuju rumah mereka masing-masing.

"Gentaku! Rencanaku!" jerit Nyai Ratih histeris, mukanya pucat pasi melihat ratusan korbanku melarikan diri.

Namun sebelum Nyai Ratih sempat melayangkan serangan jarum beracunnya kepada Marno, dari dalam rongga tanah candi yang telah terbuka akibat bekas galian warga, terdengar suara tawa bergaung yang amat berat, dingin, dan menggetarkan dasar bumi!

HA-HA-HA-HA!

Suara tawa itu begitu kuat hingga pilar-pilar batu Candi Ranubaya bergetar hebat. Marno langsung menarik Sari mundur ke balik punggungnya, sementara Si Mbah melompat kembali ke pundak Marno dengan bulu-bulu kuduk yang berdiri tegak.

Dari dalam rongga gelap di dasar tanah candi, melangkah keluar sesosok pria tinggi besar yang mengenakan jubah hitam bersulam benang emas. Di dahinya, terukir tato Tiga Kepala Ular Naga—sebuah lambang kegelapan purba yang jauh lebih tua dan mengerikan daripada Sekte Tengger mau pun Sekte Kecubung!

Pria itu adalah Kyai Brata, pimpinan tertinggi dan sesepuh agung yang menjadi dalang di balik seluruh pergerakan sekte-sekte ilmu hitam di tanah perbukitan!

"Terima kasih, Nyai Ratih... dan terima kasih juga untukmu, Keponakan Seruni," kata Kyai Brata dengan suara serak bergema. "Tanpa uap penawar murni dan benturan martil besimu, segel batu terakhir di bawah candi ini tidak akan pernah bisa retak dari luar!"

Nyai Ratih tersentak kaget, menoleh ke arah gurunya dengan mata terbelalak tak percaya. "Kyai... apa maksudmu? Bukankah kita membutuhkan darah ratusan warga untuk membuka ruang rahasia ini?"

Kyai Brata menyeringai dingin penuh pengkhianatan. "Kau terlalu bodoh, Ratih. Warga-warga itu hanya umpan agar orang-orang Karang Tumpuk membawa Kitab Usada Tengger dan api penawarnya ke tempat ini!"

Tanpa peringatan, tangan kanan Kyai Brata melesat kilat menghantam dada Nyai Ratih sendiri!

BUKKK!

Nyai Ratih terlempar jatuh di tangga batu candi, memuntahkan darah hitam dan terkulai lemas tak berdaya—menjadi korban pengkhianatan dari gurunya sendiri.

Kyai Brata memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Marno dan Sari dengan mata merah menyala penuh aura membunuh. Ancam purba yang sesungguhnya di bawah tanah Ranubaya kini telah bangkit sepenuhnya, siap menelan siapa saja yang berdiri di hadapannya.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!