Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.
happy reading💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERCAKAPAN DI SEPANJANG JALAN PULANG
“Tunggu...!”
Suara Maira yang parau membelah keheningan malam, menghentikan langkah kaki Fatih yang baru saja berbalik. Dengan langkah gontai dan sisa-sisa kesadaran yang timbul tenggelam karena pengaruh alkohol, Maira memaksakan kakinya untuk menyusul lelaki itu. Tubuhnya bergoyang ke kanan dan ke kiri, namun sepasang matanya yang sembab menatap punggung Fatih dengan tatapan penuh tuntutan. Tuntutan atas kekosongan jiwanya yang selama bertahun-tahun tidak menemukan jawaban.
Fatih menghentikan langkahnya, lalu perlahan menoleh. Ia menatap Maira dengan pandangan yang tetap tenang, menanti apa yang akan diucapkan oleh gadis di depannya.
“Apa... apa Lu bisa jawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam kepala gue selama ini?” tanya Maira lirih, suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah lagi.
Fatih diam sejenak, memandangi wajah kacau Maira sebelum akhirnya mengembuskan napas perlahan. “Eumhh... mungkin saya bisa bantu jawab. Tapi, arah rumah Mbak ke mana?” tanya Fatih lembut.
Maira mengangkat tangan kanannya yang terasa berat, lalu menunjuk ke arah kanan jalan yang tampak gelap dan sepi. Melihat hal itu, Fatih tidak langsung menaiki motornya. Lelaki itu justru turun dari jok motor, lalu memilih untuk berjalan kaki di atas trotoar sambil menuntun motor matic-nya dengan tangan kiri. Ia membiarkan dirinya berjalan beriringan di samping Maira, memberikan ruang bagi gadis itu untuk menumpahkan segala isi kepalanya.
Sepanjang jalan yang sunyi itu, Maira berjalan dengan pandangan kosong, sibuk meracau meluapkan semua beban yang selama ini mengendap di dasar hatinya. Ia tidak peduli lagi apakah tindakan ini pantas atau tidak. Entah karena pengaruh alkohol yang membakar kesadarannya atau karena hal lain, yang jelas Maira merasa sangat aman untuk meluapkan badai di kepalanya kepada cowok asing yang baru dikenalnya dua hari lalu ini.
“Kenapa... kenapa Tuhan nyiptain gue ke dunia ini kalau cuma buat menderita, Fatih?” racau Maira, air matanya mulai mengalir lagi, membasahi pipinya yang dingin. “Kenapa gue harus diuji habis-habisan kayak gini dari kecil? Kenapa harus gue?! Gue lihat orang lain... hidup mereka bahagia, keluarga mereka utuh. Hidup mereka gak sehancur dan seberantakan gue! Kenapa Tuhan gak adil sama gue?!”
Fatih berjalan dalam diam di sampingnya. Lelaki itu hanya tertunduk, mendengarkan setiap kalimat penuh kemarahan, luka, dan kekecewaan yang keluar dari bibir Maira tanpa sekali pun berniat memotong atau menyanggahnya. Fatih membiarkan Maira melepaskan seluruh racun yang menyiksa batinnya.
Hingga beberapa menit kemudian, langkah kaki Fatih mendadak berhenti di depan sebuah pagar rumah tua yang tampak usang namun terawat. “Rumah Mbak... yang mana?” tanyanya memecah keheningan.
Pertanyaan sederhana itu seketika membuat Maira refleks menghentikan racauannya. Ia mengerjapkan mata, menoleh ke sekeliling, dan baru menyadari kalau mereka sudah sampai di depan kediamannya. “Ini... ini rumah gue,” ucap Maira pelan, suaranya mendadak menciut.
Fatih mengangguk kecil, lalu menyandarkan motornya dengan standar satu. Ia menatap Maira dengan senyuman tipis yang sangat teduh di bawah temaram lampu jalan.
“Nah, sekarang kan sudah sampai di rumah. Mbak masuk ya, langsung bersih-bersih, mandi, habis itu sholat,” ucap Fatih dengan nada bicara yang sangat menenangkan. “Kalau bisa... malam ini Mbak dirikan sholat tobat dua rakaat. Terus, semua pertanyaan-pertanyaan yang tadi Mbak kasih ke saya... tanyain langsung sama Tuhan, tepat setelah Mbak selesai sholat.”
Maira mengernyitkan dahinya, menatap Fatih dengan pandangan heran dan skeptis. “Emang... emang Tuhan bisa langsung jawab semua pertanyaan gue?” tanya Maira sangsi.
