"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Helikopter Pribadi dan Pelarian 2 Jiwa
Matahari baru saja terbit di ufuk timur mansi utama Arkananta, namun suasana di ruang makan sudah dipenuhi oleh aroma konspirasi yang manis. Kakek William duduk di kepala meja, mengetuk-ngetuk tongkat peraknya dengan senyuman misterius yang jarang sekali diperlihatkannya.
Di sisi kiri meja, Leon dan Lia sedang menikmati sereal mereka. Namun, perhatian Leon langsung teralih ketika sebuah koper besar berwarna merah muda bermotif kelinci milik Lia dan satu koper hitam minimalis miliknya diletakkan oleh Evan di dekat pintu masuk.
"Kakek Buyut, kenapa koper kami sudah rapi?" tanya Leon, matanya yang tajam menyipit curiga menatap sang kakek.
William terkekeh rendah, memotong roti panggangnya dengan santai. "Mulai hari ini, kalian berdua akan menginap di mansi lama Kakek selama satu minggu penuh. Kakek merindukan cicit-cicit Kakek yang genius ini."
Lia langsung melompat dari kursinya dengan riang. "Hore! Berarti Lia bisa main di rumah pohon raksasa Kakek Buyut lagi?!"
"Tentu saja, Sayang," jawab William lembut. Namun, saat tatapannya beralih pada Leon, dia memberikan kedipan mata penuh arti. "Dan untukmu Leon, Kakek sudah memperbarui seluruh sistem komputer di laboratorium mansi lama dengan prosesor kuantum terbaru. Kamu bebas meretas apa saja di sana."
Leon terdiam sesaat, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring. "Kesepakatan yang bagus, Kakek Buyut. Aku tahu ini adalah taktik pengalihan agar Papa dan Mama bisa pergi berdua saja."
Sementara itu, di kamar utama, Elena baru saja menyelesaikan riasan tipisnya ketika Arthur tiba-tiba melangkah masuk. Pria itu tidak mengenakan setelan jas formalnya yang kaku, melainkan kemeja linen putih dengan kancing atas terbuka dan celana kain kasual, memancarkan aura ketampanan yang sangat santai namun tetap terlihat mahal.
"Arthur, kenapa kamu belum bersiap ke kantor? Dan kenapa pakaianmu santai sekali?" tanya Elena bingung saat melihat suaminya membawa sebuah tas ransel kulit berukuran sedang.
Arthur tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Elena bisa mencium aroma parfum kayu cedar suaminya yang maskulin. Tangan kekar Arthur mendarat di pinggang Elena, menariknya lembut ke dalam pelukan posesifnya.
"Kita tidak akan ke kantor hari ini, Elena. Dan kita juga tidak akan berada di Jakarta untuk beberapa hari ke depan," bisik Arthur rendah di dekat telinga Elena, membuat bulu kuduk istrinya meremang manis.
"Maksudmu?"
"Kakek sudah membawa Leon dan Lia ke mansi lama. Ini saatnya aku menagih hakku yang sempat tertunda," ucap Arthur, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat seksi. "Kita akan pergi bulan madu, Elena. Hanya kita berdua, tanpa gangguan siapa pun."
Sebelum Elena sempat memprotes atau menanyakan lokasi tujuan mereka, Arthur sudah menuntunnya keluar kamar, menyusuri koridor menuju area atap (rooftop) mansi utama di mana sebuah helikopter pribadi berwarna hitam legam dengan logo emas Dinasti Arkananta sudah menyala, baling-balingnya berputar cepat memecah angin pagi.
Elena membelalakkan matanya saat Arthur membantunya menaiki helikopter dan memasangkan sabuk pengaman serta penutup telinga khusus. Begitu helikopter lepas landas, pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta perlahan mengecil, digantikan oleh hamparan laut Jawa yang biru membentang luas.
"Arthur, kita sebenarnya mau ke mana?" tanya Elena setengah berteriak melalui mikrofon penutup telinga.
Arthur menggenggam erat tangan Elena, mengunci jemari mereka dengan begitu protektif. "Sebuah resor apung pribadi di salah satu pulau terpencil Kepulauan Seribu. Aku membelinya bulan lalu dan mengosongkannya dari seluruh wisatawan. Mulai hari ini, pulau itu hanya milik kita berdua."
Satu jam penerbangan dengan transportasi tercepat itu terasa begitu singkat karena pemandangan yang disuguhkan sangat menakjubkan. Helikopter mendarat dengan mulus di sebuah landasan helipad terapung yang terhubung langsung dengan sebuah vila kayu apung super mewah bergaya modern tropis.
Begitu Elena turun dari helikopter, angin laut yang segar langsung menerpa wajahnya. Vila itu berdiri kokoh di atas air laut yang sangat jernih hingga terumbu karang dan ikan-ikan kecil di bawahnya bisa terlihat dengan mata telanjang.
"Selamat datang di istana pelarian kita, Ratu-ku," ucap Arthur, merangkul bahu Elena dari belakang saat mereka berjalan menyusuri jembatan kayu menuju vila.
Di dalam vila, tidak ada pelayan satu pun yang terlihat. Arthur sengaja memesan tempat itu agar benar-benar steril dari pandangan orang lain. Dia ingin menikmati setiap detiknya untuk memanjakan Elena secara privat.
Sore harinya, langit berubah warna menjadi jingga keemasan yang luar biasa cantik. Elena berdiri di tepi dek kayu luar vila, mengenakan gaun pantai putih panjang yang melambai ditiup angin laut.
Sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkari pinggangnya dari belakang, mengunci tubuh mungil Elena di dada bidang Arthur. Arthur menyandarkan dagunya di bahu Elena, menghirup dalam-dalam aroma harum rambut istrinya.
"Apakah kamu menyukai tempat ini, Elena?" tanya Arthur lembut, suaranya terdengar sangat tenang, jauh dari nada dingin yang biasa dia gunakan di ruang rapat triliunan rupiah.
Elena membalikkan tubuhnya di dalam dekapan Arthur, menatap sepasang mata elang yang kini hanya memancarkan cinta dan rasa kepemilikan yang mutlak. "Ini sangat indah, Arthur. Terima kasih. Aku merasa semua beban dan ketakutan masa laluku benar-benar hilang saat berada di sini bersamamu."
Arthur menangkup wajah cantik Elena dengan kedua tangan besarnya, ibu jarinya mengusap lembut pipi istrinya yang merona akibat terpaan sinar matahari senja.
"Lima tahun kita terpisah, Elena. Aku melewatkan banyak waktu untuk menjagamu dan mencintaimu," ucap Arthur penuh penyesalan yang mendalam. "Mulai hari ini, di tempat ini, aku berjanji tidak akan pernah membiarkan ada jarak lagi di antara kita. Kamu, Leon, dan Lia adalah duniaku. Dan aku akan menghancurkan siapa saja yang berani mengusik ketenangan kita."
Elena tersenyum haru, matanya berkaca-kaca menatap ketulusan pria posesif di hadapannya. "Aku tahu, Arthur. Aku memercayaimu."
Di bawah siraman cahaya senja yang romantis dan deburan ombak yang tenang, Arthur perlahan menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam, penuh gairah, dan sarat akan janji perlindungan abadi. Pelarian dua jiwa ini telah menemukan pelabuhan terakhirnya yang paling mewah dan tak tergoyahkan di puncak tertinggi Imperium Arkananta.