"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Darah dan Janji yang Terpatri
Langkah kaki Yudha terdengar berat saat menapaki tangga batu menuju lantai atas kastil. Dua pengawal bertubuh besar di depan pintu kamar langsung menegakkan posisi mereka, menundukkan kepala sedalam-dalamnya saat sang Alpha lewat. Pintu didorong terbuka, dan kehangatan dari dalam perapian langsung menyambut tubuh Yudha yang sedingin es akibat angin malam.
Di atas ranjang, Luna yang tidak bisa memejamkan mata semalaman langsung tersentak tegak. Gaun katun merah muda lembutnya tampak sedikit kusut karena dia terus meremas ujungnya sejak tadi.
Begitu matanya menangkap sosok Yudha, napas Luna tercekat.
Pria itu berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang akan membuat manusia mana pun lari ketakutan. Kemeja hitamnya robek di bagian bahu, memperlihatkan kulit kecokelatannya yang kokoh. Ada beberapa noda darah segar yang membasahi kain kemeja dan pipi tegasnya. Tatapan matanya masih menyisakan sisa-sisa kilatan emas yang liar dan berbahaya.
"Yudha..." bisik Luna, suaranya bergetar hebat. Ada rasa takut yang sempat tebersit, namun rasa khawatir yang jauh lebih besar mengalahkan segalanya.
Yudha tetap membeku di dekat pintu. Dia menyadari penampilan liarnya malam ini pasti mengerikan bagi seorang gadis manusia yang rapuh.
"Jangan mendekat, Luna. Bau darah ini... akan membuatmu takut," ucap Yudha, suaranya parau dan berat, terdengar menahan insting serigalanya yang masih bergejolak setelah pertempuran.
Namun, Luna tidak peduli. Dia menurunkan kakinya dari ranjang, mengabaikan peringatan itu dan melangkah cepat mendekati Yudha. Tangan kecilnya yang putih dan halus terangkat dengan ragu, lalu perlahan menyentuh rahang tegas Yudha, tepat di dekat noda darah yang mulai mengering.
"Apakah kamu terluka?" tanya Luna, matanya yang bulat berkaca-kaca menatap lekat-lekat ke dalam manik mata emas Yudha.
Sentuhan lembut di kulitnya seketika memadamkan seluruh sisa-sisa keliaran di dalam diri Yudha. Kilatan emas di matanya memudar, kembali menjadi sepasang iris gelap yang teduh. Rasa hangat yang menjalar dari telapak tangan Luna bertindak bagai penawar racun yang menenangkan serigala di dalam dadanya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, lengan kekar Yudha langsung melingkar erat di pinggang Luna, menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapan posesifnya. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Luna, menghirup dalam-dalam aroma lavender manis yang sangat dia rindukan sepanjang pertempuran tadi.
"Aku tidak terluka. Ini bukan darahku," bisik Yudha di dekat telinga Luna, dekapannya begitu erat seolah takut jika dia melonggarkannya sedikit saja, gadis di pelukannya ini akan menghilang.
"Aku sudah membersihkan mereka dari perbatasan. Tidak akan ada yang bisa mengintaimu lagi dari balik jendela."
Luna membalas pelukan itu, melingkarkan lengannya di leher tegap Yudha. Menempel pada dada bidang pria itu membuat Luna bisa mendengar detak jantung Yudha yang berpacu kuat dan sebuah ritme yang anehnya membuat jiwanya yang rapuh merasa sangat utuh.
"Aku sangat takut, Yudha," aku Luna lirih, air matanya akhirnya menetes membasahi bahu kemeja Yudha.
"Aku takut kamu tidak kembali. Aku takut duniaku yang hancur akan ikut menghancurkan tempat ini juga."
Yudha melonggarkan sedikit pelukannya, menangkup wajah manis Luna dengan kedua tangannya yang besar. Ibu jarinya dengan lembut mengusap air mata yang membasahi pipi gadis itu.
"Dengarkan aku baik-baik, Luna," ucap Yudha dengan nada menuntut yang penuh penekanan, mengunci pandangan mereka.
"Kamu adalah belahan jiwaku. Menginginkanmu, melindungimu, dan menghancurkan siapa pun yang mencoba menyakitimu adalah hukum mutlak bagiku. Kastil ini, kawanan ini, dan seluruh hidupku... adalah perisaimu. Jadi, jangan pernah merasa takut lagi."
Di bawah temaram cahaya perapian, Yudha perlahan mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh kening Luna, mengecupnya dengan sangat lama dan penuh rasa hormat, seolah sedang mematri sebuah janji suci yang tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh waktu maupun ancaman kaum *Rogue*.
---