Fatih kembali tersenyum, sebuah senyuman tulus yang memancarkan keyakinan kuat. “Bisa, Mbak... asal kita yakin. Tuhan selalu punya cara tersendiri buat jawab keluh kesah hamba-Nya.” Fatih kemudian menegakkan tubuhnya dan kembali memegang stang motornya. “Ya sudah, kalau begitu saya pamit pulang dulu ya, Mbak. Assalamu’alaikum.”
Lelaki itu menghidupkan mesin motornya, lalu perlahan melaju pergi membelah kegelapan malam, meninggalkan Maira yang masih berdiri mematung di depan pagar rumahnya.
Setelah bayangan Fatih benar-benar hilang dari pandangan, Maira melangkah masuk ke dalam rumahnya yang sunyi. Ia mengunci pintu dari dalam, lalu menyandarkan tubuhnya di sana. Pikirannya mendadak berputar pada satu kata yang diucapkan Fatih tadi.
“Tobat...”
Deg.
Dada Maira mendadak berdegup kencang. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di dalam hatinya—sebuah rasa hangat yang mendesak dan seakan menuntun jiwanya untuk segera melakukan sholat tobat tersebut. Rasa rindu untuk bersujud yang begitu kuat mengalahkan ego dan rasa insecure-nya.
Tanpa membuang waktu lagi, Maira segera melangkah ke kamar mandi. Ia membersihkan dirinya, mandi di bawah guyuran air dingin untuk meluruhkan bau alkohol dan asap rokok yang menempel di tubuhnya, sekaligus menjernihkan kesadarannya yang sempat pudar. Setelah bersih, ia mengenakan mukena putih bersih milik neneknya yang ia ambil dari lemari siang tadi.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Maira membentangkan kembali sajadah tua di atas lantai kamarnya. Malam itu, ia berniat mendirikan sholat Isya yang sempat ia tinggalkan, dan dilanjutkan dengan dua rakaat sholat tobat.
Sebelum memulai sholat, Maira berdiri di atas sajadah, menatap dalam-dalam ke arah hamparan kain di bawah kakinya. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia memantapkan niat. Ia ingin bertobat dari segala keburukan, maksiat, dan jalan kelam yang selama ini ia tempuh sebagai bentuk pelarian egoisnya.
Maira menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan mengangkat kedua tangannya di samping telinga. “Allahuakbar...” ucap Maira dengan nada suara yang bergetar hebat.
Tepat saat kalimat takbir itu meluncur dari bibirnya, pertahanan batin Maira runtuh seketika. Air mata penyesalan yang teramat deras langsung luruh membasahi pipinya tanpa bisa dibendung lagi. Setiap gerakan sholatnya malam itu terasa begitu berat namun melegakan. Rasa bersalah yang selama ini menggunung seolah terkikis perlahan di setiap sujud yang ia lakukan.
Setelah salam terakhir di rakaat sholat tobatnya selesai, Maira tidak langsung beranjak. Ia kembali terdiam lama di atas sajadah dalam posisi duduk bersimpuh. Suasana kamar terasa begitu hening, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan deru napasnya yang sesak.
Kali ini, Maira memberanikan diri untuk mengangkat kedua telapak tangannya ke atas. Ia mencoba mengikuti saran Fatih. Dengan air mata yang terus mengalir menyentuh dagu, Maira mulai "mengobrol" dengan Tuhannya. Ia menyuarakan pertanyaan-pertanyaan liar yang selama ini selalu menghinggap di kepalanya.
“Ya Allah... kenapa harus Maira yang ngalamin semua ini?” bisik Maira parau, suaranya menggema di dalam kesunyian kamar. “Kenapa Engkau uji Maira dengan masa kecil yang hancur? Kenapa Engkau biarkan orang-orang jahat merusak hidup Maira? Maira capek, ya Allah... Maira merasa kotor, Maira merasa gak pantas buat hidup baik-baik kayak orang lain...”
Hingga tanpa sadar, Maira larut sepenuhnya dalam obrolan intim itu. Segala bentuk kemarahan, dendamnya pada sang ayah tiri, rasa kecewanya pada ibu kandungnya, hingga rasa sakit hati akibat pengkhianatan Rayn, semuanya ia tumpahkan malam itu di atas sejadah. Maira bercerita dengan sangat jujur, menangis, dan mengadu layaknya seorang anak kecil yang sedang mengadu kepada ayahnya setelah terluka di luar rumah.
Anehnya, semakin banyak ia bercerita dan menangis di hadapan Tuhannya, dada Maira yang semula terasa sesak dan berhimpit kuat perlahan-lahan mulai terasa plong. Beban ratusan ton yang selama sepuluh tahun ini menghimpit pundaknya seolah diangkat satu per satu secara gaib. Malam itu, di atas sajadah tua dalam balutan mukena putih, Maira akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari di club malam namun tidak pernah ia dapatkan: sebuah ketenangan jiwa yang sesungguhnya.